Almamater :)

almamater bukan hanya sebuah afiliasi, namun lebih dari itu, Ia adalah rumah dengan atap kepercayaan dan pondasi kasih sayang, yang mana tanpanya, pulang hanyalah sebuah kata tanpa makna -A.H-

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku
Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku
Kujungjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia

Bagi kami almamater kuberjanji setia
Kupenuhi dharma bakti untuk ibu pertiwi
Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan nusantara

*oke agak absurd kalau saya mengaku bahwa saya ternyata gak hapal hymne gadjah mada.. tapi memang seperti itu adanya (padahal sudah 3 tahun kuliah haha). Saya memang jarang dapat menghafal lirik lagu, terlebih yang agak2 mellow gitu -_- namun tentu saja itu bukan berarti saya tidak cinta pada almamater saya. Saya sungguh sangat-sangat-sangat mencintai almamater saya, bahkan disitulah saya menemukan sebenar-benarnya arti perjuangan hidup, pengorbanan, keluarga, persahabatan, berbagai duka, cara mencintai sesama, memilih dan membuat keputusan serta belajar mendewasakan diri. Sungguh Allah maha pemberi nikmat terindah yang menciptakan kehidupan yang begitu indah :”)

* balada pelepasan KKN-UGM yang begitu gegap gempita hahahaa #edisicintakampus

Alba dan Iqra 6 nya

Oke, sembari menikmati kokokan ayam di pagi buta, bolehlah sedikit bercerita. Ini cerita biasa sebenarnya, namun untuk saya sendiri yang mengalaminya, menjadi sedikit berbeda dan luar biasa. Seperti biasa, selasa sore saya sempat2in mengajar TPA di masjid dekat rumah. Udah sekitaran 3 minggu saya gak ngajar selasa sore. Minggu pertama karena memang bocah-bocah minta libur, UAS kata mereka. Okelah gak masalah untuk saya, toh saya jadi punya waktu banyak untuk menggalau di kampus haha. Di minggu kedua dan ketiga kebetulan banget kampus bener-bener lagi hectic, jadi bener-bener gak sempet untuk ngajar. Nah, selasa sore tadi adalah minggu pertama saya ketemu sama bocah-bocah setelah 3 minggu vakum. Benar-benar kangen ternyata haha.

Setelah baca Al-Fatihah dan doa mau belajar, seperti biasa, bocah2 heboh antri minta dingajiin duluan. Dan kebetulan yang dapat giliran posisi pertama itu adalah Alba. Ya, Albani Nur Wahid namanya, kelompok B TK Annur III, umur 5 tahun. Sebenernya dalam hati saya agak-agak was-was juga. Bocah ini kalau ngaji hebboooohhh banget dan yang pasti gak akan selesai dengan cepet, sedangkan bocah-bocah yang lain udah pada mengular antriannya. Kalau ngajinya lama, bisa-bisa anak-anak lain pada ngamuk. Dan memang biasanya Alba ini kalau ngaji emang giliran-giliran terakhir, sengaja, biar saya bisa ajarin dia lebih kenceng lagi. Oke balik lagi, si Alba ngotot untuk dapat giliran pertama. Ya saya iya iyain aja lah ya daripada terjadi keributan tidak terkendali. Saya bilang ke Alba: “Wah Alba dapat giliran pertama, jangan lama-lama ya Ba, kasian temen-temennya” (hahaha guru TPA macam apaan coba ngomong kek gitu sama anak muritnya -,-). Si Alba cuman ngangguk-ngagguk oon. Dan Ia pun mengeluarkan iqra dari tempat pensilnya, dan terkejutlah saya : IQRA 6! Saya dalam hati mikir “perasaan tiga minggu yang lalu dia itu masih Iqra 4, kok bisa-bisanya cepet banget ngebut sampe Iqra 6. Iqra 4 aja dia udah bener-bener menguras emosi dan air mata, mau diajarin Iqra 6? Bisa-bisa adzan Isya baru selesai” begitu pikir saya. Alba dengan polos bilang “Mbak aku udah Iqra 6”. Ya oke deh, kata saya cepat sambil pikiran agak-agak nying-nying.

