Tulisan ini terlalu tak bermutu untuk diberi judul (1)

Selamat pagi salam dari rumah kedua di Bangkok : Pridi Banomyong Library. Tiap hari nongkrong disini, bentar lagi jadi permanent resident dan kayanya butuh bawa odol, sikat sama bantal biar bisa bener-bener netep disini. Oke deh, berbulan-bulan setelah declare kalo “bakal sering-sering nulis di blog” ah pret banget. Blog aja tapi ini yang di PHP. Kamu enggak kok bang… tapi emang bingung juga sih mau nulis apaan. Kalau nulis yang berat-berat sayang juga otaknya nih, mending buat nulis paper atau tesis, kalau mau nulis yang galau-galau, udh keseringan di path, kalau mau nulis kisah cinta kita, gapenting bang, yang penting besok nulisnya di buku nikah aja. Oke ini gue nulis apaan –“

Pada akhirnya aku memutusan untuk nulis…………. curhat aja *gubrak*. Kepada para pemirsa yang sekiranya eneg dan hendak muntah, dipersilakan meninggalkan ruangan *njuk bubar kabeh*.

Jadi gini, udah setahun lebih coy di perantauan. Etapi jangan salah, udah sering balik juga ini *kibas duit* *kemudian dikejar-kejar sama debt collector*. Dan diantara setahun lebih petualangan di negeri orang ini, baru bulan-bulan ini aku ngerasa.. ngerasa gimana ya, takut dan agak gak nyaman. Bukan gegara harga beras yang naik, atau nilai tukar rupiah yang melorot terus, atau gegara gebetan gue ternyata gay, bukan juga gegara faktor tukang sayur cantik yang ternyata cowok. Bukan semua. Semuanya masih sama: perasaan pada tempat ini, perlakuan mereka, ritme hidup disini. Semuanya masih sama. Yang membuat berbeda adalah, karena ini udah tahun kedua dan semester ketiga, which means 1 more semester left. Ini hidup atau kereta shinkanzen, cepet bingit sumpah. Dan tentu saja, bukan fakta bahwa aku bakal segera pulang kampung yang bikin kalut. Ya enggaklah kalau itu. Pemirsa yang tahu sejarah masa silam semester akhir Ainun pasti bakal tau, apa yang bikin kalut. YAK TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN ADALAH THESIS. Hm, entah kekuatan dari mana yang meng-On kan capslcock ini.

Aku pernah mengalami “dark ages” ini beberapa tahun silam dan sampai bersumpah serapah gak bakal mau mengulangi masa-masa kegelapan itu. Ternyata takdir Tuhan berkata lain. Emang bener sih, manusia ga boleh benci-benci amat pada sesuatu, ntar Tuhan sendiri yang turun tangan untuk mendamaikan urusan mereka berdua *ini kaya kebencianku dengan skripsi yang belum berakhir, yang pada akhirnya Tuhan menuntun jalanku untuk bikin skripsi jilid 2, mungkin dengan harapan biar akhirnya aku bisa berdamai dengan dia: kesulitan, perang melawan kemalasan dan perjuangan berdarah penuh air mata untuk sesuatu yang worth to gain* hiks. Tuhan Maha Baik. Hahaha ini ngomongin skripsi serius amat ya, kaya ngomongin strategi menangin perang dunia.

Daaan disinilah aku sekarang. Sedang berusaha mencari jalan damai di tengah perjuangan memenangkan perang babat ini. Hmm, segala pergulatanku dengan skripsi kok pada akhirnya kaya membuat aku sampai pada titik kebingungan yang lain ya: dari dulu aku ga punya cita-cita untuk bekerja selain di dunia akademis, tapi di lingkungan inipun aku masih sering terseok-seok. Bikin significance of research aja berbulan-bulan, gimana bisa catch up dengan orang-orang lain kalau gini? Oke, ini kegalauan yang tingkatannya mesti dipikirin dan dimuhasabahi sendiri aja

Anyway, ini tulisan makin gak sistematis, keliatan banget kayanya kalo yang nulis lagi setres. Hahaha. Ah ini baru juga nulis tesis, belum nulis pertanggung jawaban di depan Tuhan besok. Keep calm and stay strong dongs. Perjuangan gini, kalau dibandingin sama gimana orang tua banting tulang nyari duit, cucuran air mata yang dipanjatkan di setiap sujud di sepertiga malam, harapan demi harapan yang dilambungkan di setiap doa, ah apalah masalahku ini, cuma seonggok karat digrendelan rantai tua motor tossa second. Gak ada apa-apanya. Belum lagi berbagai kemudahan demi kemudahan, limpahan anugerah dan rejeki Tuhan yang kayanya gabakalan ada ujungnya. Deresss, dan Tuhan kayanya gak pernah mengecilkan aliran nikmat itu. Beluuummm lagi orang-orang kece di sekitarku yang superduper baik dan selalu support. Mulai dari rekan-rekan kantor, dosen-dosen S1, temen SD sampe temen kuliah dulu yang selalu keep contact, supervisor dan temen-temen disini, mas-masan yang selalu jadi bemper kalo lagi bete, dari mereka semualah energi dan semangat terus terpupuk *salim dan kecup satu-satu buat semuanya* Nikmat Tuhanmu yang manakah yang (lagi-lagi) kau dustakan?

Ini sebenernya tulisan cuma buat ngingetin diriku sendiri aja sih, bahwa nikmat Tuhan tu terlalu -gilelu kalo masih mau dikufurin- ruar biyasah. Semoga bisa bikin semangat lagi, ya Ainun.

——————-

*ada yang kadang nyinyirin, dih umur udah seperempat abad, orang-orang lain udh pada kerja, banyak duit, punya suami dan anak, ada bahkan yang anaknya udah pada masuk playgroup, nah ente masih berkutat sama tesis, ga punya pacar, duit pas-pasan, telat banget kayanya mulai hidupnya. Hahahah ngakak doang gue kalo ada yang bilang gitu. Hei, setiap orang punya caranya menikmati hidup sendiri-sendiri. Bagi aku sih, bukannya apa-apa ya, tapi ini bagian dari kenikmatan hidup sekaligus perjuangan menata masa depan yang ada kualitasnya. Sorry to say, buat yang punya pikiran sepicik itu, jadi perempuan gak cuma segampang masak di dapur atau ngangkang-ngangkang doang di ranjang. Tanggung jawabnya gede sebagai pembangun generasi, kalaupun end up nya besok aku cuma jadi ibu rumah tangga, ga bakalan aku sesalin. Mau jadi berlian atau intan emang harus digosok-gosok dulu, panjang prosesnya men. Hhaha maap maap kok jadi gue yang nyinyir. Suka kadang emosik sendiri kalau ada yang bilang bahwa pendidikan tinggi itu ga penting buat cewe. Rupamu loh mas*

Advertisements

3 thoughts on “Tulisan ini terlalu tak bermutu untuk diberi judul (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s