Lalalala ~ (part 2)

Udah berabad-abad semenjak blog ini terakhir disentuh oleh pemiliknya yang makin hari makin tua dan malas. Dalam rangka meningkatkan kembali produktivitas menulis, ada baiknya memulainya dengan menulis sesuatu yang ringan, gak perlu mikir (cukup mengandalkan emosi), berantakan, dan gak peduli sama apapun. Yaps, curhat. Hahahahaha. Mau curhat aja mukadimah nya ngalor ngidul.

Selama setahun ini balik, banyak banget drama hidup. Ternyata tesis bukanlah momok sebenarnya dalam hidup seorang netizen yang berumur seperempat abad. Drama hidup does. Dari jadi selingkuhan orang, tiba-tiba dilamar sama mas-mas random yang gak dikenal-kenal amat, dijodohin sama laki-laki yang aku gak kenal sama sekali, sampai kehilangan sahabat.

Kayanya akan terlalu drama kalau dibahas semua. Aku cuma mau curcol dikit-dikit sih. Tentang kehilangan seorang teman. Eh dua orang ding. Eh yang satu teman, yang satu iblis berwujud manusia yang dengan sialnya pernah aku kenal ding. Wkwk

—-

Jadi, seperti halnya manusia 20an tahun lainnya, ada masa dimana pada akhirnya kita menyadari bahwa ada orang yang kita sangka pantas dipertahankan yang ternyata… seharusnya dipertahankan untuk berada di luar inner circle sahaja~

Wqwq

Setelah kejadian kemarin, aku kemudian me-redefinisi arti sahabat. Apakah dia yang selalu kemana-mana bareng? nemenin dalam setiap kondisi apapun? dia yang jarang ketemu tetapi selalu peduli dan kalau sekali ketemu susah lepasnya? yang selalu inget tanggal ulangtahun? bisa jadi sih.

Yang jelas, sahabat adalah orang yang benar-benar bisa percaya sepenuhnya sama aku, sebagaimana aku percaya seutuhnya sama dia. Karena, biar gimanapun, aku gapernah bohong sama sahabat sendiri. Kalau dia mempertanyakan apa yang aku katakan, mungkin sebaiknya dia berada di luar inner circle aja. Terdengar egois ya. Ya, itulah. Aku. Emang. Begitu. Ehehe. Dan, karena definisi inilah, aku harus merelakan orang yang pernah aku bilang dengan tulus dan manis “kamu tuh sahabat aku mz…” yang akhirnya berujung seperti lirik lagunya Gotye ft Kimbra, “I guess that I don’t need that though, now you’re just somebody that I used to know”. Mueheheee. Maksa. Biarin.

Jadi, gimana kronologinya kehilangan si teman ini? Ya begitu deh. Sungguh panjang dan akan ber-episode-episode kalau dibahas disini. Hahaha. Jadi ini niat curhat ga sih? Etapi ini kan blog aku ya, terserah dong mau kaya gimana juga. Hmmm. Iyain aja.

—-

Kehilangan sahabat, udah. Selanjutnya kehilangan salah seorang… err…. salah seorang apa ya ini definisinya. Iblis berwujud manusia yang dulu pernah aku puja-puja. Itu kayanya ya. wkwk #terdrama

Seumur hidupku selama ini, tidak ada yang pernah membuat aku merasa menjadi perempuan paling murah, paling tidak berguna, perempuan jalang parasit yang perasaannya tak lebih berharga dari sepotong hati ayam yang jual di emperan pasar, selain dia *ini serius*. Tak ada seorangpun yang pernah menguras energiku sebesar ini. Tak pernah ada seorangpun yang selalu terlintas dalam pikiranku selepas bangun tidur tiap pagi dengan tanpa ada pikiran untuk mengenyahkannya dari kehidupan ini. Selain dia.

Aku tahu tidak ada gunanya membenci setengah mati. Tapi, luka yang sudah ia buat ini benar benar dalam, sampai membusuk dan tak pernah sekalipun menawarkan obatnya. Selain karena dia tak punya, juga karena dia tak ingin dan tak peduli. Dan pada akhirnya, aku harus sempoyongan setengah mati menyembuhkan diriku sendiri.

