Kisah dari Pulau Seberang #3 Shock Therapy di Sabtu Malam

keluarga gaul pusanti haha

Alhamdulilah malam yang dingin, seperti biasa di dusun Pussanti Desa Barania. Sabtu malam (28/7) kemarin lusa kami tim KKN PPM UGM Unit 162 diundang Pak Camat Sinjai Barat (yang ganteng dan baik hati haha) untuk menghadiri buka bersama bareng masyarakat dan aparat pemerintah daerah. Rupanya acara buber itu sekalian menjadi acara pelepasan safari ramadhan yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Sinjai. Jadilah, kami yang telah lengkap dengan almamater kebanggaan hanya menjadi ‘hiasan’ atau lebih tepatnya seperti pagar ayu untuk menyambut bapak Bupati Sinjai yang ‘terhormat’, bapak Andi Rudianto Asapa (ARA) beserta jajarannya.

Tiba kami disana, posisi kami langsung diatur oleh bapak Camat untuk menyalami menyambut Bapak Bupati. Tim KKN kami belum pernah bertemu langsung dengan Bapak Bupati, hanya beberapa dari kami yang pernah bertatap muka dengannya, sedangkan sisanya, mengenal sosoknya dari poster, baliho dan spanduk yang bertebaran di seluruh daerah di Sinjai, termasuk di desa kami, Barania. Melihat foto dalam poster dan spanduk yang selalu penuh akan sunggingan senyumnya, saya pribadi berpikiran bahwa pak Bupati adalah sosok pemimpin yang ramah dan down to earth, mengingat kesuksesannya meraih mayoritas suara dalam pilkada dua periode dan dicalonkannya menjadi gubernur sulsel periode mendatang.

naya vs ara

naya dan pak bupati hihii 🙂 *liat deh tampangnya naya* haha

Oke kembali ke seremoni di sabtu sore. Tiba kami disana, pak Camat yang ramah dan baik hati kemudian memberi instruksi kepada kami untuk berdiri berjajar di depan rumah dinasnya. Tak lama kemudian, suara riuh sirene mobil seperti pemadam kebakaranpun mendekat. Rupanya rombongan safari ramadhan dari kabupaten ruarr biasa banyaknya. Yang ganjil tentu saja, iring-iringan mobil tidak lepas dari stiker gambar senyum pak Bupati dan lambang parpol pengusung ARA (Gerindra). Saya sebagai mahasiswa ISIPOL pun sempat heran dan takjub juga. Rombongan bupati bisa menimbulkan kegegeran dan kehebohan yang teramat sangat seperti saat itu. Ya saya sih positive thinking saja, siapa tau memang seluruh SKPD ikut dalam rangkaian pawai itu dan mungkin memang acara buber heboh seperti itu memang menjadi tradisi tahunan, tidak ada tendensi politik apapun. Ya, tapi saya sih bisa saja salah.

Salah satu mobil hitam besar (saya tidak tahu mereknya, lupa tidak melihat) bergambar senyum pak Bupatipun berhenti di depan kami, bersamaan dengan itu, suara bising sirene lenyap. Ya, itu mobil pak Bupati. Kami selaku ‘garda hiasan’ depan pun lantas memberi senyum semenarik mungkin haha. Kemudian satu-satu dari kami menyalami si Bapak. Sampai ujung, ARA berhenti dan menghadap ke arah kami. Pertanyaan pertama yang muncul adalah : “Apa program ki dibuat?”. Teman saya yang paling dekat dengan ARA pun menyahut “Sudah banyak pak. Ada pembuatan kompos, penyuluhan markisa…” belum selesai dijawab, ARA memotong “Kalian bisa tidak ji berkomunikasi dengan masyarakat?”. Bingung arah pertanyaannya, teman saya lantas bertanya, apa maksudnya. Oh, ternyata Pak Bupati menyangsikan komunikasi kami dengan masyarakat Desa Barania. Mungkin dipikirnya, ini orang-orang Jawa pasti tidak mengerti sama sekali dengan bahasa Konjo (bahasa daerah yang dipakai di Sinjai), kalau komunikasi saja tidak nyambung, bagaimana bisa memberikan apa yang masyarakat mau, bagaimana bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Itu yang pasti terpikir dalam kepalanya. Hm, simpel saja. Tanggapan saya : Dia Bupati yang kuper. Bagaimana bisa hal tersebut lantas membuatnya menjudge bahwa program-program kami tidak bermanfaat. Saya yakin beliau belum pernah keliling Indonesia. Bagaimana mungkin hanya karena masalah bahasa, keberadaan kami justru dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna. ARA memang sudah (kelihatan) tua, namun rupanya tingkat pemahamannya masih sangat cetek, saya yakin Ia tidak paham dengan apa yang orang-orang sebut sebagai “Bahasa Nasional” dan “Bahasa Persatuan”. Untuk apa founding father kita susah-susah meniupkan ruh nasionalisme dengan media (salah satunya) Sumpah Pemuda sebagai sarana pemersatu bangsa. Masih ingat kan sumpah pemuda? Ingatan pendek saya memang tidak menangkap jelas kata per kata dalam sumpah pemuda, tapi ya kalau untuk intinya saya dapat menangkap lah ya. Intinya : Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Begitu kira-kira. Poin yang terakhir, itulah yang saya kira disebut sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Persatuan. Ya, saya kira ARA tidak paham, kalau bicara masalah bahasa daerah, Indonesia merupakan negeri unik yang secara keseluruhan, masyarakatnya memiliki lebih dari 160 bahasa derah. Di Yogyakarta saja, bahasa daerah ada bermacam-macam, bahasa Jawa ngoko, krama, dan krama inggil yang biasa dipakai di lingkungan kraton. Atau jangan-jangan yang Ia tahu hanya bahasa konjo dan tidak bisa berbahasa Indonesia? Atau dia yang terlalu meremehkan  masyarakat Barania, dia pikir masyarakat tidak tahu Bahasa Indonesia? Atau masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.

