Refleksi Wajah Pendidikan Indonesia di Daerah : Sebuah Otokritik Sistem Pendidikan Sekarang (part 2)

*lanjutan dari part 1 yang kemaren, bisa diliat disini*

Sistem pendidikan di Indonesia yang (menurut saya) masih sangat kurang menghargai kearifan lokal masyarakat perlahan-lahan justru akan mengebiri kreativitas dan potensi masyarakat daerah itu sendiri. Misalnya sistem pendidikan yang menyamaratakan standar ‘pintar-tidaknya’ siswa yang hanya berdasarkan pada hitung-hitungan kuantitatif (standar ujian nasional misalnya). Jelas tidak adil! Kecuali jikalau pendidikan yang telah merata di seluruh pelosok nusantara. Jika pemerataan saja belum terjadi mana mungkin menggunakan indikator yang sama untuk menentukan lulus tidaknya, pintar tidaknya para siswa. Seperti yang terjadi di Desa terpencil di Sulawesi Selatan, bagi mereka pertanyaan seperti “ibukota Indonesia”, “pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan” maupun “nama Presiden RI yang sekarang” terlalu sulit untuk dijawab. Karena untuk mereka, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin bukanlah penentu kehidupan mereka, tidak penting untuk diketahui dan bukanlah urusan yang lebih penting daripada pelajaran agama dan hafalan surat pendek al-Qur’an.

Sistem yang sekarang diterapkan bukanlah layaknya pendidikan yang ‘memanusiakan’ seperti halnya yang dikemukakan Freire. Seharusnya para pengambil kebijakan memahami bahwa menyamakan standar kelulusan di semua daerah bukanlah solusi menciptakan SDM yang berkualitas dan tangguh. Sistem yang seperti itu justru menciptakan kultus individu dan jiwa pragmatisme para siswa. Yang terbaik menurut saya, adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kearifan lokal serta potensi di setiap daerah. Contoh sederhananya adalah dengan mendukung terciptanya kurikulum muatan lokal yang mendorong kesadaran para siswa akan potensi daerahnya. Dengan adanya pengetahuan umum mengenai potensi lokal daerahnya, para siswa akan ditumbuhkan rasa cinta pada daerah dan kompetensinya untuk mengembangkan daerahnya sendiri. Hal itu saya rasa akan mengurangi keinginan anak-anak muda yang (nantinya pasti) akan berpindah ke kota untuk mencari kehidupan yang (katanya) lebih baik. Ketika pendidikan muatan lokal yang menyuguhkan pengetahuan mengenai potensi daerahnya, prospek pengembangannya dan cara mengeksplorasinya sejak pendidikan dasar telah diberikan, anak-anak akan lebih semangat dan kompeten mengelola daerahnya. Mereka tidak akan terlalu silau dengan iming-iming menjadi manusia urban karena di daerahnya mereka disuguhi bentang alam dari Tuhan yang dapat dikelola menjadi penghidupan yang berkecukupan bagi mereka. Walaupun hal itu bukanlah variabel mutlak yang akan menghentikan arus urbanisasi dari daerah ke kota, atau dari luar Jawa ke Jawa, namun menurut saya akan menjadi salah satu solusi dari pengembangan daerah dan sumber daya manusia di daerah, karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan yang tepat akan menjadi kendaraan bagi tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Berkaca dari itu semua, pemerintah sebagai otoritas yang secara penuh bertanggung jawab seharusnya dapat mengambil langkah paling bijak. Jika mempertahankan sistem pendidikan yang seperti sekarang ini, saya yakin daerah yang maju hanyalah wilayah Jawa dan sekitarnya. Namun, jika masyarakat dilibatkan secara penuh dalam mengelola pendidikannya, melalui muatan-muatan lokal untuk mengeksplorasi wilayahnya bukan tidak mungkin wilayah-wilayah terpencil bahkan terluar Indonesia dapat menjadi semacam ‘kuda hitam’ dalam percaturan pembangunan di Indonesia. Hakikat pendidikan yang ‘menyadarkan’ adalah kuncinya. Wallahualam …

*gambar anak-anak Kadorobukua yang superluarbiasa :D*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s