Sedikit Wacana dan Pandangan Awam G30S

Gak berasa banget udah diujung bulan. Hari ini, 30 September… ada yang merasa kalau hari ini hari apa gitu gak (selain hari minggu tentunya -_-)? Hari ini, 30 September mungkin bisa dibilang salah satu hari yang paling bersejarah di Indonesia. Tepatnya sekitar 47 tahun silam, dimana salah satu kejahatan manusia terbesar di negeri kita pernah terjadi. Sebuah kejadian yang mengubah sejarah, sebuah momen yang kita kenal bertahun-tahun dengan G30S (Gerakan 30 September).

Saya masih ingat, pertama kalinya saya mempelajari mengenai ini adalah ketika saya masih duduk di bangku SD. Dari buku paket sejarah, saya tidak bisa membayangkan ada yang lebih kejam dari aktor-aktor dibalik kejadian itu. Waktu itu, saya membayangkan PKI (waktu itu G30S tidak bisa dipisahkan dari PKI, sehingga namanya waktu itu adalah G30S/PKI) adalah makhluk-makhluk jahat tak beragama, biadap, tidak punya hati dan tidak takut neraka. Bagaimana tidak? Kekejamannya membantai orang-orang tak bersalah sekaligus jenderal-jenderal petinggi AD tanpa ampun menodai wajah ibu pertiwi dengan goresan darah. Tidak ada yang lebih kejam dari PKI, waktu itu saya berpikir seperti itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia dan beragamnya bacaan, saya menyadari ternyata saya (dan mungkin puluhan ribu anak lainnya) adalah salah satu korban doktrinasi kekuasaan orde baru yang hegemoninya sampai pada bangku sekolah. Kebenaran memang mutlak milik Soeharto waktu itu. L’etat c’est moi. Sehingga tidak heran pemerintah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan status quo, termasuk dalam hal memberikan ‘doktrin’ kepada anak-anak untuk takut dan takluk pada pemerintah, melalui salah satu cara ampuhnya : merekayasa sejarah.

Buku-buku sejarah pada masa orba diplintir sedemikian rupa. Fakta-fakta sejarah yang dirasa tidak mendukung stabilitas/ yang sifatnya menjelek-jelekkan Soeharto disembunyikan, sebaliknya banyak kebohongan-kebohongan yang ditambal sana sini untuk mempromosikan pembangunan dan mengagung-agungkan pemerintah saat itu (termasuk meninggi-ninggikan peranan Soeharto di masa lalu, dan mengecilkan peranan Soekarno dan tokoh lainnya). Termasuk salah satunya yakni fakta mengenai G30S/PKI. Anggapan bahwa dalang dibalik pembantaian para jenderal dan pemberontakan yang berujung pada sedikitnya kematian 500 ribu orang adalah PKI sudah lama mengendap dalam pikiran hampir semua anak yang pernah membaca buku paket sejarah kurikulum 1999 (atau sebelumnya). Namun dengan angin segar reformasi, pasca tumbangnya Soeharto dari tampuk kekuasaannya bermuncullah karya-karya yang selama orde baru ‘tidak layak terbit’, dan bermuncullah saksi-saksi hidup dari persembunyiannya (yang pada masa orba mereka hanya bisa bersembunyi, mengganti identitas atau bahkan yang telah menjadi tahanan politik) untuk memberikan kesaksiannya seputar fakta yang selama ini tidak dapat mereka ungkapkan.

Oke, balik lagi ke masalah G30S. Seragamnya fakta sejarah G30S di buku paket justru menandakan sesuatu yang tidak masuk akal. Sejarah harusnya banyak versi karena perspektif kesaksian yang diberikan pasti berbeda-beda. Pasca reformasi, muncullah banyak kesaksian-kesaksian baru yang berkontribusi dalam hal ‘pelurusan sejarah’ ini. Dalam buku Asvi Warman Adam yang berjudul ‘Membongkar Manipulasi Sejarah’ yang belum rampung saya baca, setidaknya ada beberapa versi kisah mengenai pemberontakan G30S.