Setelah bacaan ta’awudz dan bacaan basmallah, saya menghela nafas panjang, pikir saya “wah bakal lama ini” dan Alba pun mulai baca Iqra.. lima detik kemudian saya ternganga, takjub tidak percaya. Dia lancar! Lancar banget malahan! Ohmaigat saya gak salah denger nih? Saya sampe teriak-teriak kegirangan ketika Alba menyelesaikan baris pertama di halaman 5 iqra 6 itu. WOAH KEREN BANGET ALBAAAA!! *sambil usap-usap rambutnya* bocah-bocah lain pun bingung dan ikutan takjub. Maklum, bisa dibilang Alba itu bener-bener bocah yang terkenal susah banget diajarin ngaji, tapi dia punya bakat lain –oke saya bahas belakangan-. Setelah itu, bacaannya dia lancar sekali, ya walaupun ada yang salah-salah sedikit itu masih sangat-sangat wajar. Dan setiap baris yang dia baca dari Iqra berwarna cokelat itu, saya selalu berteriak ALBA KEREN BANGEETTT, dan dia pun cuman senyam-senyum, mungkin didalam hatinya dia bilang “belum tau nih si embak ini”.

Dan Alba pun menyelesaikan bacaan iqra nya dengan sangat-sangat menakjubkan. Seumur-umur saya mengajar Alba, belum pernah saya merasa sebahagia ini, dia lancar bangetz ngajinya. Karena penasaran, saya tanya-tanya kebocah-bocah TPA yang lain, mereka pun ternyata juga terheran-heran. Kok bisa dalam waktu singkat bocah yang awalnya bener-bener males ngaji tiba-tiba bisa lancar ngajiin iqra 6? Wah takjub saya. Benar-benar takjub.

Karena rasa penasaran yang berlebih, saya pun wawancara eksklusif dengan Alba. Kebetulan waktu itu Alba minta ngaji lagi. Yaampun, kalau gak banyak orang saya bisa nangis saking terharunya ngeliat perubahan Alba yang sebegitu drastisnya T.T usut punya usut, ternyata dia emang ‘dipaksa’ oleh orang tuanya untuk ‘bisa’ membaca iqra dengan baik dan benar. Orang tua Alba memang terkenal keras dan lumayan galak dengan anak-anaknya, tapi saya salut sekali sama kegigihan Alba memenuhi kemauan orang tuanya. Saya mengenal Alba semenjak dia masih merah, seiring perkembangan psikologisnya, dia menurut saya adalah anak yang sungguh sangat cemerlang dan berbakat. Sungguh. Di usianya yang masih sangat kecil dia sudah pandai berbicara dan bercerita. Cerita apaaaa sajaa.. pernah suatu ketika di waktu TPA dia meminta pada saya waktu untuk dapat bercerita di depan teman-teman. Saya pun langsung mengumpulkan teman-temannya yang berkeliaran untuk berkumpul di serambi masjid, lantas Alba dengan gayanya mengambil buku di rak masjid, lalu mulai sok-sok membacakannya di depan teman-temannya. Buku itu (kalau tidak salah) berjudul “Ilmu-Ilmu Sosial Dasar”, dia sok membaca buku itu (padahal bukunya kebalik) dan mulai berceloteh. Awalnya ia bercerita tentang Upin-Ipin yang ketakutan karena ada tuyul dirumahnya (yang ternyata si tuyul itu adalah Ipin yang lagi ngelindur), lalu lanjut sambung cerita Sponge Bob the Movie, dan terakhir dia bercerita mengenai kenapa ikan paus mulutnya bau. Dan itu menurut saya WAOW banget. Bocah-bocah yang lain bisa saja meneriakinya, “wah Alba gak jelas” begitu yang lumrah tercetus dari temen-temennya. Lalu mereka bubar jalan seiring dengan mentari yang mulai meredup dan kumandang azan magrib yang menggema di seluruh penjuru kampung. Alba pun mengkeret. Tapi untuk saya, melihat itu seperti sebuah keajaiban! Bocah sekecil itu sudah pandai berceloteh dan retelling apa yang pernah ia denger dan ia lihat. Sungguh suatu keajaiban. Namun, sayangnya orang tuanya tidak melihat kecemerlangannya sebagaimana yang saya lihat. Mungkin sebagaimana yang menjadi pandangan umum, bahwa aspek kognitif anak harus lebih menonjol daripada aspek psikomotor ataupun aspek afektifnya, sehingga kemampuan calistung (baca tulis hitung) lebih penting daripada kemampuan komunikasi dan sosialisasi si anak terhadap lingkungannya. Padahal sesungguhnya kemampuan psikomotor dan afektif anak sejak usia dini akan dapat dikembangkan dengan optimal dan nantinya dapat menjadi bekal si anak menghadapi dunia luar : bekal percaya diri, mudah beradaptasi, bergaul dan besosialisasi, problem solver masalah, dan lain lain  dan lain lain yang tentunya tidak akan mungkin didapat seseorang di bangku sekolah secara instan.

