Sedikit Wacana dan Pandangan Awam G30S

Gak berasa banget udah diujung bulan. Hari ini, 30 September… ada yang merasa kalau hari ini hari apa gitu gak (selain hari minggu tentunya -_-)? Hari ini, 30 September mungkin bisa dibilang salah satu hari yang paling bersejarah di Indonesia. Tepatnya sekitar 47 tahun silam, dimana salah satu kejahatan manusia terbesar di negeri kita pernah terjadi. Sebuah kejadian yang mengubah sejarah, sebuah momen yang kita kenal bertahun-tahun dengan G30S (Gerakan 30 September).

Saya masih ingat, pertama kalinya saya mempelajari mengenai ini adalah ketika saya masih duduk di bangku SD. Dari buku paket sejarah, saya tidak bisa membayangkan ada yang lebih kejam dari aktor-aktor dibalik kejadian itu. Waktu itu, saya membayangkan PKI (waktu itu G30S tidak bisa dipisahkan dari PKI, sehingga namanya waktu itu adalah G30S/PKI) adalah makhluk-makhluk jahat tak beragama, biadap, tidak punya hati dan tidak takut neraka. Bagaimana tidak? Kekejamannya membantai orang-orang tak bersalah sekaligus jenderal-jenderal petinggi AD tanpa ampun menodai wajah ibu pertiwi dengan goresan darah. Tidak ada yang lebih kejam dari PKI, waktu itu saya berpikir seperti itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia dan beragamnya bacaan, saya menyadari ternyata saya (dan mungkin puluhan ribu anak lainnya) adalah salah satu korban doktrinasi kekuasaan orde baru yang hegemoninya sampai pada bangku sekolah. Kebenaran memang mutlak milik Soeharto waktu itu. L’etat c’est moi. Sehingga tidak heran pemerintah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan status quo, termasuk dalam hal memberikan ‘doktrin’ kepada anak-anak untuk takut dan takluk pada pemerintah, melalui salah satu cara ampuhnya : merekayasa sejarah.

Buku-buku sejarah pada masa orba diplintir sedemikian rupa. Fakta-fakta sejarah yang dirasa tidak mendukung stabilitas/ yang sifatnya menjelek-jelekkan Soeharto disembunyikan, sebaliknya banyak kebohongan-kebohongan yang ditambal sana sini untuk mempromosikan pembangunan dan mengagung-agungkan pemerintah saat itu (termasuk meninggi-ninggikan peranan Soeharto di masa lalu, dan mengecilkan peranan Soekarno dan tokoh lainnya). Termasuk salah satunya yakni fakta mengenai G30S/PKI. Anggapan bahwa dalang dibalik pembantaian para jenderal dan pemberontakan yang berujung pada sedikitnya kematian 500 ribu orang adalah PKI sudah lama mengendap dalam pikiran hampir semua anak yang pernah membaca buku paket sejarah kurikulum 1999 (atau sebelumnya). Namun dengan angin segar reformasi, pasca tumbangnya Soeharto dari tampuk kekuasaannya bermuncullah karya-karya yang selama orde baru ‘tidak layak terbit’, dan bermuncullah saksi-saksi hidup dari persembunyiannya (yang pada masa orba mereka hanya bisa bersembunyi, mengganti identitas atau bahkan yang telah menjadi tahanan politik) untuk memberikan kesaksiannya seputar fakta yang selama ini tidak dapat mereka ungkapkan.

Oke, balik lagi ke masalah G30S. Seragamnya fakta sejarah G30S di buku paket justru menandakan sesuatu yang tidak masuk akal. Sejarah harusnya banyak versi karena perspektif kesaksian yang diberikan pasti berbeda-beda. Pasca reformasi, muncullah banyak kesaksian-kesaksian baru yang berkontribusi dalam hal ‘pelurusan sejarah’ ini. Dalam buku Asvi Warman Adam yang berjudul ‘Membongkar Manipulasi Sejarah’ yang belum rampung saya baca, setidaknya ada beberapa versi kisah mengenai pemberontakan G30S.

Yang pertama, versi ilmuwan Cornel University-AS, Benedict R. Anderson (Ben Anderson) dan Ruth Mc. Vey. Berdasarkan hasil penelitian keduanya, peristiwa G30S merupakan puncak dai konflik internal di tubuh angakatan darat. Waktu itu menjelang tahun 1965 SUAD (Staf Umum Angkata Darat) pecah menjadi dua faksi. Kedua faksi ini sebetulnya anti PKI, namun memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi presiden Soekarno. Faksi pertama adalah “faksi tengah” yang loyal terhadap presiden Soekarno yang dipimpin oleh Pangad Letjen Ahmad Yani. Faksi yang kedua adalah “faksi kanan” yang menentang Ahmad Yani dengan semangat Soekarnoisasinya. Faksi ini dipimpin oleh Jenderal Nasution dan Mayjend Soeharto. Peristiwa G30S adalah puncak dari perpecahan kedua faksi tersebut, disebut-sebut juga sebagai upaya perebutan kekuasaan dari faksi tengah ke faksi kanan. Ada juga versi sebaliknya, upaya dari faksi tengah (dengan keterlibatan Soekarno) untuk melenyapkan sebagian oposisi dari faksi kanan.

Yang kedua, adalah versi keterlibatan agen CIA AS dalam perisitiwa sitir itu. Akibat perang dingin antara blok kapitalis (barat) dan blok komunis (timur), AS tidak ingin negara-negara (utamanya negara-negara Asia Tenggara) dikuasai oleh komunis, sedangkan waktu itu Presiden Soekarno adalah pendukung dan kawan akrab negara-negara non kapitalis seperti Uni Soviet dan China, PKI pun waktu itu menjadi partai yang besar dengan sokongan dari Soekarno. Oleh karenanya, CIA dengan segala upaya dan kucuran dana yang besar, berupaya untuk menghancurkan kekuatan PKI di Indonesia. Dan, skenario untuk menghancurkan PKI sekaligus menjatuhkan Soekarno pun mulai dirancang. G30S hanyalah satu dari sekian banyak skenario tersebut.

