Balada Kereta Api Ekonomi

GambarSemenjak ditinggal Ibuk dan Adek ke Madiun, resmilah sudah kita bertiga menjadi gembel (saya, bapak, afkar), jelas lah.. biasanya semua urusan rumah tangga dan konsumsi dengan mudah diurus oleh ibuk, dan Adek, walaupun banyak uselessnya tapi Adek sangat berguna dalam hal hubungan luar negeri (gampang disuruh-suruh beli ini, beli itu).. nah kepergian Ibuk dan Adek menyisakan penderitaan berkepanjangan bagi kami sang gembel, kami harus survive untuk bikin sarapan pagi-pagi, nyuci baju seabreg hingga urusan beres-memberesi rumah.. dan kebiasaan baru yang muncul akibat insiden pindahnya Ibuk adalah : rutin berkunjung ke Madiun tiap weekend atau hari libur, dan saya sendiri jadi terbiasa untuk mondar-mandir Jogja-Madiun untuk mengunjungi Ibuk dan Adek. Dan karena tidak mau sombong, (baca:tidak mampu) saya pasti naik kereta api ekonomi, entah Sri Tanjung atau Madiun Jaya non AC, dan menariknya walaupun sumpek segala rupa, pengap dan panas gak karuan saya selalu menikmati saat-saat ketika naik kereta ekonomi, terutama Sri Tanjung (Jogja-Surabaya).

Ini cerita saya dulu, ketika pelayanan kereta api dari PT KAI masih lumayan buruk. (PT KAI menjual banyak sekali tiket padahal kuota di kereta terbatas, di sisi lain para pedagang dan pengasong masih sangat bebas keluar masuk kereta, jadi terkadang jadi sumpek banget).

Bagi saya, banyak sekali potret kehidupan yang bisa dilihat di kereta api ekonomi, mulai dari para pengasong yang dengan nadanya sendiri-sendiri menjajakkan barang dagangannya, hingga pengamen yang –sumpah aku pernah mendengarkan sendiri-, suaranya mirip banget sama Iwan Fals.. Yang kadang bikin geli itu, ya cara-cara para pengasong mempromosikan dagangannya, mulai dari nada pendek-panjang seperti jon mijon, miiiiiiiiiijooon; kua, akua, akuuuuuuaaa, ibu-ibu dengan suara nge bass lembut, nasi goreng nasi ayam nasi pecel, dengan intonasi penekanan yang kuat pada setiap kata… selain para pengasong yang dengan semerbak keringatnya menebarkan harum kemana-mana, banyak juga orang-orang yang menjajakkan jasa, mulai dari jasa pulsa, nyemprot parfum (oh yang sumpah ya, baunya kayak pewangi wese yang setelah menyengat, 3 detik kemudian terus gak berasa apa-apa), jasa nyapu gerbong dan yang paling bikin saya tidak berhenti kagum adalah jasa konsultasi kesehatan dan ini baru pernah aku temui di kereta ini! ya, jadi ada bapak berpenampilan necis yang –seperti kebanyakan sales- menjinjing tas dan dengan lihainya bersilat lidah di dalam kereta, dan dia berbicara seolah-olah adalah dokter penolong para penumpang, dia mengunjungi kaum ibu-ibu (yup, ibu-ibu kan target paling mudah untuk digaet) untuk menjajakkan jasanya memeriksa kesehatan, mulai dari gula darah, kolesterol dan lainnya (aku lupa apa lagi) yang tentu saja ujung-ujungnya adalaaah, beli obat dari dia.. heheh.. kreatif bet dah!

Yup, bagi saya yang melankolis ini (hahaha), pemandangan macam gitu jadi fenomena tersendiri, di satu sisi sebenarnya merasa miris, banyak banget ternyata orang yang susyahnya minta ampun cari duit untuk sesuap nasi, mesti dibela-belain berjubel-jubel di kereta api ekonomi yang gerah, panas dan jarak jauh lagi. Belum lagi yang udah nenek-nenek ama kakek-kakek.. mak serrr gitu rasanya.. tapi di sisi lain saya menikmati pemandangan seperti ini, bukan apa-apa sih tapi ini jadi semacam kayak.. kayak apa ya, kayak batu pengasah hati gitu, yang mempertajam sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama. Ketika kita ngeliat banyak orang yang ternyata kurang beruntung dan jauh dari kehidupan yang selama ini kita jalani, hati berasa geter geter gitu, setidaknya rasa syukur itu terus terusan terucap dari mulut dan hati kita, o ternyata masih banyak orang yang lebih nelangsa dari kita, soalnya apa ya, terkadang –pada situasi tertentu- hati kita seringkali jadi sangat lemah, kita berpikir bahwa tidak ada yang lebih menderita dan lebih sibuk dari kita. Oh its damn sh*t! insya Allah ketika kita berpergian naik kereta ekonomi, pikiran-pikiran dungu macam itu gak akan pernah muncul dalam pikiran kita. Itulah kenapa rasanya enjoy banget menikmati perjalanan dengan kereta ekonomi, walau semerbak keringat para pengasong mendominasi sebagian suplai oksigen, walau suara sumbang meguasai resonansi udara, walau kadang kereta ngetem lama karna ngalah sama kereta bisnis, walau kadang recehan ludes dibagi-bagi… tapi bagi saya, naik kereta api ekonomi itu menyenangkan sekali. Sesuatu banget pokoknya… (tapi itu dulu, sekarang kereta api ekonomi Sri Tanjung sudah lumayan tertib, setiap penumpang pasti dapat kursi, dan –kadang-kadang- bebas banget dari pedagang asongan)…

Saya kadang sangat merindukan momen-momen itu –momen dimana kereta api ekonomi menjadi media mempelajari realitas kehidupan-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s