Aku tahu ini semua salahku sih. Mencurahkan perasaan yang tulus pada orang yang salah. Membabi buta memberikannya semua yang aku punya. Hilang kontrol dan kadang lupa daratan. Dan mungkin, inilah cara Tuhan memberikan peringatan, bahwa mencintai seseorang secara berlebihan bisa menyakitkan. Dan ini juga mungkin cara-Nya, meyakinkan aku bahwa sehancur apapun hati karena ulah manusia, ada Dia yang Maha Menyembuhkan.

Itu masa beberapa bulan yang lalu. Ehehehe.

Sekarang, sudah tidak ada lagi bayangan ingin bunuh orang tiap bangun pagi. Sudah tak ada lagi curhat galau sampai ingin rasanya minum air mata sendiri biar gak dehidrasi. Melupakan adalah hal yang pasti. Iya, suatu saat nanti. Berdamai dengan kisah sendiri juga adalah pilihan yang akhirnya diambil. Tapi memaafkan, hanyalah milik orang yang hatinya sebesar jenggala. Bukan untukku.

—-

Itu rangkuman setahunku di Indonesia yang sungguh penuh drama ga penting. Ingin rasanya melarikan diri ke belahan dunia lain, struggle dengan apapun, kecuali drama hidup yang harus melibatkan perasaan. Dah. Cukup.

Advertisements

Menjadi Muslim yang Bahagia

Sebenernya ini adalah tulisan lebih dari setahun lalu pas jaman masih jadi warga lokal Bangkok. Entah kenapa banyak tulisan mangkrak di draft. Setelah setahun lebih pulang ke Indonesia, jangankan ngurusin blog sendiri, buka facebook dan nulis status aja udah gak pernah. Euforia pulang membuat aktivitas nulis jadi barang paling langka, seperti halnya menemukan cinta sejati. Apasih.

—-

Banyak yang bertanya pada saya, gimana sih rasanya jadi minoritas (muslim) di negara yang mayoritas penduduknya non muslim? Bagi saya, pengalaman dua tahun jadi minoritas itu tak tergantikan. Mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk membuat saya menjadi lebih humble, nerimo, terbuka, tidak berpikiran picik dan arogan. Di sisi yang lain juga menjadi pelajaran bagi saya untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena saya muslim yang dilahirkan di negara yang kebanyakan penduduknya beragama islam, bersyukur tidak kesulitan mengakses tempat ibadah, bersyukur akan kemudahan menemukan majlis ilmu di masjid-masjid.

Disini, kebahagiaan terparipurna bagi kami umat muslim adalah ketika mendengar adzan dan bisa shalat berjamaah dengan muslim lainnya. 100 kali lipat lebih bahagia lagi ketika disuguhi senampan besar nasi briyani dan daging sapi untuk disantap bersama dengan muslim lainnya setelah shalat jumat. Orang tidak peduli berasal dari negara mana, dengan warna kulit yang seperti apa, apalagi meributkan perbedaan mazhab, apakah Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi or whatsoever you name it. Tak ada yang peduli. Semua berbaur dengan keyakinan bahwa kita punya Tuhan yang sama yang minimal 5 kali sehari kita ajak berinteraksi.

Bagi kami, idul fitri tidaklah sama dengan liburan panjang bersama keluarga, baju baru, ketupat dan opor ayam, atau amplop tebal berisi salam tempel. Bisa melarikan diri 30 menit ke masjid terdekat atau KBRI untuk melaksanakan shalat ied dan mendengarkan ceramah (berbahasa lokal) yang sama sekali tak kami pahamipun sudah menjadi berkah tersendiri bagi kami.

Bagi kami, mendengar kumandang adzan adalah berkah lainnya. Melihat restoran berlabel Halal adalah surga (meskipun kenyataan pahit di depan mata: harga makanan di restoran ini pasti berkali lipat lebih mahal dibandingkan restoran biasa). Menemukan masjid dalam perjalanan ketika traveling adalah definisi bahagia sesungguhnya. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sungguh tak pernah terasa ketika saya berada di tanah air.

