Memasarkan Sekolah dan Menyekolahkan Pasar

Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda, tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan (Franklin D Roosevelt)

Begitu wejangan bijak dari mantan Presiden AS, Franklin D Roosevelt. Benar kiranya bahwa masa depan itu tidak dapat diciptakan secara instan, terlebih masa depan suatu negara. Kemajuan/ kemunduran serta masa depan negara bertumpu pada kualitas sumber daya manusia yang menjadi bahan bakar utama motor penggerak suatu bangsa. Hingga saat ini, pendidikan diyakini merupakan satu-satunya upaya dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia, media dalam membangun dan mencetak generasi berbudaya yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual akan tetapi lebih dari itu, juga memiliki kepribadian yang berakhlak mulia dan kepedulian yang tinggi akan realitas di lingkungannya. Melalui pendidikan, tidak diragukan lagi peradaban manusia akan semakin maju. Selama ini pendidikan dipahami sebagai sekolah, dan sekolah adalah pendidikan itu sendiri, padahal sekolah hanya merupakan salah satu sarana yang dipakai dalam proses internalisasi nilai itu sendiri, akan tetapi memang sekolah adalah cara terjitu di dalam melaksanakan proses pendidikan.

Yang perlu dipahami disini adalah, bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mentransfer ilmu normatif yang kemudian dipakai untuk tes masuk ke jenjang yang lebih tinggi, lebih dari itu, pendidikan memuat 2 nilai lagi yang kerap terabaikan. Ya, selain proses pengajaran (mu’alim), juga terdapat proses pembiasaan dan proses peneladanan, dan terkadang dua nilai terakhir inilah yang cenderung diabaikan. Disini, peranan seorang pengajar/ guru benar-benar menjadi sangat strategis dalam mentransfer serta mengilhami anak didiknya menjadi seperti apa yang guru tersebut yakini, mengutip kata-kata Thomas Groome, salah satu tanda pendidik yang hebat adalah kemampuan memimpin murid-murid menjelajahi tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah didatangi sang pendidik. Guru tidak hanya berperan sebagai media pengalih pengetahuan dan keterampilan kepada anak didiknya, melainkan juga menjadi inspirasi bagi anak didik, mampu secara komprehensif menginternalisasikan norma, nilai dan budaya sehingga nantinya melahirkan anak didik dengan karakter tertentu, membentuk manusia yang beradab dan berbudaya. Jelas guru bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam pembangunan karakter seseorang, orang tualah yang memiliki peranan itu. Tapi diakui atau tidak, guru menjadi salah satu penentu dalam mencetak kepribadian seorang siswa didik.

Entah apa yang salah dalam dunia pendidikan di Indonesia, sampai saat ini pendidikan justru masih dipahami sebagai hitung-hitungan untung rugi. Memasarkan sekolah dan menyekolahkan pasar, begitu kata sebagian orang. Hal ini menjadi suatu ironi tersendiri, akibatnya orang-orang ‘berpendidikan’ alias orang-orang yang kebetulan beruntung dapat mengecap pendidikan hanya menjadikan pendidikan (baca : sekolah) sebagai salah satu syarat utama untuk mengejar keuntungan, dalam realitanya kini makin banyak sekolah-sekolah yang menyediakan kelas akselerasi (percepatan) bagi para murid yang dirasa memiliki kemampuan intelektual diatas rata-rata dan fenomena RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang secara legal memperjelas jurang ketidakadilan. Tidak hanya pada tingkatan sekolah dasar hingga SMU, bahkan di banyak universitas menyediakan predikat bagi mahasiswa yang dapat lulus dengan cepat, hal ini menyebabkan para mahasiswa yang dulunya diagung-agungkan sebagai agent of change, social control, iron stock lah, maupun sederet predikat lainnya kini cenderung menjadi apatis dan pragamatis, hanya mengejar predikat ‘mahasiswa tercepat’, ‘mahasiswa termuda’ dan predikat akademis lain yang jauh lebih memikat ketimbang embel-embel sebagai agent of change maupun social control.

Dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami degradasi secara filosofis. Industrialisasi yang menjadi kiblat pembangunan pada orde baru nampaknya ideologinya sampai juga pada dunia pendidikan kita. Mantan mendiknas Abdul Malik Fadjar pernah menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membekali lulusannya menghadapi kehidupan. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan dalam pendidikan adalah ketika lulusannya mampu menggunakan ilmu yang diberikan sebagai bekal dalam kehidupannya. Banyak pandangan yang menilai bahwa amanat itu dikerdilkan maknanya menjadi ‘pendidikan untuk bertahan hidup’, alias setelah lulus nantinya para peserta didik mesti dapat survive di dunia kerja. Hal ini menjadikan pendidikan diorientasikan hanya untuk memenuhi pasar tenaga kerja di dunia industri. Akibatnya, kiblat dunia pendidikan kita –yang seharusnya memberikan kesadaran akan realitas, seperti konsep pedagogik kontemporernya Paulo Freire- justru dijejali dengan berbagai pesanan kurikulum dunia industri. Bekal ketrampilan yang dapat langsung dipraktikkan di dunia kerja (seperti konsep sekolah SMK) memang sangat membantu lulusannya untuk langsung mendapatkan kerja, namun apa yang didapatkan selain itu? Sekolah tak ubahnya seperti sebuah mesin raksasa yang mencetak robot-robot yang siap dipergunakan. Dalam pendidikan tinggi yang menyentuh level skill manajerial/ pengambil keputusan/ policy making yang kemampuannya sangat mempengaruhi arah kebijakan di negara ini, -menurut pengamatan saya sih sebenarnya- masih sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar juga. Mau jadi apa coba bangsa ini jika calon pengambil kebijakannya juga dididik untuk menghamba pada pasar?

Kurikulum yang sedianya menjadi otoritas penuh pihak kampus untuk memenejnya, diakui atau tidak, secara terang maupun tersembunyi, banyak yang merupakan pesanan dari pasar. Seorang dosen dalam sebuah kuliah pernah mengakui bahwa adanya jejaring alumni salah satunya dimanfaatkan untuk mendapat informasi tentang apa yang menjadi permintaan pasar kerja dari lulusan sebuah prodi tertentu. Informasi itulah yang menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum. Dengan kata lain, kurikulum dibuat berdasarkan apa yang menjadi trend pasar saat itu. Tidak lain agar lulusannya dapat ditempatkan di tempat yang tepat  dan menguntungkan. Ini juga menjadi kepentingan dari pihak jurusan/ kampus, karena salah satu penilaian akreditasi dari BAN (Badan Akreditasi Nasional) Dikti adalah diserapnya lulusan di pasar kerja. Jika lulusan sebuah prodi banyak diterima kerja di tempat yang ‘wah’ berarti baik juga nanti hasil akreditasinya, sebaliknya jika lulusannya tidak terdeteksi bekerja dimana (di perusahaan/ instansi apa), maka tentu saja akan mempengaruhi penilaian. Begitu kira-kira yang saya tangkap. Jadi pada intinya, simbiosis ini telah tersistematisasi bak benang ruwet yang susah dicari ujung pangkalnya (nyambung gak sih? Haha bodo amat)

Jika para intelektualnya saja dicetak untuk menghamba pada pasar, lantas bagaimana coba nasib masyarakat yang berada pada posisi marjinal. Tidak ada pilihan untuk mereka selain menjadi korban penindasan dan menjadi kacung pemuas libido kaum kapitalis. Sudah berkali-kali mungkin para aktivis dan penggiat pendidikan meneriakkan reformasi pada dunia pendidikan kita, supaya pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai ‘link and match’ saja (seperti permintaan pasar) tetapi lebih dari itu, mampu membangun karakter ke-bhinekaan, ke-Indonesiaan, kemanusiaan yang berkebudayaan dan berketuhanan. Dengan begitu, insya Allah terjadi keseimbangan antara kepala dan hati (maksudnya : pintar dan juga bermoral). Kasus seperti pengemplangan pajak (Gayus, Dhana dkk), kongkalikong Komisi X dengan rektor di universitas negeri, korupsi para petinggi parpol dll akan mampu direduksi jika pendidikan karakter dan kebudayaan sejak di sekolah dasar diterapkan. Orang yang pintar secara intelektual tanpa dibarengi dengan moralitas yang baik akan berakhir seperti mereka. Layaknya bangunan yang berdiri mewah namun dengan pondasi yang keropos, suatu saat pasti akan ambles dan tidak akan ada yang tersisa lagi…

Uang terkadang menjadi indera keenam, yang tanpanya kelima indera lainnya tidak akan berfungsi (…), oleh sebabnya memasarkan sekolah dan menyekolahkan pasar adalah sebuah realitas yang “terrasionalisasi”. Entah kapan, dan walaupun pesimis, semoga fenomena ini segera berakhir.

Advertisements

2 thoughts on “Memasarkan Sekolah dan Menyekolahkan Pasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s