Kisah dari Pulau Seberang #1 : Prolog

6 Juli 2012 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan karir akademik saya (haha). Karena di tanggal itulah saya beserta rekan satu tim KKN berangkat untuk menunaikan tugas akademis kami ke lokasi yang telah kami rencanakan. Kebetulan kami mengambil lokasi di kecamatan Sinjai Barat, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Desa Barania. Desa barania merupakan salah satu desa hasil pemekaran dari desa Gunung Perak, salah satu desa pengolah hasil peternakan dan pertanian terbesar di kecamatan Sinjai Barat. Tiga dusun yang menjadi lokasi pengabdian kami yakni dusun Matirohalia, Pussanti dan Kadorobukuah. Kebetulan sub unit saya berada di dusun tengah yakni dusun Pusanti. Dengan potensi alam dan pertanian yang begitu luar biasa melimpahnya, saya mensyukuri sekali pernah menginjakkan kaki di ranah berhawa dingin ini.

Sehari dua hari dan akhirnya sudah lebih seminggu kami berkutat dengan segala tetek bengek kegiatan KKN di tempat ini, memberikan banyak pembelajaran yang tidak mungkin saya dapatkan di tempat lain. Banyak adaptasi yang mutlak harus dilakukan. Bahasa, makanan, perilaku, penyesuaian kulit hingga kebiasaan mandi harus di ‘stem’ ulang. Banyak yang dapat diceritakan namun tentu tidak dapat dituangkan dalam sebaris dua baris kalimat. Alam, masyarakat, kebiasaan, bahasa hingga makanan, semuanya mengesankan disini.

Saya dan subunit kami tinggal di dusun Pussanti, desa Barania. Di sini, kami tinggal di rumah kepala dusun, Pak Hasyim namanya. Di rumah panggung kayu sederhana ini, kami berdelapan mulai kehidupan baru selama 1 bulan ini. Rumah yang kemudian menjadi markas, tempat rapat, tempat menuangkan keluh kesah, tempat beristirahat, berbagi derita dan bahagia, dan tempat yang pasti akan membekas di ingatan kami seumur hidup sebagai pondokan pengabdian kami.

Kehidupan kami disini rupanya bukanlah kehidupan sulit sebagaimana yang kami bayangkan sebelumnya. Bapak dan Ibu Hasyim sebagai orangtua asuh kami sungguh sangat terbuka dan –hampir- memberikan segalanya kepada kami. Beras, ikan, selimut, ruangan, kamar mandi, bahkan gitar. Semuanya mereka sediakan, dan untuk kamilah yang utama. Bahkan, Bapak, Ibu, Ilmi dan Fajri (dua anak terakhirnya) tidur di satu kasur di ruangan dekat dapur. Itu karena, dua kamar yang biasa mereka pakai beristirahat diserahkan kepada kami. Bapak dan Ibu juga rela makan terakhir, dengan sisa-sisa lauk yang mereka masak, setelah kami berdelapan mengambil makan terlebih dahulu. Bu Hasyim bahkan tidak mau makan ketika ada salah satu diantara kami yang belum mengambil nasi dan lauk. Telah banyak yang mereka korbankan untuk kami, jangan sampai keberadaan kami disini sia sia. Dan saya –beserta teman-teman- tidak ingin menjadikan banyak pengorbanan itu sia-sia… Insya Allah.

Bukanlah bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi bersyukurlah yang membuat hidup 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kisah dari Pulau Seberang #1 : Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s