Pemuda dan Kualitas Sistem Pendidikan

 Pemuda dan Gambaran Harapan 

Dinamika perjalanan bangsa ini telah sampai pada titik yang meyakinkan bahwa Indonesia dapat menjadi negara besar seperti sekarang salah satu penyebabnya karena kontribusi pemuda antar generasi yang mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa. Pemuda dan peranannya sudah tidak diragukan telah menjadi cat dalam kanvas luas bernama Nusantara. Cat yang senantiasa menorehkan warna dan goresan membentuk sebuah masterpiece, mahakarya diatas kanvas itulah yang kini disebut sebagai Indonesia. Ya, tak berlebihan kiranya karena peranan pemuda di Indonesia selama ini memang menentukan arah dan haluan bangsa sekaligus mencerminkan jati diri negara. Lebih dari seratus tahun yang lalu, Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohusodo dan kawan-kawannya dari STOVIA telah menggerakkan semangat pemuda melalui pergerakan modern yang berasaskan konsensus dan pendidikan sebagai cara untuk merebut kemerdekaan. Melalui Boedi Oetomo, perjuangan itu dilakukan. Hingga lahir organisasi-organisasi serupa yang tak lagi mengandalkan fisik dan otot untuk melawan penjajah, melainkan melalui aspek-aspek lain seperti pendidikan. Lahirnya persyarikatan Muhammadiyah yang dipelopori KH. Ahmad Dahlan dan Organisasi Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah sedikit dari organisasi pergerakan yang meletakkan dasar perjuangan melawan penjajah melalui media pendidikan.

1908, 1928, 1945 dan 1998 adalah tahunnya para pemuda Indonesia. Perjuangan pergerakan pemuda Indonesia yang membuat bangsa ini menjadi lebih dewasa. Keran kebebasan dibuka selebar-lebarnya pasca pergerakan pemuda reformasi 1998. Kungkungan orde baru yang telah mengkebiri hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat berhasil dirobohkan, perbaikan di segala bidang telah berhasil dilakukan. Sistem birokrasi yang (sudah lumayan) melayani, keterbukaan (atau kevulgaran) media yang jor-joran, pemilihan pemimpin secara langsung (mulai dari tingkat kecamatan sampai pada pemilihan RI 1) hanyalah segilintir aspek yang berhasil diperbaiki setelah dimandulkan oleh rezim orde baru. Namun, bagaimana dengan pendidikan? Apakah pendidikan di Indonesia lebih baik dari yang lalu-lalu? Akankah serakan semangat KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara masih tersisa hingga kini?

