Kisah dari Pulau Seberang #3 Shock Therapy di Sabtu Malam

keluarga gaul pusanti haha

Alhamdulilah malam yang dingin, seperti biasa di dusun Pussanti Desa Barania. Sabtu malam (28/7) kemarin lusa kami tim KKN PPM UGM Unit 162 diundang Pak Camat Sinjai Barat (yang ganteng dan baik hati haha) untuk menghadiri buka bersama bareng masyarakat dan aparat pemerintah daerah. Rupanya acara buber itu sekalian menjadi acara pelepasan safari ramadhan yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Sinjai. Jadilah, kami yang telah lengkap dengan almamater kebanggaan hanya menjadi ‘hiasan’ atau lebih tepatnya seperti pagar ayu untuk menyambut bapak Bupati Sinjai yang ‘terhormat’, bapak Andi Rudianto Asapa (ARA) beserta jajarannya.

Tiba kami disana, posisi kami langsung diatur oleh bapak Camat untuk menyalami menyambut Bapak Bupati. Tim KKN kami belum pernah bertemu langsung dengan Bapak Bupati, hanya beberapa dari kami yang pernah bertatap muka dengannya, sedangkan sisanya, mengenal sosoknya dari poster, baliho dan spanduk yang bertebaran di seluruh daerah di Sinjai, termasuk di desa kami, Barania. Melihat foto dalam poster dan spanduk yang selalu penuh akan sunggingan senyumnya, saya pribadi berpikiran bahwa pak Bupati adalah sosok pemimpin yang ramah dan down to earth, mengingat kesuksesannya meraih mayoritas suara dalam pilkada dua periode dan dicalonkannya menjadi gubernur sulsel periode mendatang.

naya vs ara

naya dan pak bupati hihii 🙂 *liat deh tampangnya naya* haha

Oke kembali ke seremoni di sabtu sore. Tiba kami disana, pak Camat yang ramah dan baik hati kemudian memberi instruksi kepada kami untuk berdiri berjajar di depan rumah dinasnya. Tak lama kemudian, suara riuh sirene mobil seperti pemadam kebakaranpun mendekat. Rupanya rombongan safari ramadhan dari kabupaten ruarr biasa banyaknya. Yang ganjil tentu saja, iring-iringan mobil tidak lepas dari stiker gambar senyum pak Bupati dan lambang parpol pengusung ARA (Gerindra). Saya sebagai mahasiswa ISIPOL pun sempat heran dan takjub juga. Rombongan bupati bisa menimbulkan kegegeran dan kehebohan yang teramat sangat seperti saat itu. Ya saya sih positive thinking saja, siapa tau memang seluruh SKPD ikut dalam rangkaian pawai itu dan mungkin memang acara buber heboh seperti itu memang menjadi tradisi tahunan, tidak ada tendensi politik apapun. Ya, tapi saya sih bisa saja salah.

Salah satu mobil hitam besar (saya tidak tahu mereknya, lupa tidak melihat) bergambar senyum pak Bupatipun berhenti di depan kami, bersamaan dengan itu, suara bising sirene lenyap. Ya, itu mobil pak Bupati. Kami selaku ‘garda hiasan’ depan pun lantas memberi senyum semenarik mungkin haha. Kemudian satu-satu dari kami menyalami si Bapak. Sampai ujung, ARA berhenti dan menghadap ke arah kami. Pertanyaan pertama yang muncul adalah : “Apa program ki dibuat?”. Teman saya yang paling dekat dengan ARA pun menyahut “Sudah banyak pak. Ada pembuatan kompos, penyuluhan markisa…” belum selesai dijawab, ARA memotong “Kalian bisa tidak ji berkomunikasi dengan masyarakat?”. Bingung arah pertanyaannya, teman saya lantas bertanya, apa maksudnya. Oh, ternyata Pak Bupati menyangsikan komunikasi kami dengan masyarakat Desa Barania. Mungkin dipikirnya, ini orang-orang Jawa pasti tidak mengerti sama sekali dengan bahasa Konjo (bahasa daerah yang dipakai di Sinjai), kalau komunikasi saja tidak nyambung, bagaimana bisa memberikan apa yang masyarakat mau, bagaimana bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Itu yang pasti terpikir dalam kepalanya. Hm, simpel saja. Tanggapan saya : Dia Bupati yang kuper. Bagaimana bisa hal tersebut lantas membuatnya menjudge bahwa program-program kami tidak bermanfaat. Saya yakin beliau belum pernah keliling Indonesia. Bagaimana mungkin hanya karena masalah bahasa, keberadaan kami justru dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna. ARA memang sudah (kelihatan) tua, namun rupanya tingkat pemahamannya masih sangat cetek, saya yakin Ia tidak paham dengan apa yang orang-orang sebut sebagai “Bahasa Nasional” dan “Bahasa Persatuan”. Untuk apa founding father kita susah-susah meniupkan ruh nasionalisme dengan media (salah satunya) Sumpah Pemuda sebagai sarana pemersatu bangsa. Masih ingat kan sumpah pemuda? Ingatan pendek saya memang tidak menangkap jelas kata per kata dalam sumpah pemuda, tapi ya kalau untuk intinya saya dapat menangkap lah ya. Intinya : Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Begitu kira-kira. Poin yang terakhir, itulah yang saya kira disebut sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Persatuan. Ya, saya kira ARA tidak paham, kalau bicara masalah bahasa daerah, Indonesia merupakan negeri unik yang secara keseluruhan, masyarakatnya memiliki lebih dari 160 bahasa derah. Di Yogyakarta saja, bahasa daerah ada bermacam-macam, bahasa Jawa ngoko, krama, dan krama inggil yang biasa dipakai di lingkungan kraton. Atau jangan-jangan yang Ia tahu hanya bahasa konjo dan tidak bisa berbahasa Indonesia? Atau dia yang terlalu meremehkan  masyarakat Barania, dia pikir masyarakat tidak tahu Bahasa Indonesia? Atau masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.

