Akhirnya… (sebuah cerita [cont. Apa Kabarmu di Skandinavia?])

Oke, tiba-tiba si mas siwi dengan seenaknya menamatkan cerpen estafet kita. Mungkin dia tidak terima kalo ternyata ada orang ketiga antara Rendra dan Tisha (tipikal cowok yang melankolis -__*), maka dengan seenaknya ia bikin cerita ngebut kaya roller coaster, dan akhirnya… ya akhirnya… TAMAT deh… 

selamat membaca ending cerita (yang agak geje ini) haha *sesekali nyampah boleh juga lhohh haha*

————————— (cerita sebelumnya dpt dilihat disini)

Pertemuan rendra dengan teman lamanya, Joice merubah semua progress skripsinya. Dalam waktu dua bulan, rendra berhasil menyelesaikan skripsinya. Joice memang banyak membantu memberikan data-data skripsi Rendra, dan sekaligus juga pembaca pertama yang memberikan kritik terhadap tulisannya.

Pendadaran sudah ia lalui dengan lancar, hanya sedikit revisi dan itupun bisa terselesaikan dalam waktu kurang dari empat hari. Dalam skripsi Rendra itu pula, dia menuliskan nama Tisha dibawah nama emak dan bapaknya.

Tidak terasa, bulan Februari begitu cepat datang, dan dihari itu Rendra resmi tercatat sebagai lulusan universitas terbaik di Jogja dengan predikat cumlaude. Ia sangat senang pada hari itu, ia membayangkan Tisha tahu bahwa hari ini ia diwisuda.

Seminggu setelah diwisuda, ia menemui Joice di kantornya. Terlihat Joice sedang berbincang dengan seorang laki-laki, sebelum ia melambaikan tangan kearah Rendra yang masih berada di luar.

Hai Ren, selamat ya untuk wisudanya. Oh ya, kenalin, Sandro, partner ku sewaktu di Aussie. Kita akan menikah seminggu lagi, dateng yaa.. O, ya, ada penawaran menarik tuh, beasiswa master ke Osaka. berani coba ?

Rendra mengernyitkan dahi, heran bercampur senang. Oooh, aku kira kamu nggak suka cowok. haha.. selamat yaa.. mmm… sedikit ragu.. hehe

– Ayo lah, kenapa ragu ? takut kalah bersaing ?

+ Salah satunya itu. yang lebih pinter dari aku kan masih banyak.

– Hei, pikirkan baik-baik, apa salahnya mencoba ? bsa jadi orang-orang pinter yang seharusnya menjadi saingan kamu itu mempunyai pemikiran yang sama sepertimu. jadi, lawan kamu berkurang kan ?

Atas bujukan Tisha, Rendra mengiyakan dan mendaftar beasiswa master ke Osaka.

Setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya Rendra dinyatakan berhak menerima beasiswa penuh ke Osaka.

———————-

Tidak terasa kini sudah bulan April. dimana semestinya sebentar lagi Tisha sudah kembali dari Skandinavia. Tapi, ada satu hal yang membuatnya gamang. Sebentar lagi Rendra akan meninggalkan Jogja, menempuh pendidikan masternya di Osaka. Lagi pula, Rendra terlanjur tidak  bisa mengartikan diamnya Tisha.

Dan hari dimana Rendra harus berangkat ke Osaka pun tiba. pagi itu, ia sudah mengemasi barang bawaannya untuk dibawa ke airport.

Setelah berpamitan kepada emak,bapak nya, Rendra duduk sebentar menunggu ruang check in untuk penerbangan ke Narita dibuka. di waktu menunggu itulah, ia iseng membuka halaman facebooknya. Bukan apa-apa, hanya untuk mengusir rasa bosannya saja. Tapi ketika ia buka, ia membaca update terbaru Tisha :Landing to Adi Sucipto.. yeaaay..!! :D  Ternyata Rendra dan Tisha berada di tempat yang sama. Tapi, Rendra tidak berharap lebih untuk bertemu dengan Tisha di airport. dalam hati ia bergumam, sudahlah. kalau memang berjodoh dengan Tisha, pasti ketemu. dan tidak harus sekarang dan disini kan ? sambil membawa tas dan menuju ke pesawat, ia menoleh kanan kiri. memang tidak ada. Lagi-lagi kali ini bukan hari dimana ia bisa bertemu dengan Tisha setelah sekian lama. Mungkin ia harus menahan rindu lebih lama lagi, entah sampai kapan.