Versi selanjutnya adalah analisis dari Soebandrio mengenai konsep ‘kudeta merangkak’ yang dilakukan oleh petinggi AD yang tidak lagi loyal pada Soekarno. Kudeta merangkak itu terdiri dari setidaknya empat tahapan. Pertama, menyingkirkan saingannya di AD seperti Ahmad Yani dkk (yang pro terhadap Soekarno, G30S adalah puncaknya), tahapan kedua yakni membubarkan PKI yang merupakan rival terberat sampai saat itu (pembubaran PKI secara legal formal diperoleh melalui Surat Sakti Supersemar yang sampai saat ini masih hitam sejarahnya), tahapan ketiga melemahkan kekuatan pendukung Bung Karno dengan menangkap (dan menuduh agen PKI) menteri-menteri yang Soekarnois, termasuk Soebandrio sendiri. Dan yang keempat adalah mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno. Dari hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa peristiwa 30 September hingga 11 Maret adalah sebuah skenario yang dijalankan oleh faksi AD yang hendak mengambil alih kekuasaan presiden Soekarno.

Banyaknya versi kisah G30S ini tentu saja menyadarkan sebagian dari kita, bahwa sejarah bersifat subyektif. Mengutip sejarawan Perancis, Paul Veyne dalam bukunya Comment on ecrit l’histoire (1971 dalam Adam, 2009:147) sejarah merupakan proyeksi dari nilai-nilai yang kita anut dan jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan. Sejarah adalah rangkaian peristiwa, dan peristiwa tidak memiliki ukuran kriteria yang mutlak. Peristiwa tidak hadir seperti butir-butir pasir, tidaklah berdiri sendiri dan terisolasi, peristiwa bukanlah makhluk, tetapi persilangan rute/ trayek. Sejarah adalah penceritaan mengenai peristiwa dan bukanlah perisitwa itu sendiri. Peristiwa tidak dapat ditangkap sejarawan secara utuh, sejarawan hanya bisa mengumpulkan kepingan-kepingan peristiwa melalui dokumen, kesaksian, jejak, dll. Itu sebabnya banyak versi dalam sejarah, termasuk dalam peristiwa G30S. Menjadi tidak wajar ketika sejarah itu seragam sebagaimana yang pernah kita alami sewaktu orde baru berkuasa. Apapun nanti kebenarannya, yang pasti : telah banyak yang dirugikan dari kejadian G30S ini. Tidak hanya korbannya secara langsung, namun juga korban-korban pengucilan orde baru yang tidak bersalah (seperti misalnya sanak saudara yang keluarganya diindikasikan terlibat dalam peristiwa G30S/PKI) yang sebenarnya tidak tahu menahu mengenai peristiwa keji tersebut. Rekonsiliasi mutlak dibutuhkan untuk itu. Jadi, kalau ada yang bilang era pak Harto lebih baik daripada era sekarang, hmm.. banyak-banyak baca sejarah deh… emang mau dipimpin sama pemimpin yang tangannya sudah pernah bersimbah darah dan jadi penghianat ibu pertiwi? Waallahualam bi shawab…

 

 

 

Gangnam Style vs Joget Poco Poco. Menang mana hayoo?

Girls generation make you feel the heat
Jeon segyega neoreul jumogae
B-Bring the boys out
Wiipungdo dangdanghaji ppyeossokbuteo
Neon wonrae meotjyeosseo
You know the girls
B-Bring the boys out

Yoi bagi sebagian orang lirik diatas pasti sangat tidak asing, terutama bagi Sone (fans club SNSD) yang jumlahnya di Indonesia bisa sampai berratus-ratus ribu manusia. Saya sendiri tidak begitu suka dengan sepak terjang K-Pop yang begitu menghegemoni dunia hiburan tanah air dewasa ini. Bukannya sok-sokan ya, tapi jujur saya jauuuuh jauuuh lebih senang band-band dalam negeri seperti Noah, D’Masiv, Padi, Sheila on 7 dan sebagai sebagainya. Karena selain bisa nyanyinya (kan pakai bahasa Indonesia kan ya), tau lirik-liriknya dengan bener, kreativitas mereka sama sekali tidak kalah dengan band-band apalagi boyband/ girlband dari Korea. Saya pernah sangat ngefans sama boyband asia juga sebenernya. F4 namanya. Mereka itu buat saya adalah cikal bakal lahirnya boyband/ girlband Korea yang mulai merajai seperti sekarang. Walaupun sekarang sudah tidak terdengar lagi eksistensinya, tapi yang namanya Jerry Yan akan tetap ada dihati #tssaaahh.. Oke, mulai kehilangan fokus. Balik lagi ke demam K-Pop. Sebenernya saya sudah pernah menuliskan ini sebelumnya, tapi tergelitik untuk nulis lagi gara-gara timeline twitter rame banget sama konser SM Town yang disiarkan RCTI kemarin dan hari ini (bagi yang gak tau, SM town itu adalah salah satu manajemen artis Korea. Artis-artisnya antara lain yang saya tahu : Super Junior, SNSD, Shinee, FX, EXO, Boa dll à gak tau dah bener apa enggak haha. Saya juga baru tau SM itu ya gara-gara ketika mereka mau konser di Jakarta). Saya kemarin juga ikut-ikutan nonton konser SM town di tipi karena penasaran sebenernya, apa yang membuat orang menggilai artis-artis Korea. Jujur, saya juga sebenarnya pengen bisa ngefans sama Korean artist, hal ini tentu saja terkait dengan eksistensi saya di mata teman-teman hahaha, ketika banyak teman membincang Korea, saya sama sekali gak ngerti apa yang mereka ributkan, makanya saya berniat untuk suka juga pada Korea, tapi ternyata gagal.