Kembali lagi ke Alba, saya yang benar-benar penasaran lalu mencecarnya dengan rentetan pertanyaan yang dijawab Alba dengan panjang lebar penuh celotehan jujur. Jadi memang orang tuanya yang memaksa, metodenya memang agak kasar : dimarahi jika salah membaca huruf. Dan itu yang membuat Alba dapat dengan cepat mengerti bacaan Iqra. “Bapakku yang ngajarin. Kalau gak bisa nanti dimarahin” begitu katanya. “lah berarti kamu harus dimarahin dulu dong Ba, biar bisa ngaji lancar” kata saya. “iya” dijawabnya dengan polos. Hadoh campur aduk hati dan perasaan saya. Saya jadi berpikir, ditengah tekananpun Alba dapat menunjukkan kemampuannya yang sungguh di luar dugaan, apalagi ketika kemampuan dan bakat alaminya diasah dengan optimal, tanpa sesuatu yang ‘menyakitkannya’, saya yakin dia akan tumbuh menjadi anak dengan kejeniusan luar biasa!

Oke. Tidak ada kesimpulan atau antithesis dari tulisan ini. Ini murni curhatan saya. Haha

*oiya dia juga sudah berani mengumandangkan iqamah lewat toa masjid, dan malah dia yang merengek-rengek memintanya.. pede banget! (notes: adekku cowok kelas 2 SMP aja belom berani azan dan iqmah lewat toa masjid =,=)

*sebenernya saya punya foto Alba bwanyaak sekali di leptop, tapi ternyata ilang semua habis kena instal ulang -_-” nanti deh saya minta foto lagi haha..

Pendidikan Akademis vs Pengembangan Karakter

“To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara bahaya bagi masyarakat)