———————–

Satu setengah tahun di Osaka, Rendra sudah terbiasa dengan perasaannya, meskipun bayang-bayang sosok Tisha tidak pernah bisa hilang dalam pikiriannya. dan disuatu sore, seperti biasa, ia menggunakan waktu luangnya untuk sekedar online di facebook, sesekali melihat dan mencari tahu perkembangan Tisha. Sore itu, Rere, teman dekat Tisha sewaktu KKN, yang juga Rendra kenal, menyapa Rendra..

– Hei Ren.. gimana kabar Jepang ?

+ salju turun hari ini. kenapa ? nggak tanya kabar ku gitu ? :p

– haha… lo mah nggak penting.. :D bercanda. waah, enak nih.. ditunggu foto bareng boneka saljunya yaah ? pasti serasi tuh.. :D

+ hahaha… kampret..

– Eh, Ren, Tisha udah jadi dokter lhooh sekarang..

+ selamat yaa.. kamu juga..?

– iya dong.. :D Eh, aku pengen ke Jepang nih, dua bulan lagi. *mau cari tebengan tempat nginep gitu di tempatmu.. boleh ? haha..

+ oooh,,, boleh sih. kamar mandi masih kosong tuh di apartemenku. haha.. eh, seriusan ? berapa orang ?

– hahaha… sial, serius kali, ya cuma aku sih.  santai.. aku percaya kamu nggak bakalan ngapa-ngapain..

+ ya udah. besok telpon2 aja kalo jadi.

– kamu nggak takut Tisha tau ? eh, gimana perkembangan kamu sama Tisha ? haha.. jadi inget kkn nih.. :D

+ emang kenapa kalo tisha tau ? wong dia nggak suka sama aku kok. perkembangan apa ? nggak ada yang berkembang..

– uuh uuh uuh…. pesimis amat bang ? kalo Tisha juga suka sama kamu gimana ?

+ ya bagus dong. berarti sama-sama suka.  haha… itu kan baru kalo.. bukannya Tisha sukanya sama si Mochtar yaa ?

– itu dulu.. Mochtar juga orangnya playboy…

+ ya nggak apa-apa kan ? kan maksimal boleh beristri 4.  lagipula, dia pinter merayu. jenggotnya juga bikin klepek-klepek cewek2 kampung. haha… ya sah-sah saja, asal dia bisa berlaku adil.

– kalo kamu Ren ? playboy juga ?

+ sayangnya tampangku pas-pasan, nggak marketable jadi playboy.. hahaha..

– hahaha… ada-ada aja..

Lama-lama Rendra merasa bosan dengan obrolan Rere karena mengingatkannya dengan laki-laki yang dulu menjadi kompetitornya untuk mendapatkan si Tisha.

+ Re.. udahan yaa.. mau tidur nih, udah malem.. telpon aja kalo kamu serius mau nebeng.. kalo untuk beberapa hari doang sih, aku siap menjamin kamu nggak bakalan kelaperan disini. asal porsi normal yaa.. haha..

– oke. makasih yaa.. hahaa… iya.. porsi normalnya sopir truk kok.. hahaha…

_____________________________

Hari-hari Rendra di Osaka dilalui dengan kesibukan kampus. Bahkan kadang sampai larut malam dia berada di kampus untuk merampungkan thesisnya. Berbeda dengan waktu kuliah di Indonesia dulu dimana dosen pembimbing begitu susah dicari. di Osaka, dosen selalu stay di kampus dan dosen memberikan target dan tenggat waktu penulisan thesis secepat mungkin. dan akhir bulan ini, Rendra sudah harus ujian thesis dan ia punya waktu dua bulan free sebelum acara seremonial wisuda.

Hari itu hari Minggu, seharusnya Rendra bisa bermalas-malasan di tempat tidur lebih lama mengingat thesiswnya juga sudah diujikan dua minggu lalu tanpa revisi. Tapi, pesan singkat dari telepon seluler yang berisi : aku di depan apartemen kamu sekarang.  itu mengejutkan Rendra. Siapa sih siang-siang begini ingin bertamu, tanpa menyertakan nama pula dalam smsnya. gerutu Rendra. Bel Apartemennya berbunyi. dengan malas ia membuka pintu apartemennya. ia begitu terkejut ketika melihat perempuan di depannya. ya, Tisha.

Hai Ren..

dipandanginya perempuan yang menyapa itu. Tisha, perempuan yang selama ini selalu menghinggapi pikirannya. Perempuan yang tidak pernah absen dalam lamunannya itu kini nyata berada tepat didepannya. Lama ia terdiam berdiri kaku memandangi Tisha.

