Apa Kabarmu di Skandinavia? -sebuah cerita-

Ini cerita estafet (estafet kok cuman berdua -_-, oke gapapa deh).. Ceritanya ini episode dua.. Entah entar jadinya berapa episode, entah entar endingnya gimana, gak ada yang tahu (bahkan saya juga gak tau) pokoknya, selamat menikmati dan selamat menebak akhir cerita 🙂 

cerita sebelumnya bisa dilihat di blognya mas siwi, (yang baru), si penulis pertama hehe.. di sini ngeliatnya hohoo… 

——————————————————————

… Dua bulan menjalani kehidupan tanpa perempuan manis berlesung pipit itu, hidup Rendra memang tidak banyak berubah. Ia tetap makan, nge game, menggalau dikampus dan berkutat dengan proposal yang tak kunjung di acc. Namun hatinya tetap tak dapat mengingkari, bahwa ia kosong dan terasa hampa. Sudah lama Rendra tidak merasakan suasana hati yang sebegitu kacau seperti yang ia alami saat ini. Setiap Ia rindu dengan gadis bermata jernih itu, ia sempatkan diri berjalan-jalan menuju danau yang menjadi tempat kenangannya dulu bersama Tisha, atau paling tidak, ia mengikuti status dan kesibukan gadis itu melalui akun facebook dan twitter yang dimilikinya. Ia sangat rindu, setiap hari. Namun ia juga tak ingin mengganggu aktivitasnya yang pasti superpadat di Swedia sana, maka itu, ia hanya sering melihat.. tak banyak yang bisa dilakukannya.

—————————————————————–

“Kamu kenapa Rendra, ini sudah revisi yang kesekian kalinya. Sudah dua bulan lebih saya ngikutin kamu tapi bikin bab 3 aja gak kelar-kelar. Kamu mau seminar kapan kalau masih seperti ini?” Bu Jazim, dosen pembimbing skripsi Rendra yang sabar, akhirnya muntab juga. Rendra memang beruntung mendapatkan bimbingannya, namun kali ini sang dosen sudah habis kesabarannya. Proposalnya tidak kunjung selesai! Padahal orangtua Rendra dikampung sana sudah sangat sering menanyakan kapan wisuda, tiga kali sehari paling tidak ibunya sms menanyakan kapan Ia lulus. Tentu saja Ia setres. Rendra mencoba untuk kembali fokus dengan target kelulusannya, namun tidak dapat dipungkiri banyak faktor X yang menyebabkan ia terkendala dalam penulisan skripsi, termasuk tentu saja… masalah perasaannya pada Tisha yang (Ia pikir) bertepuk sebelah tangan.

“Maaf bu progress saya sangat lambat, tapi saya berjanji revisi selanjutnya insya Allah sudah matang” katanya, berjanji. Entah sadar atau tidak, tentu saja ia harus bekerja keras untuk dapat merampungkan proposalnya dalam pertemuan selanjutnya dengan pembimbing. Keluar dari ruang dosen, Ia semakin lunglai. Posturnya yang tinggi tegap tidak dapat menutupi kelesuan yang teramat sangat yang sedang dialaminya. Namun Ia bergegas kembali ke ruang dosen, ia menemui mbak Yuli, sekertaris jurusan untuk minta surat pengantar ke instansi. “Aku gak bisa lama-lama kayak gini nih, bakalan lulus lama kalau begini terus. Galau itu pilihan, move on itu pasti!” pikirnya, sambil mengepalkan tangan tanda peperangan dengan skripsi dimulai. “Skripsi itu harus dicintai, prosesnya dinikmati, seperti orang pacaran. Gak boleh bosan, harus berkomitmen!” teriaknya (dalam hati tentu saja).

——————————————————————

Rendra memacu motornya menuju sebuah instansi LSM yang ada di Taman Siswa. Sebelumnya, ia memaksa Mbak Yuli untuk segera merampungkan surat-surat yang diperlukannya sebelum mood nya berskripsi ria pupus lagi. Sesampainya di LSM itu, ia memarkirkan kendaraannya dan langsung masuk kedalam. Ia mengutarakan maksud kedatangannya untuk mencari data dan wawancara untuk melengkapi proposalnya. Mbak Diah sang garda depan pun lalu menghubungkan Rendra dengan pimpinan LSM tersebut. Joice namanya. Setelah mendapatkan no hape sang pimpinan LSM, Rendra langsung mengatur jadwal pertemuan dengan Joice.

