Pendidikan atau Pendudukan (?)

Gambar

Judul tulisan diatas (bagi sebagian orang) mungkin bersifat provokatif. Hal itu rasanya tidak sepenuhnya salah mengingat pendidikan di Indonesia justru terkesan sangat mengekang bahkan mendudukkan siswa ke posisi yang inferior dibandingkan para guru atau sistem itu sendiri. Siswa ‘dipaksa’ melahap semua pengetahuan yang ditetapkan oleh sistem, yang celakanya justru pengetahuan tersebut bukannya memberikan pencerahan bagi para siswa namun malah membuat pikiran para siswa terbelenggu dan terkekang.

Sekolah = Pendidikan ?

Non scholae sed vitae discimus (kita belajar bukan utuk sekolah tetapi untuk hidup)

-Pepatah Latin (dikutip dari St.Kartono)-

Di banyak (bahkan hampir semua) sekolah formal di Indonesia dibuat seragam dan sistematis mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan. Pendidikan dijadikan sebuah obyek yang harus diatur dan dijaga ‘kesuciannya’. Tak ayal, pendidikan terreduksi maknanya, hanya diartikan sebagai sekolah. Pendidikan adalah sekolah, dan sekolah adalah pendidikan itu sendiri. Orang yang tidak sekolah, berarti bukanlah orang berpendidikan, dan begitu pula sebaliknya. Pemaknaan yang kerdil itulah yang membuat sekolah hanya menjadi tujuan pendidikan dan bukan sarana mencerdaskan siswa.

Telah banyak kritik terhadap sistem yang diberlakukan di dunia pendidikan kita. Hitung-hitungan kuantitatif yang menjadi patokan keberhasilan siswa membuat dunia sekolah menjadi kurang menyenangkan bagi mereka yang tidak bisa memenuhi target dari Kemendikbud. Ujian nasional, beban ilmu yang begitu banyak dan nilai raport yang menenentukan kelulusan menjadi polemik yang tidak kunjung usai.

Sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan, yang dapat ‘membebaskan’ dan menyadarkan peserta didik terhadap realitas di sekitarnya. Pendidikan memiliki makna membangkitkan kesadaran dan kemampuan untuk berbuat dalam mentransformasikan diri seorang dan dunianya, inilah konsep pendidikan ideal menurut Paulo Freire. Freire dalam konsepsi pedagogik kontremporernya mengemukakan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai investasi untuk mempersiapkan perserta didik yang bermasa depan cerah, melainkan lebih dari itu yakni sebagai proses penyadaran yang berlangsung terus menerus, bertujuan untuk membuat manusia memahami realitas dirinya dan dunia sekitarnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa konsepsi ideal semacam itu masih jauh panggang dari api. Siswa di sekolah formal di jeneralisasikan, tidak ada tempat untuk mengasah potensi dan bakat unik peserta didik, tidak ada waktu untuk mengurus siswa yang ‘berbeda’. Semua disamaratakan. Inilah yang kemudian membuat banyak siswa frustasi terhadap sekolahnya sendiri. Ivan illich dalam bukunya “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah” mengemukakan bahwa sekolah kini membuat peserta didik tidak mampu membedakan proses dan substansi. Sekolah tidak mengajarkan sesuatu yang humanis dan riil melainkan sekadar nilai normatif yang hanya diukur berdasarkan kemampuan menghafal (cognitive competence). Kondisi seperti ini membuat kondisi siswa menjadi tidak proporsional, dalam artian mereka memiliki pengetahuan yang sangat banyak di dalam kepala mereka namun hati dan perilakunya dalam kehidupan nyata belum tentu mencerminkan seseorang yang ‘terpelajar’.

Mulai Mengubah Perspektif

Sekolah sedianya adalah sarana untuk menumbuhkembangkan keunikan dan kreativitas peserta didik, bukan malah menghambat atau mematikan bakat alami yang ada. Kini telah banyak sekolah alternatif yang bertumbuh sebagai salah satu jawaban atas kegelisahan beberapa orang yang anak-anaknya terbelenggu dalam sekolah formal. Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan konvensional yang diterapkan di Indonesia masih belum dapat menjawab keresahan masyarakat akan pendidikan yang ideal. Negara kita pernah memiliki Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, Tan Malaka dan banyak lagi pendidik-pendidik revolusioner yang mampu menciptakan pendidikan yang membebaskan, menyadarkan, dan memanusiakan para peserta didiknya, dan semangat yang mulai redup itulah yang coba dihidupkan kembali oleh para pendidik yang peduli dengan membuat alternative sekolah yang ideal.

Kritik terhadap sistem pendidikan di negara kita tidak habis-habisnya. Telah berlusin-lusin buku dan catatan diterbitkan, namun tentu saja bukan menjadi hal yang mudah mendobrak status quo yang ada. Kini, saatnya masyarakat yang harus lebih kritis dan cerdas memberikan dan memilihkan sarana yang tepat untuk pendidikan anak-anaknya –generasi yang kata Pak Menteri Generasi Emas-. Bukan bermaksud memprovokasi untuk tidak menyekolahkan si anak di sekolah negeri, namun ada baiknya (dan dirasa sangat perlu) untuk melihat dan mempertimbangkan potensi, bakat dan minat si anak supaya sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan dan mampu menumbuhsuburkan kelebihan-kelebihan si anak.

Coba bayangkan, apa jadinya jika orang tua Agnes Monica memaksa putrinya bersekolah di sekolah dokter? Atau orang tua Jet Li menyekolahkannya di sekolah vokal? Tentu bakat-bakat cemerlang dalam diri mereka tidak akan matang dengan sempurna, dan mereka akan bertumbuh dengan pribadi yang berbeda dari sekarang yang kita kenal.

Sekarang yang menjadi permasalahan adalah, sekolah-sekolah alternative tersebut biasanya menelan biaya yang tidak murah. Seperti sekolah alam dan sekolah-sekolah swasta yang biasanya hanya dapat dijangkau oleh kalangan menengah ke atas. Mengandalkan pemerintah untuk membuat sekolah alternative ideal yang membebaskan para siswa dari keterkungkungan sistem mungkin seperti mengharapkan hujan di musim paceklik. Oleh sebab itu, gagasan sekolah alternative yang memanusiakan masyarakat akar rumput pun menjadi konsep ideal yang dirasa mampu menjawab aksesibilitas masyarakat dalam dunia pendidikan yang juga berkualitas.

Sudah saatnya mengembalikan hakikat pendidikan ke tempat asalnya yang jauh dari diskriminasi maupun proses pembelajaran yang dehumanisasi. Masyarakat butuh ilmu dan penyadaran bukan sebatas nilai atau ijazah. Jika kritik demi kritik tidak dijadikan refleksi para pemegang otoritas, lalu sampai kapan pendidikan kita hanya akan menjadi ‘pendudukan’ system terhadap masyarakat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s