Sekilas saya mengamati yang eksplisit terlihat, semakin saya mengerti kenapa orang-orang benar-benar tergila-gila pada mereka. Selain lagu yang mungkin easy listening, artis-artisnya rupanya kinclong-kinclong. Saya memperhatikan lekat-lekat di televisi, dan memang tidak ada yang memungkiri bahwa wajah-wajah mereka benar-benar mulus seperti porselen. Kaki-kaki teman2 di SNSD (oke, ini sok kenal) benar-benar jenjang, putih mulus tanpa cela, tidak ada sama sekali noda apalagi koreng. Mulus kayak jalan yang baru diaspal. Pantas saja para pria jingkrak-jingkrak gak jelas ketika mereka memperoleh kesempatan melihat langsung para Barbie-barbie Korea itu.

Bisa dikatakan, industri musik Korea sukses besar saat ini, dan bahkan diprediksi eksistensinya akan memberikan pengaruh yang besar pada dunia hiburan internasional. Hal ini terkait dengan kreativitas dan kemahiran manajemen artis dalam ‘memoles’ mereka. Sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa artis Korea mungkin adalah artis-artis yang paling ‘menderita’ di seluruh dunia. Perjuangannya berat, sekali masuk dalam sebuah manajemen artis, maka seluruh potensi yang ada dalam dirinya, baik suara, badan, bahkan kehidupan mereka adalah di tangan manajemen. Mereka tidak bisa lagi bergerak dalam ruang bebas, semuanya tersistematika dengan rapi diatur oleh para manajer. Dan memang mereka memperoleh segalanya yang diinginkan oleh artis-artis di seluruh dunia : kepopuleran, harta dan berjuta-juta suara  yang mengelu-elukan. Ya, itu mungkin yang menjadikan setiap konsernya di Jakarta sukses berat. Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat Indonesia yang lebih memilih Korea daripada band dan artis dalam negeri dalam hal ini. Namun, saya benar-benar berharap suatu hari nanti industry musik dan hiburan tanah air menjadi raja dinegeri sendiri, tidak selalu dinomorsekiankan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Ada sebuat tweet menggelitik yang kemarin saya baca dari seorang teman yang juga tidak begitu suka oleh sepak terjang Korea, kurang lebih tweetnya seperti ini : Kenapa harus K-Pop? Kenapa gak ada B-Pop (Batak Pop), S-Pop (Sunda Pop), J-Pop (Jawa Pop), M-Pop (Minang Pop) dll. Padahal Indonesia punya banyak lagu bagus dari sana. Saya benar-benar setuju dengan itu. Kalau bisa, saya mau meritwitnya ratusan kali untuk statement itu. Ya benar, kita punya banyak lagu yang keren dari daerah-daerah kita sendiri, tanah air kita sendiri. Korea Selatan hanya memiliki satu bahasa, dan kita.. ya, kita punya lebih dari 100 an bahasa daerah, dengan dialek yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Dan kita juga punya bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Yang dimanapun kita menginjakkan kaki di tanah air, orang-orang akan mengerti itu. Mungkin Indonesia adalah satu-satunya Negara yang memiliki bahasa daerah paling banyak. Kemajemukan itu adalah potensi besar. Bisa dikatakan, tidak pernah ada konflik sosial yang terjadi di Negara kita hanya karena masalah bahasa. Padahal, di Kanada, masalah bahasa yang berbeda bisa menjadikan sebuah daerah terpisah dari induknya (Quebec yang melakukan referendum dan memisahkan diri dari Kanada. Negara-negara bagian Kanada yang lain memakai bahasa Inggris sedangkan masyarakat Quebec memakai bahasa Perancis). Tapi kita tidak pernah! Saya harus bilang WOOWW untuk itu.

Lagu-lagu daerah kita tak kalah easy listening lho, saya yang pengetahuan musiknya sangat cetek ini saja tau itu. Apuse, Ambon Manise, Injit-Injit Semut, Bubuy Bulan, Sinannggar Tulo, Sajojo, Ilir Ilir, dll hanya sebagian dari list musik dari daerah yang sangat bagus. Jika mau, lagu-lagu itu bisa juga booming di dunia internasional. Tapi tentu saja hal itu mustahil kalau masyarakat Indonesianya sendiri tidak mengenal dan bahkan asing apalagi menggemari lagu-lagu tersebut. Kita manusia Indonesia memang salah peradaban, atau lebih tepatnya : dididik untuk salah peradaban. Siapa yang mendidik itu? Globalisasi jawabannya. Kita salah menyikapi globalisasi, dan beginilah kita sekarang : tak tau arah, tidak tahu identitas, tak bisa membedakan mana yang seharusnya diwaspadai dan mana yang seharusnya dijaga.

Oke, itu hanya sedikit coretan akan kegelisahan saya mengenai demam Korea yang membabi buta. Seakan-akan kita anak Indonesia dilahirkan dan ‘diharuskan’ menggemari kebudayaan Negara lain. Bagaimana bisa saya mengatakan ‘diharuskan’? Ya, system yang seolah-olah mengharuskan. Para promotor musik yang lebih senang mengundang artis Korea dibanding artis dalam negeri, media massa yang lebih gencar memberitakan sepak terjang artis Korea dibanding prestasi artis dalam negeri, penghargaan dan apresiasi yang rendah dari pemerintah dan masyarakat untuk seniman dalam negeri, dan sebagai bagainya. Tulisan ini bukannya ingin menghakimi bahwa para everlasting fans, sone dan fans club artis Korea lainnya itu salah. Jelas bukan, karena itu adalah hak asasi individu yang tidak patut dipersalahkan. Saya hanya ingin sedikit membuka wacana, wacana nasionalisme dalam bentuk yang paling sederhana yang mungkin dianggap basi dan tradisional. Oke sekian dari saya see yaa :))