Pernah dalam perjalanan ke utara (ke perbatasan Laos-Thailand-Myanmar, Golden Triangle), saya hampir kehabisan waktu shalat Zuhur dan Ashar. Akibat tidak bisa menemukan tempat yang layak untuk dijadikan tempat shalat, saya nekat masuk ke sebuah temple yang relatif sepi. Ambil wudhu di kamar mandi, menggelar sajadah, pakai mukena, dan shalat disana. Saya shalat menghadap ke barat, dan menghadap ke rentetan patung-patung budha. Dalam shalat saya, rasa itu benar muncul. Rasa syukur betapa beruntungnya selama ini saya hidup di tengah-tengah lingkungan muslim. Dalam shalat saya pada saat itu, saya lebih dari yakin bahwa Tuhan tetap akan hadir dan menghitung shalat saya sebagai nilai ibadah sekalipun saya shalat di tempat yang tidak lazim. Dan seketika itu juga saya merasa sedih, ketika di Indonesia, berapa kali dalam sehari saya mendatangi masjid? Rumah saya hanya selemparan batu dari masjid kampung, selain bulan ramadhan, seberapa sering mengunjungi tempat itu?

Menjadi minoritas membuat pikiran kita jauh lebih terbuka dan tidak arogan.

Dalam kondisi-kondisi semacam inilah justru hati-hati kami semakin terasah. Rasa syukur akan hal-hal kecil selalu terasa membuncah. Ya Allah, betapa kufur nya saya selama ini.

Disaat-saat seperti ini lah saya baru benar-benar merasa miris dan prihatin ketika mendengar berita tentang intoleransi antar umat beragama. Tempat ibadah digusur, ritual sembayang dibubarkan paksa, cekcok karena beda agama dan lain-lain. Jadi bayangin, kalau pas saya shalat di temple terus digeruduk para monk dan masyarakat Budha disana, gimana perasaannya cobak? hiks sedih beneran 😦

Ya, we have to admit it, bahwa memang mungkin masih ada sebagian dari masyarakat kita yang masih belum dewasa dalam menyikapi perbedaan, menghargai indahnya ketidaksamaan, merasa superior karena menjadi mayoritas dan merasa bisa melakukan apa saja terhadap mereka yang berbeda darinya. Semoga orang-orang ini nantinya diberi kesempatan untuk merasakan hidup jauh dari zona yang membuat mereka merasa superior. Amin.

Dan jika ditanyakan kembali, bagaimana rasanya menjadi Muslim di negara yang penduduknya mayoritas non-muslim. Jawaban saya, saya bahagia menjadi Muslim disini. Saya bahagia menjadi minoritas. Dan ada masa dimana saya merasa, saya jauh lebih Muslim ketika disini dibandingkan ketika saya di Indonesia.

—-

Setelah membaca tulisan singkat diatas, kayanya tiba-tiba ada yang lempar bawang ke mata terus dikucek-kucekin. Panas rasanya. Berasa ditampar bolak balik. Kenapa harus jadi minoritas dulu untuk “jadi lebih Muslim”? Udah setahun pulang, dan setahun pula rasanya aku gak bersyukur untuk hal-hal kecil seperti “nemu masjid”, atau “dengar adzan” atau “bertemu muslim yang gak kenal di jalan dan mengucapkan salam”. Ya Allah.

Studi di Thailand (Part 2): Bertahan hidup dengan kerja paruh waktu*

Hai ! butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan niat buat nulis lagi. Distraksi di dalam negeri dasyat, bikin males-malesan ehehehehee. Oke, berikut aku coba share sedikit pengalaman studi pas di Thailand ya. Kali ini tentang strategi bertahan hidup dengan kerja paruh waktu. Sebenernya ini tulisan untuk IM (Indonesia Mengglobal), tapi karena yang nulis disana kelasnya kaya kak Maudy Ayunda, dan berhubung daku tahu diri, mending daku terbitin disini aja deh. Hahahaa.

—————–

Bukan merupakan hal yang sulit saat ini untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berbagai informasi tawaran beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, instansi/ lembaga tertentu, maupun pemerintah negara lain bisa ditemukan dengan mudah dan menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di negeri lain.

Meskipun demikian, tidak semua lembaga penyedia dana memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa menyediakan biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, dan ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dome building

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi nimba ilmu di negeri orang, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu selama disana

Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Thailand

  1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di ibu kota Negeri Gajah Putih itu dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi. Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas pergaulan dan jaringan kita.

