Pejuang Skripsi (1)

images

Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan dan adek-adek yang akan, sedang dan dalam proses berdarah-darah menyelesaikan tugas akhir/ skripsinya. Ini tulisan subyektif, berdasarkan kisah nyata penulisnya. Jadi jangan ada yang nge-sitasi apalagi dijadiin referensi ya. Hahaha songong.

Jika ditanyakan, apa hal yang paling mengganggu dan menyebalkan selama kuliah, saya –tanpa keraguan sedikitpun- langsung akan menimpali “Skripsi adalah sebuah penderitaan, dan amit-amit gak akan mau mengulanginya lagi. Dia adalah kesalahan terbesar selama kehidupan kuliah. Dia dementor, penyerap kebahagiaan”. Begitu. Itu ungkapan terjujur saya tentang skripsi. Tapi biar begitu, ibarat peperangan, kita adalah lakon dan skripsi adalah lawannya. Apapun yang terjadi, kita harus menang. Dan begitu tiba –kemenangan itu- rasanya seakan dihujani kebahagiaan bertubi-tubi. Ya, memang sepantasnya sesuatu yang menyulitkan, yang membutuhkan perjuangan besar nantinya hanya akan bisa terbayar dengan kebahagiaan yang besar pula.

Bagi teman-teman yang merasa stuck atas skripsi nya, susah dapet datanya, berkali-kali ditolak dosennya, dijudesin, sampai gak berani ketemu, hal itu menurut saya wajar saja. Bagian dari perjuangan. Saya pikir setiap orang mengalami demikian, dinamikanya sendiri. Begitupun saya *sigh*. Saya mengerjakan skripsi kurang lebih satu setengah tahun, dalam rentang waktu tersebut, hidup seolah diliputi kecemasan, waktu berasa cepet banget, apalagi ketika tahu teman lain sudah banyak progres dan bahkan sudah banyak yang lulus dan diwisuda. Duh sakit kak.

Ketika skripsi, seolah kitalah yang masalahnya paling berat. Ketika ngeliat teman lain yang kayanya kemampuannya rata-rata tapi skripsinya lancar jaya, tanpa kesusahan, banyak dimudahkan dan blablabla, rasa sakit dan cemburu pun kadang hadir. Padahal, sebenarnya yang kita lihat itu hanya secuil hasil dari perjuangan berdarah-darah dan kurasan berember-ember air mata si teman. Gini nih, ini juga yang bikin saya sebel sama skripsi. Nambah dosa: suudzon dan dengki. Astaghfirullah ukhti…

Oke, ijinkanlah ukhti yang hina ini bercerita sedikit tentang perjuangan garap skripsi sampe meler-meler jaman dulu.

Pada saat saya garap skripsi jaman dulu, kebetulan saya dapat DPS yang saya sendiri kurang sreg dengan beliau. Bukan apa-apa sih, namun memang semenjak semester 2, sudah merasa memiliki masalah dan merasa tidak cocok dengan beliau, sehingga setelah semester 2 itulah saya memutuskan untuk tidak mengambil mata kuliah beliau. Bukan salah beliau jelas. Ini hanya masalah kemistri belaka. Eh ndilalah, sewaktu mata kuliah wajib terakhir, yaitu Metode Penelitian untuk Administrasi Negara (MPAN) yang menjadi cikal bakal dari proposal skripsi, nilai saya masuk klaster A. Dan, sesuai aturan, mahasiswa yang nilai MPAN nya masuk klaster A akan langsung dapat dosen pembimbing. Waktu itu saya kurang begitu peduli dengan proposal, DPS dan segala tetek bengeknya, karena pada saat yang sama waktu itu kami anak-anak semester 7 sedang asik-asiknya KKN. Saya sendiri ngambil KKN di Sinjai Barat, Sulawesi Selatan. Waktu itu sama sekali belum kepikiran untuk ngurus skripsi.. sampai akhirnya seorang kakak angkatan nelpon  dan ngasih tau kalau : Ainun, DPS mu Mr. X dan jeder.. *saya pribadi lupa gimana ekspresi saya waktu itu*

