Mudik : Tradisi Unik Yang Membudaya (sebuah refleksi singkat pelayanan kereta api ekonomi kini)

Malam takbiran, lebaran di depan mata. Subhanallah gak berasa sama sekali. Menghabiskan separuh lebih ramadhan di kampung orang jadi salah satu pengalaman yang benar-benar tidak terlupakan. Tidak mungkin terlupakan lebih tepatnya. Yap, lepas KKN ini rutinitas di Jogjapun mulai menggerayangi. Kembali ke gaya hidup mahasiswa yang gentayangan dari pagi sampai malam, glundang-glundung di kasur, menggalau dengan teman seperjuangan dan sederet aktivitas rutin yang belum lama ditinggal. Jelas, ramadhan kali ini berkesan, karena untuk pertamakalinya menghabiskan separuh ramadhan jauh dengan orang tua, jauh dari rutinitas kampus yang terkadang membosankan. Berkat KKN, banyak hal yang untuk ‘pertama kalinya’ yang saya alami, dan saya berterimakasih pada UGM untuk itu.

H-1 lebaran, dan seperti lebaran-lebaran sebelumnya, tradisi yang tidak pernah tertinggal : MUDIK kembali menyibukkan hari-hari kami. Aktivitas mudik menjadi salah satu euphoria bagi keluarga kami. Bersama (mungkin) 200 juta jiwa manusia Indonesia yang pulang kampung merayakan lebaran di dusun masing-masing, kami pun turut heboh merayakannya. Terkadang memang merepotkan, tapi mudik menjadi fenomena yang ditunggu-ditunggu, karena pada momen itulah hampir seluruh keluarga besar berkumpul, karena pada momen itulah mahasiswa perantauan bertemu orangtuanya, karena pada momen itulah agen tiket kaya mendadak, karena pada momen itulah penjual baju, makanan, sampai penjual amplop meraup banyak untung. Yak, mudik dan lebaran memang menghebohkan. Mungkin di belahan bumi ini, hanya Indonesia yang memiliki tradisi unik ini, dan dari banyak hari besar yang dirayakan di Indonesia, hanya idul fitri lah yang menjadi momentum terselenggaranya tradisi yang telah menjadi budaya itu.

Bagi saya pribadi, dibalik kehebohannya, fenomena mudik yang telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia ini menumbuhkan kekaguman saya yang lain terhadap masyarakat Indonesia. Urbanisasi yang menjadi sebuah keniscayaan dan bahkan ‘masalah’ bagi pemerintah rupanya tidak serta merta mampu memupuskan rasa persaudaraan dan budaya kolektif masyarakat. Tiket pesawat yang ludes dan berjubelnya orang di stasiun, bandara dan terminal menjadi saksi bisu betapa masyarakat Indonesia bukanlah orang-orang sombong yang melupakan tanah kelahirannya di kampung halamannya. Mudik bagi keluarga kami (dan keluarga orang-orang) mungkin menjadi sebuah ‘alat kelengkapan’ lebaran, yang tanpanya seperti makan sayur tak digarami. Maklulmlah, walaupun tinggal di Jogja lama, namun orang tua bukanlah orang Jogja. Jadi jika ingin berkumpul dengan saudara sedarah, kami harus melakoni rutinitas mudik, paling tidak sekali setahun. Dan setiap mudik, saya alhamdulilah enjoy melakoninya (karena memang dekat hahaa). Berjubelnya orang di stasiun menjadi sebuah pemandangan yang menurut saya bukannya miris, tapi justru seksi. Haha. Ya, bukankah hal tersebut menunjukkan betapa orang-orang sangat bersemangat bertemu dengan sanak saudaranya dikampung, betapa silaturahim tidak begitu saja terputus hanya karena jarak dan profesi. Sekali lagi, pertemuan dan perpisahan itu dilahirkan oleh perasaan.