Saya sendiri, pada akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu menjadi guru mengaji untuk seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun (kelas 2 SD) yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang Ia banyak menanyakan pertanyaan kritis, tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing. Oleh karenanya, tak jarang sebelum saya mengajar, saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini tentu menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, saya juga belajar banyak dari murid saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016 di KBRI Bangkok bersama Dubes
  1. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di Sekolah Internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Di Thailand sendiri, permintaan pengajar bahasa Indonesia cukup tinggi karena Thailand adalah negara yang masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata ajar Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di jurusan Southeast Asia Studies (untuk S1) dan ASEAN Studies (S2), tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, Teaching Assistant, maupun native yang diminta untuk menguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Tentu saja ini merupakan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain memperluas pergaulan dan jaringan pertemanan, kamipun mendapatkan honor yang layak dari dosen dan saya juga belajar banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang tak jarang banyak berkomentar mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan filem dan lagu Indonesia. Dengan begini, saya dapat lebih memahami Negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

  1. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik di acara KBRI maupun di acara yang diadakan oleh kampus maupun instansi lainnya. Karena upaya itu, tak jarang mereka mendapatkan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun, rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Tentu acara ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.

Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk ”unjuk gigi”, baik dengan melakukan performance budaya negaranya maupun menjual makanan/ masakan khas negara asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thammasat University International Night, 2016
TU International night 2014
Thammasat University International Night, 2015
  1. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain. Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan expertise dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya

  1. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga. Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Talingchan trip while studying Bahasa
Piknik wkwk

Hal-hal diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan (untuk bersekolah di luar negeri) tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang kurang memadai.

*Tulisan untuk http://www.indonesiamengglobal.com sebelum digubah 

Lalalalaaa—-

Jadi gini, setelah sekian lama aku akhirnya menyadari juga. Bahwa ada beberapa orang di dunia ini yang dilahirkan hanya untuk menguji kesabaran kita. Selain itu, kelahirannya di dunia ini mungkin hanya berguna buat penggali kubur yang nantinya akan dapat upah dari keluarganya si orang tersebut ketika orang tersebut sudah meninggal. Ya, yang aku bicarakan ini kamu. Seseorang yang dulunya pernah aku gilai (dan cintai?) dan berfikir bahwa Ia pun begitu. Kehadirannya yang dulunya aku anggap sebagai my greatest support system karena selalu ada sebagai tempat menampung keluh kesah di saat-saat sulit, yang rupanya adalah salah satu strategi untuk mengantarkanku ke ujung penyesalan tak berkesudahan.

Ada orang yang dilahirkan dengan mata dan mulut busuk yang hanya bisa melihat semesta ini dari sisi buruknya dan mengomentarinya dengan busuk pula. Iya, kamu seperti itu loh.

Ada orang yang jelas tahu ia salah tetapi jangankan untuk meminta maaf, mengakuinya saja tidak. Jadi, selain mata dan mulutnya yang busuk, hatinya juga. Aduh lengkap deh.

Ada orang yang otaknya selalu dipakai hanya untuk memikirkan diri sendiri dan kesenangannya. Jangankan memikirkan orang lain, bahkan memikirkan masa depannya sendiri 2 hari dari sekarang pun paling juga tidak bisa. Jadi selain mata, mulut, dan hatinya yang busuk, rupanya otak nya juga tidak berfungsi loh.

Dan aku bisa jatuh padanya. Dulu. Ya Allah 😦

Ya, dan kamu mengajari banyak hal. Bahwa tidak semua orang itu pantas untuk dipertahankan. Tidak semua orang layak diperjuangkan. Bahkan, kamu membuatku menyadari bahwa, tidak semua orang itu yang walaupun sudah pernah datang, layak untuk dikenang. Haha. Apasih.

Masih mending kan ya aku misuh-misuh disini, gak sampai kegiring di doa yang jelek-jelek (walaupun tetep ngarep suatu saat kamu nanti menderita lahir batin dunia akhirat hahahaha astaghfirullah)

Kayanya belum pernah ada sepanjang sejarah aku nulis blog dengan kata-kata laknat macam ginian. Aku berubah 😦

*Will be deleted soon once aku udah fully recovered. Maap maap 😦

Study in Thailand (part 1)

*mengingat kelabilan si blogger, doakan semoga akan ada part 2 dan selanjutnya. Berdoa dimulai…..*

——

Sembari menunggu feedback dari revisi tesis yang udah kelar ((((IYA UDAH KELAR COY)))), saya mau iseng nulis sesuatu yang mungkin tidak ada gunanya bagi seluruh pemirsa deh ya. Jadi gini, saya lagi kuliah di Bangkok nih (udah mau kelar, lebih tepatnya), dan akan dengan senang hati membagi pengalaman untuk temen-temen yang berminat melanjutkan studinya di Negeri Gajah Putih ini yaa…

Ngapain kuliah di Thailand sih? Bukannya di dalam negeri banyak yang lebih bagus ya?

