UNAS : Ujian Naas…

Wah udah lama banget gak ngeblog dan ngeposting sesuatu ditempat sampah pribadi ini. Hehe.. Bagi yang kangen sama saya dan bingung kemana aja selama ini.. sebenernya saya gak kemana-mana, masih aktif di media sosial juga, tapi emang dengan kondisi yang bener-bener gak fit beberapa bulan ini. Bukan apa-apa, ini cuma karena satu hal : Skripsik. Yoi, skripsi udah mengubah segalanya #hahaa

Sumpah, seumur-umur saya sekolah dan menuntut ilmu dari TK sampe umur segini ini, baru kali ini merasakan yang namanya ‘kegalauan akademis’ (saya menyebutnya). Entah kenapa, gak ada spirit sama sekali buat ngerjainnya, sekalinya ada semangat, kok yo gak pernah konek gitu loh sama Bapak DPS yang terhormat… Ya begitulah, kegalauan ini.. jangan sampai berubah jadi kegilaan.. Nikmati aja prosesnya,, (kata orang-orang) #enakyangomongdoang

Daaan ternyata kegalauan akademis ini tidak dialami mahasiswa tingkat akhir seperti saya dan beberapa rekan, tapi juga adek-adek kami kelas 3 SMA. Maklum, mereka sekarang lagi pada UAN (Ujian Akhir Nasional) yang notabene menjadi satu-satunya penanda kematian atau kehidupan yang baru buat masa depan mereka. Dan seperti yang sudah-sudah penyelenggaraan UAN terus menjadi perdebatan di banyak kalangan. Saya masih ingat, keputusan Mahkamah Konstitusi (tahun 2010 kalau gak salah) yang memutuskan pemerintah untuk tidak memaksakan UAN untuk anak-anak sampe kementrian bisa meningkatkan kualitas pendidikan.

UNAS yang Wagu 

Penyelenggaraan UAN tahun ini naas banget, soal yang seharusnya sudah terdistribusi merata di seluruh wilayah Indonesia per tanggal 15 April 2013 (jadwal hari pertama penyelenggaraan UAN SMA) justru mengalami banyak kendala yang –ohmegot, gilak banget- berakibat sangat fatal. UAN diundur! hebaat, baru kali ini ada kejadian kayak gini. Distribusi yang belum merata ini disebabkan karena salah satu perusahaan pemenang tender yang harusnya mendistribusikan soal ke 11 provinsi di Indonesia gagal memenuhi tenggat waktu yang sudah ditentukan (wanprestasi). INI MASALAH SERIUS WOOI !

Akibat dari keterlambatan itu, ke 11 provinsi yang menjadi ‘korban’ ke-oonan PT Ghalia Printing tidak dapat menyelenggarakan ujian nasional serentak bersama provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, dan baru memulainya pada hari (kalau gak salah) Kamis kemarin. Ini sih namanya UREG (Ujian Regional) -__-

Gak ada yang mau disalahkan pada kasus seserius ini. Tempo (16 April 2013), dalam berita utamanya menyatakan, Hamzah Lukman (Dirut PT Ghalia Printing) mengatakan bahwa perusahaannya kesulitan melakukan pekerjaan pencetakan naskah soal karena jumlah naskahnya lebih banyak dan bervariasi, dan mengalami kesulitan menyangkut cara memasukkan bahan ujian ke dalam boks yang sesuai dengan kategori sekolah, Ia juga mengeluhkan keterbatasan sumber daya manusia untuk mengerjakan proyek ini (Tempo, PT Ghalia Dinilai Tidak Kompeten). Coba saudara-saudara pembaca, bagaimana tanggapan anda dengan pernyataan demikian? Mengenaskan sekali ya? *speechless* *tarik nafas*

HAHA kok ya bisa-bisanya gitu loh, terus kalau dia nya udah ngomong demikian, apakah kita sebagai rakyat jelata akar rumput ini bisa maklum dengan kondisi demikian? *oh yaudah deh pak, gapapa kita maklum kok, namanya juga orang Indonesia, kadang emang gak konsisten. Santai aja kali pak* gitu? Woi, ini proyek yang memakai uang Negara senilai 120,4 miliar! uang kita kita juga itu coy. Dan alokasi ke PT Ghalia itu senilai kurang lebih 22,5 miliar rupiah, dan ternyata mereka melakukan wanprestasi. Kebangetan. Yang lebih kebangetan adalah : para siswa yang tak tahu apa-apalah yang jadi korbannya.

