Unpredictable Trip to Japan –” (2)

Kemarin rencananya mau ngeposting banyak tentang Jepang, kehidupan disana, orang-orangnya sampai suka dukanya ngerasain jadi “temporary visitor” atau “temporary citizen”, terutama di Kyoto. Tapi oh tapi adaa aja halangannya mau nulis. Dari mulai jadwal kuliah yang padet banget di Kyoto, langganan wifi yang dicabut di apartemen Bangkok, hingga tugas dan paper yang menumpuk setelah balik dari sono, kehidupan duniawi untuk sementara tercerabut. What a rush week!

Hidup di Jepang, untuk banyak orang mungkin menjadi sebuah impian, dan termasuk saya, salah seorang yang benar-benar kagum dengan -every-single-things-that-I-felt-I-smelt-in-Japan. For sure. Tapi ampun ampunan deh, untuk orang yang etos kerja dan gaya hidupnya masih ala-ala orang asia tenggara yang semuanya serba biasa-biasa aja (including me, of course) kayanya bakal kepentok-pentok di awal untuk bisa menyesuaikan dengan gaya hidup dan etos kerja mereka. 10 hari disana bener-bener membuka mata, hati dan pikiran : kalau mau maju emang harus punya gaya hidup yang “beda” dari biasanya.

Berikut beberapa fakta tentang Jepang dan kehidupan di dalamnya yang saya peroleh selama 10 hari tinggal disana : (kalau ada yang ketinggalan maklum, namanya kenangan, kadang hilang dan timbul dalam pikiran dan terkadang datang di saat yang tak terduga *ini apasih*)

1. Orang Jepang tepat waktunya ga nguatin. Iya, ternyata bukan legenda, apalagi mitos saudara-saudara. Orang Jepang memang sudah terkenal dengan betapa mereka sangat menghargai waktu, dan baru setelah disana saya benar-benar menyaksikan (dan bahkan menjadi korban akannya) ketepatwaktuan orang Jepang. Untuk mereka, tepat waktu dalam bekerja bukanlah datang/ masuk kerja sesuai dengan jam yang telah ditetapkan, tapi setidaknya 5 menit sebelum waktu yang telah ditetapkan. Hampir setiap hari saya masuk pukul 10.00, dan ketika 09.55 belum juga sampai di kelas, siap-siap menghadapi kemurkaan Ajahn (panggilan dosen di Thailand), karena setidaknya 10 menit sebelum kelas dimulai, Sensei (panggilan dosen di Jepang) sudah datang dan mempersiapkan slide presentasi. Dan itu berlaku ga cuma di dunia akademis kaya kampus atau dunia kerja profesional, tapi di semua sendi kehidupan di Jepang. Semua orang tepat waktu. Gak heranlah negara ini bisa bangkit dengan sangat cepat pasca ambruk dan luluh lantah 1945 lalu, semangat perjuangan masih (dan akan tetap) mengalir di darah setiap orang Jepang πŸ™‚

2. Transportasi publik yang kece. Sudah terkenal (juga) betapa negara ini adalah salah satu negara dengan public service terbaik di dunia. Yupz, sebagai temporary citizen, saya jelas hampir setiap hari mengakses yang namanya bus, kereta, subway dan berbagai macam transportasi publik lainnya. Paling sering sih bis, dan ini bisnya Masya Allah bis terkece yang pernah tak naikin (atau akunya yang terlampau ndeso, aku gatau juga). Mulai dari terminal/ bus stop nya (yang selalu ada wifi gratis, wuhuuuu), armadanya sendiri, sopir bisnya (yang keren abis karena pake seragam dan berjas, pake topi kaya polisi, pake masker dan sarung tangan, udah kaya penganten lah dandannya) sampe cara dan sistem pembayarannya yang udah canggih masya Allah *ngelus dada* *dadanya Adam Levine*. Daan yang paling mengesankan tentu saja di bagian servicenya. Bis kota sangat mudah diakses, jumlahnya banyak, informasinya dimana-mana (apalagi untuk turis) dan yang paling pokok dan bener-bener mengesankan adalah : (sekali lagi) tepat waktunya. Masya Allah, bahkan sampai ke menit-menitnya, bis ini ga pernah molor atau kecepetan barang 5 menit aja. Jadi, di informasi dan di halte bisnya udah terpampang jalur berapa, datengnya jam berapa (dan menit nya juga), jadi kalau telat 5 menit aja dari waktu bis dateng, bisa dipastikan kita ketinggalan bis dan harus nunggu bis selanjutnya (FYI, di Kyoto bis ga ada jalur khusus kaya transJakarta, makanya saya kagum sekali mereka bisa sangat tepat waktu, perkiraan saya, pada rushing hours pun mereka udah itung kemungkinan molor gegara macetnya). Pokoknya hari pertama dan kedua pakai bis disana berasa banget cultural shock nya. Keren. Salut. Speechless.

