Pemuda dan Kualitas Sistem Pendidikan

 Pemuda dan Gambaran Harapan 

Dinamika perjalanan bangsa ini telah sampai pada titik yang meyakinkan bahwa Indonesia dapat menjadi negara besar seperti sekarang salah satu penyebabnya karena kontribusi pemuda antar generasi yang mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa. Pemuda dan peranannya sudah tidak diragukan telah menjadi cat dalam kanvas luas bernama Nusantara. Cat yang senantiasa menorehkan warna dan goresan membentuk sebuah masterpiece, mahakarya diatas kanvas itulah yang kini disebut sebagai Indonesia. Ya, tak berlebihan kiranya karena peranan pemuda di Indonesia selama ini memang menentukan arah dan haluan bangsa sekaligus mencerminkan jati diri negara. Lebih dari seratus tahun yang lalu, Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohusodo dan kawan-kawannya dari STOVIA telah menggerakkan semangat pemuda melalui pergerakan modern yang berasaskan konsensus dan pendidikan sebagai cara untuk merebut kemerdekaan. Melalui Boedi Oetomo, perjuangan itu dilakukan. Hingga lahir organisasi-organisasi serupa yang tak lagi mengandalkan fisik dan otot untuk melawan penjajah, melainkan melalui aspek-aspek lain seperti pendidikan. Lahirnya persyarikatan Muhammadiyah yang dipelopori KH. Ahmad Dahlan dan Organisasi Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah sedikit dari organisasi pergerakan yang meletakkan dasar perjuangan melawan penjajah melalui media pendidikan.

1908, 1928, 1945 dan 1998 adalah tahunnya para pemuda Indonesia. Perjuangan pergerakan pemuda Indonesia yang membuat bangsa ini menjadi lebih dewasa. Keran kebebasan dibuka selebar-lebarnya pasca pergerakan pemuda reformasi 1998. Kungkungan orde baru yang telah mengkebiri hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat berhasil dirobohkan, perbaikan di segala bidang telah berhasil dilakukan. Sistem birokrasi yang (sudah lumayan) melayani, keterbukaan (atau kevulgaran) media yang jor-joran, pemilihan pemimpin secara langsung (mulai dari tingkat kecamatan sampai pada pemilihan RI 1) hanyalah segilintir aspek yang berhasil diperbaiki setelah dimandulkan oleh rezim orde baru. Namun, bagaimana dengan pendidikan? Apakah pendidikan di Indonesia lebih baik dari yang lalu-lalu? Akankah serakan semangat KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara masih tersisa hingga kini?