Yang pertama, versi ilmuwan Cornel University-AS, Benedict R. Anderson (Ben Anderson) dan Ruth Mc. Vey. Berdasarkan hasil penelitian keduanya, peristiwa G30S merupakan puncak dai konflik internal di tubuh angakatan darat. Waktu itu menjelang tahun 1965 SUAD (Staf Umum Angkata Darat) pecah menjadi dua faksi. Kedua faksi ini sebetulnya anti PKI, namun memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi presiden Soekarno. Faksi pertama adalah “faksi tengah” yang loyal terhadap presiden Soekarno yang dipimpin oleh Pangad Letjen Ahmad Yani. Faksi yang kedua adalah “faksi kanan” yang menentang Ahmad Yani dengan semangat Soekarnoisasinya. Faksi ini dipimpin oleh Jenderal Nasution dan Mayjend Soeharto. Peristiwa G30S adalah puncak dari perpecahan kedua faksi tersebut, disebut-sebut juga sebagai upaya perebutan kekuasaan dari faksi tengah ke faksi kanan. Ada juga versi sebaliknya, upaya dari faksi tengah (dengan keterlibatan Soekarno) untuk melenyapkan sebagian oposisi dari faksi kanan.

Yang kedua, adalah versi keterlibatan agen CIA AS dalam perisitiwa sitir itu. Akibat perang dingin antara blok kapitalis (barat) dan blok komunis (timur), AS tidak ingin negara-negara (utamanya negara-negara Asia Tenggara) dikuasai oleh komunis, sedangkan waktu itu Presiden Soekarno adalah pendukung dan kawan akrab negara-negara non kapitalis seperti Uni Soviet dan China, PKI pun waktu itu menjadi partai yang besar dengan sokongan dari Soekarno. Oleh karenanya, CIA dengan segala upaya dan kucuran dana yang besar, berupaya untuk menghancurkan kekuatan PKI di Indonesia. Dan, skenario untuk menghancurkan PKI sekaligus menjatuhkan Soekarno pun mulai dirancang. G30S hanyalah satu dari sekian banyak skenario tersebut.

Versi selanjutnya adalah analisis dari Soebandrio mengenai konsep ‘kudeta merangkak’ yang dilakukan oleh petinggi AD yang tidak lagi loyal pada Soekarno. Kudeta merangkak itu terdiri dari setidaknya empat tahapan. Pertama, menyingkirkan saingannya di AD seperti Ahmad Yani dkk (yang pro terhadap Soekarno, G30S adalah puncaknya), tahapan kedua yakni membubarkan PKI yang merupakan rival terberat sampai saat itu (pembubaran PKI secara legal formal diperoleh melalui Surat Sakti Supersemar yang sampai saat ini masih hitam sejarahnya), tahapan ketiga melemahkan kekuatan pendukung Bung Karno dengan menangkap (dan menuduh agen PKI) menteri-menteri yang Soekarnois, termasuk Soebandrio sendiri. Dan yang keempat adalah mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno. Dari hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa peristiwa 30 September hingga 11 Maret adalah sebuah skenario yang dijalankan oleh faksi AD yang hendak mengambil alih kekuasaan presiden Soekarno.

Banyaknya versi kisah G30S ini tentu saja menyadarkan sebagian dari kita, bahwa sejarah bersifat subyektif. Mengutip sejarawan Perancis, Paul Veyne dalam bukunya Comment on ecrit l’histoire (1971 dalam Adam, 2009:147) sejarah merupakan proyeksi dari nilai-nilai yang kita anut dan jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan. Sejarah adalah rangkaian peristiwa, dan peristiwa tidak memiliki ukuran kriteria yang mutlak. Peristiwa tidak hadir seperti butir-butir pasir, tidaklah berdiri sendiri dan terisolasi, peristiwa bukanlah makhluk, tetapi persilangan rute/ trayek. Sejarah adalah penceritaan mengenai peristiwa dan bukanlah perisitwa itu sendiri. Peristiwa tidak dapat ditangkap sejarawan secara utuh, sejarawan hanya bisa mengumpulkan kepingan-kepingan peristiwa melalui dokumen, kesaksian, jejak, dll. Itu sebabnya banyak versi dalam sejarah, termasuk dalam peristiwa G30S. Menjadi tidak wajar ketika sejarah itu seragam sebagaimana yang pernah kita alami sewaktu orde baru berkuasa. Apapun nanti kebenarannya, yang pasti : telah banyak yang dirugikan dari kejadian G30S ini. Tidak hanya korbannya secara langsung, namun juga korban-korban pengucilan orde baru yang tidak bersalah (seperti misalnya sanak saudara yang keluarganya diindikasikan terlibat dalam peristiwa G30S/PKI) yang sebenarnya tidak tahu menahu mengenai peristiwa keji tersebut. Rekonsiliasi mutlak dibutuhkan untuk itu. Jadi, kalau ada yang bilang era pak Harto lebih baik daripada era sekarang, hmm.. banyak-banyak baca sejarah deh… emang mau dipimpin sama pemimpin yang tangannya sudah pernah bersimbah darah dan jadi penghianat ibu pertiwi? Waallahualam bi shawab…

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Sedikit Wacana dan Pandangan Awam G30S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s