Chiangmai-Chiangrai Trip 20-24 Des 2015

Udah setahun lebih tinggal di Bangkok, baru punya kesempatan untuk ngebolang menjajah provinsi lain. Kebangetan. Gara-garanya adalah, biasanya kalau ada liburan semester milih untuk dipake balik ke Indonesia.Baru libur winter break Desember lalu (gaya bener namanya winter break), memutuskan untuk ga pulang kampung dan memilih menjelajah daerah lain tanah Thai ini.

Dan, jadilah kami mahasiswa kere anak-anak angkat sungai chaopraya memutuskan untuk trip ke Chiangmai-Chiangrai. This is a toughest trip ever! Kenapa? Karena kita yang notabene cuman punya sangu pas pasan ini berusaha liburan asik dengan bajet sengirit mungkin. Daaaaan ini hasilnya: *tunjukin memar-memar di sekujur badan*

Okedeh, ini pengalaman kami (ainun-aini-arya-tiar), semoga tidak dijadikan referensi bagi kawan-kawan yang mau ngetrip ke Chiangmai-Chiangrai dari Bangkok (atau kota lain).

——

Sebagaimana layaknya orang yang mau ngetrip, kewajiban pertama dan utama adalah: meriset destinasi tujuan kita, lengkap beserta akomodasi di tempat strategis (dengan harga terjangkau pastinya), fee admission ke obyek wisata, jarak dari tempat penginapan ke obyek wisata, hingga transportasi lokal disana. Oiya, dan pastikan juga kalau anda mau ngetrip bareng temen-temen, seenggaknya salah satu dari kalian ada yang bisa baca peta dan google maps! Hahaha. *Terimakasih Tuhan, Engkau kirimkan Aini ditengah-tengah manusia yang buta arah ini.* daan ini dia beberapa yang harus dipersiapkan dan syukur-syukur bisa jadi referensi buat yang mau piknik ke Chiangmai-Chiangrai