–Theodore Roosevelt-

Pernah coba membuka http://www.korupedia.org?  situs baru yang dirilis dan diinisiasi oleh TII (Transparansi Internasional Indonesia) dan aktivis anti korupsi yang khusus membuka borok-borok koruptor kakap di negeri ini. Saya pernah. Beberapa kali. Di situs itu dijelaskan dan dipaparkan banyak informasi seputar white collar crime yang jadi bulan-bulanan media massa : KORUPSI dan KORUPTOR. Ada 107 kasus korupsi mahadasyat yang terjadi sejak tahun 2000 lalu yang dirilis oleh situs tersebut. Sedangkan Litbang Kompas merilis angka yang (sebenarnya tidak) mengejutkan : 158 kepala daerah tercatat kasus korupsi sepanjang 2004-2011, 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011 dan 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI. Korupsi terjadi hampir merata di setiap lini, di semua golongan dan pangkat, di setiap eselon dan di hampir seluruh institusi : KPU, KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, DPR, Kementrian dan institusi lainnya. Mereka yang merampok uang negara bukanlah orang-orang yang tidak berpendidikan. Tidak bermoral? Mungkin saja. Namun tidak bodoh dan bukannya manusia yang tidak pernah mengecap bangku pendidikan, bahkan bwaaannyak sekali diantara mereka adalah lulusan doctor dari universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia, guru besar di institusi pendidikan terbaik di Indonesia, dan bahkan penggiat pendidikan dan agama.

Benar-benar ironis, manakala kecerdasan intelektual berbanding terbalik dengan moral dan rasa malu memakan duit rakyat. Berbelas-belas tahun pendidikan yang mereka jalani yang mengantarkan mereka kepada posisi yang strategis tidak mampu membendung nafsu dan kemaruk nya libido akan harta dan kekuasaan. Pendidikan seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan antara luasnya samudera ilmu pengetahuan dengan dalamnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Pendidikan seharusnya menjadi penyeimbang antara otak dan hati. Menjadikannya proporsional. Namun fenomena yang terjadi adalah banyak sekali pejabat-pejabat yang memiliki sederet gelar akademis namun tidak memiliki moral yang beradab. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan (dalam konteks ini : sekolah) tidak/ belum mampu menyeimbangkan aspek kognitif dan afektif sebagian manusia dengan optimal. Banyak orang yang prestasi akademisnya segudang namun tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik di masyarakat, begitu juga banyak pejabat negara kita yang kemampuan kognitif nya luar biasa namun tidak memiliki etika dan moral yang santun, dan banyak juga pejabat di negeri kita yang kemampuan kognitif dan afektif yang buruk. Itu lebih parah lagi.

Hal itu salah satunya adalah karena kegagalan pendidikan membekali manusia dengan nilai-nilai kehidupan tertentu. Pendidikan di Indonesia lebih banyak diukur dengan hitung-hitungan kuantitatif. Sistem pendidikan lebih mengarusutamakan pada terasahnya kemampuan kognitif anak sehingga cenderung melalaikan aspek afektif dan perkembangan bakat bawaan dan psikologis anak didik. Fenomena UNAS menjadi salah satu indikasi kegagalan tersebut. Mana bisa anak-anak yang memiliki kemampuan beragam ditentukan hidup matinya melalui mata ajar yang diseragamkan. Sistem yang demikianlah yang membuat kreatifitas anak-anak terkebiri, mereka tumbuh dengan tidak alami karena ‘dipaksa’ melahap dan menghafal seluruh isi buku ajar yang diberikan di sekolah. Mereka lupa cara bermain, mereka tidak tahu cara bersosialisasi, mencintai sesama dan lingkungan. Itu karena sistem pendidikan konvensional yang mengkebiri kebebasan mereka. Sistem yang hanya menitikberatkan pada nilai, angka dan prestasi akademis. Maka, berbondong-bondonglah orangtua menekan anak-anaknya untuk belajar mati-matian pelajaran-pelajaran berat yang mungkin tidak ada gunanya bagi kehidupan mereka. Itu karena, siswa yang berprestasi adalah ketika ia memperoleh nilai tinggi pada mata ajar tertentu, bukan karena keberhasilannya menciptakan sebuah karya, bukan karena ia mengabdikan diri pada masyarakat, dan bukan karena ia jujur dan cinta pada tanah airnya.