Ren… ?

panggilan Tisha menyadarkan Rendra dari keterkejutannya.

Eh, iya, silahkan masuk Tisha…

makasih Ren..

duh, maaf nih agak berantakan.. o ya, Rere mana ?

yang waktu itu chat sama kamu pake akun fb Rere itu aku Ren. hehe.. sorry, aku emang mau bikin surprise buat kamu. lagian kamu nggak pernah cerita ke aku kalo kamu disini. malah cerita sama Rere..

oooh.. rendra mencoba menjawab sedingin mungkin sampai Tisha mau menceritakan kenapa selama ini dia hanya diam setelah Rendra mengatakan perasaannya kepada Tisha.

Ren, kamu marah sama aku ? nggak suka ya aku kesini..

gimana mau nggak seneng kamu ada disini. cuma rasanya, kayak mimpi aja kamu bisa nyampe sini.

o ya, soal dulu itu.. aku minta maaf ya Ren..

iya, nggak apa-apa.. o ya, gimana kamu sama Mochtar ? dia nggak marah kamu kesini sendiri ? Rendra berusaha menelisik sampai sejauh mana sebenarnya hubungan Tisha dengan Mochtar.

yaa, setelah tau kalau dia playboy, aku udah pasang jarak sama dia.

oooh… diminum nih, masih anget.. kata Rendra singkat sambil membawakan secangkir kopi untuk Tisha.

Suasana pun kini mencair. obrolan-obrolan ringan tentang tempat wisata di sekitar Osaka dan Tokyo yang hendak dikunjungi menjadi topik utama pembicaraan.

O ya Tis, tunggu disini yaa.. aku rapikan tempat tidur dulu.. nanti kamu tidur di kamarku, aku tidur di sofa sini saja.

Ok. thanks ya Ren, sorry ngrepotin.. hehe..

enggak.. nyantai aja..

Udah tuh Tis.. mendingan kamu istirahat aja, pasti capek kan dari jogja kesini.. hehe..

ya udah deh, aku istirahat dulu ya Ren..

Tisha masuk ke kamar dengan tas bawaannya. Diamatinya tiap inchi dari kamar Rendra. kamar yang cukup luas, tapi minim ornamen dengan warna cokelat yang dominan.

Tisha merebahkan tubuhnya, tapi dia tidak dapat memejamkan mata. di samping tempat tidur, ada sebuah meja lengkap dengan komputer dan beberapa tumpukan buku. Tisha bangun dan iseng melihat-lihat disekeliling meja itu. Ia membuka-buka buku teks kuliah Rendra. Diantara deretan buku Rendra, Tisha penasaran dengan sebuah buku, sepertinya buku catatan. Ternyata bukan buku catatan kuliah rendra, isi buku itu adalah semua ekspresi perasaannya kepada Tisha. perempuan yang sedang membacanya. Tidak terasa mata tisha memerah. Mungkin ia mengerti bagaimana perasaan Rendra ketika Tisha hanya diam dan tidak memberi jawaban ketika dulu Rendra mengatakan perasaannya kepada Tisha.

Tisha keluar dari kamar dan hendak menemu Rendra. Tapi, ia melihat Rendra sudah  tertidur pulas dengan selimut yang Rendra pakai jatuh kebawah. Tisha tersenyum melihatnya dan membenarkan selimut yang jatuh.
ia pun kembali ke kamar, tidak enak kalau membangunkan Rendra yang sudah tidur.

________________________

Tisha terbangun karena lirih ia mendengar suara Rendra mengaji. dilihatnya jam  dinding kamar Rendra, nampaknya sudah pagi. Tisha pun bergegas keluar kamar ketika Rendra selesai mengaji.

– Udah masuk Subuh ya Ren ? kok nggak bangunin ?

+ belum, sebentar lagi.. keganggu yaa ? sorry deeh… hehe..

– enggak kok. cuma berasa kayak di Indonesia denger kamu ngaji.. hehe..  ya udah, ntar jamaahan yaah ? 

_________________________

Selesai sholat subuh, Rendra bergegas ke dapur menyiapkan sarapan untuk tamu istimewanya itu.

– Ya ampun Ren, kamu masak sendiri gitu ? kook nggak nagajak-ngajak ?

+ eh, Tisha.. iya nih, disini kan beda sama di jogja.. susah cari makanan halal.. udah, kamu tidur aja lagi sana kalau masih ngantuk..

– nggak ah, mau bantuin kamu aja..

+ ya udah, sini..