Pandangan Awam Perihal Sistem Pendidikan

Pendidikan adalah cara yang paling elegan sebagai media merawat Indonesia. Dengannya, akan tercipta SDM yang unggul untuk membentuk generasi pengisi kemerdekaan. Dan, pemuda adalah salah satu indikator keberhasilan/ kegagalan dari pendidikan itu sendiri. Prestasi anak muda di bidang pendidikan tidaklah sedikit. Di level internasional, segala jenis kompetisi dari berbagai tingkat satuan pendidikan (sekolah menengah, atas maupun perguruan tinggi) dan di segala bidang ilmu mulai dari Ilmu Pengetahuan Alam, teknologi, robotic, hingga kesenian dan budaya. Tidak dapat dipungkiri prestasi itu memperlihatkan keberhasilan dari produk pendidikan itu sendiri. Namun, seperti sebuah antithesis, wajah pendidikan di Indonesia ini juga memperlihatkan borok nya. Hal ini terlihat dari masih timpangnya pendidikan di kota dan daerah. Ketimpangan ini berimplikasi pada kualitas SDM daerah yang tidak mampu mengimbangi SDM di kota, efeknya fenomena urbanisasi tidak terbendung, kesenjangan ekonomi daerah-kota, Jawa-luar Jawa dll. Lainnya, pendidikan yang seharusnya dapat menjembatani kepentingan siswa untuk mengapresiasi diri justru menjadi ‘pemberat’ kehidupan siswa itu sendiri. Hal ini terlihat dari sistem pendidikan yang hingga kini masih belum dapat membebaskan siswa dari belenggu kebodohan. Apakah sistem yang mengukur pintar-bodohnya siswa dari hasil UNAS itu membebaskan? Apakah sistem ujian hafalan dan multiple choice –tidak dengan sistem esei yang mampu mengukur kedalaman pemahaman siswa- itu dapat membuat siswa menjadi kreatif? Apakah menyamaratakan kualitas pendidikan di setiap daerah itu bijak? Menurut saya, jawaban dari seluruh pertanyaan itu adalah : TIDAK. Lainnya lagi, pendidikan (yang selama ini diasosiasikan sebagai sekolah) belum mampu membuat anak didik menjadi seorang yang jiwanya terbebaskan. Hakikat pendidikan menurut Freire adalah upaya tersistematisasi yang akan memberikan penyadaran bagi anak didik terhadap realitas sosial di sekitarnya. Namun apakah pendidikan (sekolah) kita demikian? Mungkin ada, namun tidak banyak. Lebih banyak sekolah yang hanya menjadi beban bagi siswanya, dengan kurikulum yang mengharuskan siswa mempelajari banyak pelajaran (yang kadang tidak masuk akal. Di pelajaran kelas 4 SD, sudah harus mempelajari mengenai UU otonomi daerah), belum lagi tuntutan KKM (Kriteria Kelulusan Minimal) yang tinggi yang menuntut para siswa belajar lebih keras (dari yang seharusnya). Masalah lainnya, pendidikan di Indonesia sepertinya belum menjadi prioritas dalam pembangunan, walaupun undang-undang kita mengamanatkan bahwa pemerintah harus membebaskan biaya untuk tingkatan sekolah dasar, dan menyalurkan 20% dari total APBN untuk pendidikan, namun nyatanya fenomena pungutan di berbagai sekolah dengan berbagai dalih (study wisata, les tambahan, pembangunan gedung, uang seragam dll) masih dapat dengan mudah ditemui. Bahkan untuk pendidikan dasar, Indonesia hanya menginventasikan 3% pendapatan perkapita pertahun per anak, bandingkan dengan Australia, China, Jepang, Thailand yang berkisar antara 15%-22% pertahun (sumber : www.uis.unesco.org dalam Kopi Merah Putih, 2009:13).

Hasilnya?

Bagi sebagian orang, mungkin sistem pendidikan yang begini akan lebih menguntungkan, terutama bagi para orang tua yang berduit. Dengan biaya jor-joran yang dikeluarkan untuk anak-anaknya, anak-anak akan lebih sibuk diluar rumah untuk belajar, belajar dan belajar. Dan hasilnya? Mungkin mereka nantinya akan dapat meneruskan ke sekolah/ perguruan tinggi yang favorit. Namun apakah itu dapat menjamin bahwa anak-anak menjadi sesorang yang peka dan sensitive terhadap realitas di sekitarnya? Mungkin tidak, karena dengan sistem demikian, mereka justru diajari untuk menjadi kultus individu yang pragmatis.

Dan, hasil pendidikan yang pragmatis ini menghasilkan individu dengan emosi yang tidak stabil. Fenomena tawuran yang berujung pada berjatuhannya korban jiwa di beberapa universitas terkemuka di Indonesia menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum dapat menjadi solusi bagi para pemuda Indonesia untuk mengekspresikan dirinya. Belum lagi gaya hidup hedonism para pelajar dan mahasiswa yang sudah diatas batas kenormalan.

Kalau sudah begini apakah sistem pendidikan yang sekarang masih bisa dipertahankan? Apakah yang begini yang akan menciptakan generasi penerus bangsa yang masih setia dengan sumpah mengisi kemerdekaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945? Apakah yang begini yang akan membuat pemuda Indonesia ‘sadar’ akan hakikatnya sebagai agen pembangunan bangsa?