Yups. Negara kita juga punya banyak universitas yang bagus-bagus kok, kenapa harus susah-susah sampai Thailand? Secara kualitas, beberapa universitas di Thailand dan Indonesia itu 11-12 ya, tapi ada banyak juga universitas di Thailand yang ternyata lebih unggul dari universitas di Indonesia. Salah satunya bisa dilihat dari beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang mendidikasikan diri sebagai assesor independen untuk kualitas universitas di seluruh dunia. Salah satunya adalah QS Top Universities Survey. Survei terakhir di tahun 2016 yang me-rank universitas di Asia menunjukkan posisi beberapa universitas di Thailand lebih unggul daripada di Indonesia. Tiga universitas Thailand teratas, Chulalangkorn University menduduki ranking ke 45, disusul Mahidol University (61) dan Thammasat University (101). Sedangkan tiga universitas di Indonesia terunggul yaitu Universitas Indonesia (67), Institut Teknologi Bandung (87) dan Universitas Gadjah Mada (105) [dan bahkan Chiang Mai University aja diatas UGM, dengan ranking 104, aku sedih]. Beberapa indikator yang dipakai dalam survei ini antara lain Academic Reputation, Employer reputation, proportion of international faculty and international students, dan citation per paper. Kalau selama pengalaman saya kuliah di dua univ (UGM dan Thammasat), saya secara subyektif berpikir kalau kita (UGM atau universitas lainnya di Indonesia) itu kalah di paper dan international faculty nya ya. Selama jadi anak gaul Thammasat, saya kenal dengan buanyaaakkk banget mahasiswa internasional, baik yang cuma exchange atau emang foreigner yang ambil studi di Thammasat. Sedangkan pas S1 di UGM (yang notabene 4 taun lebih), ga ada lebih dari 5 orang mahasiswa internasional yang aku kenal. Dan juga, budaya menulis dan publikasi kita cukup lemah kalau dibandingkan dengan Chulalangkorn atau Mahidol misalnya. Dana riset, academic workshop, international conference, publikasi dll disini jor-joran dan ga tanggung-tanggung untuk mendukung riset ilimah dan publikasi internasional.

Hal lainnya juga, ada beberapa program studi di Thailand yang memang lebih unggul atau bahkan ga ada di Indonesia. Contohnya prodi saya ASEAN Studies atau Southeast Asia Studies. Di Indonesia, kalau saya mau ambil konsentasi Asia Tenggara, major saya pastilah Hubungan Internasional (HI), baru minornya studi Asteng. Kalau disini, Asteng langsung jadi major, jadi begitu masuk kuliah semester pertama, langsung konsentrasi ke studi Asteng. Contoh lainnya, teman saya di Mahidol yang mengambil jurusan Prostotik Orthotik (sumpah aku gatau cara nulisnya yang bener gimana), pada intinya ini adalah jurusan spesialis bikin tangan dan kaki palsu. Belum ada di Indonesia. Di Mahidol, jurusan ini salah satu yang terbaik se Asia.

Selain alasan idealisme mengenai reputasi universitas dan pilihan prodi yang lebih unggul, alasan pragmatis nya adalah: kita kuliah di luar negeri coy. Hahaha. Walaupun luar negerinya cuma 3 jam dari Jakarta. Tapi ini jadi salah satu  nilai plus dan bahan pertimbangan kalau nanti kita mau ngelamar kerja atau jadi dosen. Katanya sih gitu…

Gimana gaya hidup disana? 