Ya, didapur apartemen Rendra itu komunikasi yang telah beku selama dua tahun lebih itu semakin cair.

__________________________

Dan, setelah selesai sarapan, pagi itu mereka bergegas berkeliling kota Osaka. kebetulan saat itu Sakura masih mekar. Perasaan sepi tanpa Tisha yang dirasakan Rendra selama ini hilang sudah. Setidaknya kini ia bersama Tisha, meskipun belum mengetahui bagaimana perasaan Tisha kepadanya.

____________________________

– Sakuranya bagus ya Ren. jadi pengen lebih lama disini.

Rendra yang saat itu masih bermain-main dengan kameranya, duduk disamping Tisha..

+ Iya, bagus.. yaa suatu hari nanti kan bisa kembali kesini sama suami kamu..

– iih, apaan sih.. garing tau Ren..  O ya, aku ingin ngomong sesuatu ke kamu..

+ ya ngomong aja.. soal apa ?

– maaf yaa Ren, dulu aku sempat diem lama banget… bukan berarti aku nggak suka dan menjauh dari kamu, yaaa….aku diem karena aku cuma kaget aja.. nggak nyangka kamu bakal ngomong seperti itu sama aku..

+ iya, toh udah lalu Tis.. kapan kamu mau nikah ? udah mau 26 lhoo kamu.. buruan..

– nggak tau.. nunggu seseorang itu bilang lagi, bukan cuma ke aku doang, tapi juga bilang sama orang tua ku..

+ iya deh, semoga Mochtar cepet bilang ke orang tua kamu yaa…

– apaan sih.. enggak lah.. bukan dia..

+ emang kamu belum mau nikah ? nungguin siapa sih ?

– hampir, hampir saja aku dijodohin sama anaknya temen bapakku.

+ terus kenapa nggak mau ?

– nggak cocok aja..

____________________________

Rendra terpikir untuk mengatakan perasaannya lagi kepada Tisha. apapun nanti jawaban Tisha, Rendra tidak akan ambil pusing. karena menurutnya ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengatakannya.

+ Tisha, kalo aku tanya ke kamu, boleh ?

– tanya aja, kayak sama siapa aja sih.. hehe…

+ yakin ? tapi harus di jawab lho yaa…

– iya.. mau tanya apa.. ?

+ Leitisha putri Nurina. I still fell in love with you since the first see, yaa, until now.  And I’am, Narendra Atmaja, without a flower, without a ring, but with my genuine heart, wanto to ask you to be my wife. Will you marry me ?

Seketika wajah Tisha berubah menjadi merah padam. Ia tak berani menatap mata Rendra dan tetap menunduk.

Lima menit mereka terdiam seperti patung penghias di sekeliling pohon sakura. Rendra terus berdiri mengamati Tisha. menunggu sampai Tisha mau membuka suara, apapun itu jawaban yang keluar dari mulut Tisha. Perlahan Tisha berani menatap mata Rendra. ditatapnya mata Tisha yang mulai terlihat genangan air dimatanya. tanpa ragu Tisha mengangguk. di peluknya Rendra, laki-laki yang sebenarnya sudah amat dirindukannya sejak ia pulang dari Skandinavia.

Seminggu berlalu. Tisha memutuskan untuk pulang bersama Rendra dan menghadiri upacara wisuda master nya Rendra. Sepulang dari Osaka, janji Rendra kepada Tisha di pesawat ketia dalam perjalanan pulang pun ia penuhi. Tepat sehari setelah sampai di Jogja, Rendra melamar Tisha dan tidak sampai sebulan berselang, mereka melangsungkan pernikahannya.

___________________

Oktober 2017

Tisha dan Rendra kembali ke tepian danau itu. ya, tempat dimana dulu Tisha berjanji akan kembali sebelum ia berangkat ke Skandinavia. Akhirnya, setelah sekian lama, Tisha benar-benar menepati janjinya kembali ke Danau itu. Namun kali ini ia ber tiga. bersama Rendra, dan juga Aisha. putri cantik mereka yang masih berusia dua tahun.

Jreeeengg….. tamat

special thanks to : pembaca cerita yang budiman.. hahahaha…..