Kemarin, untuk pertama kalinya saya merasakan mudiknya orang Jakarta. Kebetulan pulang dari Makassar saya mampir Jakarta dulu, dan saya mesti berjubel dengan beribu ribu manusia urban Jakarta di stasiun Senen. Wah luar biasa. Saya sih senyum-senyum saja, sudah lama pengen tau langsung kondisi arus mudik dari ibukota, (sekalian berburu reporter tipi, siapa tau kan masuk tipi hahaha…) dan baru hari itu bisa kesampaian. Berhenti di depan gerbang stasiun, suasana padat orang sudah mulai terasa, ditambah lagi dengan harga makanan yang masya Allah mahalnya gak ketulungan, lebih mahal daripada harga makanan di bandara Makassar, menambah semarak suasana mudik ibukota. Sesampainya di ruang tunggu stasiun, ribuan orang berjubel menanti giliran mereka dipanggil masuk peron. Saya sendiri hampir 5 jam menunggu di ruang tunggu stasiun menanti izin masuk peron kereta. Mengeluh? Awalnya iya. Namun setelah saya amati, rupanya sistem yang diterapkan PT KAI yang agak berbeda ini justru (menurut saya) jauh lebih baik dan menguntungkan para pengguna jasa layanan. Karena, dengan ‘menaruh’ ribuan orang di ruang tunggu stasiun, dan hanya memperbolehkan para penumpang yang keretanya sudah hampir berangkat untuk masuk ke peron, justru memberikan kenyamanan bagi penumpang yang akan menaiki keretanya. Jadi, sekitar tiga puluh menit sebelum berangkat, para penumpang kereta baru dapat memasuki peron stasiun, dengan terlebih dahulu mencocokkan identitas dengan nama yang tertera di tiket kereta kepada petugas. Baru setelah mendapat stempel dari petugas pintu masuk, para penumpang kereta memasuki area dalam stasiun dan menuju peron yang telah ditunjukkan. Dengan begitu, para penumpang tidak perlu tergesa-gesa ataupun berebutan masuk kereta karena peron stasiun sepi orang dan banyak dijaga oleh petugas. Bagi calon penumpang yang keretanya hendak berangkat dan masih berada di ruang tunggupun berkali-kali diingatkan oleh petugas stasiun melalui pengeras suara. Petugas stasiun benar-benar memastikan calon penumpang tidak ada yang tertinggal di ruang tunggu stasiun, setelah benar-benar yakin, baru calon penumpang kereta lain diperbolehkan memasuki peron stasiun. Hmm, kali ini saya salut dengan sistem layanan baru yang diterapkan oleh PT KAI. Jempol deh.

Sebagai pengguna kereta api, saya akui PT KAI telah melakukan banyak pembenahan. Entahlah, mungkin karena keseringan dikomplain atau keseringan disidak menteri. Yang pasti, usaha untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat kini perlu diacungi dua jempol. Masih lekat dalam ingatan saya beberapa tahun lalu ketika saya masih sering menggunakan kereta api ekonomi Sri Tanjung (Jogja-Surabaya) atau kereta ekonomi Progo (Jogja-Jakarta) dimana harga tiket memang murah, namun pelayanan yang diberikan benar-benar tidak manusiawi. Pihak stasiun menjual tiket jauh melebihi kuota yang tersedia didalam kereta. Bahkan bisa dua kali lipat jika musim mudik, akibatnya gerbong kereta dipenuhi manusia-manusia dengan badan setengah babak belur karena berjubel, bahkan banyak kasus yang memperlihatkan para penumpang yang pingsan akibat kekurangan oksigen ataupun terinjak-injak. Namun itu cerita hitam yang lama. Kini, naik kereta ekonomi tidak perlu bertarung badan atau bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan seonggok kursi, karena pihak KAI tidak menjual tiket tanpa tempat duduk, terlebih untuk kereta api ekonomi jarak jauh. Jauh lebih manusiawi. Dan dua jempol lagi untuk KAI.

Saya menulis inipun ketika berada di kereta Madiun Jaya. Kebetulan banyak ngetem karena lalu lintas yang sangat padat. Tambahan kereta lebaran membuat Madiun Jaya harus banyak ngalah karena keseringan crash. Tapi itu tak jadi soal, toh tulisan ini tetap dapat saya buat dengan kondisi nyaman berada dalam kereta yang banyak ngetem. Untuk para urban, selamat mudik. Selamat berkumpul dengan keluarga tercinta, selamat menjalankan hari-hari penuh sukacita kemenangan 😀

HAPPY IED MUBARAK

Advertisements

One thought on “Mudik : Tradisi Unik Yang Membudaya (sebuah refleksi singkat pelayanan kereta api ekonomi kini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s