Asik coy. Hahaha. Karena kedekatan wilayah dan budaya, jadi kita ga perlu susah-susah ngalamin yang namanya cultural shock. Orang-orangnya mirip sama orang-orang kita, dan saya jamin 10x lebih ramah dari orang-orang kita (Jakarta terutama) haha. Untuk cuaca juga ga beda-beda amat, cuma disini emang jauh lebih hot sih ,terutama di bulan April. Ampun ampunan. Bisa mencapai 40 an derajat lebih. Makanya tengah bulan April setiap tahun, selalu ada festival water war alias Songkran. Dimana semua orang bebas main air sampai masuk angin. Orang yang ga niat basah mending diem dirumah aja, soalnya begitu keluar dan disiram air, aturan utamanya adalah: pasrah dan jangan marah. Asik pokoknya.

Itu cuaca ya, sekarang living costs. Jadi sebenarnya, harga barang-barang di Thailand itu sama aja kok kaya di Indonesia (bagian barat ya hehe). Diantara kota lainnya, emang Bangkok yang lebih mahal sih living costs nya, 11-12 lah sama Jakarta, terutama akomodasi ya (flat/apartemen). Kalau makanan, kurang lebih sama lah kaya Jakarta. Sekali makan di warteg pinggir jalan berkisar antara 40-70 an Baht (sekitar 16 ribu-28 ribu). Kalau di restoran ya sekitar 70-ratusan baht, tergantung tipe restaurannya. Oiya, untuk yang muslim, emang agak repot kalau cari makanan yang halal di Bangkok. Dan sekali nemu warung makan/ restaurant Halal, biasanya harganya sedikit lebih mahal dari warung makan/ restauran yang biasa. Jadi, selama ini saya sih biasanya masak aja, harga sayuran, bumbu-bumbu dan seafood murah kok, jadi selain ngirit, halal dan thoyyib juga. Hehehe. Oiya, FYI, kemampuan saya masak terupgrade sampai 500% semenjak saya disini *ga penting*

Bisa travelling ga selama belajar disana?

Oh bisa banget dong. Buat temen-temen yang beasiswanya lumayan dan menerapkan prinsip hidup sederhana, bakal nyisa banyak buat travelling, either di dalam negeri maupun luar negeri. Ya gimana, secara Thailand itu jalan dikit mentok Myanmar, lari dikit nyebrang Laos, Malaysia. Deket semua brow. Mau ke luar negeri yang agak jauh kaya Jepang atau Korea juga jauuuuhhh lebih murah dari Bangkok dibandingkan dari Jakarta. Semenjak piknik menjadi salah satu kebutuhan pokok selain sandang pangan papan dan pasangan, tiket LC A*r A*ia bisa selalu jadi alternatif buat kalian yang mau travelling jauh dengan budget yang terbatas. Jadi selama semester break, bagi yang belum homesick, sangat disarankan untuk pergi-pergi piknik. Study hard, travel harder.

Denger-denger banyak ladyboy ya?

Ini gak ada hubungannya sih, tapi ya untuk FYI aja lah ya. Hahaha. Jadi, Thailand emang surga untuk kaum LGBTI nih gaes. Salah satu negara di Asia yang amat toleran dengan keberadaan mereka. Secara legal formal memang Kerajaan Thailand tidak melegalkan same-sex marriage, tapi secara sosial, penerimaan masyarakat terhadap kaum ini sangat terbuka dan baik. Bahkan, salah satu majalah luar negeri pernah menempatkan Thailand sebagai the only Asian city included on lists of gay-friendly tourist destination around the world. Mungkin kalau urusan diskriminasi, itu selalu ada ya, tapi tidak sampai pada level ekstrim (pada beberapa segi aja, misal pekerjaan, hak nikah dan edukasi, dll). Alhasil, fenomena transgender dan same-sex love ini berkembang mengerikan disini.

Dulu awal-awal disini masih sering kecele, kalau pas jalan di Mall atau di tempat rame. Ngeliat embak-embak tinggi semampai, cantiknya kaya Dian Sastro, putih mulus kaya pahanya SNSD, pakaiannya kaya Pamela Anderson, selalu berdecak kagum. Ada ya ciptaan Tuhan segini sempurnyanya, eh abis itu baru dah tau, mostly orang-orang model begituan adalah transgender alias yang tadinya cowo! ya ga semuanya sih. Tapi mostly (((mostly)))

——

Hmm apalagi ya. Udah itu dulu deh ya, saya mau lanjut masak deh abis ini. Semoga besok besok masih bisa dilanjutkan. Syemangat