Oke kembali ke obrolan aneh itu. Mendengar sinisme eksplisit dari pejabat daerah tersebut, kami lantas sangat syok. Pengalaman kami tinggal di Barania 2 mingguan ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa keberadaan kami merugikan, justru masyarakat dengan sangat antusias menyambut kami. Mulai dari kedatangan hingga sekarang. Orang-orang tua, guru-guru, bocah-bocah, pejabat desa hingga kodim dan pihak kecamatan. Sama sekali tidak ada yang menolak kehadiran kami. Tiap sore diantar makanan oleh tetangga, tiap malam bocah-bocah menghampiri kami untuk diajari mengaji, tiap pagi ditunggu para guru untuk mengajari murid-murid. Semuanya kami lakukan dengan semangat pengabdian, dan mereka… saya kira merekapun bahagia juga olehnya. Namun, yang sore itu kami dapat sungguh diluar dugaan. Dua hari dua malam kami di kapal Ceremai, 12 jam menunggu di pelabuhan, rasanya capek yang telah hilang itu muncul kembali ketika mendengar perkataan demi perkataan yang terlontar dari pejabat itu.

“Bikin kompos? Saya kira masyarakat saya sudah lebih pintar kalau hanya itu” katanya. Naya, yang ditanya soal itupun terdiam. Naya teman kami dari jurusan TPHP, mungkin memang tidak terlalu paham masalah itu. Kekesalan sudah mulai nampak di raut muka teman-teman. Kekagetan yang berujung pada speechless nya teman-temanpun bak peluru yang terus ditembakkan ARA. “Mahasiswa harus dapat menyumbangkan ilmunya kepada masyarakat. Kalau cuman itu ya masyarakat sudah lebih pintar. Lalu program apalagi?” katanya. Salah seorang temanpun menyahut “tapi bukan hanya sekadar membuat Pak, tapi sampai proses pengemasan”. “Kalau pengemasan kan ya tinggal dikemas” katanya. Oh sumpah, saya rasa Bapak ini tidak pernah belajar manajemen pemasaran. Jangan dikira memasarkan produk itu segampang memproduksinya pak. Lagipula, membuat kompos dari feses sapi di Desa Barania pun adalah hal yang baru, karena selama ini feses sapi hanya dijadikan pupuk kandang (murni feses sapi). Belum ada masyarakat yang mempraktekkan pembuatan pupuk kompos, karena belum tahu formulasi pembuatannya. Jadi, sebenarnya siapa yang tidak paham lapangan?