Oke kembali ke obrolan aneh itu. Mendengar sinisme eksplisit dari pejabat daerah tersebut, kami lantas sangat syok. Pengalaman kami tinggal di Barania 2 mingguan ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa keberadaan kami merugikan, justru masyarakat dengan sangat antusias menyambut kami. Mulai dari kedatangan hingga sekarang. Orang-orang tua, guru-guru, bocah-bocah, pejabat desa hingga kodim dan pihak kecamatan. Sama sekali tidak ada yang menolak kehadiran kami. Tiap sore diantar makanan oleh tetangga, tiap malam bocah-bocah menghampiri kami untuk diajari mengaji, tiap pagi ditunggu para guru untuk mengajari murid-murid. Semuanya kami lakukan dengan semangat pengabdian, dan mereka… saya kira merekapun bahagia juga olehnya. Namun, yang sore itu kami dapat sungguh diluar dugaan. Dua hari dua malam kami di kapal Ceremai, 12 jam menunggu di pelabuhan, rasanya capek yang telah hilang itu muncul kembali ketika mendengar perkataan demi perkataan yang terlontar dari pejabat itu.

“Bikin kompos? Saya kira masyarakat saya sudah lebih pintar kalau hanya itu” katanya. Naya, yang ditanya soal itupun terdiam. Naya teman kami dari jurusan TPHP, mungkin memang tidak terlalu paham masalah itu. Kekesalan sudah mulai nampak di raut muka teman-teman. Kekagetan yang berujung pada speechless nya teman-temanpun bak peluru yang terus ditembakkan ARA. “Mahasiswa harus dapat menyumbangkan ilmunya kepada masyarakat. Kalau cuman itu ya masyarakat sudah lebih pintar. Lalu program apalagi?” katanya. Salah seorang temanpun menyahut “tapi bukan hanya sekadar membuat Pak, tapi sampai proses pengemasan”. “Kalau pengemasan kan ya tinggal dikemas” katanya. Oh sumpah, saya rasa Bapak ini tidak pernah belajar manajemen pemasaran. Jangan dikira memasarkan produk itu segampang memproduksinya pak. Lagipula, membuat kompos dari feses sapi di Desa Barania pun adalah hal yang baru, karena selama ini feses sapi hanya dijadikan pupuk kandang (murni feses sapi). Belum ada masyarakat yang mempraktekkan pembuatan pupuk kompos, karena belum tahu formulasi pembuatannya. Jadi, sebenarnya siapa yang tidak paham lapangan?

 “Apalagi program ki dibuat?” sambungnya lagi. Kami yang moodnya telah hancur berantakanpun asal menjawab. Pengajaran IT, pengajaran bahasa inggris, banyak deh. Lalu Pak Bupatipun lantas menanyakan mahasiswa Ilmu Komputer yang katanya hendak mengajari IT. “Mengajari dan mengenalkan komputer kepada anak-anak SD, guru-guru dan pemuda pak” kata Ema, salah seorang teman dari ILKOM. Pak Bupatipun tertawa, Ia lantas meremehkan perjuangan teman kami dari ILKOM, katanya masak hanya diajari mengetik, ARA menantang kami untuk dapat mengajari programmer kepada masyarakat. Sebagian dari kami lantas tertawa kecil, jelas lah. Pikir kami “mengenal laptop saja baru, mengetik saja butuh 3 pertemuan, bagaimana mungkin mau diajari masalah programmer”. Kata teman kami “Masyarakat belum siap pak”. ARA menyahut “lalu kapan kalian mau mengajari programmer kepada mereka” dijawab “ya besok kalau masyarakat sudah siap, mengetik saja mereka masih belum bisa” timpal teman kami. Lalu pak Bupati menyahut lagi “itu ada MPLIK (Mobil Penyedia Layanan Internet Kecamatan). Disana ada UPS nya, coba kalau kalian memang jago komputer, sambungkan jaringan UPS itu ke program E-KTP” tantangnya. Yosi, teman kami dari ILKOM pun bingung, UPS apa katanya. Saya yang tidak tahu apa-apa buru-buru menyuruh Yosi melihat MPLIK. Tak lama Ia kembali, dengan raut kecut. UPS adalah penyimpan daya, mana mungkin bisa disambungkan untuk menghasilkan koneksi internet ke mobil E-KTP, namun sayang sang Bupati telah berlalu, jadi ia tidak sempat dipermalukan Yosi di depan kami. Sotoy sekali.