Oiya, ada yang ketinggalan. Untuk demam Gangnam Style yang sekarang lagi digilai banyak orang (bahkan Britney Spears dan artis Hollywood lainnya), buat saya itu fenomenal banget. Bagaimana tidak? gerakan jingkrak-jingkrak sambil tangan diputar-putar diatas kepala bisa menjadi sebuah ‘tarian internasional’ dan dijiplak, dimodifikasi dan dikiblati (serta digemari) oleh banyak orang. Saya memang punya pengetahuan yang sangat minim untuk masalah kesenian, tapi plis deh.. gerakan itu… gak banget.. Pertanyaannya, bagaimana bisa joget Gangnam bisa boom seperti itu padahal gerakannya biasa aja? ya itu adalah PR pemerintah dan pelaku hiburan dalam negeri untuk mencari tahu. Saya ingiiiiiiiinnnn sekali seingin-inginnya, suatu saat nanti joget Poco-Poco dikenal dan menjadi kiblat untuk tarian sehat internasional. Poco-Poco itu keren banget. Bahkan dulu saya sempat memprotes waktu jaman SMP ketika joget Poco-Poco yang dipakai untuk senam tiap Jumat pagi diganti dengan senam Ayo Bersatu. Poco-Poco itu lebih seksi dibandingkan Gangnam Style menurut saya. Gerakannya elegan, lagu yang dipakai easy listening banget, bisa dimodifikasi dan yang pasti : bikin sehat.

Oke sekian, salam Poco-Poco…

*tulisan lainnya tentang K-Pop bisa dilihat disini

*waktu googling gambar untuk blog ini, nemu deh gambar2 ini hahaha :

*kalo masalah tampang, kayaknya artis Indonesia gak kalah deh. Cantik & cakepnya alami lagi.. hehhe.. gambar2 diatas diambil dari sini

Jarum Suntik dan Adekku

 

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.. Udah lama gak berbagai cerita tentang kehidupan pribadi. Oke, sedikit berbagai kesedihan deh. Barusan dapat kabar dari Madiun. Si Ulin, adekku yang paling kecil, sakit (lagi. Sumpah deh itu anak gak ada kerjaan lain apa selain sakit -__-“) dan sekarang baru dirumah sakit karena (giliran) DBD. Yup, ini sudah kedua kalinya dia kena DBD. Pertama kalinya DBD adalah waktu jaman duluu banget (sekitar 7 tahunan yang lalu, sekarang dia kelas 2 SMP), ketika dia masih tinggal di Jogja. Ceritanya agak-agak aneh juga. Waktu itu, lagi ngetrend banget tuh DBD, petugas fogging sampe kebanjiran job karena banyaknya permintaan daerah yang mau diasepin. Nah, karena emang adekku ini gaul dan gak mau ketinggalan jaman, ikut-ikutan sakitlah dia. Kondisi badannya yang kurus dan kecil mungkin jadi sasaran empuk nyamuk2 aydes aygepty (eh bener gak ya haha) dan akhirnya dengan mudahnya tumbanglah ia. Setelah periksa darah di RS Panti Rini (dekat rumah) kondisinya udah bener2 kritis banget tu anak. Waktu diambil darahnya, selang beberapa menit kemudian darahnya udah beku. Aku gak tau sih penjelasan ilmiahnya kayak gimana, tapi kayaknya sih itu indikasi yang supergawat gitu. Sampai akhirnya lengan si Ulin biru2 semuanya saking seirngnya darahnya diambil untuk diuji di lab. Daann taraa.. emang bener dia udah DBD dan udah akut banget. Hari itu juga langsung dirawat di RS itu.

Sehari setelah Ulin dirawat, aku yang waktu itu baru kelas 3 SMP dan lagi unyu2nya juga ikut2an merasakan gejala yang sama, dan sehari setelahnya bersama si Om (adek Ibuk yang dateng dari Madiun) periksa ke RS yang sama dengan si Adek. Waktu masuk ke ruangan sang dokter nih ya, udah deg-deg an abis. Aku tau apa yang bakal dilakuin sang dokter. Sebagaimana etika profesionalnya, si dokter ini orang yang paling berhak dan bahkan sangat legitimet untuk main tusuk2in jarum ke badan orang. Dan aku bener-bener takut banget sama yang namanya jarum suntik. Dulu waktu SD ketika ada program anti cacar, ada dokter yang datang ke sekolah dan anak-anak SD diabsen satu2 untuk nunggu giliran disuntik. Waktu itu dengan sangat sadar dan nekat : aku kabur! gak tanggung-tanggung. Aku balik lari ke toko ibuk yang jaraknya gak gitu jauh dari sekolah. Tapi ya apa mau dikata, ibuk malah marah2 trus nganter aku ke sang dokter di sekolahan dan disuntiklah manusia ringkih ini, derai air mata membanjiri seisi kelas. Oke balik ke cerita di RS Panti Rini. Aku masuk ke ruangan sang dokter, gemetaran.. dokter dimana mana emang ramah dan relatif good looking, tapi kalo udah megang jarum suntik, kayaknya dimataku itu manusia kayak mau makan orang. Daaann tanpa bisa mengelak atau kabur, akupun dengan pasrah disuntik. Nangis? Jelaslah. Walaupun udah kelas 3 SMP, tapi tetep aja kalo ketemu jarum suntik udah gak berkutik lagi aku. Aku emang gak berani ngeliat jarum suntik yang masuk ke lengan, rasanya.. hadooh semriwing bangets. Dan akupun pingsan seketika abis itu.. Yup, aku pingsan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku pingsan, bukan gara2 sakit sih sebenere, tapi gara2 gak sengaja aku liat itu jarum suntik ditarik dari lenganku. Syok.

Singkat kata, setelah pingsan aku dibawa ke ruang rawat di RS itu, dan setelah beberapa saat nunggu, hasil lab pun keluar. Dan ternyata aku juga positif DBD. Sama kayak adekku, cuman selang dua hari. Hahaha. Dan kitapun dirawat di RS yang sama, hanya kamarnya aja yang beda, karena adekku yang masih kecil harus dirawat di ruang anak, sedangkan aku dicampur sama pasien2 dewasa. Keluargapun gempar. Berbondong-bondonglah keluarga besar dari Madiun dateng njengukin kami. Bahkan, Yangtiku yang sangat penyayang itu rela tinggal dirumah jagain Afkar yang ditinggal Bapak Ibu karena harus nungguin kami.