Pandangan Awam Perihal Sistem Pendidikan

Pendidikan adalah cara yang paling elegan sebagai media merawat Indonesia. Dengannya, akan tercipta SDM yang unggul untuk membentuk generasi pengisi kemerdekaan. Dan, pemuda adalah salah satu indikator keberhasilan/ kegagalan dari pendidikan itu sendiri. Prestasi anak muda di bidang pendidikan tidaklah sedikit. Di level internasional, segala jenis kompetisi dari berbagai tingkat satuan pendidikan (sekolah menengah, atas maupun perguruan tinggi) dan di segala bidang ilmu mulai dari Ilmu Pengetahuan Alam, teknologi, robotic, hingga kesenian dan budaya. Tidak dapat dipungkiri prestasi itu memperlihatkan keberhasilan dari produk pendidikan itu sendiri. Namun, seperti sebuah antithesis, wajah pendidikan di Indonesia ini juga memperlihatkan borok nya. Hal ini terlihat dari masih timpangnya pendidikan di kota dan daerah. Ketimpangan ini berimplikasi pada kualitas SDM daerah yang tidak mampu mengimbangi SDM di kota, efeknya fenomena urbanisasi tidak terbendung, kesenjangan ekonomi daerah-kota, Jawa-luar Jawa dll. Lainnya, pendidikan yang seharusnya dapat menjembatani kepentingan siswa untuk mengapresiasi diri justru menjadi ‘pemberat’ kehidupan siswa itu sendiri. Hal ini terlihat dari sistem pendidikan yang hingga kini masih belum dapat membebaskan siswa dari belenggu kebodohan. Apakah sistem yang mengukur pintar-bodohnya siswa dari hasil UNAS itu membebaskan? Apakah sistem ujian hafalan dan multiple choice –tidak dengan sistem esei yang mampu mengukur kedalaman pemahaman siswa- itu dapat membuat siswa menjadi kreatif? Apakah menyamaratakan kualitas pendidikan di setiap daerah itu bijak? Menurut saya, jawaban dari seluruh pertanyaan itu adalah : TIDAK. Lainnya lagi, pendidikan (yang selama ini diasosiasikan sebagai sekolah) belum mampu membuat anak didik menjadi seorang yang jiwanya terbebaskan. Hakikat pendidikan menurut Freire adalah upaya tersistematisasi yang akan memberikan penyadaran bagi anak didik terhadap realitas sosial di sekitarnya. Namun apakah pendidikan (sekolah) kita demikian? Mungkin ada, namun tidak banyak. Lebih banyak sekolah yang hanya menjadi beban bagi siswanya, dengan kurikulum yang mengharuskan siswa mempelajari banyak pelajaran (yang kadang tidak masuk akal. Di pelajaran kelas 4 SD, sudah harus mempelajari mengenai UU otonomi daerah), belum lagi tuntutan KKM (Kriteria Kelulusan Minimal) yang tinggi yang menuntut para siswa belajar lebih keras (dari yang seharusnya). Masalah lainnya, pendidikan di Indonesia sepertinya belum menjadi prioritas dalam pembangunan, walaupun undang-undang kita mengamanatkan bahwa pemerintah harus membebaskan biaya untuk tingkatan sekolah dasar, dan menyalurkan 20% dari total APBN untuk pendidikan, namun nyatanya fenomena pungutan di berbagai sekolah dengan berbagai dalih (study wisata, les tambahan, pembangunan gedung, uang seragam dll) masih dapat dengan mudah ditemui. Bahkan untuk pendidikan dasar, Indonesia hanya menginventasikan 3% pendapatan perkapita pertahun per anak, bandingkan dengan Australia, China, Jepang, Thailand yang berkisar antara 15%-22% pertahun (sumber : www.uis.unesco.org dalam Kopi Merah Putih, 2009:13).

Hasilnya?

Bagi sebagian orang, mungkin sistem pendidikan yang begini akan lebih menguntungkan, terutama bagi para orang tua yang berduit. Dengan biaya jor-joran yang dikeluarkan untuk anak-anaknya, anak-anak akan lebih sibuk diluar rumah untuk belajar, belajar dan belajar. Dan hasilnya? Mungkin mereka nantinya akan dapat meneruskan ke sekolah/ perguruan tinggi yang favorit. Namun apakah itu dapat menjamin bahwa anak-anak menjadi sesorang yang peka dan sensitive terhadap realitas di sekitarnya? Mungkin tidak, karena dengan sistem demikian, mereka justru diajari untuk menjadi kultus individu yang pragmatis.

Dan, hasil pendidikan yang pragmatis ini menghasilkan individu dengan emosi yang tidak stabil. Fenomena tawuran yang berujung pada berjatuhannya korban jiwa di beberapa universitas terkemuka di Indonesia menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum dapat menjadi solusi bagi para pemuda Indonesia untuk mengekspresikan dirinya. Belum lagi gaya hidup hedonism para pelajar dan mahasiswa yang sudah diatas batas kenormalan.

Kalau sudah begini apakah sistem pendidikan yang sekarang masih bisa dipertahankan? Apakah yang begini yang akan menciptakan generasi penerus bangsa yang masih setia dengan sumpah mengisi kemerdekaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945? Apakah yang begini yang akan membuat pemuda Indonesia ‘sadar’ akan hakikatnya sebagai agen pembangunan bangsa?

*just my self opinion #IDBerkibar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s