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Haha oke, itulah akhir cerita cinta picisan Rendra-Tisha. Berharap ending yang lebih dramatis atau tak terduga? tunggu cerita berikutnya buahahaha *ketawasetan*

okee terima kasih pembaca yang budiman.. sekian dari saya (dan mas siwi yang geje -_-)

*cerita dikopas dari blognya mas siwi

Apa Kabarmu di Skandinavia? -sebuah cerita-

Ini cerita estafet (estafet kok cuman berdua -_-, oke gapapa deh).. Ceritanya ini episode dua.. Entah entar jadinya berapa episode, entah entar endingnya gimana, gak ada yang tahu (bahkan saya juga gak tau) pokoknya, selamat menikmati dan selamat menebak akhir cerita 🙂 

cerita sebelumnya bisa dilihat di blognya mas siwi, (yang baru), si penulis pertama hehe.. di sini ngeliatnya hohoo… 

——————————————————————

… Dua bulan menjalani kehidupan tanpa perempuan manis berlesung pipit itu, hidup Rendra memang tidak banyak berubah. Ia tetap makan, nge game, menggalau dikampus dan berkutat dengan proposal yang tak kunjung di acc. Namun hatinya tetap tak dapat mengingkari, bahwa ia kosong dan terasa hampa. Sudah lama Rendra tidak merasakan suasana hati yang sebegitu kacau seperti yang ia alami saat ini. Setiap Ia rindu dengan gadis bermata jernih itu, ia sempatkan diri berjalan-jalan menuju danau yang menjadi tempat kenangannya dulu bersama Tisha, atau paling tidak, ia mengikuti status dan kesibukan gadis itu melalui akun facebook dan twitter yang dimilikinya. Ia sangat rindu, setiap hari. Namun ia juga tak ingin mengganggu aktivitasnya yang pasti superpadat di Swedia sana, maka itu, ia hanya sering melihat.. tak banyak yang bisa dilakukannya.

—————————————————————–

“Kamu kenapa Rendra, ini sudah revisi yang kesekian kalinya. Sudah dua bulan lebih saya ngikutin kamu tapi bikin bab 3 aja gak kelar-kelar. Kamu mau seminar kapan kalau masih seperti ini?” Bu Jazim, dosen pembimbing skripsi Rendra yang sabar, akhirnya muntab juga. Rendra memang beruntung mendapatkan bimbingannya, namun kali ini sang dosen sudah habis kesabarannya. Proposalnya tidak kunjung selesai! Padahal orangtua Rendra dikampung sana sudah sangat sering menanyakan kapan wisuda, tiga kali sehari paling tidak ibunya sms menanyakan kapan Ia lulus. Tentu saja Ia setres. Rendra mencoba untuk kembali fokus dengan target kelulusannya, namun tidak dapat dipungkiri banyak faktor X yang menyebabkan ia terkendala dalam penulisan skripsi, termasuk tentu saja… masalah perasaannya pada Tisha yang (Ia pikir) bertepuk sebelah tangan.

“Maaf bu progress saya sangat lambat, tapi saya berjanji revisi selanjutnya insya Allah sudah matang” katanya, berjanji. Entah sadar atau tidak, tentu saja ia harus bekerja keras untuk dapat merampungkan proposalnya dalam pertemuan selanjutnya dengan pembimbing. Keluar dari ruang dosen, Ia semakin lunglai. Posturnya yang tinggi tegap tidak dapat menutupi kelesuan yang teramat sangat yang sedang dialaminya. Namun Ia bergegas kembali ke ruang dosen, ia menemui mbak Yuli, sekertaris jurusan untuk minta surat pengantar ke instansi. “Aku gak bisa lama-lama kayak gini nih, bakalan lulus lama kalau begini terus. Galau itu pilihan, move on itu pasti!” pikirnya, sambil mengepalkan tangan tanda peperangan dengan skripsi dimulai. “Skripsi itu harus dicintai, prosesnya dinikmati, seperti orang pacaran. Gak boleh bosan, harus berkomitmen!” teriaknya (dalam hati tentu saja).

——————————————————————

Rendra memacu motornya menuju sebuah instansi LSM yang ada di Taman Siswa. Sebelumnya, ia memaksa Mbak Yuli untuk segera merampungkan surat-surat yang diperlukannya sebelum mood nya berskripsi ria pupus lagi. Sesampainya di LSM itu, ia memarkirkan kendaraannya dan langsung masuk kedalam. Ia mengutarakan maksud kedatangannya untuk mencari data dan wawancara untuk melengkapi proposalnya. Mbak Diah sang garda depan pun lalu menghubungkan Rendra dengan pimpinan LSM tersebut. Joice namanya. Setelah mendapatkan no hape sang pimpinan LSM, Rendra langsung mengatur jadwal pertemuan dengan Joice.