 

 

 

 

Waktu itu mah kita berdua masih bisa ketawa-ketawa bareng, saling mengunjungi kamar satu dan yang lainnya pake kursi roda, masih sering jalan-jalan bawa-bawa infus keliling RS, dll. Jadi, sakit DBD waktu itu seingetku gak terlalu menyakitkan. Tapi sekarang… adekku sendirian disana dia. Walaupun ada ibuk, tapi rasanya pasti bakal lain., aku tau betul dia akan jauh jauh lebih kuat kalau aku ada disebelahnya.

Ketika mendengar kabarnya masuk RS, kita saling telpon “Mbak, aku masuk RS. Tadi disuntik” katanya. “Apanya yang disuntik? sakit gak?” kataku, (nahan nangis). “Disuntik pantatku mbaaakkk.. dari banyaknya bagian tubuh, kok mesti pantat siiihhh?? aku duduk aja sekarang mesti diganjel bantal” protesnya. Aku ketawa miris. Mungkin saking kurusnya, satu2nya bagian badan yang banyak dagingnya itu pantat kali yaa.. aku juga gak ngerti tu penjelasannya gimana. Cuman asumsi aja sih. Tapi denger itu, sumpah deh gak kuat nahan nangis 😦 rasanya kayak aku juga ikut2an disuntik, sakit… adekku emang jauh lebih kuat daripada aku, karena dia keseringan bolak balik masuk RS, disuntik kiri kanan, dipaksa minum obat berbagai bentuk dan jenis, buat dia mah disuntik dimanapun bakalan sama aja.

Semoga sakitnya yang menerus, tubuhnya yang kurus dan perjuangannya yang penuh peluh menjadi tabungan amalnya dimasa depan. Amin

Vox Populi Vox Dei

 

*gambar diambil dari sini*

Pesta demokrasi masyarakat DKI Jakarta memang telah usai. Tulisan ini mungkin sedikit terlambat untuk tampil, karena dua hari kemarin saya disibukkan dengan rekreasi bersama teman-teman. Haha oke itu gak penting. Baiklah, kembali ke pesta demokrasi masyarakat ibukota. 20 September lalu bisa dibilang merupakan salah satu penyelenggaraan pemilukada yang sangat lancar dan sukses yang pernah digelar Pemprov DKI, walaupun sebelumnya banyak terjadi perang argument dan saling serang antar pendukung keduanya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Aduan terhadap pelanggaran kampanye ke KPUD pun mewarnai meriahnya pesta demokrasi di kota terpadat di Indonesia itu.

Yang menarik disini adalah, sang incumbent, Foke yang notabene mengecap dirinya sebagai anak betawi asli, yang telah merintis karir professional dan politiknya di Jakarta, dari mulai menjadi pegawai biasa, sekda, wakil gubernur hingga gubernur terpilih 1 periode yang lalu –yang tentunya kemampuannya telah teruji- dikalahkan oleh sesosok tokoh ‘ndeso’ (karena berasal dari daerah) yang beberapa tahun ini popularitasnya mendadak melejit karena keberhasilannya mengelola daerahnya. Cukup signifikan perolehan suara yang didapat keduanya, hampir sepuluh persen!

Foke-Nara vs Jokowi-Ahok. Ketika keduanya ditetapkan menjadi dua besar dalam ajang pemilihan gubernur DKI 2012-2017 dan berhak melaju ke pemilihan putaran kedua, suasana menghangat. Denyut nadi demokrasi semakin terasa  tegang manakala para ahli, pengamat, politisi, simpatisan, fans fanatik maupun massa anti pendukung beramai-ramai menyemarakkan suasana dengan berbagai asumsi, pendapat, debat kusir, perang media, adu opini dan saling ejek satu sama lain. Mediapun turut andil dalam menciptakan iklim demokrasi yang semakin bebas ini.

Terlepas dari ketokohan Jokowi dan Ahok yang sesungguhnya, kemenangan dua anak daerah ini menunjukkan beberapa hal –mungkin- tidak dapat diforkes hanya dengan angka dan statistik. Pertama, kemenangan Jokowi-Ahok dengan angka yang cukup menakjubkan memperlihatkan bahwa masyarakat Jakarta adalah memang representasi dari Indonesia. Tidak ada pertimbangan ras ataupun suku yang dominan disini, masyarakat Jakarta bukan masyarakat yang merujuk pada sifat etnosentrisme lagi, bahkan dalam hal pemilihan imam untuk mereka. Jokowi yang orang Solo asli serta Ahok yang bahkan adalah sosok keturunan Tionghoa yang berasal dari Belitung menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta tidak lagi mempertimbangkan background daerah asal calon pemimpin mereka. Jokowi yang dengan prestasi-prestasinya di daerah, dengan luangnya waktu untuk berjalan-jalan dipasar, perkampungan kumuh, serta ruang publik yang ramai dan menyalami mereka, serta dengan kesederhanannya berpakaian, perawakannya yang kurus dan kalah gagah dengan pejabat-pejabat biasanya… secara psikologis menarik simpati dari para pemilih terutama dari kalangan menengah kebawah. Sosok Jokowi yang dicitrakan dekat dengan masyarakat, mau bersusah payah masuk kampung kumuh, mau-maunya lesehan nonton OVJ bareng rakyatnya, bantu-bantuin ibu-ibu dipasar dan sebagai sebagainya di mata rakyat seperti layaknya menemukan oase ditengah kegersangan gurun kepemimpinan yang seolah berada dimenara gading yang jauuuuuhhh sekali diatas sana, yang tidak terjangkau masyarakat tentunya. Tingkah polah Jokowi ini membuat masyarakat melihat sosok harapan yang didepan mata. Dan tanpa ragu-ragu lagi, mencontreng wajah Jokowi dua putaran adalah hal paling masuk akal bagi mereka yang menginginkan perubahan dalam kehidupannya di ibukota. Ditambah sosok Ahok yang (juga) dicitrakan sebagai sosok yang bersih, idealis, jujur, dan minoritas (ditambah dengan mengumbar kisah di media bahwa pada masa kecilnya diskriminasi ras di tempat asalnya begitu membuatnya menderita, padahal Ia sangat cinta pada Indonesia, salah satu kisahnya adalah ketika Ia dilarang mengibarkan bendera pada saat upacara di sekolahnya) tentunya membuat rakyat semakin menaruh hati pada pasangan ini. Oleh karenanya, memilih pasangan ini di pertarungan pilkada DKI lalu adalah hal paling rasional menurut mereka.