Beberapa teman waktu itu menyarankan agar saya ganti tema supaya bisa mengajukan DPS lain. Waktu itu, prosedur ganti dosen belum semudah sekarang, ada rasa gak enak yang teramat dengan Bapak dan Ibu dosen yang sudah bersusah payah memfasilitasi kami untuk segera menyelesaikan skripsi. Maka saya waktu itu bertekad untuk terus maju meskipun merasa tidak (atau belum) cocok dengan dospem saya dan merasa akan mengalami masa yang berat dalam penyelesaian skripsi. Seorang dosen muda pernah mengaku secara langsung kepada saya “saya sengaja taruh kamu sama Bapak X karena saya tahu kamu mampu mengimbangi beliau”. Kesel emang waktu itu, ah elaah mas kalau becandain saya ya jangan gini-gini amat dong. Tapi pada akhirnya, saya ngerasa sangat berterimakasih sama si mas dosen dan juga pada dospem saya tentunya, karena saya jadi benar-benar tahu artinya berjuang. Akhirnya, merasakan juga yang namanya ‘kesusahan dalam kehidupan perkuliahan’ (selama S1 ngerasanya lancar-lancar aja kuliahnya).

Banyak orang yang jadi saksi betapa –agak- menderitanya saya waktu itu. Berat badan turun drastis, muka udah gak enak banget diliatnya (bawaannya kesel mulu), dan parnoan tiap kali mau ngadep dospem. Hubungan kami –mahasiswa dan dospem, dari perspektif saya sendiri, mungkin beda kalau ditanya ke Bapak Dosen- memang kurang harmonis, jika dibandingkan hubungan saya dengan dosen-dosen lain atau mahasiswa lain dengan dospem nya. Dalam proses penyelesaian proposal, saya membutuhkan waktu yang naudzubillah lamanya. 3 kali ganti topik. Saya 1 tahun sendiri ngurusin proposal gak kelar-kelar. Dan, percaya atau tidak, saya pernah sampai nangis gara-gara ini. Seinget saya dua kali nangisin proposal. Yang paling dramatis ketika habis shalat isya sendirian dirumah habis dari ngampus seharian, tau-tau nangis aja kepikiran proposal yang belum kelar. Bapak –yang adalah orang yang saat itu gemar sekali nyindir-nyindir “Bapak pengen ke wisudaanmu e, kapan slese skrispinya”- langsung nyamperin karena dengar suara mencurigakan dari kamar, dan kebingungan sendiri. Ketika saya akhirnya cerita bagaimana susahnya saya dengan proposal, saat itu juga –sampai saat ini- beliau gak pernah lagi menanyakan “kapan kamu lulusnya”. Muahaha. Kadang orang tua perlu juga dikerjain gitu. Haha. Bapak waktu itu langsung panik setengah mati karena belum pernah ngeliat saya sedepresi itu untuk urusan kuliah, dan bahkan nanya-nanya dimana rumah dosenmu segala macem. Sok preman banget emang. Tapi memang itulah, tekanan dimana-mana ngebuat kami jadi tambah setres. Maka dari itu, wahai orang tua dimanapun berada, kalau buah hati anda sedang garap skripsi, plis plis ngertiin mereka. Jangan nanya macem-macem. Biarin aja, tawarin aja mau cerita apa enggak. Jangan disindir-sindir hahaha *sok tua* *macak korban*. Daan… setelah perjuangan panjang, dorongan dari banyak orang, dengan revisi yang entah keberapa, akhirnya proposal disetujui dan diseminarkan. Kalau untuk kasus saya, saya kesusahan hanya pada proposal saja, sedangkan untuk penulisan skripsi sendiri (karena udah bolak balik lapangan dan banyak diskusi sana sini ketika proses revisi proposal) Alhamdulillah banget lancar. Kalau tidak salah bulan agustus 2013 saya seminar proposal (disaat banyak teman yang lain udah pada wisuda. Hiks) dan 2 Januari 2014 saya sudah ujian skripsi. Jadi memang benar gemblengan dospem saya. Fondasinya dikuatin dulu (proposal) baru habis itu bangunan mau dibikin kaya apa jadi gampang.

