Balada.. Gegap Gempita Dunia Sepakbola

Minggu-minggu ini mungkin bisa dikatakan sebagai minggu-minggu terindah bagi para pecinta sepak bola di seluruh dunia. Yup. Event empat tahunan terakbar –setelah World cup tentunya-, Piala Euro resmi digelar dan dibuka 8 Juni lalu. Bertempat di Ukraina dan Polandia, kemeriahan event ini tidak hanya diarasakan oleh masyarakat Eropa, namun juga masyarakat di seluruh dunia yg berjarak berjuta-juta mil dari lokasi penyelenggeraan. Euphoria itu sampai, termasuk di negeri kita, Indonesia tercinta.

Sepak bola memang menjadi sebuah magnet dan daya tarik yang luar biasa di seluruh dunia. Keberadaannya dibicarakan, diperdebatkan, diagungkan, dihujani puja-puji dan bahkan di banyak kasus sampai dituhankan. Yak, saya tidak salah ketik. Dituhankan. Membaca buku 99 cahaya di langit eropa karya Hanum S. Rais, saya sempat terperangah juga ketika si penulis menjelajah Spanyol (Andalusia-yang dulunya pernah dikuasai oleh bangsa muslim pada masa Umaiyyah-) dan mendapati realita bahwa masyarakat Spanyol (tidak semua memang) merupakan fans fanatik kesebelasan negaranya, dan bahkan menuhankan tim yang digawangi oleh Casillas dkk tersebut. Dalam sebuah percakapan Mba Hanum dengan seorang sopir taksi di sebuah kota kecil di Spanyol, si sopir itu mengatakan bahwa Ia akan percaya Tuhan jika Spanyol memenangkan setiap laga dalam pertandingan. Jika Spanyol kalah, maka Tuhan memang “sedang tidak ada”. Begitu kira-kira yang dapat saya tangkap. Maka sangat wajar jika kemenangan Spanyol dalam membawa pulang Piala Dunia 2009 lalu disambut luar biasa gegap gempita oleh masyarakat seperti halnya kaum imperialis yang menemukan daerah subur untuk jajahan barunya. Luar biasa euforianya.

Saya tidak begitu paham dengan sejarah kemunculan sepak bola ini. Ketika googling tentang ini, banyak versi dan perdebatan yang muncul. Dalam sebuah blog, Bill Muray, salah seorang sejarawan sepak bola dalam bukunya The World Game : A History of Soccer menuliskan bahwa permainan Sepak Bola/ Bola Sepak sudah dikenal sejak awal Masehi. Pada saat itu masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen. Kisah lainnya berasal dari Yunani, dimana permainan bola yang disebut “episcuro” telah ada sejak zaman Yunani Purba, dan bukti sejarahnya tergambar dalam relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan pahanya. Namun yang tentu saja paling dikenal adalah sejarah modern sepak bola yang berasal dari Inggris. Sepak bola dimainkan di Inggris pada pertengahan abad ke 19 dan telah ada pada sekolah-sekolah. Dan pada tahun 1857 berdiri klub sepak bola pertama di dunia, yakni Sheffield Football Club. Dan begitu, klub sepak bola tersebut menginiasasi berdirinya klub-klub serupa lainnya di seluruh Inggris.

Luar biasa memang pengaruhnya kini. Jujur saya tidak begitu paham sebenarnya dengan lika-liku perjalanan panjang sepak bola. Yang saya rasakan betul tentu saja dampak dan gegap gempitanya, baik di rumah, kampus, maupun di status dan timeline orang-orang di jejaring sosial hehee. Begitu heboh dan lebaynya orang-orang menanggapi pertandingan yang berjarak jutaan mil dari tempatnya berdiri. Pemainnya adu mulut dengan wasit, ada yang ‘muring-muring’ di status. Ada yang saling jegal, banyak yang menghujat di media massa, jagoannya kalah atau menang, pasti pada heboh! Wah ruarr biasa sekali memang. Saya pikir tidak ada event lain di dunia ini yang dapat menimbulkan efek sampai seheboh efek yang ditimbulkan dari permainan bola sepak ini.

Sepak bola di Indonesiapun begitu. Benar-benar penuh dengan ke-gegapgempitaan para fans fanatic. Dan bukan berita baru lagi kalau sepak bola tanah air lebih banyak hitamnya daripada prestasi yang didapatnya. Saya tidak mau membahas ini karena pasti memakan banyak waktu dan tempat, dan menguras emosi juga pastinya (mengingat telah banyak sekali berjatuhan korban jiwa akibat sepak bola. Kita tidak bisa menutup mata untuk hal itu).

Terlepas dari segala aspek negatif yang ditimbulkannya di negeri kita, sepak bola saya pikir adalah alat pemersatu bangsa yang sungguh sangat efektif. Orang dari berbagai suku, agama, ras dan partai politik yang berbeda, jika dihadapkan dengan pertandingan sepak bola mereka seolah menjadi sebuah keluarga superbesar yang berada di garda depan dan rela mati demi membela tim negaranya. Di Indonesia, lagu-lagu nasionalis bergaung di seluruh antero stadion manakala Bambang Pamungkas cs berlaga melawan para musuh, lautan merah mewarnai pemandangan udara, begitu menggelegar dan membangkitkan nasionalisme (walaupun cuma sesaat hahaa). Hal itu patut diapresiasi menurut saya, mengingat kondisi apatisme akut yang dialami oleh sebagian besar warga kita. Dan bahkan di kecamatan Sebatik, daerah terluar Indonesia, di Kalimantan Timur, ketika pertandingan sepak bola Indonesia melawan Malaysia, mereka dengan tiada ragunya membela tanah air, walaupun kebutuhan pokok, sembako hingga suplay listrik banyak berasal dari Malaysia. Bahkan ketika mereka dianaktirikan oleh induk semangnya sendiri, mereka masih tetap kukuh membela tim garuda. Menggetarkan.

 Sepak bola menjadi angin segar bagi kebangkitan persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia, -walaupun agak aneh juga kok banyak yang tawuran antar supporter-, yang pasti, sehitam apapun dunia sepakbola kita, jika stadion GBK masih cukup merah untuk mengindonesiakan hati masyarakat, itu berarti masih tersisa secercah harapan untuk mengembalikan semangat nasionalisme. Yup saya pikir tidak berlebihan kalau sepak bola memang ‘pantas’ untuk dipuja, selain estetika permainannya, sportifitas para pemainnya, sepak bola berjasa juga untuk mempersatukan seluruh nusantara. Semoga dunia persepakbolaan Indonesia kunjung membaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s