Kedua, fenomena kemenangan Jokohok mengalahkan sang incumbent Foke-Nara mengindikasikan bahwa mesin partai tidak lagi efektif (menurut saya sih yaaa) untuk menjaring massa. Zaman orde baru dulu, massa digiring untuk memilih satu partai secara represif, bahkan menggunakan kekuatan birokrasi untuk memastikan keberpihakan terhadap suatu partai. Namun kini, sepenuhnya hak pilih dan hak berpihak ada ditangan rakyat. Rakyat punya kedaulatan penuh untuk memilih satu warna. Tidak ada cara represif yang begitu efektif untuk memastikan keberpihakan, karena segalanya mungkin akan sia-sia ketika sudah dibalik bilik. Indikasi kegagalan mesin partai ini adalah kenyataan bahwa Jokohok hanya didukung dua partai yang juga tidak begitu besar, yakni PDIP dan Gerindra. Sebaliknya, Foke-Nara memang tidak salah optimis menang karena memang didukung oleh partai-partai besar seperti Demokrat, Golkar, PKS, PAN dll. Suaranya di DPRD Provinsi DKI menguasai hampir 80 persen, sedangkan PDIP dan Gerindra hanya 18% saja (detik.com). Dengan suara pendukung mayoritas di DPRD, Foke-Nara memang selayaknya tenang karena sebagaimana secara normatif, sebuah partai politik memang difungsikan untuk menjaring massa (melalui rekruitmen politik) selain tiga fungsi lainnya yakni komunikasi politik, sosialisasi politik serta pengelolaan konflik (Miriam Budiarjo) dan pendidikan politik juga tentunya hehe. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Masyarakat Jakarta tidak lagi dapat dikendalikan dengan partai-partai itu, atau kalau menurut hasil analisis saya yang cetek, masyarakat tidak lagi simpati dengan parpol (oke, simpati adalah kata yang sangat halus, bahasa agak kasarnya : APATIS). Ya masyarakat mungkin sudah sangat apatis terhadap parpol, sehingga tidak lagi peduli dengan janji-janji dan ideology yang diumbar (tidak salah juga mengatakan bahwa kini banyak parpol yang ideologinya sudah banci/ hybrid. Tidak lagi jelas dengan semangat awal pendirian partai, yang mana yang agamis, yang mana yang nasionalis, tidak lagi dapat dengan mudah teridentifikasi, yang ada hanyalah bagaimana menggalang sukses untuk meraih kursi empuk). Ya, masyarakat sudah terlalu tidak peduli dengan partai politik. Itu sih menurut saya yang awam ini. Sebaliknya, masyarakat lebih tertarik pada citra perseorangan. Ya, ketokohan dan sosok individual yang menonjol akan lebih menarik simpati masyarakat. Sudah cukup banyak bukti untuk itu, kita tengok sekitar 8 tahunan yang lalu ya,, ketika nama SBY (sekarang presiden kita) yang tidak begitu popular saat itu benar-benar bisa mengguncang dunia perpartaipolitikan di Indonesia saat berlanjut ke putaran kedua melawan mantan atasannya sendiri (Megawati Soekarnoputri. Ketika Mega menjabat jadi presiden, jabatan terakhir SBY adalah menkopolhukam) dalam pemilihan presiden 2004 lalu. SBY dengan partainya yang masih sangat kencur saat itu mengandalkan kepopuleran yang tidak sengaja (atau sengaja) diciptakan saat itu. Kesan teraniaya pada rezim Mega saat itu benar-benar mengeruk simpati publik habis-habisan. SBY yang pembawaannya flamboyant, tenang, gagah, ganteng dan teraniaya berhasil menciptakan simpatisan dalam jumlah yang tidak sedikit! Hal itu telah membuktikan bahwa ketokohan seseorang akan sangat mempengaruhi simpati masyarakat, tidak peduli apa warna partainya atau ideology yang dianutnya sekalipun. Dan hal itu pula yang terjadi saat pilkada DKI kemarin. Sosok Jokowi yang kurus (tidak seperti pejabat lainnya), memakai baju yang biasa2 saja sebagaimana banyak rakyat memakainya dan pembawaannya yang supel dan merakyat memperoleh perhatian yang besar dari masyarakat Jakarta. Tidak peduli apa ideology yang dianut, tak peduli siapa yang ada ‘dibelakangnya’, tak peduli dengan visi dan penjelasan-penjelasannya yang kurang runtut di setiap debat kandidat, masyarakat akan tetap menaruh perhatian pada pasangan ini.

Ketiga, kemenangan Jokohok dalam pilkada DKI memperlihatkan bahwa masyarakat menaruh harapan dan kepercayaan yang teramat sangat tinggi pada calon ini dibandingkan memberi kesempatan lagi kepada Foke-Nara walaupun keduanya birokrat ulung di Jakarta. Alasan ini tentu masuk akal mengingat berbagai permasalahan ibukota yang teramat sangat kompleks membutuhkan sesosok tokoh yang dengan tangannya keajaiban bisa diciptakan, walaupun entah pilihan mereka itu akan membantu mengubah Jakarta menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Yang penting percaya dulu! Ya, yang mereka punya hanyalah harapan, dan kehadiran Jokohok seakan menjawab harapan mereka. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap pemerintahan Jakarta kedepannya. Dengan kepercayaan masyarakat Jakarta yang penuh terhadap keduanya, visi membangun Jakarta baru seperti yang dijanjikan bisa benar-benar terwujud. Jokowi dengan kehandalan dan kemampuan berkomunikasinya dan Ahok dengan pengalaman dan kecerdasan teoritis yang selama ini dikuasainya.