Saya jadi teringat, kisah seorang teman di SMA. Seorang teman (jurusan IPA) di SMA saya menjadi satu-satunya siswa yang tidak lulus UAN di sekolah pada tahun itu. Dia sebenarnya tergolong orang yang pintar, dan sangat jujur. Sewaktu ujian nasional, ia bersikukuh untuk tidak menanyakan jawaban pada teman-temannya, padahal waktu itu hampir seluruh temannya di kelas saling menanyakan jawaban, dan banyak juga yang memakai ‘jasa layanan’ lewat sms. Dan apa hasilnya? Ia tidak lulus. Rupanya melanggengkan segala cara untuk mencapai tujuan jauh lebih dihargai dan diapresiasi dibandingkan mempertahankan kejujuran dan idealisme diri.

Pendidikan yang semacam itu jelas bukan lagi menjadi media efektif membentuk anak-anak bangsa dengan karakter mental yang menghargai nilai-nilai kehidupan, melainkan mencetak anak-anak yang berpikiran sempit, praktis, berusaha mencari jalan pintas dan pragmatis. Maka jangan heran, nanti 10, 20 tahun lagi bangsa ini masih tetap berada pada predikat “bangsa nyaris gagal” (ket: baru-baru ini FFP/ The Fun for Peace merilis indeks negara gagal [Failed States Index] dan Indonesia menduduki peringkat 63 dari 178 negara) jikalau sistem pendidikan masih terus seperti ini.

Konsepsi mengenai pendidikan karakter telah berkali-kali diteriakkan oleh para pakar pendidikan. Pentingnya keseimbangan antara otak dan hati (prestasi akademis dan nilai kehidupan) harus ditanamkan kepada anak didik sejak usia dini. Jika hal itu telah dibiasakan sejak PAUD/ TK maka untuk menerima pelajaran kehidupan (yang mungkin selama ini terrepresentasi dari mata pelajaran Agama, Kewarganegaraan, Akidah dll) tidak akan terasa sulit dan membosankan. Oleh sebab itu, reformasi sistem pendidikan (dasar, menengah dan tinggi) menurut saya merupakan agenda yang sangat mendesak untuk segera dilakukan jika menginginkan generasi (yang katanya Pak Nuh generasi emas) menjadi generasi yang benar-benar memiliki watak dan karakter yang berbudaya dan bermoral. Jika tidak, maka tidak usah heran, lama-lama penjara akan penuh terisi dengan orang-orang berotak cemerlang namun bermoral bejat.

Jejaring Sosial Yang Memabukkan

Jika Micheal Heart menempatkan Nabi Muhammad SAW, Isaac Newton,Yesus Kristus, Buddha dan Konfisius sebagai top five dari 100 orang yang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah umat manusia, di abad ini, mungkin daftar itu perlu diteruskan dengan mempertimbangkan orang-orang yang dapat membuat orang di seluruh dunia menjadi sangat-sangat ketergantungan akan penemuannya. Yak, apalagi kalau bukan gadget, internet, dan juga yang tidak kalah penting : Jejaring Sosial.

Leinard Kleinrock. Mungkin nama itu tidak familiar di telinga banyak orang, namun jika tahu karya yang ditemukannya, mungkin kita akan langsung sangat-sangat-sangat mencintainya. Ya, dialah sang Bapak Internet. Penemuan yang paling penting di abad ini. Hehe. Saya juga sebenerya gak begitu kenal sama si bapak itu, tapi bisa dibilang kalau karyanya gak diakses sehari aja, berasa di hutan rimba. Internet bisa dibilang seperti kompas yang menunjukkan arah, pusat informasi, dan bahkan pengganti tangan, kaki dan telinga manusia. Dan tokoh yang juga pantas diberikan predikat sebagai man of this century adalah Mark Zuckenberg. Yak, mungkin sudah banyak orang yang sangat familiar dengannya. Mark Elliot Zuckenberg adalah seorang pemuda asal Amerika yang menginisiasi dan mengembangkan website teraktif ke enam di seluruh dunia ini. Yup, facebook nama situs itu. Mahasiswa DO dari Harvard University ini menurut saya sih pantas masuk dalam daftar orang yang paling berpengaruh di seluruh dunia mengingat penemuannya yang fenomenal ini. Hingga 2009 lalu, pengguna facebook mencapai 900 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri pengguna facebook mencapai 43.06 juta, lebih dari 7 kali lipat penduduk Singapura yang hanya 5 jutaan orang! Ruar biasa.