—————————————————————

Rendra sudah 10 menit menunggu di Kedai Rakyat. Ia berjanji bertemu Joice disini untuk wawancara dan mengkopi data-data sekunder yang dimilikinya. Lalu Ia menjumpai sesosok wanita masuk dari pintu utara yang sesuai dengan ciri-ciri Joice. Rendra melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Benar saja, itu Joice. Joice pun langsung duduk di depan kursi yang ditempati Rendra. Mereka lalu berjabat tangan, dan tanpa sadar…

“Eh eh bentar dulu. Kamu Rendra yang dari SMP 2 Bekasi bukan?” Joice langsung menembak. “Yampun, jangan bilang kamu Joice teman SMP ku!” Rendra setengah histeris. Joice lalu tertawa diikuti dengan kekehan Rendra yang keras. “Sumpah, gue gak nyangka bisa ketemu elu disini Joice. Elu ternyata udah lama di Jogja? Kenapa gak bilang? Sialan lu” Rendra secara otomatis mengubah logat bicaranya. “Hahaha gue baru disini juga Ren. Sebelumnya gue di LSM XXX di Tangerang. Yaampun dunia yang makin mengecil atau pergaulan gue yang terlalu luas yak?” Kata Joice yang diikuti tawa Rendra. Mereka berdua kemudian cerita ngalor ngidul, bercerita tentang kehidupan masing-masing kini, cerita tentang masa lalu di SMP dulu. “Gue belum pernah ketemu elu kan yak sebelumnya? Terkhir waktu reuni SMP 4 tahun lalu. Itupun elu masih cupu. Asli gue gak ngenalin elu tadi” kata Rendra. “Hahaha sialan lu. Elu tu yang cupu, hari gini masih luntang lantung cari data buat skripsi” Joice mengejek. Derai tawa pun mewarnai siang itu.

Bagi Rendra, siang itu adalah siang keburuntungannya. Ia mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama, ia dengan mudah dapat menggali informasi dari narasumber utama dan tentu saja data-data yang berkaitan dengan penulisan skripsinya, dan keberuntungan yang kedua, ia bertemu kembali dengan teman lamanya di SMP dulu. Rendra dan Joice memang tidak akrab di SMP, mereka hanya sekelas satu tahun, pada tahun pertama, oleh karenanya mereka telah hilang kontak sejak lama. Namun bertemu teman lama di perantauan, walaupun tidak seberapa akrab, tetap saja menimbulkan euphoria tersendiri.  Bertemu dengan Joice bagaikan membuka cerita masa lalu, mereka kembali membuka album lawas itu, lembar demi lembar. Joice membawanya kembali pada kotanya, asalnya, tempatnya menempa diri untuk pertama kali.

—————————————————————–

Siang yang terik di Kedai Rakyat seketika berubah menjadi malam dingin berkabut. Rendra dan Joice melewatkan hampir 5 jam di kafe itu. Mereka sudah habis masing-masing dua gelas hot cappuccino dan berpiring-piring camilan, mereka juga sudah bolak balik dua kali ke mushola kafe itu, bahkan Joice sudah 4 kali pergi ke toilet. Namun rasanya kebersamaan mereka belum berujung malam itu. “Makasih banyak Joice, untung banget gue ketemu elu. Skripsi gue proposalnya gak kelar-kelar nih. Kalau ada elu, insya Allah jadi lebih gampang” Rendra jujur. “Iyalah, kita kan satu almamater hahaha.. tenang Ren, gue juga pernah kok kayak elu, di Aussie emang gak ada skripsi-skripsian, tapi tugasnya alamakjang ngeri bet dah, nulisnya gak boleh pake bahasa Indonesia lagi” canda Joice. Ia memang mengambil kuliah di Australia dan telah lulus dari sana 6 bulan lalu. Baru dua bulan ia berada di Jogja. Setelah malam itu, mereka berdua semakin akrab. Rendra, tentu saja sangat senang dan beruntung. Setelah pertemuannya dengan Joice ia menjadi jauh lebih bersemangat mengerjakan skripsinya yang telah bersarang laba-laba. Semangatnya semakin terpompa manakala Joice dengan baiknya bersedia menjadi teman diskusi Rendra, Ia rela menyempatkan waktunya hanya untuk menemani Rendra membeli buku, menggalau di perpustakaan ataupun sekadar ngopi di angkringan. Tak terasa, sudah 1 bulan Rendra sibuk mengumpulkan data dan merevisi proposalnya, progress yang ia janjikan pada Bu Jazimpun akhirnya terpenuhi sudah. Ia telah mendapatkan jadwal seminar proposal! Akhirnya.. setelah sekian lama..

