Pejuang Skripsi (2)

Setelah episode 1 yang sarat dengan curhatan emosional dan ungkapan kepedihan selama skripsi, di episode ini saya coba sharing sedikit deh pengalaman saya lagi tentang pengalaman mengerikan 1.5 tahun kemarin. Jadi gaes, menurut saya pribadi sih ya, ada dua sudut pandang melihat skripsi buat para mahasiswa nih: satu, melihat skripsi sebagai sebuah masterpiece. Buah dari konstruksi pikiran selama bersemester-semester di jaman kuliah, sebuah mahakarya yang harus dipoles dengan cantik tanpa cacat. Dan dua, tipe mahasiswa yang melihat skripsi hanyalah sebagai persyaratan administratif untuk bisa lulus dan menjalani kehidupan pada tahapan selanjutnya dengan mulus. Menurut saya pribadi sih, tidak ada yang salah dengan dua pemaknaan diatas. Mungkin hal ini tergantung dengan visi yang bakal dijalani pasca kehidupan postkampus. Pandangan pertama, yang melihat skripsi sebagai sebuah masterpiece, bisa jadi memang passionnya si tipe ini adalah di ranah akademisi, mau jadi dosen, peneliti, atau bercita-cita untuk kuliah lagi. Jadi kaum tipe ini cenderung sangat memperhatikan kualitas skripsinya, mencari topik yang unik dan kekinian, sebisa mungkin menghindari kesalahan, dan syukur-syukur nantinya hasil tulisan bisa diprospek untuk diterbitkan. Sedangkan tipe yang kedua, orang yang memaknai skripsi hanya sebagai sebuah batu yang harus dipecahkan (atau dilompati) supaya bisa kembali berjalan dan meneruskan hidup, tidak bisa dikatakan salah juga. Mungkin visi tipe ini di masa depan tidak ada kaitannya dengan dunia penulisan, akademis dan ngajar mengajar. Bisa jadi mau jadi praktisi, pengusaha, penulis cerpen, atau ibu rumah tangga. Terserah. Yang jelas, sekali lagi. Sebaik-baiknya skripsi, adalah yang selesai. Jadi terserah mau memaknai skripsi seperti apa, yang paling penting adalah skrpsi itu harus selesai, Ki Sanak.

Continue reading “Pejuang Skripsi (2)”

Pejuang Skripsi (1)

images

Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan dan adek-adek yang akan, sedang dan dalam proses berdarah-darah menyelesaikan tugas akhir/ skripsinya. Ini tulisan subyektif, berdasarkan kisah nyata penulisnya. Jadi jangan ada yang nge-sitasi apalagi dijadiin referensi ya. Hahaha songong.

Jika ditanyakan, apa hal yang paling mengganggu dan menyebalkan selama kuliah, saya –tanpa keraguan sedikitpun- langsung akan menimpali “Skripsi adalah sebuah penderitaan, dan amit-amit gak akan mau mengulanginya lagi. Dia adalah kesalahan terbesar selama kehidupan kuliah. Dia dementor, penyerap kebahagiaan”. Begitu. Itu ungkapan terjujur saya tentang skripsi. Tapi biar begitu, ibarat peperangan, kita adalah lakon dan skripsi adalah lawannya. Apapun yang terjadi, kita harus menang. Dan begitu tiba –kemenangan itu- rasanya seakan dihujani kebahagiaan bertubi-tubi. Ya, memang sepantasnya sesuatu yang menyulitkan, yang membutuhkan perjuangan besar nantinya hanya akan bisa terbayar dengan kebahagiaan yang besar pula.

Bagi teman-teman yang merasa stuck atas skripsi nya, susah dapet datanya, berkali-kali ditolak dosennya, dijudesin, sampai gak berani ketemu, hal itu menurut saya wajar saja. Bagian dari perjuangan. Saya pikir setiap orang mengalami demikian, dinamikanya sendiri. Begitupun saya *sigh*. Saya mengerjakan skripsi kurang lebih satu setengah tahun, dalam rentang waktu tersebut, hidup seolah diliputi kecemasan, waktu berasa cepet banget, apalagi ketika tahu teman lain sudah banyak progres dan bahkan sudah banyak yang lulus dan diwisuda. Duh sakit kak. Continue reading “Pejuang Skripsi (1)”