 “Apalagi program ki dibuat?” sambungnya lagi. Kami yang moodnya telah hancur berantakanpun asal menjawab. Pengajaran IT, pengajaran bahasa inggris, banyak deh. Lalu Pak Bupatipun lantas menanyakan mahasiswa Ilmu Komputer yang katanya hendak mengajari IT. “Mengajari dan mengenalkan komputer kepada anak-anak SD, guru-guru dan pemuda pak” kata Ema, salah seorang teman dari ILKOM. Pak Bupatipun tertawa, Ia lantas meremehkan perjuangan teman kami dari ILKOM, katanya masak hanya diajari mengetik, ARA menantang kami untuk dapat mengajari programmer kepada masyarakat. Sebagian dari kami lantas tertawa kecil, jelas lah. Pikir kami “mengenal laptop saja baru, mengetik saja butuh 3 pertemuan, bagaimana mungkin mau diajari masalah programmer”. Kata teman kami “Masyarakat belum siap pak”. ARA menyahut “lalu kapan kalian mau mengajari programmer kepada mereka” dijawab “ya besok kalau masyarakat sudah siap, mengetik saja mereka masih belum bisa” timpal teman kami. Lalu pak Bupati menyahut lagi “itu ada MPLIK (Mobil Penyedia Layanan Internet Kecamatan). Disana ada UPS nya, coba kalau kalian memang jago komputer, sambungkan jaringan UPS itu ke program E-KTP” tantangnya. Yosi, teman kami dari ILKOM pun bingung, UPS apa katanya. Saya yang tidak tahu apa-apa buru-buru menyuruh Yosi melihat MPLIK. Tak lama Ia kembali, dengan raut kecut. UPS adalah penyimpan daya, mana mungkin bisa disambungkan untuk menghasilkan koneksi internet ke mobil E-KTP, namun sayang sang Bupati telah berlalu, jadi ia tidak sempat dipermalukan Yosi di depan kami. Sotoy sekali.

Yang lebih menyakitkan dari obrolan aneh tersebut adalah, ketika teman kami menyahut “Kami sama sama belajar dengan masyarakat Pak”, apa coba tanggapannya? Kurang lebih Ia berkata “Masyarakat itu butuh ilmu kalian, bagaimana bisa kalian sama-sama belajar dengan masyarakat. Kalau belum punya ilmu yang kuat, lebih baik tidak usah KKN disini. Nanti saya laporkan ke rektor kalian”. Waow, itu merupakan klimaks dari hari itu. Kami terdiam semua, tidak ada yang berkata-kata. Bukan karena kami tidak tahu apa yang harus dikatakan, tapi karena kami bingung dan kaget. Bagaimana bisa pejabat daerah berkata perkataan janggal seperti itu. Bukannya memberikan dukungan mahasiswa memajukan masyarakatnya, jangankan memberikan fasilitas, memberikan apresiasi saja tidak. Sungguh sore itu menjadi sore terpahit yang pernah kami alami selama KKN disini. Ditambah dengan perkataan “nanti saya laporkan ke rektor kalian”, itu bukan terasa sebuah ancaman, justru kami berharap kami dilaporkan kepada Pak Rektor. Saya yakin 1000% Pak Tik sebagai rektor kami malah akan menertawakan ARA yang sangat kekanak-kanakan. Oh iya, memang ia kenal dengan Pak Tik?

Saya menulis ini dua hari pasca terjadinya insiden itu, jadi bisa dibilang tulisan ini bukanlah sebuah letupan emosi atau pengaduan akan perlakuan Bupati yang sulit mengapresiasi. Namun ini hanya ungkapan kekecewaan, di zaman dimana reformasi birokrasi dan konsep good governance telah diterapkan, masih ada Bupati daerah yang berlagak ‘sok penting’, ‘sok berkuasa’ dan gila hormat. Ia pikir hanya dengan kekuatannya sendiri ia bisa memajukan daerah? Kami bukan meminta pujian atau penghargaan, insya Allah niat kami adalah karena kami ingin menerapkan ilmu dan belajar bersama sama masyarakat sekaligus. Kami tidak ingin dipuji, tapi kami juga tak ingin dicaci. Kami tidak butuh penghargaan, tapi apresiasi penting untuk memompa semangat kami. Saya pikir ARA tidak benar-benar tahu esensi Kuliah Kerja Nyata, ia pikir kami adalah sekumpulan staf ahli pemerintah pusat yang dengan ‘abakadabra’ duit segepok, bisa mengubah kehidupan masyarakat. Kami adalah entitas akademisi, mahasiswa. Bukan materi yang kami bawa, tapi ilmu. Dan penerapan serta proses transfer ilmu bukanlah merupakan hal yang mudah, lagipula, kami belum lulus. Masih banyak belajar, jadi apa salahnya jika kami juga belajar dari masyarakat?