Mari kita tengok deh, ini bener-bener janggal se janggal-janggalnya. Dan mungkin saudara pembaca udah bisa menebak kan ya, proyek segede ini pasti ada kongkalikong dibelakangnya (alias korupsi). Bagaimana bisa Kemendikbud memilih PT Ghalia Printing sebagai pemenang tender? Perusahaan ini terbukti masih sangat newbie untuk urusan pendistribusian soal-soal ujian ke wilayah timur Indonesia. Tahun lalu saja perusahaan ini hanya diserahi untuk mencetak soal untuk wilayah Bali saja, dan sekarang tahu-tahu diserahi amanah untuk mendistribusikan soal ke 11 provinsi, dengan anggaran yang sebenernya jauh lebih  besar (PT Jasuindo 21,2 miliar, PT Balebat 21,6 miliar, PT Aneka Ilmu 17,1 miliar –Tempo, 16 April 2013). Apa iya untuk proyek sebesar ini Kemendikbud asal coba-coba aja pada perusahaan yang track record kompetensinya masih dipertanyakan? Ya jelas tidak. Apalagi kalau bukan karena tender ini sudah ‘diatur siapa pemenenangnya’.

Kemarin sempat ngobrol dengan teman, dan dia berbagi cerita. Udah bukan rahasia lagi lah, kalau setiap proyek yang menggunakan pagu anggaran yang besar itu pasti tidak pernah bebas dari korupsi (yang tentunya melibatkan banyak pihak), dalam hal ini (nek menurutku sih pasti) pejabat yang bertanggung jawab terhadap naskah ujian (pihak Kemendikbud), Banggar DPR dan juga yang pasti perusahaan yang udah ngecim untuk dikasih proyek tersebut. Biasanya untuk proyek pengadaan naskah seperti ini, pemenang tender itu sudah ditentukan duluan, tentu saja perusahaan harus ngasih ‘jatah’ kepada oknum pemerintah dan oknum banggar yang mengetok dan meloloskan anggaran. Sedangkan perusahaan pemenang tender sendiri, kalau dia yang mengerjakan proyek nya sendiri tentu nya nanti jatuhnya rugi/ untungnya sedikit, jadi mereka menyerahkan proyek tersebut pada perusahaan-perusahaan kecil untuk dikerjakan. Jadi perusahaan pemenang tender hanya mengerjakan sebagian dari proyek tersebut (atau tidak mengerjakan proyek sama sekali) dan sisanya (atau semuanya) diserahkan pada perusahaan-perusahaan baru yang masih kecil-kecil (tentunya dengan ongkos yang sangat kecil). Jadi, keuntungan bisa dinikmati perusahaan dalam jumlah besar, oknum pemerintah dan DPR juga dapat jatah, disisi lain perusahaan kecil pun juga ikutan senang karena dapet proyek (walaupun duitnya dikit). See? semuanya senang..

Mungkin sebelas dua belas dengan logika diatas, kasus keterlambatan naskah UAN ini serupa juga. Pembaca yang terhomat yang bisa menyimpulkan sendiri lah ya… *wes kesel ngetik* hahaaa

Berdampak Sistemik

Hadeh, emang Cuma bailout century yang berdampak sistemik aja? Masalah ini berdampak guedee loh. Yo liat satu-satu secara singkat deh. Pertama, tidak serempaknya penyelenggaraan UAN ini tentu saja membuka peluang kebocoran kunci jawaban. Lah piye yo, wong UAN bareng we kunci jawaban wes do bocor ningendi-ngendi kok le. Lah apalagi ini, keterlambatan dua hari ini tentu saja membuka peluang yang lebih besar pada oknum pembocor UAN. Ya begitu deh… Kedua, yang paling kasian tentu saja anak-anak SMA yang sudah mempersiapkan diri dan mentalnya untuk menghadapi UAN di hari senin tanggal 15. Secara psikologis, mereka udah siap mental tuh garap soal di hari senen, ealah tapi ternyata karena kasus ini mereka harus menunda mengerjakan soal sampe beberapa hari kedepan. Dan mungkin nantinya hasilnya tidak akan sama, karena alam bawah sadar mereka sebenernya udah dari lama dan jauh-jauh hari bikin persiapan di hari H, dan karena diundur ya jelas aja mentalnya njeglek. Bekal mental yang jauh-jauh hari mereka persiapkan sia-sia tu. Pengunduran jadwal ini bukannya bikin persiapan mereka lebih matang, tapi justru bikin mereka jadi tambah males dan menjadi semakin terbebani.. *pukpuk kimcil SMA*. Last but not least, sebenernya Ujian Nasional sendiri (tanpa adanya kasus ini) sudah menjadi masalah. Saya gak asal bicara ini, keputusan MK udah membuktikannya.

