Unpredictable Trip to Japan –” (3)

Hai hai, salam dari kursi pojok ASEAN Corner, Pridi Banomyong Library. Niatnya disini mau gugling tugas, tapi apa daya masih pengen nyampah-nyampah geje nih. Terusin dulu deh ya sharing pengalaman waktu di Jepangnya. Muehehe.

6. Too much buttons. Watch out! Ini salah satu faktor yang memudahkan mengidentifikasi mana orang dari negara berkembang dan mana orang dari negara maju. haha. Semuanya serba otomatis dan serba tombol. Bikin setres -___- Mba Aya adalah salah satu saksi cultural jetlag ini. Begitu mendarat di bandara dan mau ke kamar kecil, bukannya menuntaskan yang harus dituntaskan, malah sempet ambil kamera untuk motoin tombol-tombol di sekitar kloset. Di kamar mandi aja, bahkan ada tombol khusus kalau mau nyalain musik instrumen. Di penginapan kami (yang bisa dibilang sederhana) aja, semua peralatannya mesinisme (halah). Alias otomatis. Alias bertombol. Mba Aya (lagi-lagi jadi saksi cultural jetlag ini), di dapur kami yang sederhana di penginapan kami, bahkan mau nyalain rice cooker dan water heater aja ga bisa saking buanyaknya tombolnya. Muahahaha. Semua serba mesin dan otomatis. Vending machine dimana-mana. Dari mulai ngejual minuman, rokok, eskrim sampe ngejual mainan, berceceran dan buanyak sekali ditemui dimanapun di Kyoto. Dan yang paling bikin kagum tentu saja : mesin-mesin itu maintenance nya bagus, ga ada yang bobrok, produk yang sold out langsung diganti, ga ada coret-coretan di mesin apalagi sekrup yang ilang karena dicolong orang. Ga ada. Para pengusaha di negara maju seperti Jepang bisa dipahami akan lebih memilih untuk bikin usaha macam gitu, pake mesin. Semua bermesin. Karena lebih efisien. Maklum,upah kerja di sektor jasa (meskipun sektor jasa informal) sangat mahal. Tidak ada unskilled labor yang bisa dibayar murah cuma buat nungguin warung kecil atau supermarket. Mereka mematok upah yang tinggi untuk itu. Dan kebanyakan memang orang-orang yang kerja di bidang seperti itu adalah part timer dari kalangan mahasiswa yang cari tambahan uang saku. Sangat mudah sekali cari part time di Jepang, lowongan kerja paruh waktu bertebaran dimana-mana, dan gaji mereka pun ga main-main. Guedee. Seorang teman mahasiswa Univ Kyoto yang kerja sebagai part timer di supermarket dan perpus bilang ke saya, kalau cari kerja paruh waktu di Kyoto amat sangat mudah sekali. Tinggal milih mau kerja sebagai apa. Mau di toko, di kampus, di tempat pariwisata. Mau kerja cuma ngandelin otot, otak, atau otot dan otak, semuanya ada. Dan gajinya pun ga main-main. Dia bilang perjam nya dibayar 800 Yen (atau sekitar 90 ribu rupiah) atau kalau pas di supermarket dan kebagian full time, dibayar 8000 yen (atau sekitar 900 ribu rupiah (untuk kira-kira 7/8 jam kerja). Jumlah yang lumayan kan, pun untuk hidup di Jepang. Continue reading “Unpredictable Trip to Japan –” (3)”

Advertisements