Tolong ya pak, saya cuman pengen satu : bapak lebih banyak bergaul dengan masyarakat dari suku lain dan yang pasti… lebih banyak turun ke lapangan 😀 biar semakin gaul, gak kuper seperti sekarang… hehe salam damai dari saya..

Kisah dari Pulau Seberang #2 : Potret

This slideshow requires JavaScript.

Kisah dari Pulau Seberang #1 : Prolog

6 Juli 2012 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan karir akademik saya (haha). Karena di tanggal itulah saya beserta rekan satu tim KKN berangkat untuk menunaikan tugas akademis kami ke lokasi yang telah kami rencanakan. Kebetulan kami mengambil lokasi di kecamatan Sinjai Barat, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Desa Barania. Desa barania merupakan salah satu desa hasil pemekaran dari desa Gunung Perak, salah satu desa pengolah hasil peternakan dan pertanian terbesar di kecamatan Sinjai Barat. Tiga dusun yang menjadi lokasi pengabdian kami yakni dusun Matirohalia, Pussanti dan Kadorobukuah. Kebetulan sub unit saya berada di dusun tengah yakni dusun Pusanti. Dengan potensi alam dan pertanian yang begitu luar biasa melimpahnya, saya mensyukuri sekali pernah menginjakkan kaki di ranah berhawa dingin ini.

Sehari dua hari dan akhirnya sudah lebih seminggu kami berkutat dengan segala tetek bengek kegiatan KKN di tempat ini, memberikan banyak pembelajaran yang tidak mungkin saya dapatkan di tempat lain. Banyak adaptasi yang mutlak harus dilakukan. Bahasa, makanan, perilaku, penyesuaian kulit hingga kebiasaan mandi harus di ‘stem’ ulang. Banyak yang dapat diceritakan namun tentu tidak dapat dituangkan dalam sebaris dua baris kalimat. Alam, masyarakat, kebiasaan, bahasa hingga makanan, semuanya mengesankan disini.

Saya dan subunit kami tinggal di dusun Pussanti, desa Barania. Di sini, kami tinggal di rumah kepala dusun, Pak Hasyim namanya. Di rumah panggung kayu sederhana ini, kami berdelapan mulai kehidupan baru selama 1 bulan ini. Rumah yang kemudian menjadi markas, tempat rapat, tempat menuangkan keluh kesah, tempat beristirahat, berbagi derita dan bahagia, dan tempat yang pasti akan membekas di ingatan kami seumur hidup sebagai pondokan pengabdian kami.

Kehidupan kami disini rupanya bukanlah kehidupan sulit sebagaimana yang kami bayangkan sebelumnya. Bapak dan Ibu Hasyim sebagai orangtua asuh kami sungguh sangat terbuka dan –hampir- memberikan segalanya kepada kami. Beras, ikan, selimut, ruangan, kamar mandi, bahkan gitar. Semuanya mereka sediakan, dan untuk kamilah yang utama. Bahkan, Bapak, Ibu, Ilmi dan Fajri (dua anak terakhirnya) tidur di satu kasur di ruangan dekat dapur. Itu karena, dua kamar yang biasa mereka pakai beristirahat diserahkan kepada kami. Bapak dan Ibu juga rela makan terakhir, dengan sisa-sisa lauk yang mereka masak, setelah kami berdelapan mengambil makan terlebih dahulu. Bu Hasyim bahkan tidak mau makan ketika ada salah satu diantara kami yang belum mengambil nasi dan lauk. Telah banyak yang mereka korbankan untuk kami, jangan sampai keberadaan kami disini sia sia. Dan saya –beserta teman-teman- tidak ingin menjadikan banyak pengorbanan itu sia-sia… Insya Allah.

Bukanlah bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi bersyukurlah yang membuat hidup 

 

 

 

Teruntuk Kalian

Keluarga adalah satu dari banyaknya keagungan karya alam -anonim-

Insya Allah ini menjadi malam terakhir saya menginap dirumah, bersama bapak dan adek sebelum berangkat KKN ke tanah celebes. Seperti biasa, ‘hari terakhir’ merupakan kata-kata yang teramat menyedihkan bagi saya. Bukan, bukan karena akan berangkat mengabdi ke pulau seberang, tapi karena ‘berpisah’ sementara dengan kehidupan disini terasa amat berat dan (anehnya) menyesakkan. Tidak hanya dengan keluarga, namun juga dengan segenap rekan dan sahabat kampus. Buat saya, kampus adalah rumah kedua kini, dan orang-orang didalamnya adalah keluarga besar yang bersamanya, hidup menjadi semakin bermakna. Disanalah saya menemukan betapa mahalnya harga pengorbanan, arti persahabatan, memaknai rival, memenej emosi dan waktu, dan segala rasa yang belum pernah ditemukan di dunia saya sebelumnya. Almamater bukan hanya sebuah afiliasi, namun lebih dari itu, Ia adalah rumah dengan atap kepercayaan dan pondasi kasih sayang, yang mana tanpanya pulang hanyalah sebuah kata tanpa makna (A.H)