—————————————————————–

“Assalamualaikum, hai Rendra apa kabar? Udah lama banget kita gak ngobrol via skype. Aku kangen sama kamu hehehee… Gimana kabar skripsi? Kapan seminar? Kalau ada waktu, balas emailku ya, ntar kita ngobrol lagi via skype hehe… semangat!! 😀 “ –Tisha-

Rendra sempat kaget juga ketika melihat kiriman email dari Tisha. Sudah lama gadis itu tak memberinya kabar, dan ia juga baru sadar.. bahwa Ia pun sudah lama tak memberi kabar apapun padanya….

—————————————————————–

selamat melanjutkan mas siwi… hahaha 

Mudik : Tradisi Unik Yang Membudaya (sebuah refleksi singkat pelayanan kereta api ekonomi kini)

Malam takbiran, lebaran di depan mata. Subhanallah gak berasa sama sekali. Menghabiskan separuh lebih ramadhan di kampung orang jadi salah satu pengalaman yang benar-benar tidak terlupakan. Tidak mungkin terlupakan lebih tepatnya. Yap, lepas KKN ini rutinitas di Jogjapun mulai menggerayangi. Kembali ke gaya hidup mahasiswa yang gentayangan dari pagi sampai malam, glundang-glundung di kasur, menggalau dengan teman seperjuangan dan sederet aktivitas rutin yang belum lama ditinggal. Jelas, ramadhan kali ini berkesan, karena untuk pertamakalinya menghabiskan separuh ramadhan jauh dengan orang tua, jauh dari rutinitas kampus yang terkadang membosankan. Berkat KKN, banyak hal yang untuk ‘pertama kalinya’ yang saya alami, dan saya berterimakasih pada UGM untuk itu.

H-1 lebaran, dan seperti lebaran-lebaran sebelumnya, tradisi yang tidak pernah tertinggal : MUDIK kembali menyibukkan hari-hari kami. Aktivitas mudik menjadi salah satu euphoria bagi keluarga kami. Bersama (mungkin) 200 juta jiwa manusia Indonesia yang pulang kampung merayakan lebaran di dusun masing-masing, kami pun turut heboh merayakannya. Terkadang memang merepotkan, tapi mudik menjadi fenomena yang ditunggu-ditunggu, karena pada momen itulah hampir seluruh keluarga besar berkumpul, karena pada momen itulah mahasiswa perantauan bertemu orangtuanya, karena pada momen itulah agen tiket kaya mendadak, karena pada momen itulah penjual baju, makanan, sampai penjual amplop meraup banyak untung. Yak, mudik dan lebaran memang menghebohkan. Mungkin di belahan bumi ini, hanya Indonesia yang memiliki tradisi unik ini, dan dari banyak hari besar yang dirayakan di Indonesia, hanya idul fitri lah yang menjadi momentum terselenggaranya tradisi yang telah menjadi budaya itu.

Bagi saya pribadi, dibalik kehebohannya, fenomena mudik yang telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia ini menumbuhkan kekaguman saya yang lain terhadap masyarakat Indonesia. Urbanisasi yang menjadi sebuah keniscayaan dan bahkan ‘masalah’ bagi pemerintah rupanya tidak serta merta mampu memupuskan rasa persaudaraan dan budaya kolektif masyarakat. Tiket pesawat yang ludes dan berjubelnya orang di stasiun, bandara dan terminal menjadi saksi bisu betapa masyarakat Indonesia bukanlah orang-orang sombong yang melupakan tanah kelahirannya di kampung halamannya. Mudik bagi keluarga kami (dan keluarga orang-orang) mungkin menjadi sebuah ‘alat kelengkapan’ lebaran, yang tanpanya seperti makan sayur tak digarami. Maklulmlah, walaupun tinggal di Jogja lama, namun orang tua bukanlah orang Jogja. Jadi jika ingin berkumpul dengan saudara sedarah, kami harus melakoni rutinitas mudik, paling tidak sekali setahun. Dan setiap mudik, saya alhamdulilah enjoy melakoninya (karena memang dekat hahaa). Berjubelnya orang di stasiun menjadi sebuah pemandangan yang menurut saya bukannya miris, tapi justru seksi. Haha. Ya, bukankah hal tersebut menunjukkan betapa orang-orang sangat bersemangat bertemu dengan sanak saudaranya dikampung, betapa silaturahim tidak begitu saja terputus hanya karena jarak dan profesi. Sekali lagi, pertemuan dan perpisahan itu dilahirkan oleh perasaan.