*just my self opinion #IDBerkibar

Advertisements

When You’re Gone

Hari itu, tepat 5 tahun aku mengenalmu. Dan 2 tahun yang lalu, saat hati kita berdua menyatu. Aaah, mengenalmu adalah sebuah anugerah, dan kini, nanti, selamanya, mencintaimu adalah sesuatu yang indah. Baju terbagus telah aku kenakan, hadiah yang indah juga telah aku sediakan. Pokoknya hari ini adalah hari yang spesial.

Setibanya di lokasi ‘janjian’ kita, aku tidak sabar menantimu dengan gaun itu, gaun yang selama ini membuatmu semakin menawan.

“Hai, aku datang, dan kali ini tidak telat lagi seperti kemarin. Hehe. Aku bawakan sesuatu yang pasti kamu suka.” Aku mengatakan sembari mengeluarkan sebuah album. Album kita. Semua tentang kita.

“Aku gak bisa nahan ketawa kalau lihat ini. Coba kamu lihat deh”. Dan Ia memang pendiam. Aku tahu dibalik temaramnya malam, ia tersenyum.

“Dias, aku cinta. Aku sungguh aku mencintaimu dari lubuk hatiku. Kamu tahu kan?” aku tersenyum kearahnya.

Aku berikan bunga yang aku bawa kepadanya. Aku bersihkan rumah barunya. “Aku sudah pernah mengatakannya bukan, Dias.. aku mencintaimu”. Setidaknya aku pernah mengatakannya, sebelum Ia benar-benar pergi dari dunia ini….

“Aku tahu kamu tahu itu, tapi tahukah kamu, betapa cinta ini juga telah berangsur-angsur membunuhku. Aku tidak pernah tahu, bahwa kehilangan bisa berarti sangat banyak. Membunuh sebagian sel-sel hidup, yang membuatku seolah menjadi sesosok zombie. Yang hidup, tapi sebenarnya mati… Aku mencintaimu… dan sangat kehilanganmu…. “

*Cerpen untuk kuis #FF2in1

Bertahan

Menjagamu adalah tantangan, mencintaimu adalah pilihan. Sudah bertahun-tahun hubungan ini mati-matian aku pertahankan, hanya untuk satu, membuatmu menyadari bahwa ada seseorang disini yang benar, tulus mencintaimu dari hati yang terdalam.

“Kamu gak bisa terus-terusan seposesif ini. Gini-gini juga aku punya kehidupanku sendiri!” Ia mengatakannya dengan keras, sekeras hatinya yang kini membatu, tepatnya sejak dua tahun lalu

“Aku gak pernah mencoba membatasi kehidupanmu Ri, ini juga demi kebaikan kamu” mati-matian aku mempertahankan nada suaraku yang semakin meninggi. Ia kini berbeda dari Riana yang dulu aku kenal. Yang selalu periang, ceria, banyak cerita dan sedikit cablak. Ia kini jauh jauh berbeda dari Ia yang dahulu, kini ia pembangkang, pemarah dan tidak mau diatur. Aku sendiri sebagai orang (yang aku rasa) paling dekat dengannya tak bisa berbuat banyak. Aku tidak mau ia membenciku, tapi aku juga tidak ingin dia mendapatkan kehidupan yang salah diluar sana.

“Aku gak akan biarkan sesosok apapun menyakitimu.” Aku biarkan mataku yang berbicara padanya. Aku tidak pernah bisa lagi membuatnya menjadi anak yang manis, Ia kini telah dewasa. Aku tahu itu, dan itu artinya aku harus super hati-hati mengatakan apapun padanya.

Namun sepertinya Ia tidak lagi hirau, ia melengos begitu saja. Keluar dari rumah dan bergegas pergi ke suatu tempat yang aku tidak pernah tahu dimana.

