Negeri Sejuta Koin : Refleksi Kegagalan Pemerintah (?)

Publik Indonesia lagi-lagi dihebohkan dengan pemberitaan seputar penggalangan koin dimana-mana. Setelah sebelumnya penggalangan koin yang heboh hanya untuk masyarakat akar rumput seperti ‘Koin Untuk Prita’ dan ‘Koin Cinta Bilqis’, kini penggalangan koin rupanya juga milik para pejabat elit superior. Ya Koin Untuk KPK yang pertama kali secara ‘tidak sengaja’ dicetuskan oleh Bambang Widjoyanto ini mulai menggegerkan publik Indonesia manakala mencuat sejumlah wacana mengenai penolakan anggaran pembangunan gedung baru KPK oleh DPR. Pro dan kontra, seperti biasa tidak pernah dapat terhindarkan, dan repetisi pemberitaan oleh media massa menambah panas kontroversi tersebut. Ada yang menganggapnya berlebihan dan bahkan melanggar konstitusi, sebaliknya banyak pula yang mendukung dan bahkan berkembang menjadi gerakan sosial dengan kekuatan penuh. Wacana inipun berkembang menjadi isu politik yang seolah memposisikan KPK vis a vis DPR.

Di sisi lain, dukungan luar biasa bertebaran dari segala penjuru. Masyarakat berbondong-bondong ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana gedung KPK. Mulai dari tukang ojek, siswa SD, ibu rumah tangga bahkan pejabat tinggi seperti gubernur dan menteripun dengan sukarela bersedia menyumbang untuk pembangunan gedung baru KPK. Terlepas dari pro kontra koin untuk KPK, maupun untuk Bilqis dan Prita, terpampang dengan telanjang bahwasanya masyarakat Indonesia bukan sekelompok  entitas apatis yang tidak lagi memiliki rasa kepedulian. Dibalik kritik dan sorotan tajam dari masyarakat kepada pemerintah, masyarakat selalu memiliki sebuah alternative choice untuk menunjukkan kecintaannya kepada Indonesia. Kekuatan akar rumput yang bergejolak telah membuktikan itu, gerakan koin untuk Bilqis, Prita maupun KPK menjadi bukti bahwa mereka dapat mengambil inisiatif untuk membantu memecahkan masalah yang dialami oleh saudara sebangsa mereka. Namun kecenderungannya yang terlihat dengan jelas adalah gerakan-gerakan populer semacam ini merupakan bentuk gerakan ‘memojokkan’ pemerintah. Dimana kelambanan pemerintah merespon isu publik ditanggapi dingin kelompok masyarakat yang kemudian mencari alternatif untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang ada. Apatisme terhadap pemerintah yang berujung pada fenomena ‘penggalangan koin’ ini sesungguhnya merupakan puncak gunung es dari sikap masyarakat yang terlalu jengah melihat sandiwara politik kacangan yang terus menerus ditunjukkan pejabat-pejabat kita yang terhormat. Masalah-masalah publik banyak terbengkalai, hukum yang tak lagi menunjukkan taji adilnya, sementara itu gedung wakil rakyat diributkan oleh hal-hal remeh temeh yang tidak krusial. Kemunafikan-kemunafikan yang ditunjukkan, baik pejabat maupun sebagian media membuat rakyat ‘capek’ menunggu pertolongan pemerintah dalam menanggapai permasalahan sehingga mekanisme exit yang dipilih adalah mekanisme sosial yang berlandaskan pada rasa kepedulian dan rasa senasip sebangsa

Ya, dibalik ketidakpedulian sebagian besar masyarakat terhadap pemerintah, fenomena ‘koin demi koin’ ini juga menunjukkan wajah lain dari rakyat kita yang sebetulnya ramah terhadap sesama, memiliki kepedulian tinggi, responsive dan mampu bekerjasama dengan kolektif. Ingat bagaimana mekanisme penggalangan dana untuk Prita yang berawal dari jejaring sosial yang kemudian mewabah dasyat yang berdampak dasyat pula? Itulah kekuatan masyarakat Indonesia sesungguhnya. Masyarakat Indonesia sangat mudah disatukan, karena sesungguhnya hati mereka terikat. Terikat oleh sisa-sisa perasaan nasionalisme yang terserak sebagai saudara sebangsa.

Selanjutnya, jangan sampai masyarakat Indonesia secara swadaya terus menerus memecahkan persoalan demi persoalan yang terjadi di negara ini. sesungguhnya fenomena koin demi koin ini merupakan tamparan buat pemerintah yang memberikan alarm bahwa ‘halo, tanpa pemerintah pun kami masih bisa hidup’ yang didengungkan oleh rakyat. Sikap persatuan yang ditunjukkan melalui penggalangan koin oleh rakyat ini harus menjadi sebuah refleksi menjadikan pemerintah lebih tanggap dan peduli terhadap rakyat.

“Entah bagaimana tercapainya ‘persatuan’ itu, entah bagaimana rupanya ‘persatuan’ itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia – Merdeka itu, ialah ‘Kapal Persatuan’ adanya” (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s