Yang lebih menyakitkan dari obrolan aneh tersebut adalah, ketika teman kami menyahut “Kami sama sama belajar dengan masyarakat Pak”, apa coba tanggapannya? Kurang lebih Ia berkata “Masyarakat itu butuh ilmu kalian, bagaimana bisa kalian sama-sama belajar dengan masyarakat. Kalau belum punya ilmu yang kuat, lebih baik tidak usah KKN disini. Nanti saya laporkan ke rektor kalian”. Waow, itu merupakan klimaks dari hari itu. Kami terdiam semua, tidak ada yang berkata-kata. Bukan karena kami tidak tahu apa yang harus dikatakan, tapi karena kami bingung dan kaget. Bagaimana bisa pejabat daerah berkata perkataan janggal seperti itu. Bukannya memberikan dukungan mahasiswa memajukan masyarakatnya, jangankan memberikan fasilitas, memberikan apresiasi saja tidak. Sungguh sore itu menjadi sore terpahit yang pernah kami alami selama KKN disini. Ditambah dengan perkataan “nanti saya laporkan ke rektor kalian”, itu bukan terasa sebuah ancaman, justru kami berharap kami dilaporkan kepada Pak Rektor. Saya yakin 1000% Pak Tik sebagai rektor kami malah akan menertawakan ARA yang sangat kekanak-kanakan. Oh iya, memang ia kenal dengan Pak Tik?

Saya menulis ini dua hari pasca terjadinya insiden itu, jadi bisa dibilang tulisan ini bukanlah sebuah letupan emosi atau pengaduan akan perlakuan Bupati yang sulit mengapresiasi. Namun ini hanya ungkapan kekecewaan, di zaman dimana reformasi birokrasi dan konsep good governance telah diterapkan, masih ada Bupati daerah yang berlagak ‘sok penting’, ‘sok berkuasa’ dan gila hormat. Ia pikir hanya dengan kekuatannya sendiri ia bisa memajukan daerah? Kami bukan meminta pujian atau penghargaan, insya Allah niat kami adalah karena kami ingin menerapkan ilmu dan belajar bersama sama masyarakat sekaligus. Kami tidak ingin dipuji, tapi kami juga tak ingin dicaci. Kami tidak butuh penghargaan, tapi apresiasi penting untuk memompa semangat kami. Saya pikir ARA tidak benar-benar tahu esensi Kuliah Kerja Nyata, ia pikir kami adalah sekumpulan staf ahli pemerintah pusat yang dengan ‘abakadabra’ duit segepok, bisa mengubah kehidupan masyarakat. Kami adalah entitas akademisi, mahasiswa. Bukan materi yang kami bawa, tapi ilmu. Dan penerapan serta proses transfer ilmu bukanlah merupakan hal yang mudah, lagipula, kami belum lulus. Masih banyak belajar, jadi apa salahnya jika kami juga belajar dari masyarakat?

Tolong ya pak, saya cuman pengen satu : bapak lebih banyak bergaul dengan masyarakat dari suku lain dan yang pasti… lebih banyak turun ke lapangan 😀 biar semakin gaul, gak kuper seperti sekarang… hehe salam damai dari saya..

Advertisements

5 thoughts on “Kisah dari Pulau Seberang #3 Shock Therapy di Sabtu Malam

  1. Adeh….membaca tulisan adik-adik ini songong juga yah?wah baru punya ilmu se gitu bupati dah di ejek?lucu kalian seperti bocah aja..kalau pun beliau berkata seperti itu artinya beliau kurang puas jusru kalian yang tidak mau di kritik.dasar anak muda ababil..
    mantang enteng bener ini mahasiswa..kalian itu yg ms bau kencur dah ejek orang ..kalian kaga tau tuh ARA???siapa dia??tolol ah jadi masiswa pendek akal..intropeksi klo kalian di anggap gk berhasil terima aja..kalo di remehen kerja kalian itu arti kritikan buat kalian dan anggap itu kritikan orang tua low…bego..