Ya Tuhan, tidakkah dia dapat merasakan kasih sayangku yang berlimpah yang aku berikan padanya? Aku hanya ingin Ia tahu, aku begitu mencintainya, sama bahkan lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Aku tidak ingin Ia tersakiti, bahkan oleh ranting-ranting yang jatuh dari dahan-dahan pohonnya. Aku ingin menjaganya, sama seperti aku menjaga kehormatan diriku sendiri. Aku ingin memeluk erat dirinya, menunjukkan betapa hati ini telah aku serahkan separuhnya untuk ia isi. Namun, pribadi yang dulu tak akan pernah kembali aku rasa. Tragedi dua tahun lalu mengubah segalanya..

Oh Rianaku yang dulu, kemanakah engkau pergi? Apakah jiwamu yang dulu juga telah ikut mati bersama jasad ayah dan ibu kita? Maafkan aku, aku hanya sedang mencoba menjadi kakak yang baik untukmu, untuk ayah dan ibu kita…

*cerpen untuk #FF2in1

Refleksi Wajah Pendidikan Indonesia di Daerah : Sebuah Otokritik Sistem Pendidikan Sekarang

“Pendidikan bukan persiapan untuk hidup. Pendidikan adalah hidup itu sendiri”(John Dewey)

“Mendidik adalah memimpin” (Hatta, dalam Baswedan, 2012 RoadshowIMJogja)

“Apa ibukota Sulawesi Selatan, Asrul?”

“Sinjaiiiii kaaakkk”

“Kalau.. ibukota negara kita, Indonesia?”

“emm.. (berpikir).. Kartini Kaaakk!”

Itu salah satu pertanyaan yang pernah saya lemparkan kepada anak kelas V SD di SD Negeri 076 Pusanti, Desa Barania, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan. Bagi sebagian anak, tentu tidaklah sulit menjawab pertanyaan semacam itu. Namun bagi mereka yang akses informasi dan pendidikannya terbatas, tentu bukan hal yang mudah menjawab dengan tepat pertanyaan-pertanyaan sederhana sejenis itu.  Saya saja sempat bingung : Kartini? apa maksudnya ibukota Indonesia adalah Kartini? ketika saya tanyakan lebih lanjut, ternyata mereka terinspirasi dari nyanyian “Ibu Kita Kartini..” yang mereka hafal.

Pengetahuan itu Jauh (?)

Bagi sebagian besar anak usia SD kelas 4 keatas, menjawab dengan tepat mengenai soal seperti ibukota negara, kepala negara dan bahkan UU otonomi daerah merupakan sebuah kewajaran, karena anak-anak SD di perkotaan mendapatkan akses informasi tidak terbatas dari lingkungannya. Dari guru-gurunya, tuntutan dari kepala Dinas Pendidikannya dan bahkan dari orang tua serta kecanggihan internet di gadget nya. Namun bagi sebagian besar anak-anak lainnya, yang tinggal jauh dari peradaban, di pedalaman hutan, di ketinggian gunung, di pesisir laut, di pulau-pulau terpencil di timur dan barat pulau Jawa, mendapatkan pengetahuan umum mengenai calistung (baca tulis dan berhitung) saja sudah merupakan anugerah. Boro-boro hafal pancasila, membedakan huruf U dan N saja susah, jangan berharap pelajaran aljabar apalagi logaritma, menghitung sampe dua puluh saja banyak yang kacau. Bagi mereka, ilmu pengetahuan lebih seperti utopia semu yang hanya bisa diraih dalam mimpi. Ilmu pengetahuan jauh, peradaban jauh. Namun terlepas dari itu semua, jangan salah, semangat belajar anak-anak pedalaman bisa dikatakan jauh lebih murni dan lebih kuat dibandingkan semangat belajar para siswa di sekolah perkotaan. Mereka tak kenal hujan, panas sekalipun kabut dan badai. Mereka tak tahu apa itu jauh, capai, lelah dan titian sungai yang deras. Semangat belajar mereka menggelora, antusiasme yang diiringi kenekatan berangkat sekolah tiap pagi dari jarak yang teramat jauh, motivasi mengenal ilmu dan kemajuan. Tidak pernah kalah dan tidak pernah tertandingi dengan anak-anak lainnya yang tinggal di dekat keramaian fasilitas.