Yang jelas, dalam rentang waktu satu setengah tahun itulah, saya benar-benar diajari dan digembleng habis-habisan untuk berjuang. Musuh terbesar saat skripsi pada dasarnya adalah diri sendiri. Bukan dosen, bukan sumber data, bukan orang lain. Melawan ketakutan dan kemalasan dalam diri sendirilah yang membuat pertarungan itu terasa sangat sulit untuk dimenangkan. Ada orang yang pintar, cerdas dan IPK nya tinggi namun tidak selesai kuliahnya hanya karena skripsinya. Di sisi lain, mahasiswa yang biasa-biasa saja, tidak punya banyak prestasi dan cenderung sibuk sendiri dengan kegiatannya sangat mungkin meraih predikat “lulusan tercepat” atau “lulusan termuda”. Ini masalah mental bro. Orang dengan mental yang kuat, tahan banting, tidak mudah menyerah –mausetidakbrilianapapundia- akan berakhir dengan kemenangan, dan begitu pula sebaliknya.

Pada saat akhirnya skripsi saya disetujui untuk disidangkan, saya malah merasa kurang PD. Padahal waktu bimbingan, jelas-jelas saya yang ngotot untuk segera disidangkan. Saya gak berani bercerita tentang kejadian ACC yang –sepertinya Bapaknya tertekan waktu ngasih ACC- menurut saya begitu cepat ini ke temen-temen. Saya cuma cerita ke Kanti dan Fidha, dua temen dekat saya. Tapi, namanya juga mahasiswa bandel yang kontroversial, berita ini adalah berita besar (terutama buat para biang gossip dan toa mesjid). Akhirnya, dosen penguji saya sendiri yang kemudian nyebarin berita ini ke khalayak ramai zzz. H-1 mau siding, tepatnya 1 Januari 2014, saya sengaja mematikan mobile data di HP karena saya tahu banyak yang bakal nge bully, dan bener aja. Huft.

Ketika akhirnya saya berhasil melalui sidang skripsi dengan lancar dan tanpa cedera yang berarti, saya keluar ruangan dan menemukan banyak banget yang nungguin -_______- mereka adalah orang-orang yang setengah gak percaya kalau saya akhirnya bisa sidang dan lulus juga. Tengs loh gaes zzz. Dan setelah dipikir-pikir, pada akhirnya, its not that difficult, dude. Proses nya aja yang menyakitkan, itu juga karena dosen ingin menguji sampai sejauh mana kita sebagai mahasiswa memahami teori, konsep, bisa berpikir sistematis gak, bisa membuat rekomendasi yang konstruktif gak. Dan ketika akhirnya dieksekusi, kita cuma tinggal me re-call apa yang telah kita pelajari sebelumnya. Manis sekali bukan? *senyum malaikat*

Nah itu sepenggal kisah cerita 1.5 tahun paling menyakitkan sekaligus paling tangguh selama masa kuliah S1 yang hanya bisa dirangkum dalam 1500 kata. Untuk kawan-kawan (terutama teman seperjuangan saya di UGM) yang sampai saat ini masih sibuk berjuang dengan skripsinya, saya dengan setulus hati, senantiasa mendoakan supaya segala sesuatunya dilancarkan. Buatlah skripsi yang baik. Iya, baik. Karena sebaik-baiknya skripsi, adalah yang selesai (Anies Baswedan, 2012). Salam pejuang skripsi !

Advertisements

2 thoughts on “Pejuang Skripsi (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s