Gangnam Style vs Joget Poco Poco. Menang mana hayoo?

Girls generation make you feel the heat
Jeon segyega neoreul jumogae
B-Bring the boys out
Wiipungdo dangdanghaji ppyeossokbuteo
Neon wonrae meotjyeosseo
You know the girls
B-Bring the boys out

Yoi bagi sebagian orang lirik diatas pasti sangat tidak asing, terutama bagi Sone (fans club SNSD) yang jumlahnya di Indonesia bisa sampai berratus-ratus ribu manusia. Saya sendiri tidak begitu suka dengan sepak terjang K-Pop yang begitu menghegemoni dunia hiburan tanah air dewasa ini. Bukannya sok-sokan ya, tapi jujur saya jauuuuh jauuuh lebih senang band-band dalam negeri seperti Noah, D’Masiv, Padi, Sheila on 7 dan sebagai sebagainya. Karena selain bisa nyanyinya (kan pakai bahasa Indonesia kan ya), tau lirik-liriknya dengan bener, kreativitas mereka sama sekali tidak kalah dengan band-band apalagi boyband/ girlband dari Korea. Saya pernah sangat ngefans sama boyband asia juga sebenernya. F4 namanya. Mereka itu buat saya adalah cikal bakal lahirnya boyband/ girlband Korea yang mulai merajai seperti sekarang. Walaupun sekarang sudah tidak terdengar lagi eksistensinya, tapi yang namanya Jerry Yan akan tetap ada dihati #tssaaahh.. Oke, mulai kehilangan fokus. Balik lagi ke demam K-Pop. Sebenernya saya sudah pernah menuliskan ini sebelumnya, tapi tergelitik untuk nulis lagi gara-gara timeline twitter rame banget sama konser SM Town yang disiarkan RCTI kemarin dan hari ini (bagi yang gak tau, SM town itu adalah salah satu manajemen artis Korea. Artis-artisnya antara lain yang saya tahu : Super Junior, SNSD, Shinee, FX, EXO, Boa dll à gak tau dah bener apa enggak haha. Saya juga baru tau SM itu ya gara-gara ketika mereka mau konser di Jakarta). Saya kemarin juga ikut-ikutan nonton konser SM town di tipi karena penasaran sebenernya, apa yang membuat orang menggilai artis-artis Korea. Jujur, saya juga sebenarnya pengen bisa ngefans sama Korean artist, hal ini tentu saja terkait dengan eksistensi saya di mata teman-teman hahaha, ketika banyak teman membincang Korea, saya sama sekali gak ngerti apa yang mereka ributkan, makanya saya berniat untuk suka juga pada Korea, tapi ternyata gagal.

Sekilas saya mengamati yang eksplisit terlihat, semakin saya mengerti kenapa orang-orang benar-benar tergila-gila pada mereka. Selain lagu yang mungkin easy listening, artis-artisnya rupanya kinclong-kinclong. Saya memperhatikan lekat-lekat di televisi, dan memang tidak ada yang memungkiri bahwa wajah-wajah mereka benar-benar mulus seperti porselen. Kaki-kaki teman2 di SNSD (oke, ini sok kenal) benar-benar jenjang, putih mulus tanpa cela, tidak ada sama sekali noda apalagi koreng. Mulus kayak jalan yang baru diaspal. Pantas saja para pria jingkrak-jingkrak gak jelas ketika mereka memperoleh kesempatan melihat langsung para Barbie-barbie Korea itu.

Bisa dikatakan, industri musik Korea sukses besar saat ini, dan bahkan diprediksi eksistensinya akan memberikan pengaruh yang besar pada dunia hiburan internasional. Hal ini terkait dengan kreativitas dan kemahiran manajemen artis dalam ‘memoles’ mereka. Sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa artis Korea mungkin adalah artis-artis yang paling ‘menderita’ di seluruh dunia. Perjuangannya berat, sekali masuk dalam sebuah manajemen artis, maka seluruh potensi yang ada dalam dirinya, baik suara, badan, bahkan kehidupan mereka adalah di tangan manajemen. Mereka tidak bisa lagi bergerak dalam ruang bebas, semuanya tersistematika dengan rapi diatur oleh para manajer. Dan memang mereka memperoleh segalanya yang diinginkan oleh artis-artis di seluruh dunia : kepopuleran, harta dan berjuta-juta suara  yang mengelu-elukan. Ya, itu mungkin yang menjadikan setiap konsernya di Jakarta sukses berat. Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat Indonesia yang lebih memilih Korea daripada band dan artis dalam negeri dalam hal ini. Namun, saya benar-benar berharap suatu hari nanti industry musik dan hiburan tanah air menjadi raja dinegeri sendiri, tidak selalu dinomorsekiankan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Ada sebuat tweet menggelitik yang kemarin saya baca dari seorang teman yang juga tidak begitu suka oleh sepak terjang Korea, kurang lebih tweetnya seperti ini : Kenapa harus K-Pop? Kenapa gak ada B-Pop (Batak Pop), S-Pop (Sunda Pop), J-Pop (Jawa Pop), M-Pop (Minang Pop) dll. Padahal Indonesia punya banyak lagu bagus dari sana. Saya benar-benar setuju dengan itu. Kalau bisa, saya mau meritwitnya ratusan kali untuk statement itu. Ya benar, kita punya banyak lagu yang keren dari daerah-daerah kita sendiri, tanah air kita sendiri. Korea Selatan hanya memiliki satu bahasa, dan kita.. ya, kita punya lebih dari 100 an bahasa daerah, dengan dialek yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Dan kita juga punya bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Yang dimanapun kita menginjakkan kaki di tanah air, orang-orang akan mengerti itu. Mungkin Indonesia adalah satu-satunya Negara yang memiliki bahasa daerah paling banyak. Kemajemukan itu adalah potensi besar. Bisa dikatakan, tidak pernah ada konflik sosial yang terjadi di Negara kita hanya karena masalah bahasa. Padahal, di Kanada, masalah bahasa yang berbeda bisa menjadikan sebuah daerah terpisah dari induknya (Quebec yang melakukan referendum dan memisahkan diri dari Kanada. Negara-negara bagian Kanada yang lain memakai bahasa Inggris sedangkan masyarakat Quebec memakai bahasa Perancis). Tapi kita tidak pernah! Saya harus bilang WOOWW untuk itu.