“Nanti kita belajar apa ki kakak?” pertanyaan berulang-ulang yang selalu ditanyakan oleh anak-anak yang berbeda setiap pagi. Belajar apapun, untuk mereka semua informasi adalah baru. Ya, sekolah di pelosok dalam negeri ini, berjarak teramat jauh dibandingkan sekolah-sekolah di daerah perkotaan. Inilah wajah Indonesia sesungguhnya. Kita jangan terkecoh dengan glamornya ibukota, majunya teknologi kekinian, tingginya apartemen-apartemen di tengah kota atau mewahnya gedung-gedung sekolah Jakarta, karena sejatinya bukan itulah wajah Indonesia secara hakiki. Wajah Indonesia adalah di pelosok hutan Kalimantan, di pinggiran perbatasan negeri, di gunung-gunung tinggi Papua yang jauh akan akses informasi, sinyal hape apalagi teknologi.

Ya, pendidikan adalah salah satu aspek yang hingga saat ini masih sangat berjarak antara Jawa-luar Jawa. Walaupun pendidikan merupakan amanat UUD yang –saking krusialnya- tertuang di preambule naskah konstitusi, namun hingga 67 tahun Indonesia merdeka saat ini pendidikan merata baru sekadar wacana diatas kertas. Paradigma pembangunanisme (developmentalism) yang dianut rezim orde baru justru menciptakan jurang kesenjangan yang semakin lebar antara pulau Jawa dan luar Jawa. Kontribusi rezim orde baru di bidang pendidikan yang hingga sekarang mungkin masih bisa dilihat adalah pendirian sekolah-sekolah inpres (instruksi presiden). Namun apa gunanya gedung sekolah tanpa seorang pendidik? Sama halnya seperti sebuah lentera tanpa gugusan cahaya.

Pengalaman mengajar di pedalaman Sulawesi Selatan, Desa Barania bukanlah sebuah pengalaman yang teramat menyayat hati, masih banyak daerah-daerah yang jauh lebih menyesakkan. Namun pada hakikatnya anak-anak yang berada di pedalaman memiliki kebutuhan yang sama untuk pendidikan, kebutuhan yang tidak lebih berlebihan daripada anak-anak kota yang hidup di Jawa. Kebutuhan untuk didekatkan pada informasi, didekatkan pada pengetahuan, pada peradaban.

Hakikat Pendidikan

Itu sedikit refleksi wajah pendidikan tanah air yang sesungguhnya. Pendidikan dalam konteks pedagogik kontemporer menurut Paulo Freire bukan hanya investasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang bermasa depan cerah, melainkan lebih dari itu yakni pendidikan sebagai proses penyadaran yang berlangsung terus menerus yang bertujuan untuk membuat manusia memahami realitas dirinya dan dunia sekitarnya. Merujuk pada konsep dasar itulah harusnya pendidikan dimaknai. Pendidikan bukan merupakan media legitimasi kekuasaan dan status quo seperti saat orde baru terjadi, pendidikan tidak juga harus saklek dimaknai sebagai alat politik pencapaian tujuan negara. Jauh lebih sederhana dari itu, pendidikan adalah proses penyadaran terhadap realitas kehidupan, pendidikan adalah proses ‘memanusiakan’ manusia, membuatnya sadar akan eksistensinya dalam kehidupan dan lingkungannya, serta terbebas dari pembodohan pihak lain. Lantas apakah realitas yang selama ini dialami adik-adik kita di pedalaman adalah pendidikan yang demikian? Yang memanusiakan, yang membebaskan? Jika teladan dan guru yang tulus saja sangat susah ditemukan, bagaimana transfer kebudayaan dan ‘pembebasan’ itu dilakukan?

Sistem Pendidikan Indonesia : Sesuaikah dengan konsep “Pendidikan Yang Membebaskan” ?