Facebook pernah menjadi jejaring sosial yang paling digandrungi oleh seluruh manusia di seantero dunia. Kehadirannya membuat banyak perubahan pada kehidupan orang-orang, ada kisah bahagia dan mengharukan yang hadir disana. Kisah orang tua yang terpisah dengan anaknya yang kemudian bertemu di facebook, cerita saudara kembar yang dipisahkan sejak lahir yang juga bertemu di facebook dan kisah Prita Mulya Sari yang menemui kebebasannya kembali juga salah satunya gara-gara facebook hanya menjadi sebagian kecil dari berjuta-juta kisah yang mengantarkan Zuck ke puncak popularitas.

Facebook helps you connect and share with the people in your life

Ya, itulah takeline yang membuat facebook merajai jejaring sosial di dunia maya. Facebook dapat menghubungkan kita dengan siapa saja. Bintang filem, tokoh politik, pengusaha kaya, dan bahkan presiden sangat mudah dikenali aktivitasnya melalui status-status dalam sebuah jejaring sosial. Dan bahkan, presiden Obama juga meraih simpati dan dukungan publik yang sangat luas (yang berujung pada terpilihnya menjadi presiden AS) juga gara-gara jejaring sosial di dunia maya.

Dibalik kekuatan facebook yang fenomenal dan membahagiakan, saya sebenarnya menyimpan keprihatinan tersendiri. Seperti halnya seluruh elemen di dunia ini, selalu ada dua sisi dari sebuah mozaik. Hitam dengan putih, siang dengan malam, baik dan buruk. Begitu pula dengan facebook. Selain kisah-kisah bahagia yang ditimbulkannya, facebook juga meninggalkan sekelumit ironi. Mungkin belum hilang ingatan sebagian orang (kalau belum hilang lho), di penghujung tahun kemarin sangat marak kasus penculikan, penipuan dan bahkan pemerkosaan yang berawal dari komen-komenan status di FB. Begitulah facebook. Mendekatkan yang jauh. Namun juga (yang ironis) menjauhkan yang dekat. Keindahan dan kemuliaan silaturahim digantikan dengan saling berbalas message di facebook, kebiasaan bertegur sapa diganti dengan komen-komenan di status, menuangkan cerita ke sahabat diganti dengan menuliskan status, meminta nasihat diganti dengan membuat polling.

Jejaring sosial memang menyibakkan banyak ironi menurut saya. Saya sendiri pernah menjadi ‘korban’ dari keberadaannya. Dulu, hampir tiap ada waktu senggang langsung ke warnet (waktu belom punya modem), situs pertama yang dijelajahi dalam web browser adalah : http://www.facebook.com , hanya untuk mengecek apakah ada komen dari orang, membuat status yang bagus, melihat dan membaca-baca status orang-orang (yaampun, itu gak penting banget!). Waktu yang sekiranya dapat dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat : membaca buku, belajar masak (haha), istirahat, maen bareng adek dan bersilaturahim dikalahkan oleh monitor!

Akhirnya, jejaring sosial memang memiliki segudang manfaat, dapat juga menjadi mudharat yang mengerikan jika para user tidak mampu mengendalikan hawa nafsu untuk mengekspresikan dirinya di dunia maya. Hm, sederhananya menikmati jejaring sosial mungkin seperti menikmati duren kali ya.. halal dan enak diawal, namun jika kebanyakan, berubah memabukkan dan mendatangkan kerugian (dikantong) hahaha

Fix You – Coldplay :)

Fix You – Coldplay 🙂
When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you.
When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you.