Memulai Berwiraswasta Sebagai Obat Kegalauan Pascalulus

(sebenernya tulisan lama, (versi orisinilnya) versi portal berita bisa dilihat disini)

Wisuda : Pengangguran Intelektual Tak Terbendung (?)

Momen wisuda dan kelulusan menjadi saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, momentum ini memang menjadi daya tarik sekaligus sumber euphoria yang emosional bagi mahasiswa karena disaat itulah perjuangan bertahun-tahun diapresiasi, pergulatan akademis diganjar dengan penghargaan, dan decak kagum serta riuh rendah tepuk tangan milik kita orang seharian. Tak jarang, momen kelulusan disambut secara meriah dan bahkan berlebihan, tidak hanya sebatas bentuk syukur namun juga pertarungan prestis keluarga. Maka jangan heran ketika tiba masanya kelulusan, keluarga di kampung menyambutnya dengan suka cita luar biasa, hewan ternak dan hasil panen dikorbankan untuk mengundang teman dan tetangga sekampung merayakan kelulusan satu orang dari universitas di kota.

Memang bukan dosa menjadikan momen kelulusan sebagai huru hara yang penuh hysteria, namun mari kita tengok lebih cermat lagi, bukankah ketika universitas meluluskan mahasiswa artinya bertambah pula beban bangsa Indonesia menampung pengangguran terbuka yang intelek? Data menunjukkan pengangguran intelektual (terpelajar) di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun, pada tahun 2010 saja pengangguran intelektual naik 15,71% dari tahun sebelumnya menjadi 1.142.751 orang yang terdiri dari lulusan diploma 441.100 orang dan sarjana 701.651 orang (Kompas, 23-09-2010). Penyebabnya tidak lain adalah terbatasnya/ semakin menurunnya daya serap sektor formal terhadap tenaga kerja dan ketidaksesuaian antara pendidikan formal serta kebutuhan pasar. Tak ayal, kadang momen kelulusan disambut pula dengan kegalauan si mahasiswa, mau ngapain abis lulus? Status mahasiswa terkadang memang memberikan banyak keuntungan, hidup masih ditanggung orang tua, fasilitas kampus dapat digunakan dengan leluasa, bahkan diskon makan hingga karaokean bertebaran, tetapi setelah lulus tentu saja fasilitas itu tak lagi bisa dinikmati. Pasca topi toga tanda kelulusan dipakai, status mahasiswa tentu berganti, dan untuk sementara status yang terpaut adalah “pengangguran” sebelum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Paradigma Mahasiswa Sebagai Job Seeker

Paradigma yang berkembang selama ini di masyarakat adalah pendidikan tinggi merupakan institusi yang diyakini menjadi jembatan untuk melakukan mobilitas vertikal dan tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Tak ayal, masyarakat umumnya menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi sampai universitas adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih mentereng dan umumnya berseragam, seperti orang-orang kantoran dan para PNS. Padahal lapangan pekerjaan di sektor formal umumnya tidak banyak bertambah dan cenderung statis dan berbanding terbalik dengan cetakan sarjana dari universitas yang dari tahun ke tahun terus meningkat.

Memulai Perubahan Paradigma. Tidak Mudah Memang,,

Paradigma klasik mahasiswa sebagai pencari kerja itulah yang harus diubah, mahasiswa selain peranannya sebagai agent of change di mata masyarakat juga harus memiliki sensitivitas untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, mengubah perspektif dari mulanya job seeker menjadi job provider bagi lingkungan di sekitarnya. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa mahasiswa merupakan entitas masyarakat yang sangat kreatif, inovatif serta digadang-gadang menjadi problem solver di lingkungannya. Dengan modal sosial yang besar itulah yang kiranya dapat membantu mahasiswa memulai perubahan. Tidak sekedar mengubah perspektif, tapi juga mengubah nasib! Berwirausaha menjadi pilihan yang amat tepat untuk memulai mengubah perspektif tersebut. Telah banyak kasus sukses mahasiswa yang berhasil menjadi pengusaha yang beromzet hingga miliaran rupiah, bahkan sebelum mereka lulus dari universitas tempatnya menimba ilmu. Mulai dari usaha laundry, susu murni bahkan hingga jajanan ‘ndeso’ ketela telah berubah menjadi sumber pundi-pundi pengahasilan bagi para pengusaha muda kreatif yang mampu melihat peluang dan pasar. Hal tersebut kiranya cukup menjadi motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa lain yang juga berkeinginan menjadi orang berduit yang tidak melulu menggantungkan diri pada pemerintah ataupun bos perusahaan.

Tak selamanya mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi harus berhasil masuk dalam bursa kerja sektor formal. Berkecimpung di dunia usaha dan industri kreatif juga menjadi pilihan yang cukup keren. Ingat, untuk menjadi negara yang maju setidaknya 2% dari total penduduk di sebuah negara harus menjadi entrepreneur, sedangkan untuk mencapai angka itu Indonesia masih sangat jauh, untuk itu perlu sinergi banyak pihak untuk mampu mengubah mindset orang yang mulanya rajin mencari kerja menjadi mindset orang yang sibuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dan mahasiswa merupakan subyek tepat memulai perubahan itu. Semoga kita termasuk orang-orang yang bermanfaat bagi lingkungan kita dan bukan malah menjadi beban bagi mereka. Hidup mahasiswa Indonesia!

Advertisements

One thought on “Memulai Berwiraswasta Sebagai Obat Kegalauan Pascalulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s