Terlepas dari siapa pemimpin Jakarta kini dan nanti, masyarakat Jakarta tidak akan bosan-bosan berharap. Berharap kota yang ditinggalinya layak huni (liveable city), bebas dari segala permasalahan klasik seperti banjir, macet dan kriminalitas yang tinggi, kemiskinan yang semakin menguratnadi dan menganakcucu. Biar bagaimanapun menciptakan ibukota yang tidak sekejam ibu tiri bukanlah hal yang mudah. Tapi yang pasti, pesta demokrasi di ibukota 2 hari lalu mengindikasikan bahwa masyarakat Jakarta benar-benar MAU perubahan! Dan mereka telah memilih sosok ‘supir’ untuk mengendalikan arah kendaraan besar itu. Tidak ada yang salah dengan pilihan rakyat, insya Allah… Vox Populi Vox Dei!!

 

 

 

 

9/11 dan Terorris Amerika

Oke akhir-akhir ini mulai marak (lagi) pemberitaan mengenai terorisme. Kehebohan teramat sangat yang terjadi di Solo kembali menghangatkan topik terorisme yang popularitasnya akhir-akhir ini menurun (dan kemudian naik lagi). Melihat itu, saya jadi teringat oleh salah satu filem documenter yang pernah diberikan salah seorang teman dikampus.

Saya termasuk orang yang sangat mudah dikesankan oleh filem. Namun tidak filem documenter. Tapi filem yang satu ini termasuk filem yang membuat saya tidak berhenti terperangah. Zeitgeist nama filem documenter ini. Menceritakan mengenai –yang saya sebut sebagai- the biggest conspiration theory ever made. Konspirasi terbesar yang pernah dibuat oleh umat manusia. Ada tiga bagian terpisah yang memaparkan fakta pahit konspirasi yang pernah dibuat. Pertama, konspirasi mengenai –lagi lagi yang saya sebut sebagai- kelahiran agama budaya. Kedua, mengenai tragedy 9/11 yang menimpa World Trade Center, dan ketiga konspirasi mengenai system perbankan yang membuat umat manusia di dunia ini sangat bergantung pada uang dan system perbankan yang dikembangkan barat.

Saya tidak akan membahas yang pertama, karena bahasan mengenai agama sedikit sensitif, dan saya takut tidak dapat menuangkannya secara ‘benar’ dalam tulisan ini. Dan karena yang sedang hangat sekarang adalah mengenai teroris dan kebetulan juga hari ini tanggal 9 September, saya akan membahas topik yang kedua yakni : Terorisme 9/11 yang berujung pada rontoknya maskot ekonomi AS : WTC. Kapan-kapan saya akan bahas yang ketiga.

Pengertian terorisme secara umum adalah penggunaan terror secara sistematis, memanifestasikan diri kedalam kekerasan atau intimidasi untuk memberi rasa takut (kamus). Kata ‘terorisme’ atau ‘teroris’ sendiri mulai trend pasca tragedy 9/11. Pemerintah AS melalui Komisi 9/11 (pengusut kasus tersebut) menarik benang merah bahwa ‘teroris’ Arab lah (dibawah Al Qaeda yang dipimpin oleh Bin Laden) yang melakukan perbuatan keji tersebut. Semenjak itu, ‘teroris’ selalu diidentikkan dengan islam, gerakan jihad tertentu, orang-orang arab dsb dsb. Namun tahukah kau kawan, bahwa sesungguhnya pemahaman ‘teroris’ yang demikian sengaja diciptakan oleh Bush dan pemerintahan AS untuk menjadi pembenaran segala kebijakan-kebijakan invansinya di timur tengah. Kalau itu terlalu jauh, oke lah.. ‘teroris’ sengaja diciptakan oleh pemerintah AS untuk membuat ‘public enemy’ (musuh bersama), masyarakat di doktrin untuk menjauhi, memerangi, membenci dan memusnahkan sosok bernama teroris ini. Teroris adalah yang disebut oleh Webster Tarpley sebagai ‘mitos yang mengerikan’ (pernah terpikir, tragedy-tragedi penembakan yang marak di Kanada, Negara Bagian AS, dll, juga tragedy penembakan yang baru-baru ini mengemuka : penembakan di salah satu bioskop di Colorado, AS [saat premier filem Batman : The Dark Night Rises] yang juga menewaskan banyak sekali korban jiwa tidak pernah mengaitkan mereka dengan sebutan sebagai ‘teroris’, padahal mereka telah melakukan tindakan terror. Mereka hanya disebut sebagai penjahat biasa, atau paling banter : Psikopat. Tidak pernah mereka disebut sebagai teroris. Tentu saja, karena kejahatan yang mereka lakukan tidak ada yang berhubungan dengan pemulusan agenda terselubung pemerintah)

Oke kembali ke filem zeitgeist. Di filem tersebut, diungkap fakta mencerahkan mengenai konspirasi besar yang mungkin belum banyak orang tahu. Ya, fakta dibalik tragedy 9/11. Tragedi tersebut menewaskan 3000 lebih masyarakat Amerika Serikat. Fakta yang selama ini muncul di pemberitaan adalah pesawat Boeing 707 milik US Marshal dibajak oleh (apa yang sekarang dikenal dengan) TERORIS dari afiliasi Al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama Bin Laden. Pesawat bajakan tersebut kemudian ditabrakkan ke maskot symbol adidaya perekonomian AS, World Trade Center. Dan semenjak tragedy itu, siapapun yang beragama islam, yang keturunan Arab, yang memiliki afiliasi dengan timur tengah… dianggap sebagai… teroris (lihat filem My Name Is Kahn, 2010). Faktanya, setelah analisa mendalam bertahun-tahun lamanya, diketahui bahwa pertama gedung yang runtuh seperti runtuhnya WTC pasca insiden sangat mirip dan bahkan mendekati 100% dari kesamaan runtuhnya gedung-gedung yang secara sengaja diruntuhkan dengan dinamit. Hal ini dikuatkan dengan banyaknya saksi hidup yang mengatakan bahwa ledakan seperti detonator superdasyat terdengar hingga tiga kali sebelum akhirnya ledakan besar terjadi, sebuah kejadian yang mustahil jika benar WTC runtuh karena ditabrak pesawat kecil. Masyarakat AS tahu betul itu. Bahkan, Les Robertson dan Frank A. Demartini (tim perancang desain gedung WTC tower) menyatakan bahwa WTC tower didesain untuk tahan terhadap tabrakan beruntung pesawat-pesawat jet, sangat mustahil tabrakan Boeing 707 dapat menyebabkan kerusakan yang teramat massif, hal ini diperkuat dengan fakta bahwa kecepatan runtuhnya WTC akibat insiden itu hampir sama dengan kecepatan sebuah benda yang terjun bebas (kerusakan destruktif yang menyebabkan 10 lantai jatuh perdetiknya) yang tidak mungkin disebabkan hanya karena tabrakan pesawat kecil. Itu artinya bahwa mitos yang selama ini dikembangkan oleh media dan pemerintah AS mengenai penyebab runtuhnya WTC adalah omong kosong, faktanya adalah keruntuhan WTC telah direncanakan sebelumnya, bom telah ditanam didalam gedung sebelum akhirnya ‘diledakkan’ bersamaan dengan ditabrakannya pesawat 707 US Marshal.

 Kedua, mitos yang berkembang adalah pesawat dibajak oleh 19 orang arab yang dipimpin oleh Mohammad Atta. Namun ternyata dalam daftar penerbangan, tidak ditemukan satupun nama tersangka pembajak, dan bahkan tidak ada nama orang arab dalam daftar tersebut. Justru kejanggalan demi kejanggalan mulai dibualkan oleh AS dan CIA. Di pemberitaan yang beredar, 6 dari 19 tersangka pembajakan pesawat masih hidup, selain itu ditemukan pula salah satu paspor tersangka. Betul-betul konyol. Untuk ukuran destruksi yang sangat dasyat semacam itu, yang bahkan betonpun berubah menjadi tepung, mana mungkin tersangka (yang ada di dalam pesawat yang menabrakkan diri) dan paspornya terlempar dengan selamat. Sebuah kebohongan yang menyesatkan. Nama-nama tokoh arab sengaja ‘dimunculkan’ untuk menghipnotis (dan akhirnya mendoktrin) bahwa orang-orang arablah yang melakukan kegiatan terror tersebut. Bukti-bukti palsu sengaja diselipkan untuk menguatkan argument CIA bahwa pelaku adalah bagian dari Al-Qaeda.

Ketiga, dari segala temuan langsung dilapangan dan dari daftar nama tersangka yang dirilis oleh pemerintah Amerika, tidak ada satupun bukti yang mengarah pada keterlibatan Osama Bin Laden dalam insiden 9/11. Dan ternyata, pada 11 September paginya, Bush justru bertemu dengan rekanan dari perusahaan keluarga Bin Laden, Carlyle Group (perusahaan yang disebut-sebut sebagai perusahaan kontraktor terbesar). TIDAK ADA satupun bukti yang mengarah pada OBL, ketika kecurigaan ini mulai mengemuka justru CIA (seolah-olah) menemukan rekaman video yang memperlihatkan orang arab (yang menyerupai OBL, dengan sorban, jubah besar dan jenggot panjang) yang mengaku bertanggung jawab akan insiden tersebut. Walaupun dalam kenyataannya sosok arab tersebut berbeda dari OBL yang asli, bukti tersebut menjadi alat pemerintah untuk menjadikan OBL sebagai most wanted person di seluruh dunia. Menyedihkan.

Oke, sebetulnya buaaaaanyak sekali bukti ilmiah yang secara langsung mengarahkan pada kenyataan bahwa tragedi 9/11 adalah konspirasi yang dibuat oleh pemerintah AS sendiri untuk kepentingan tertentu. Kira-kira kepentingan apakah yang hingga mengorbankan 3000 warganya sendiri? Ah anda juga pasti sudah tahu … jujur saya bingung juga menerangkan seluruh isi filem tersebut disini. Hehee. Lebih baik anda download sendiri saja ya hehe.

Yang pasti disini adalah, peristiwa 9/11 adalah OPERASI SANDIWARA yang dilancarkan oleh pemerintahan George Bush sendiri untuk kepentingan pembenaran dan doktrinisasi pendanaan mobilisasi imperial yang dilakukan (terutama di timur tengah). Sesungguhnya kasus ini bukanlah yang pertama yang diatur oleh pemerintah AS. Ada banyak ‘tragedi sandiwara’ lainnya seperti Kasus Barak Marinir, Bom Dubes di Kenya, kasus Pan AM 03, USS Cole, kasus Oklahoma City dan kasus WTC sebelumnya yakni pada 1993. CIA (atas perintah pemerintah AS tentunya) hampir terlibat di seluruh tragedi ‘terorisme’ tersebut, dan semua tragedy tersebut memiliki ending yang sama. Dan semua itu bertujuan sama pula : memanipulasi pandangan publik untuk melancarkan agenda-agenda mereka. Sebagai manusia yang cerdas, menyaring informasi dan mencari second opinion adalah sebuah tindakan yang sangat bijak. Adakalanya media massa justru menjadi garam yang ditaburkan di atas luka yang menganga, tidak mengobati justru menambah parah. Kalau teroris di Indonesia, saya tidak berani banyak komentar deh,, takut ditangkap. Hahaha… waalahualam bi sahwab…

The worst thing in this world, next to anarchy, is government.  ~Henry Ward Beecher

*source : filem zeitgeist