    1. maaf pak/bu/mas/mbak,
      mungkin semua orang bakal tahu, mana di sini bahasa yang digunakan oleh orang yang berpendidikan, dengan mana bahasa yang digunakan oleh orang yang belum atau tidak berpendidikan. orang berpendidikan tidak akan menggunakan kata-kata kasar seperti kata “tolol” yang saudara gunakan.
      saya hanya ingin sekedar mengingatkan, pemuda/i itu adalah harapan bangsa ini. ketika pemuda/i yang punya cita-cita untuk memajukan bangsa ini, tapi justru dijatuhkan semangatnya oleh orang-orang tua yang pikirannya cetek dan gak mau merasa kalah dengan anak muda, bagaimana nasib bangsa ini kedepannya?
      anggaplah blog yang ditulis saudari ainun, adalah bentuk dari keluhan dan komentarnya, atas tidak diapresiasinya kerja keras yang telah dia dan teman-teman kknnya lakukan. mengapa saudara menjadi sangat emosi begitu, sampai mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan bagi orang yang mengaku sudah dewasa dan mengaku pintar?
      saya mengerti, mungkin saudara adalah pendukung dari bupati di atas. tapi ingat, ada hitam ada putih. ada pro dan ada kontra. jadi cobalah bertoleransi kepada orang-orang yang tidak sepaham dengan anda. yang tidak memihak bupati seperti anda. mungkin mahasiswa-mahasiswa di atas berkata begitu karena memang seperti itulah faktanya. manusia pasti punya kesalahan. bupati atau presiden pun pasti punya kesalahan, dan anda harus siap menerima kenyataan tersebut, bahwa orang-orang yang anda puja atau puji pasti punya kesalahan. toh baik kalau mereka kita kritik, itu kan buat kebaikan kita sebagai rakyatnya?

  2. saudara/i HOAHMZZZ : terimakasih atas masukannya 🙂 tapi yang perlu saya klarifikasi, saya SAMA SEKALI TIDAK mengejek bapak bupati yang terhormat. mana mungkin sy yg mahasiswa biasa ini berani mengejek orang selevel Pak Bupati. Justru sy sebagai warga negara yang baik ingin sekali berbagi mengenai cerita tim kami ini. Kami KKN dan mengabdi itu pada masyarakat, bukan pada pemerintah/ bupati.. itu point nya. Jadi kalau ada kata2 anda yang mengatakan “beliau kurang puas” itu karena kami memang tidak ingin memuaskan Pak Bupati, kami ingin kehadiran kami di desa Barania berguna bagi masyarakat disana. Dan, saya pikir biar bagaimanapun juga hasil kerja kami (dan tim KKN yang lain) tidak patut seorang se-terpandang Pak Bupati menganggap remeh/ rendah akan apa yang kami lakukan. Kami mahasiswa, bukan staff ahli pemerintah yang bisa apa saja, kami mahasiswa, bukan sekelompok pembawa harta karun yang bisa memberi banyak fasilitas kepada masyarakat, kami mahasiswa, bukan sekumpulan pesulap yang bisa memberikan keajaiban. Kami membawa niat baik dan ilmu (yang tidak seberapa), jadi apakah salah kalau ternyata kami juga ikut ‘belajar’ dari masyarakat? apakah salah kalau kami belum professional mengelola semuanya?? dan lagi yang paling penting : apakah pantas seorang pemimpin menjatuhkan mental generasi muda (yang jauh-jauh dari pulau seberang) yang berniat baik membangun daerahnya (daerah pak Bupati-red)? kalaupun itu kritik yang membangun tentu kami terima, tapi kalau kritik yang menjatuhkan?? (kami mahasiswa sudah biasa dikritik dan dijatuhkan, jadi tahu bedanya :D)

  3. saudara/ i abc : itu salah satu budaya bangsa kita yang memang agak menakutkan mbak/ mas.. terkadang menerima pendapat yang berbeda adalah sebuah hal yang abnormal.. padahal apa jadinya bangsa ini tanpa adanya perbedaan? ehehe *jauh ya* hahaa..
    pada intinya, sebenernya saya hanya berbagi cerita, tidak bermaksud menjelek-jelekkan siapapun, apalagi menjatuhkan orang.. enggak insya Allah enggak sama sekali.. dan cerita/ percakapan itu insya Allah memang begitu adanya.. jadi silahkan diinterpretasikan sendiri, dan coba bayangkan gimana rasanya kalau kita (yang jauh2 dari Jawa) belum apa2 udah dijatuhkan mentalnya oleh pemimpin daerah itu.. agak nggerus yaa.. kadang memang senioritas itu masih sangat ditonjolkan di daerah, jadi biar keliatan siapa yang lebih superior dan mana orang2 yang inferior..
    btw terimakasih ya mbak/ mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s