Lagu-lagu daerah kita tak kalah easy listening lho, saya yang pengetahuan musiknya sangat cetek ini saja tau itu. Apuse, Ambon Manise, Injit-Injit Semut, Bubuy Bulan, Sinannggar Tulo, Sajojo, Ilir Ilir, dll hanya sebagian dari list musik dari daerah yang sangat bagus. Jika mau, lagu-lagu itu bisa juga booming di dunia internasional. Tapi tentu saja hal itu mustahil kalau masyarakat Indonesianya sendiri tidak mengenal dan bahkan asing apalagi menggemari lagu-lagu tersebut. Kita manusia Indonesia memang salah peradaban, atau lebih tepatnya : dididik untuk salah peradaban. Siapa yang mendidik itu? Globalisasi jawabannya. Kita salah menyikapi globalisasi, dan beginilah kita sekarang : tak tau arah, tidak tahu identitas, tak bisa membedakan mana yang seharusnya diwaspadai dan mana yang seharusnya dijaga.

Oke, itu hanya sedikit coretan akan kegelisahan saya mengenai demam Korea yang membabi buta. Seakan-akan kita anak Indonesia dilahirkan dan ‘diharuskan’ menggemari kebudayaan Negara lain. Bagaimana bisa saya mengatakan ‘diharuskan’? Ya, system yang seolah-olah mengharuskan. Para promotor musik yang lebih senang mengundang artis Korea dibanding artis dalam negeri, media massa yang lebih gencar memberitakan sepak terjang artis Korea dibanding prestasi artis dalam negeri, penghargaan dan apresiasi yang rendah dari pemerintah dan masyarakat untuk seniman dalam negeri, dan sebagai bagainya. Tulisan ini bukannya ingin menghakimi bahwa para everlasting fans, sone dan fans club artis Korea lainnya itu salah. Jelas bukan, karena itu adalah hak asasi individu yang tidak patut dipersalahkan. Saya hanya ingin sedikit membuka wacana, wacana nasionalisme dalam bentuk yang paling sederhana yang mungkin dianggap basi dan tradisional. Oke sekian dari saya see yaa :))

Oiya, ada yang ketinggalan. Untuk demam Gangnam Style yang sekarang lagi digilai banyak orang (bahkan Britney Spears dan artis Hollywood lainnya), buat saya itu fenomenal banget. Bagaimana tidak? gerakan jingkrak-jingkrak sambil tangan diputar-putar diatas kepala bisa menjadi sebuah ‘tarian internasional’ dan dijiplak, dimodifikasi dan dikiblati (serta digemari) oleh banyak orang. Saya memang punya pengetahuan yang sangat minim untuk masalah kesenian, tapi plis deh.. gerakan itu… gak banget.. Pertanyaannya, bagaimana bisa joget Gangnam bisa boom seperti itu padahal gerakannya biasa aja? ya itu adalah PR pemerintah dan pelaku hiburan dalam negeri untuk mencari tahu. Saya ingiiiiiiiinnnn sekali seingin-inginnya, suatu saat nanti joget Poco-Poco dikenal dan menjadi kiblat untuk tarian sehat internasional. Poco-Poco itu keren banget. Bahkan dulu saya sempat memprotes waktu jaman SMP ketika joget Poco-Poco yang dipakai untuk senam tiap Jumat pagi diganti dengan senam Ayo Bersatu. Poco-Poco itu lebih seksi dibandingkan Gangnam Style menurut saya. Gerakannya elegan, lagu yang dipakai easy listening banget, bisa dimodifikasi dan yang pasti : bikin sehat.

Oke sekian, salam Poco-Poco…

*tulisan lainnya tentang K-Pop bisa dilihat disini

*waktu googling gambar untuk blog ini, nemu deh gambar2 ini hahaha :

*kalo masalah tampang, kayaknya artis Indonesia gak kalah deh. Cantik & cakepnya alami lagi.. hehhe.. gambar2 diatas diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s