Teruntuk para sahabat dan rekan, sungguh doa dan harapan selalu menyertai kalian. Semoga Allah senantiasa menuntun kita ke jalan-Nya, menunjukkan yang terbaik, mempererat jalinan tali silaturahim kita, mempertemukan pada masa depan yang baik, dan saling terikat dan mengingat satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, masing-masing kita pasti sadar dan tahu, tidak ada yang dapat mengembalikan momen kebahagiaan itu, saat-saat menghabiskan sebagian besar waktu bersibuk-sibuk di kampus, berjalan-jalan mencari makan siang, tertawa, bercanda, menangis, meratap. Bersama. Semua bersama. Tidak lagi bisa. Atau, tidak akan lagi bisa.  Karena saat-saat itu akan datang. Berpisah. Pasti datang. Mungkin bukan sekarang, saya harap bukan sekarang. Namun pasti akan datang. Pasti., . KKN memang bukan akhir. Berlebihan jika menganggap ini adalah sebuah perpisahan, tapi bagi saya, ini semacam alarm penanda. Penanda bahwa tidak lagi ada injure time untuk menghabiskan waktu menggalau di kampus.. bersama-sama lagi.

Teruntuk para sahabat dan rekan, perjuangan tidak terhenti ketika topi toga dikenakan. Justru awal dari sebuah perjalanan panjang yang menuntut banyak pengorbanan. Memikirkan itu, saya jadi ingin menemukan sebuah lorong waktu, kembali kemasa-masa dulu. Masa dimana ‘hanya tugas’ yang menjadi momok kita, masa dimana ‘hanya dosen’ yang menjadi musuh bersama dan masa dimana hanya ‘orang pintar’ yang menjadi rival kita. Mungkin di masa depan, orang-orang terdekatlah yang menjadi ‘momok’, ‘ musuh’ dan ‘rival’ itu. Karena likunya hidup, terkadang tidak sejalan dengan perasaan dan keinginan. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua, kepada kalian para sahabat.

Doa Rabithah

Ya Allah, …Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
telah berkumpul karena kecintan kami kepada-Mu
Bertemu untuk mematuhi perintah-Mu
Bersatu memikul beban da’wah-Mu
Hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk komitmen
dalam menjalankan syariat-Mu
maka eratkanlah ikatannya.

Ya Allah…,
Kekalkanlah kemesraannya antara hati-hati ini
Tunjukilah kepada hati-hati ini akan jalan-Nya
(yang sebenarnya).
Penuhilah hati-hati ini
Dengan cahaya rabbani-Mu yang tidak kunjung pudar
Lapangkanlah hati-hati ini dengan limpahan iman / keyakinan
dan keindahan bertawakkal kepada-Mu

(Jika engkau mentakdirkan mati),
Maka wafatkanlah pemilik hati-hati ini syahid di jalan-Mu.
Engkaulah sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong.

Ya Allah…
Perkenankanlah permintaan ini

Ya Allah,
Restuilah dan sejahterahkanlah junjungan kami Muhammad,
keluarga, dan para sahabat Baginda semuanya

Amiin

Semoga keberkahan selalu terlimpah pada kehidupan kita. Mari saling mengingat, saling mencinta, saling percaya dan saling merindukan, karena Allah…

Terima kasih terima kasih terima kasih terima kasih dan beribu terima kasih, teruntuk kalian, para sahabat dan rekan 🙂

-rekan-

Negeri Sejuta Koin : Refleksi Kegagalan Pemerintah (?)