—————————————————————

Rendra sudah 10 menit menunggu di Kedai Rakyat. Ia berjanji bertemu Joice disini untuk wawancara dan mengkopi data-data sekunder yang dimilikinya. Lalu Ia menjumpai sesosok wanita masuk dari pintu utara yang sesuai dengan ciri-ciri Joice. Rendra melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Benar saja, itu Joice. Joice pun langsung duduk di depan kursi yang ditempati Rendra. Mereka lalu berjabat tangan, dan tanpa sadar…

“Eh eh bentar dulu. Kamu Rendra yang dari SMP 2 Bekasi bukan?” Joice langsung menembak. “Yampun, jangan bilang kamu Joice teman SMP ku!” Rendra setengah histeris. Joice lalu tertawa diikuti dengan kekehan Rendra yang keras. “Sumpah, gue gak nyangka bisa ketemu elu disini Joice. Elu ternyata udah lama di Jogja? Kenapa gak bilang? Sialan lu” Rendra secara otomatis mengubah logat bicaranya. “Hahaha gue baru disini juga Ren. Sebelumnya gue di LSM XXX di Tangerang. Yaampun dunia yang makin mengecil atau pergaulan gue yang terlalu luas yak?” Kata Joice yang diikuti tawa Rendra. Mereka berdua kemudian cerita ngalor ngidul, bercerita tentang kehidupan masing-masing kini, cerita tentang masa lalu di SMP dulu. “Gue belum pernah ketemu elu kan yak sebelumnya? Terkhir waktu reuni SMP 4 tahun lalu. Itupun elu masih cupu. Asli gue gak ngenalin elu tadi” kata Rendra. “Hahaha sialan lu. Elu tu yang cupu, hari gini masih luntang lantung cari data buat skripsi” Joice mengejek. Derai tawa pun mewarnai siang itu.

Bagi Rendra, siang itu adalah siang keburuntungannya. Ia mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama, ia dengan mudah dapat menggali informasi dari narasumber utama dan tentu saja data-data yang berkaitan dengan penulisan skripsinya, dan keberuntungan yang kedua, ia bertemu kembali dengan teman lamanya di SMP dulu. Rendra dan Joice memang tidak akrab di SMP, mereka hanya sekelas satu tahun, pada tahun pertama, oleh karenanya mereka telah hilang kontak sejak lama. Namun bertemu teman lama di perantauan, walaupun tidak seberapa akrab, tetap saja menimbulkan euphoria tersendiri.  Bertemu dengan Joice bagaikan membuka cerita masa lalu, mereka kembali membuka album lawas itu, lembar demi lembar. Joice membawanya kembali pada kotanya, asalnya, tempatnya menempa diri untuk pertama kali.

—————————————————————–

Siang yang terik di Kedai Rakyat seketika berubah menjadi malam dingin berkabut. Rendra dan Joice melewatkan hampir 5 jam di kafe itu. Mereka sudah habis masing-masing dua gelas hot cappuccino dan berpiring-piring camilan, mereka juga sudah bolak balik dua kali ke mushola kafe itu, bahkan Joice sudah 4 kali pergi ke toilet. Namun rasanya kebersamaan mereka belum berujung malam itu. “Makasih banyak Joice, untung banget gue ketemu elu. Skripsi gue proposalnya gak kelar-kelar nih. Kalau ada elu, insya Allah jadi lebih gampang” Rendra jujur. “Iyalah, kita kan satu almamater hahaha.. tenang Ren, gue juga pernah kok kayak elu, di Aussie emang gak ada skripsi-skripsian, tapi tugasnya alamakjang ngeri bet dah, nulisnya gak boleh pake bahasa Indonesia lagi” canda Joice. Ia memang mengambil kuliah di Australia dan telah lulus dari sana 6 bulan lalu. Baru dua bulan ia berada di Jogja. Setelah malam itu, mereka berdua semakin akrab. Rendra, tentu saja sangat senang dan beruntung. Setelah pertemuannya dengan Joice ia menjadi jauh lebih bersemangat mengerjakan skripsinya yang telah bersarang laba-laba. Semangatnya semakin terpompa manakala Joice dengan baiknya bersedia menjadi teman diskusi Rendra, Ia rela menyempatkan waktunya hanya untuk menemani Rendra membeli buku, menggalau di perpustakaan ataupun sekadar ngopi di angkringan. Tak terasa, sudah 1 bulan Rendra sibuk mengumpulkan data dan merevisi proposalnya, progress yang ia janjikan pada Bu Jazimpun akhirnya terpenuhi sudah. Ia telah mendapatkan jadwal seminar proposal! Akhirnya.. setelah sekian lama..

—————————————————————–

“Assalamualaikum, hai Rendra apa kabar? Udah lama banget kita gak ngobrol via skype. Aku kangen sama kamu hehehee… Gimana kabar skripsi? Kapan seminar? Kalau ada waktu, balas emailku ya, ntar kita ngobrol lagi via skype hehe… semangat!! 😀 “ –Tisha-

Rendra sempat kaget juga ketika melihat kiriman email dari Tisha. Sudah lama gadis itu tak memberinya kabar, dan ia juga baru sadar.. bahwa Ia pun sudah lama tak memberi kabar apapun padanya….

—————————————————————–

selamat melanjutkan mas siwi… hahaha 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s