UAN itu sebenernya gunanya buat apa sih? bingung saya… kalau pemerintah bermaksud meningkatkan mutu anak-anak didik, kayaknya salah fokus deh ya. Secara, kualitas pendidikan antara satu daerah dengan daerah lain –bujubuneng- bedaaaa bianget. Masih njomplang gitu loh. Jangankan membandingkan Indonesia bagian barat dan timur, lah wong di satu provinsi aja kualitas pendidikan masih njomplang kok. Kayak gitu mau disamaratakan? Oh PLIS, how naïve they are. Hey pemerintaaahh,,, *speechless* mbok yo itu loh, itu tu.. anggaran pendidikan yang katanya 20%, disalurin dulu yang bener daaaaahh… perbaikin dulu sistem pendidikan, lah wong yo bikin kurikulum we labil kok. Kelarin dulu sertifikasi guru itu, perbaiki infrastruktur di sekolah-sekolah di Indonesia timur. Baru kalau udah bisa itu semua, terserah deh mau ngadain ujian nasional kek, ujian regional kek, ujian hidup ato apalah gitu.. yang pasti, kalo untuk saat ini saya rasa temen-temen kimcil di seluruh Indonesia belum pada siap deh kalo harus disamaratakan pake standar nasional *self opinion*.

Justru banyak kasus yang memperlihatkan bahwa UAN itu justru bikin konsep ‘pendidikan’ secara filosofis tidak tercapai, atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai ‘pendidikan’ itu sendiri. Lah coba deh liat, musim UAN itu yaa,, aduh piye yo.. kacau deh. Banyak yang kemudian nekat minum racun, gantung diri atau –minimal- setres berat lah, bahkan tadi pagi aku liat tipi ada tu yang baru ngerjain UAN njut tiba-tiba kesurupan gitu. Hoaahh.. K *pukpuk lagi kimcil-kimcil*. Belum lagi saking besarnya dampak UAN terhadap kehidupan mereka, membuat anak-anak menjadi inferior dan gak pede-an. Mereka yang gak mau ambil resiko untuk gagal di Ujian Nasional lantas menghimpun segala cara untuk bisa lolos dari maut. Menghalalkan berbagai cara-cara ketidakjujuran untuk dapetin kunci jawaban. Nah itu nah.. piye jal nek ngono? Udah bukan rahasia lagi lah, tiap-tiap sekolah pasti ada semacam perhimpunan siswa-siswi (entah gerakan bawah tenah atau udah terang-terangan) yang kemudian menghimpun kekuatan (dana) untuk dapet akses ke kunci jawaban. Bahkan banyak juga oknum guru yang terlibat atau bahkan jadi koordinatornya. Ya itu tadi, untuk menyelamatkan siswa-siswi mereka dari kegagalan UAN dan sekaligus menyelamatkan akreditasi sekolah mereka.. Apa yang seperti itu yang diharapkan dari esensi pendidikan? Ini saya gak asal ngomong ya, pengalaman dulu kira2 beberapa belas tahun yang lalu ketika saya juga menghadapi UAN (haha bohong deng, baru taun lalu saya UAN :3) waktu itu temen-temen saya banyak yang mengajak saya untuk ikutan ‘iuran’ untuk dapetin kunci jawaban via sms. Jadi mekanismenya kira2 gini (kalau gak salah inget ya hehe). Temen-temen pada iuran beberapa puluh ribu gitu (tiap-tiap kelas ada koordinatornya) yang kemudian diserahkan sama koordinator utama (ya temen juga itu) untuk kemudian dana itu disalurkan ke oknum yang (mengaku) punya kunci jawabannya. Waktu itu temen-temen yang udah ikutan iuran disuruh nyetor nomer hape baru untuk kemudian besok waktu UAN di forward in jawaban-jawaban via sms. Hmm begitu kalau gak salah..  Karena saya gak berminat (dan gak ada duit pastinya) jadi saya gak ikut-ikutan yang begituan, tapi temen-temen sekelas hampir separuhnya ada kali yang ikutan nyetor duit untuk dapetin kunci jawaban via sms. Kalaupun gak lewat sms, kami semua dulu sepakat (semacam di briefing, ato cuci otak gitu haha) untuk gak pelit-pelit ngasih tahu jawaban ke temen-temen. Ya saling contek mencontek gitu. Padahal (gak sombong loh ya) saya anti bianget tu sama yang begituan, tapi ya gimana ya, karena itu semacam peraturan tidak tertulis gitu, ya gak enak juga kalo gak ngasih tau jawaban ke temen..

Kejujuran yang seharusnya menjadi punggawa dalam pendidikan di nomersekiankan, hanya untuk apa? untuk mencapai hasil kuantitatif semu : LULUS. Bahkan temen saya anak IPA, satu-satunya yang tidak lulus di SMA, dia bersikeras untuk tidak mencontek pada saat UAN, dan itu.. dia gak lulus. Sungguh menyesakkan. Bagaimana mungkin kita membangun bangsa yang besar jika bahan bakarnya saja pemuda-pemuda (yang secara sistematis dibentuk) pragmatis dan mendewakan kebohongan? Semoga Ki Hajar Dewantara tenang di kuburnya, Amiinn..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s