Kemarin, untuk pertama kalinya saya merasakan mudiknya orang Jakarta. Kebetulan pulang dari Makassar saya mampir Jakarta dulu, dan saya mesti berjubel dengan beribu ribu manusia urban Jakarta di stasiun Senen. Wah luar biasa. Saya sih senyum-senyum saja, sudah lama pengen tau langsung kondisi arus mudik dari ibukota, (sekalian berburu reporter tipi, siapa tau kan masuk tipi hahaha…) dan baru hari itu bisa kesampaian. Berhenti di depan gerbang stasiun, suasana padat orang sudah mulai terasa, ditambah lagi dengan harga makanan yang masya Allah mahalnya gak ketulungan, lebih mahal daripada harga makanan di bandara Makassar, menambah semarak suasana mudik ibukota. Sesampainya di ruang tunggu stasiun, ribuan orang berjubel menanti giliran mereka dipanggil masuk peron. Saya sendiri hampir 5 jam menunggu di ruang tunggu stasiun menanti izin masuk peron kereta. Mengeluh? Awalnya iya. Namun setelah saya amati, rupanya sistem yang diterapkan PT KAI yang agak berbeda ini justru (menurut saya) jauh lebih baik dan menguntungkan para pengguna jasa layanan. Karena, dengan ‘menaruh’ ribuan orang di ruang tunggu stasiun, dan hanya memperbolehkan para penumpang yang keretanya sudah hampir berangkat untuk masuk ke peron, justru memberikan kenyamanan bagi penumpang yang akan menaiki keretanya. Jadi, sekitar tiga puluh menit sebelum berangkat, para penumpang kereta baru dapat memasuki peron stasiun, dengan terlebih dahulu mencocokkan identitas dengan nama yang tertera di tiket kereta kepada petugas. Baru setelah mendapat stempel dari petugas pintu masuk, para penumpang kereta memasuki area dalam stasiun dan menuju peron yang telah ditunjukkan. Dengan begitu, para penumpang tidak perlu tergesa-gesa ataupun berebutan masuk kereta karena peron stasiun sepi orang dan banyak dijaga oleh petugas. Bagi calon penumpang yang keretanya hendak berangkat dan masih berada di ruang tunggupun berkali-kali diingatkan oleh petugas stasiun melalui pengeras suara. Petugas stasiun benar-benar memastikan calon penumpang tidak ada yang tertinggal di ruang tunggu stasiun, setelah benar-benar yakin, baru calon penumpang kereta lain diperbolehkan memasuki peron stasiun. Hmm, kali ini saya salut dengan sistem layanan baru yang diterapkan oleh PT KAI. Jempol deh.

Sebagai pengguna kereta api, saya akui PT KAI telah melakukan banyak pembenahan. Entahlah, mungkin karena keseringan dikomplain atau keseringan disidak menteri. Yang pasti, usaha untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat kini perlu diacungi dua jempol. Masih lekat dalam ingatan saya beberapa tahun lalu ketika saya masih sering menggunakan kereta api ekonomi Sri Tanjung (Jogja-Surabaya) atau kereta ekonomi Progo (Jogja-Jakarta) dimana harga tiket memang murah, namun pelayanan yang diberikan benar-benar tidak manusiawi. Pihak stasiun menjual tiket jauh melebihi kuota yang tersedia didalam kereta. Bahkan bisa dua kali lipat jika musim mudik, akibatnya gerbong kereta dipenuhi manusia-manusia dengan badan setengah babak belur karena berjubel, bahkan banyak kasus yang memperlihatkan para penumpang yang pingsan akibat kekurangan oksigen ataupun terinjak-injak. Namun itu cerita hitam yang lama. Kini, naik kereta ekonomi tidak perlu bertarung badan atau bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan seonggok kursi, karena pihak KAI tidak menjual tiket tanpa tempat duduk, terlebih untuk kereta api ekonomi jarak jauh. Jauh lebih manusiawi. Dan dua jempol lagi untuk KAI.

Saya menulis inipun ketika berada di kereta Madiun Jaya. Kebetulan banyak ngetem karena lalu lintas yang sangat padat. Tambahan kereta lebaran membuat Madiun Jaya harus banyak ngalah karena keseringan crash. Tapi itu tak jadi soal, toh tulisan ini tetap dapat saya buat dengan kondisi nyaman berada dalam kereta yang banyak ngetem. Untuk para urban, selamat mudik. Selamat berkumpul dengan keluarga tercinta, selamat menjalankan hari-hari penuh sukacita kemenangan 😀

HAPPY IED MUBARAK