3. Kota nya yang superteratur. 10 hari disana sih cuma bisa ngerasain Kyoto dan Osaka. Tapi insya Allah dua kota itu sudah merepresentasikan Jepang secara utuh. Orang-orangnya yang teratur dan disiplin ditambah dengan transportasi publik yang juga mengesankan merupakan perpaduan yang tepat untuk membungkus dan mengemas kota-kota ini menjadi kota yang amat sangat layak dihuni (liveable and loveable city). Saya termasuk orang yang amat sangat susah (bahkan ga bisa) membaca peta, tetapi kalau melihat peta Kyoto, saya jadi sedikit paham dan gak terlalu hilang arah. Jarang banget ada jalan-jalan kucing/ shortcut yang mbelok-mbelok gak jelas kaya di Jogja gitu. Semua jalan ada di peta, dan hampir semuanya sangat mudah dipahami. Pokoknya untuk awam seperti saya, membaca peta Kyoto tak serumit menebak isi hati kamu… eaaa *gubrak

4. Pariwisata yang dikemas sedemikan menarik. Satu lagi yang menarik di Kyoto yakni pariwisatanya. Kyoto sering disandingkan sebagai sister city nya Jogja. 11 12 gitu lah karena merupakan kota budaya, pusat pariwisata dan banyak pelajar tinggal disana. Kalau di Jogja kita punya candi Prambanan, Borobodur (secara administratif sih emang bukan milik Jogja ya), Malioboro dan Kraton Yogyakarta, di Kyoto mereka juga punya tempat wisata andalan seperti Kinkakuji Temple, Yasaka Shrine, Kiyomizu Dera temple dan lainnya. Yang menarik adalah, ketika saya pribadi mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut, ternyata… obyek wisata nya tidak semengesankan yang saya bayangkan sebelumnya. Kinkakuji Temple atau yang yang terkenal dengan the Golden Temple misalnya, pikir saya adalah seperti sebuah masterpiece yang aduhai banget, tapi ternyata setelah sampai disana ya kesan saya.. oh oke, bagus, cantik.. tapi habis itu ya.. udah biasa aja. Berbeda dengan Borobudur atau Prambanan yang aduhai emang bagus banget dari lahir (lah). Temple nya pun karena di Kyoto lebih banyak Shinto Temple, jadi bentuk dan warnanya ya gitu-gitu aja.. Tapi yang saya kagumi dari pariwisata disini adalah.. bahwa pemerintah (bareng dengan private sector, mungkin) mengemas pariwisata di Kyoto dengan luar biasa. Promosi yang dilakukan, service yang diberikan, hingga berbagai kemudahan dan fasilitas yang diberikan untuk para turis membuat obyek wisata yang “sebenernya biasa-biasa aja (dimata saya)” ini menjadi sebuah destinasi wisata yang luar biasa bagus dan berkesan di hati para visitors. Salut luar biasa.

5. Budaya jalan kaki.Β 22 tahun saya hidup di Yogyakarta dengan segala fasilitas yang diberikan orang tua, mix dengan kesemrawutan kota Jogja, membuat saya sangat jarang jalan kaki jauh-jauh (apalagi pakai transportasi umum, karena emang transporastasi publik di Jogja jelek banget). 3 minggu saya hidup di Thailand ditambah 10 hari di Jepang menjadi titik balik itu semua. Kemana-mana kudu jalan dan naik bis. Biasanya orang jalan kaki/ pub transport user itu adalah orang yang tidak punya kendaraan pribadi, di Jepang itu semua SALAH TOTAL. Semua orang, mau dia kaya, miskin, mau dia bos, karyawan, pelajar atau dosen, berjas dan dasi atau gembel. SEMUA JALAN KAKI. Salut luar biasa. Mereka produsen utama kendaraan bermotor (Honda, Suzuki, Yamaha, dll) tapi warganya memilih jalan kaki kemana-mana dan pakai kendaraan umum. Di Jogja atau Jakarta, gak akan mungkin menemui mbak-mbak seksi dengan heels 15 cm mau berjalan kaki jauh atau naik bis umum, atau bos-bos berdasi setara dengan Harry Tanoesoedibjo yang mau naik subway. Mereka semua punya dan memakai kendaraan pribadi, for sure. Tapi di Jepang, gak ada cerita seperti itu. Orang berdandan bos, artis, pelajar, gembel, profesor, semuanya adalah pejalan kaki, bertebaran dimane-mane. MEREKA SEMUA ADALAH PEJALAN KAKI *duh emosional banget tetiba capslock On sendiri*. Mereka adalah pejalan kaki, pengguna transportasi umum, mereka berjalan bersama, beriringan dengan orang dari berbagai kelas sosial yang berbeda. Dan mereka tidak pernah merasa ada yang salah dengan itu semua. Pejalan kaki di Jepang adalah raja. Di setiap pengkolan (apa sih bahasa Indonesianya), perempatan, pertigaan, mau persimpangan yang rame ataupun yang sepi, selalu ada rambu-rambu untuk mengutamakan pejalan kaki. Jadi bisa dibilang, kalau pakai kendaraan pribadi di Jepang, akan banyak setresnya, karena setiap pengkolan mereka mesti ngalah sama pejalan kaki mehehehe *beda dengan pejalan kaki di Jogja yang selalu setres karena malah diklakson2 sama bis sama motor –* Itu kali ya salah satu faktor yang bikin orang-orang lebih milih untuk pakai kendaraan umum dan jalan kaki aja, selain juga karena harga BBM di Jepang muahalnya rek.

Daaan.. masih buanyak lagi sebenernya. Tapi ini udah pukul 18.06 waktu Thailand Raya haha, jadi kayanya disambung lagi deh ya besoknya (insya Allah besok nulis lagi, amin ya Alloh) haha. Oke oke, selamat mencari inspirasi lagi untuk presentasi minggu depan. Swadeekhaa πŸ™‚

P1050727
Kagum. Selain karena tasnya yang couple, mereka juga pejalan kaki. Semuanya Jalan πŸ™‚
P1050683
Nama temple nya lupa, yang jelas ini di Fushimi-Inari, lokasi yang sama di tempat shooting filem Memoir of Geisha
Bus Stop di Kyoto Station
Bus stop di Kyoto Station. Bahkan mau naik bis pun, user kudu antri πŸ™‚
Salah satu sudut kota Osaka
Salah satu sudut kota Osaka
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s