Bertahan

Menjagamu adalah tantangan, mencintaimu adalah pilihan. Sudah bertahun-tahun hubungan ini mati-matian aku pertahankan, hanya untuk satu, membuatmu menyadari bahwa ada seseorang disini yang benar, tulus mencintaimu dari hati yang terdalam.

“Kamu gak bisa terus-terusan seposesif ini. Gini-gini juga aku punya kehidupanku sendiri!” Ia mengatakannya dengan keras, sekeras hatinya yang kini membatu, tepatnya sejak dua tahun lalu

“Aku gak pernah mencoba membatasi kehidupanmu Ri, ini juga demi kebaikan kamu” mati-matian aku mempertahankan nada suaraku yang semakin meninggi. Ia kini berbeda dari Riana yang dulu aku kenal. Yang selalu periang, ceria, banyak cerita dan sedikit cablak. Ia kini jauh jauh berbeda dari Ia yang dahulu, kini ia pembangkang, pemarah dan tidak mau diatur. Aku sendiri sebagai orang (yang aku rasa) paling dekat dengannya tak bisa berbuat banyak. Aku tidak mau ia membenciku, tapi aku juga tidak ingin dia mendapatkan kehidupan yang salah diluar sana.

“Aku gak akan biarkan sesosok apapun menyakitimu.” Aku biarkan mataku yang berbicara padanya. Aku tidak pernah bisa lagi membuatnya menjadi anak yang manis, Ia kini telah dewasa. Aku tahu itu, dan itu artinya aku harus super hati-hati mengatakan apapun padanya.

Namun sepertinya Ia tidak lagi hirau, ia melengos begitu saja. Keluar dari rumah dan bergegas pergi ke suatu tempat yang aku tidak pernah tahu dimana.

Ya Tuhan, tidakkah dia dapat merasakan kasih sayangku yang berlimpah yang aku berikan padanya? Aku hanya ingin Ia tahu, aku begitu mencintainya, sama bahkan lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Aku tidak ingin Ia tersakiti, bahkan oleh ranting-ranting yang jatuh dari dahan-dahan pohonnya. Aku ingin menjaganya, sama seperti aku menjaga kehormatan diriku sendiri. Aku ingin memeluk erat dirinya, menunjukkan betapa hati ini telah aku serahkan separuhnya untuk ia isi. Namun, pribadi yang dulu tak akan pernah kembali aku rasa. Tragedi dua tahun lalu mengubah segalanya..

Oh Rianaku yang dulu, kemanakah engkau pergi? Apakah jiwamu yang dulu juga telah ikut mati bersama jasad ayah dan ibu kita? Maafkan aku, aku hanya sedang mencoba menjadi kakak yang baik untukmu, untuk ayah dan ibu kita…

*cerpen untuk #FF2in1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s