Publik Indonesia lagi-lagi dihebohkan dengan pemberitaan seputar penggalangan koin dimana-mana. Setelah sebelumnya penggalangan koin yang heboh hanya untuk masyarakat akar rumput seperti ‘Koin Untuk Prita’ dan ‘Koin Cinta Bilqis’, kini penggalangan koin rupanya juga milik para pejabat elit superior. Ya Koin Untuk KPK yang pertama kali secara ‘tidak sengaja’ dicetuskan oleh Bambang Widjoyanto ini mulai menggegerkan publik Indonesia manakala mencuat sejumlah wacana mengenai penolakan anggaran pembangunan gedung baru KPK oleh DPR. Pro dan kontra, seperti biasa tidak pernah dapat terhindarkan, dan repetisi pemberitaan oleh media massa menambah panas kontroversi tersebut. Ada yang menganggapnya berlebihan dan bahkan melanggar konstitusi, sebaliknya banyak pula yang mendukung dan bahkan berkembang menjadi gerakan sosial dengan kekuatan penuh. Wacana inipun berkembang menjadi isu politik yang seolah memposisikan KPK vis a vis DPR.

Di sisi lain, dukungan luar biasa bertebaran dari segala penjuru. Masyarakat berbondong-bondong ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana gedung KPK. Mulai dari tukang ojek, siswa SD, ibu rumah tangga bahkan pejabat tinggi seperti gubernur dan menteripun dengan sukarela bersedia menyumbang untuk pembangunan gedung baru KPK. Terlepas dari pro kontra koin untuk KPK, maupun untuk Bilqis dan Prita, terpampang dengan telanjang bahwasanya masyarakat Indonesia bukan sekelompok  entitas apatis yang tidak lagi memiliki rasa kepedulian. Dibalik kritik dan sorotan tajam dari masyarakat kepada pemerintah, masyarakat selalu memiliki sebuah alternative choice untuk menunjukkan kecintaannya kepada Indonesia. Kekuatan akar rumput yang bergejolak telah membuktikan itu, gerakan koin untuk Bilqis, Prita maupun KPK menjadi bukti bahwa mereka dapat mengambil inisiatif untuk membantu memecahkan masalah yang dialami oleh saudara sebangsa mereka. Namun kecenderungannya yang terlihat dengan jelas adalah gerakan-gerakan populer semacam ini merupakan bentuk gerakan ‘memojokkan’ pemerintah. Dimana kelambanan pemerintah merespon isu publik ditanggapi dingin kelompok masyarakat yang kemudian mencari alternatif untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang ada. Apatisme terhadap pemerintah yang berujung pada fenomena ‘penggalangan koin’ ini sesungguhnya merupakan puncak gunung es dari sikap masyarakat yang terlalu jengah melihat sandiwara politik kacangan yang terus menerus ditunjukkan pejabat-pejabat kita yang terhormat. Masalah-masalah publik banyak terbengkalai, hukum yang tak lagi menunjukkan taji adilnya, sementara itu gedung wakil rakyat diributkan oleh hal-hal remeh temeh yang tidak krusial. Kemunafikan-kemunafikan yang ditunjukkan, baik pejabat maupun sebagian media membuat rakyat ‘capek’ menunggu pertolongan pemerintah dalam menanggapai permasalahan sehingga mekanisme exit yang dipilih adalah mekanisme sosial yang berlandaskan pada rasa kepedulian dan rasa senasip sebangsa

Ya, dibalik ketidakpedulian sebagian besar masyarakat terhadap pemerintah, fenomena ‘koin demi koin’ ini juga menunjukkan wajah lain dari rakyat kita yang sebetulnya ramah terhadap sesama, memiliki kepedulian tinggi, responsive dan mampu bekerjasama dengan kolektif. Ingat bagaimana mekanisme penggalangan dana untuk Prita yang berawal dari jejaring sosial yang kemudian mewabah dasyat yang berdampak dasyat pula? Itulah kekuatan masyarakat Indonesia sesungguhnya. Masyarakat Indonesia sangat mudah disatukan, karena sesungguhnya hati mereka terikat. Terikat oleh sisa-sisa perasaan nasionalisme yang terserak sebagai saudara sebangsa.

Selanjutnya, jangan sampai masyarakat Indonesia secara swadaya terus menerus memecahkan persoalan demi persoalan yang terjadi di negara ini. sesungguhnya fenomena koin demi koin ini merupakan tamparan buat pemerintah yang memberikan alarm bahwa ‘halo, tanpa pemerintah pun kami masih bisa hidup’ yang didengungkan oleh rakyat. Sikap persatuan yang ditunjukkan melalui penggalangan koin oleh rakyat ini harus menjadi sebuah refleksi menjadikan pemerintah lebih tanggap dan peduli terhadap rakyat.

“Entah bagaimana tercapainya ‘persatuan’ itu, entah bagaimana rupanya ‘persatuan’ itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia – Merdeka itu, ialah ‘Kapal Persatuan’ adanya” (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi)