Pendidikan Akademis vs Pengembangan Karakter

“To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara bahaya bagi masyarakat)

–Theodore Roosevelt-

Pernah coba membuka http://www.korupedia.org?  situs baru yang dirilis dan diinisiasi oleh TII (Transparansi Internasional Indonesia) dan aktivis anti korupsi yang khusus membuka borok-borok koruptor kakap di negeri ini. Saya pernah. Beberapa kali. Di situs itu dijelaskan dan dipaparkan banyak informasi seputar white collar crime yang jadi bulan-bulanan media massa : KORUPSI dan KORUPTOR. Ada 107 kasus korupsi mahadasyat yang terjadi sejak tahun 2000 lalu yang dirilis oleh situs tersebut. Sedangkan Litbang Kompas merilis angka yang (sebenarnya tidak) mengejutkan : 158 kepala daerah tercatat kasus korupsi sepanjang 2004-2011, 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011 dan 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI. Korupsi terjadi hampir merata di setiap lini, di semua golongan dan pangkat, di setiap eselon dan di hampir seluruh institusi : KPU, KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, DPR, Kementrian dan institusi lainnya. Mereka yang merampok uang negara bukanlah orang-orang yang tidak berpendidikan. Tidak bermoral? Mungkin saja. Namun tidak bodoh dan bukannya manusia yang tidak pernah mengecap bangku pendidikan, bahkan bwaaannyak sekali diantara mereka adalah lulusan doctor dari universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia, guru besar di institusi pendidikan terbaik di Indonesia, dan bahkan penggiat pendidikan dan agama.

Benar-benar ironis, manakala kecerdasan intelektual berbanding terbalik dengan moral dan rasa malu memakan duit rakyat. Berbelas-belas tahun pendidikan yang mereka jalani yang mengantarkan mereka kepada posisi yang strategis tidak mampu membendung nafsu dan kemaruk nya libido akan harta dan kekuasaan. Pendidikan seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan antara luasnya samudera ilmu pengetahuan dengan dalamnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Pendidikan seharusnya menjadi penyeimbang antara otak dan hati. Menjadikannya proporsional. Namun fenomena yang terjadi adalah banyak sekali pejabat-pejabat yang memiliki sederet gelar akademis namun tidak memiliki moral yang beradab. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan (dalam konteks ini : sekolah) tidak/ belum mampu menyeimbangkan aspek kognitif dan afektif sebagian manusia dengan optimal. Banyak orang yang prestasi akademisnya segudang namun tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik di masyarakat, begitu juga banyak pejabat negara kita yang kemampuan kognitif nya luar biasa namun tidak memiliki etika dan moral yang santun, dan banyak juga pejabat di negeri kita yang kemampuan kognitif dan afektif yang buruk. Itu lebih parah lagi.

Hal itu salah satunya adalah karena kegagalan pendidikan membekali manusia dengan nilai-nilai kehidupan tertentu. Pendidikan di Indonesia lebih banyak diukur dengan hitung-hitungan kuantitatif. Sistem pendidikan lebih mengarusutamakan pada terasahnya kemampuan kognitif anak sehingga cenderung melalaikan aspek afektif dan perkembangan bakat bawaan dan psikologis anak didik. Fenomena UNAS menjadi salah satu indikasi kegagalan tersebut. Mana bisa anak-anak yang memiliki kemampuan beragam ditentukan hidup matinya melalui mata ajar yang diseragamkan. Sistem yang demikianlah yang membuat kreatifitas anak-anak terkebiri, mereka tumbuh dengan tidak alami karena ‘dipaksa’ melahap dan menghafal seluruh isi buku ajar yang diberikan di sekolah. Mereka lupa cara bermain, mereka tidak tahu cara bersosialisasi, mencintai sesama dan lingkungan. Itu karena sistem pendidikan konvensional yang mengkebiri kebebasan mereka. Sistem yang hanya menitikberatkan pada nilai, angka dan prestasi akademis. Maka, berbondong-bondonglah orangtua menekan anak-anaknya untuk belajar mati-matian pelajaran-pelajaran berat yang mungkin tidak ada gunanya bagi kehidupan mereka. Itu karena, siswa yang berprestasi adalah ketika ia memperoleh nilai tinggi pada mata ajar tertentu, bukan karena keberhasilannya menciptakan sebuah karya, bukan karena ia mengabdikan diri pada masyarakat, dan bukan karena ia jujur dan cinta pada tanah airnya.

Saya jadi teringat, kisah seorang teman di SMA. Seorang teman (jurusan IPA) di SMA saya menjadi satu-satunya siswa yang tidak lulus UAN di sekolah pada tahun itu. Dia sebenarnya tergolong orang yang pintar, dan sangat jujur. Sewaktu ujian nasional, ia bersikukuh untuk tidak menanyakan jawaban pada teman-temannya, padahal waktu itu hampir seluruh temannya di kelas saling menanyakan jawaban, dan banyak juga yang memakai ‘jasa layanan’ lewat sms. Dan apa hasilnya? Ia tidak lulus. Rupanya melanggengkan segala cara untuk mencapai tujuan jauh lebih dihargai dan diapresiasi dibandingkan mempertahankan kejujuran dan idealisme diri.

Pendidikan yang semacam itu jelas bukan lagi menjadi media efektif membentuk anak-anak bangsa dengan karakter mental yang menghargai nilai-nilai kehidupan, melainkan mencetak anak-anak yang berpikiran sempit, praktis, berusaha mencari jalan pintas dan pragmatis. Maka jangan heran, nanti 10, 20 tahun lagi bangsa ini masih tetap berada pada predikat “bangsa nyaris gagal” (ket: baru-baru ini FFP/ The Fun for Peace merilis indeks negara gagal [Failed States Index] dan Indonesia menduduki peringkat 63 dari 178 negara) jikalau sistem pendidikan masih terus seperti ini.

Konsepsi mengenai pendidikan karakter telah berkali-kali diteriakkan oleh para pakar pendidikan. Pentingnya keseimbangan antara otak dan hati (prestasi akademis dan nilai kehidupan) harus ditanamkan kepada anak didik sejak usia dini. Jika hal itu telah dibiasakan sejak PAUD/ TK maka untuk menerima pelajaran kehidupan (yang mungkin selama ini terrepresentasi dari mata pelajaran Agama, Kewarganegaraan, Akidah dll) tidak akan terasa sulit dan membosankan. Oleh sebab itu, reformasi sistem pendidikan (dasar, menengah dan tinggi) menurut saya merupakan agenda yang sangat mendesak untuk segera dilakukan jika menginginkan generasi (yang katanya Pak Nuh generasi emas) menjadi generasi yang benar-benar memiliki watak dan karakter yang berbudaya dan bermoral. Jika tidak, maka tidak usah heran, lama-lama penjara akan penuh terisi dengan orang-orang berotak cemerlang namun bermoral bejat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s