Terlambat

 

*ini tulisan untuk ikutan tantangannya nulisbuku.com #FF2in1 (Flash Fiction 2 in 1), dan kebetulan tema untuk kesempatan kali ini adalah “Pupus” (dewa 19) -> cerita ditulis dalam waktu 30 menit! hahaha*

—–

Ingatan lima belas tahun silam terbersit kembali dalam memori, masa dimana Aku dan Rinda kecil bermain-main tanpa beban. Ayunan dan tanah lapang tempat kami bermain masak-masakan atau polisi-polisian menjadi saksi bisu persahabatan kami dari kecil. Namun, kini sepucuk surat bersampul pita warna ungu muda itu seolah menghancurkan segala-galanya. Ya, aku telah menerima undangan pernikahan Rinda dengan seorang pemuda yang bahkan belum terlalu aku kenal sebelumnya. Laki-laki super beruntung itu adalah teman satu kampus dengan Rinda di Yogyakarta. Aku hanya bisa membisu, memandangi surat itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini padanya, dan Ia tanpa ada pertanda apapun, memupuskan harapanku menguntai mahligai pernikahan dengannya.

“Aku senang kamu kembali ke Indonesia tepat waktu, aku sengaja tidak memberimu kabar selama ini. Aku pikir ini akan menjadi sebuah kejutan besar”
“Iya Rin. Aku kaget, kamu berhasil mengejutkanku. Selamat” kataku dengan senyum getir.

Selama ini aku memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku secara langsung padanya, hal ini bukan karena aku tidak serius, namun karena aku ingin sekali memberikan sesuatu yang tidak pernah terlupakan untuknya. Aku ingin mengungkapkan cinta padanya, di tempat dan waktu yang tepat. Bukan kemarin-kemarin ketika aku belum jadi apa-apa. Beasiswa yang menerbangkan aku untuk kuliah di Belanda adalah batu loncatan pertama yang ingin aku taklukkan, barulah setelah aku lulus aku ingin melamarnya. Ya, bukan hanya untuk menjadikannya pacar atau apapun yang bersifat ‘semu’. Namun ternyata Ia tidaklah sepeka yang aku pikirkan walaupun kami sudah bertahun-tahun bersahabat. Aku tidak pernah mengerti perasaan perempuan, benar-benar tidak mengerti. Ternyata dia tidak paham apa yang aku rasakan. Oh rasanya…

“Kamu datang ya. Tidak ada alasan untuk absen pokoknya” katanya lagi
“Oke, doakan aku sehat”
“Aku akan marah seumur hidupku kalau kau tidak datang”

Aku tersenyum lagi. Bagaimana mungkin aku bisa menyaksikan wanita yang selama ini aku cintai berdampingan dengan lelaki lain, mengikat tali suci pernikahan. Apakah aku kuat melihatnya? Aaah seharusnya aku tidak usah pulang sekalian, mencari istri di Belanda dan hidup bahagia disana. Aaaahh rasanya ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.

“Kamu tahu, kehadiranmu adalah yang paling beharga untukku. Di hari yang paling penting, jika kau tak datang, aku tidak tahu bagaimana kacaunya perasaanku nantinya” katanya

Aku menghela nafas panjang… bagaimana bisa Ia berbicara seperti itu pada lelaki yang bukan apa-apanya –kecuali hanya sahabat kecilnya-, aah kadang hal-hal seperti itu yang tidak aku suka pada diri Rinda, Ia seperti sangat ringan mengucapkan hal-hal yang membuat aku melambung. Mungkin itulah yang selama ini membuatku pede untuk tidak menyatakan cintaku padanya. Aku kira ia mencintaiku, sama seperti bagaimana aku mencintainya.
“Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan…”

Kata-kataku terpotong, aku seperti hendak mengucapkan untaian kalimat yang selama ini terpendam dalam hati dan otakku. Ya, aku harus. Walaupun sangat tidak etis, tapi aku harus, setidaknya aku tidak berhutang apa-apa pada hatiku.

“… akan aku usahakan. Tapi, aku tidak tahu seberapa kuatkah diriku melihat orang yang aku cintai duduk dipelaminan bersama lelaki lain”

Akhirnya kata-kata itupun meluncur dengan frontal dari mulutku. Rinda terdiam, lama… Sampai akhirnya aku melihat buliran-buliran air jatuh dari kedua bola matanya yang bulat dan hitam. Aku kalut. Untuk apa dia menangis?

“Aku tidak percaya akhirnya kamu mengatakan itu… apakah harus menunggu aku sampai menikah dulu baru kamu akan jujur dengan perasaanmu? Bertahun-tahun aku menunggumu mengucapkan kalimat itu. Hanya satu kalimat. Tapi, rasanya sia-sia penantianku. Dan, sekarang sudah terlambat. Ada lelaki lain yang memiliki usaha yang lebih untuk meminangku. Walaupun aku juga sangat mencintaimu dulu, tapi membuka hati untuk orang lain yang aku rasa lebih baik adalah sebuah pilihan yang bijak menurutku…” katanya, getir.

Dan aku menyaksikan punggungnya berlalu…

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s