Sistem pendidikan di Indonesia yang (menurut saya) masih sangat kurang menghargai kearifan lokal masyarakat perlahan-lahan justru akan mengebiri kreativitas dan potensi masyarakat daerah itu sendiri. Misalnya sistem pendidikan yang menyamaratakan standar ‘pintar-tidaknya’ siswa yang hanya berdasarkan pada hitung-hitungan kuantitatif (standar ujian nasional misalnya). Jelas tidak adil! Kecuali jikalau pendidikan yang telah merata di seluruh pelosok nusantara. Jika pemerataan saja belum terjadi mana mungkin menggunakan indikator yang sama untuk menentukan lulus tidaknya, pintar tidaknya para siswa. Seperti yang terjadi di Desa terpencil di Sulawesi Selatan, bagi mereka pertanyaan seperti “ibukota Indonesia”, “pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan” maupun “nama Presiden RI yang sekarang” terlalu sulit untuk dijawab. Karena untuk mereka, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin bukanlah penentu kehidupan mereka, tidak penting untuk diketahui dan bukanlah urusan yang lebih penting daripada pelajaran agama dan hafalan surat pendek al-Qur’an.

Sistem yang sekarang diterapkan bukanlah layaknya pendidikan yang ‘memanusiakan’ seperti halnya yang dikemukakan Freire. Seharusnya para pengambil kebijakan memahami bahwa menyamakan standar kelulusan di semua daerah bukanlah solusi menciptakan SDM yang berkualitas dan tangguh. Sistem yang seperti itu justru menciptakan kultus individu dan jiwa pragmatisme para siswa. Yang terbaik menurut saya, adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kearifan lokal serta potensi di setiap daerah. Contoh sederhananya adalah dengan mendukung terciptanya kurikulum muatan lokal yang mendorong kesadaran para siswa akan potensi daerahnya. Dengan adanya pengetahuan umum mengenai potensi lokal daerahnya, para siswa akan ditumbuhkan rasa cinta pada daerah dan kompetensinya untuk mengembangkan daerahnya sendiri. Hal itu saya rasa akan mengurangi keinginan anak-anak muda yang (nantinya pasti) akan berpindah ke kota untuk mencari kehidupan yang (katanya) lebih baik. Ketika pendidikan muatan lokal yang menyuguhkan pengetahuan mengenai potensi daerahnya, prospek pengembangannya dan cara mengeksplorasinya sejak pendidikan dasar telah diberikan, anak-anak akan lebih semangat dan kompeten mengelola daerahnya. Mereka tidak akan terlalu silau dengan iming-iming menjadi manusia urban karena di daerahnya mereka disuguhi bentang alam dari Tuhan yang dapat dikelola menjadi penghidupan yang berkecukupan bagi mereka. Walaupun hal itu bukanlah variabel mutlak yang akan menghentikan arus urbanisasi dari daerah ke kota, atau dari luar Jawa ke Jawa, namun menurut saya akan menjadi salah satu solusi dari pengembangan daerah dan sumber daya manusia di daerah, karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan yang tepat akan menjadi kendaraan bagi tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Berkaca dari itu semua, pemerintah sebagai otoritas yang secara penuh bertanggung jawab seharusnya dapat mengambil langkah paling bijak. Jika mempertahankan sistem pendidikan yang seperti sekarang ini, saya yakin daerah yang maju hanyalah wilayah Jawa dan sekitarnya. Namun, jika masyarakat dilibatkan secara penuh dalam mengelola pendidikannya, melalui muatan-muatan lokal untuk mengeksplorasi wilayahnya bukan tidak mungkin wilayah-wilayah terpencil bahkan terluar Indonesia dapat menjadi semacam ‘kuda hitam’ dalam percaturan pembangunan di Indonesia. Hakikat pendidikan yang ‘menyadarkan’ adalah kuncinya.

*tulisan ini disertakan dalam lomba Blog Competition Gerakan Indonesia Berkibar 2012 🙂

Refleksi Wajah Pendidikan Indonesia di Daerah : Sebuah Otokritik Sistem Pendidikan Sekarang (part 2)

*lanjutan dari part 1 yang kemaren, bisa diliat disini*

Sistem pendidikan di Indonesia yang (menurut saya) masih sangat kurang menghargai kearifan lokal masyarakat perlahan-lahan justru akan mengebiri kreativitas dan potensi masyarakat daerah itu sendiri. Misalnya sistem pendidikan yang menyamaratakan standar ‘pintar-tidaknya’ siswa yang hanya berdasarkan pada hitung-hitungan kuantitatif (standar ujian nasional misalnya). Jelas tidak adil! Kecuali jikalau pendidikan yang telah merata di seluruh pelosok nusantara. Jika pemerataan saja belum terjadi mana mungkin menggunakan indikator yang sama untuk menentukan lulus tidaknya, pintar tidaknya para siswa. Seperti yang terjadi di Desa terpencil di Sulawesi Selatan, bagi mereka pertanyaan seperti “ibukota Indonesia”, “pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan” maupun “nama Presiden RI yang sekarang” terlalu sulit untuk dijawab. Karena untuk mereka, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin bukanlah penentu kehidupan mereka, tidak penting untuk diketahui dan bukanlah urusan yang lebih penting daripada pelajaran agama dan hafalan surat pendek al-Qur’an.

Sistem yang sekarang diterapkan bukanlah layaknya pendidikan yang ‘memanusiakan’ seperti halnya yang dikemukakan Freire. Seharusnya para pengambil kebijakan memahami bahwa menyamakan standar kelulusan di semua daerah bukanlah solusi menciptakan SDM yang berkualitas dan tangguh. Sistem yang seperti itu justru menciptakan kultus individu dan jiwa pragmatisme para siswa. Yang terbaik menurut saya, adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kearifan lokal serta potensi di setiap daerah. Contoh sederhananya adalah dengan mendukung terciptanya kurikulum muatan lokal yang mendorong kesadaran para siswa akan potensi daerahnya. Dengan adanya pengetahuan umum mengenai potensi lokal daerahnya, para siswa akan ditumbuhkan rasa cinta pada daerah dan kompetensinya untuk mengembangkan daerahnya sendiri. Hal itu saya rasa akan mengurangi keinginan anak-anak muda yang (nantinya pasti) akan berpindah ke kota untuk mencari kehidupan yang (katanya) lebih baik. Ketika pendidikan muatan lokal yang menyuguhkan pengetahuan mengenai potensi daerahnya, prospek pengembangannya dan cara mengeksplorasinya sejak pendidikan dasar telah diberikan, anak-anak akan lebih semangat dan kompeten mengelola daerahnya. Mereka tidak akan terlalu silau dengan iming-iming menjadi manusia urban karena di daerahnya mereka disuguhi bentang alam dari Tuhan yang dapat dikelola menjadi penghidupan yang berkecukupan bagi mereka. Walaupun hal itu bukanlah variabel mutlak yang akan menghentikan arus urbanisasi dari daerah ke kota, atau dari luar Jawa ke Jawa, namun menurut saya akan menjadi salah satu solusi dari pengembangan daerah dan sumber daya manusia di daerah, karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan yang tepat akan menjadi kendaraan bagi tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Berkaca dari itu semua, pemerintah sebagai otoritas yang secara penuh bertanggung jawab seharusnya dapat mengambil langkah paling bijak. Jika mempertahankan sistem pendidikan yang seperti sekarang ini, saya yakin daerah yang maju hanyalah wilayah Jawa dan sekitarnya. Namun, jika masyarakat dilibatkan secara penuh dalam mengelola pendidikannya, melalui muatan-muatan lokal untuk mengeksplorasi wilayahnya bukan tidak mungkin wilayah-wilayah terpencil bahkan terluar Indonesia dapat menjadi semacam ‘kuda hitam’ dalam percaturan pembangunan di Indonesia. Hakikat pendidikan yang ‘menyadarkan’ adalah kuncinya. Wallahualam …

*gambar anak-anak Kadorobukua yang superluarbiasa :D*