  1. Akomodasi. Dibandingkan di Bangkok, hostel-hostel/ guest house di Chiangmai (karena kita memutuskan untuk tinggal di Chiangmai, bukan Chiangrai) harganya jauh lebih murah. Fasilitasnya pun oke punya. Sangat disarankan untuk riset dulu lewat internet dan syukur-syukur booking dulu. Banyak kok hostel yang bisa di booking tanpa harus ngasih deposit (cek di booking.com missal). Atau kalau mau lebih ngirit lagi, coba cek di airbnb.com, siapa tau malah dapet tumpangan gratis. Waktu itu kami dapat hostel yang super murah dengan fasilitas yang oke. Namanya Sarah Guest House. Letaknya super strategis di deket ThaPhae Gate Chiangmai. Berjarak sekitar 30 menit (naik angkot) dari stasiun kereta api. Harganya satu room (bisa untuk 2 orang) adalah 300 Baht (sekitar 120 ribu rupiah), jadi bisa dibagi 2 alias 60 ribu semalem. Fasilitasnya: 2 beds, kamar mandi dalam, fan, colokan (Cuma ada 1 colokannya), lemari, dan hanger. Kamarnya luas dan bersih. Di Bangkok dengan harga segitu, paling cuma dibolehin ngemper di lobi hostel.
  2. Transportasi dari Bangkok ke Chiangmai. Nah ini bagian yang paling seru. Atas logika superefisien yang kita berempat punyai, kita udah sepakat bahwa kita akan berangkat dan pulang dengan kereta. Walapun saya sudah tinggal di Bangkok selama 1 taun lebih, seumur-umur belum pernah keluar provinsi dengan menggunakan kereta. Kata orang, moda transportasi kereta di Thailand ga direkomendasikan untuk para turis karena kurang nyaman (kecuali yang slipper train loh ya). Dan alasan pada akhirnya kita memutuskan untuk pake kereta adalah –apalagi kalau bukan alasan- harganya yang super murih (untuk kereta ekonomi kelas 3. Iya kelas 3!). Tiket kereta ekonomi kelas 3 (((diulang lagi kelas 3 nya))) di Bangkok ternyata bisa dipesen jauh-jauh hari. Dan karena saking hektiknya kami sama urusan lain, kami memutuskan untuk beli dadakan aja di stasiun. Mikirnya, gamungkin keabisan tiket, mana ada yang mau naik kereta ekonomi kelas 3, buat jarak jauh lagi. Ehh ndilalah, pas hari H sampai stasiun, tiketnya abis dong yaaaaa.. yang kesisa cuma tinggal non-seat ticket alias tiket berdiri! Gile, banyak juga yang mau wisata gembel kaya kita, pikir saya waktu itu. Dan pada akhirnya, dengan penuh pertimbangan, akirnya kita memutuskan untuk, oke ambil ajalah tiketnya, hal terburuk apasih yang bakal terjadi dengan naik kereta ekonomi, berdiri… dan 14 jam perjalanan? Paling pingsan dijalan. Ya gitulah. Dan dengan mental superhero, kita beli itu tiket laknat dan memulai perjalanan 14 jam yang paling menyakitkan ke Chiangmai. Oiya, harga tiketnya adalah… *suara drum* 207 Baht alias 80 an ribu rupiah. See? Itulah kenapa kita ngotot banget naik kereta. Harganya murah bingit, dibandingin naik bis (paling murah 450an Baht) dan naik pesawat (kalau dpt promo paling murah 700an baht). Daan berangkatlah kita dari stasiun kereta Hua Lampong, Bangkok menuju Chiangmai. Dengan semangat yang menggebu-gebu, kita memulai perjalanan, dan saat itu (dengan polosnya) kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi selanjutnya…… beli tiket tanpa seat, itu adalah kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah, ketika kamu ga bisa nahan pipis selama dijalan. WC kereta ekonomi agak ga manusiawi. Sedihlah ini kalau diceritain. Tapi pada saat itu kami cukup bersyukur karena kami ga bener-bener berdiri untuk 14 jam selanjutnya. Terima kasih pada disabled persons, monk dan elderly yang ga ikut di gerbong kami. Kenapa? Karena kita duduk di reserved/ priority seats mereka. Kalau ada salah satu diantara golongan itu yang naik gerbong yang sama kaya kita, mampuslah. Karena kita akan bener-bener berdiri 14 jam ke Chiangmai… dengan kereta laknat itu, bergelut dengan pengap dan panasnya udara. Dan… singkat cerita, kami cukup beruntung karena tidak ada salah satupun diantara kita yang keracunan bau kamar mandi (karena seat kita deket banget sama WC) atau pingsan didesek-desek orang. Kami sampai dengan setengah selamat di Stasiun Chiangmai pukul 2 siang (berangkat dari Bangkok pukul 10 malam, jadi intinya kita dijalan selama 16 jam)
  3. Transportasi dari Chiangmai-Bangkok. Hanya keledai dan kawan-kawannya (yang katanya) yang bisa jatuh di lubang yang sama untuk keduakalinya. Karena kita agak sedikit diatas kelasnya keledai, kita pun memutuskan untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kami pada akhirnya memutuskan untuk pake bus sebagai kendaraan untuk kami pulang ke Bangkok. Di sekitar Thapae Road (jalan dimana hostel kita berada, sekaligus salah satu jalan utama di Chiangmai) ada banyak tour agent yang menyediakan transportasi untuk balik ke Bangkok. Kira-kira suasananya kaya di Khaosan Road lah, banyak pilihan agennya. Dan setelah berpindah dari satu tempat ketempat lainnya, kami nemu tour travel dengan harga yang lebih murah dari yang lainnya (nama agennya lupak), yaitu 450 Baht (fasilitas cuma 1 namun berarti: kursi yang nyaman). Dan itulah, kita balik ke Bangkok dengan naik bus dan Cuma 9 jam perjalanan. Nyaman, mulus, bisa tidur pules, dan (beneran) selamat sampai tujuan. Haha.
  4. Transportasi lokal. Seperti yang sudah disinggung sebelumya, Chiang Mai –seperti halnya provinsi provinsi lain di luar Bangkok- tidak memiliki system transportasi yang rapi apalagi terintegrasi yang bisa memudahkan para turis untuk bermobilisasi. Jadi, kalau memang mau travelling ke Chiang Mai (atau Chiang Rai) sepertinya jalan terbaik adalah dengan menyewa song teaw (kalau rombongan) atau rental motor (dengan berbekal google maps bahahaha). Kebetulan kalau kami, karena cuma 3 hari, dan yang 1 hari full dibuat jalan ke Chiangrai, kami ga jalan jauh di Chiangmai. Cuma jalan nyusurin Tha Pae gate, ke wat-wat dan ke musim coin disana. Duduk dan jalan-jalan disekitar Thapae road, suasananya persis kaya di Jogja. Hawanya adem, jalannya ga gede, banyak jajanan pinggir jalan dan banyak motor bersliweran. Jadi, kita ga njajal song teaw nya (kecuali pas perjalanan dari stasiun kereta ke penginapan, ongkosnya perorang 40 baht).
  5. Destinasi Wisata. Ini yang juga ga kalah penting. Sebelum memutuskan untuk berangkat piknik, pastikan dulu kalian riset-riset obyek wisatanya ya. Kenal kan sama yang namanya google? (karena ada sebagian anak muda kita yang gatau mesin pencari ini. Mereka maunya instan tanpa ada usaha searching dulu *malah curhat*) Disana ada semua informasi yang dibutuhkan untuk adventurer amatir macam kita ini. Dan waktu itu, kami memang ga banyak jalan ketempat wisata di Chiangmai. Malahan kita ambil one day trip ke Chiangrai. Harganya sekitar 1000 Baht (lupa persissnya) (atau sekitar 400 ribu rupiah) untuk 4 obyek wisata di Chiangrai (termasuk makan siang). Ada beberapa alasan kenapa kami memutuskan untuk ikut one day trip ke Chiangrai instead of jalan-jalan sendiri di Chiangmai: (a) Karena transportasi lokal di Chiangmai itu jelek. Jalur bisnya gajelas, song teaw (angkot) juga kadang mesti di booking dulu dan jatohnya mahal, gaada BTS apalagi MRT ke destinasi wisata disana; (b) di sekitar lokasi tempat penginapan kita udah banyak hal menarik yang jadi tourism destination: thapae gate, museum coin, wat-wat (temple) yang lupak namanya apaaja, night market, dll; (c) di Chiang Rai banyak obyek wisata yang top tapi aksesnya susah, satu satunya cara ya dengan pakai agen.

Dan, pada akhirnya kita memutuskan cari agen dan booking one day trip ke Chiang Rai.Berikut obyek wisatanya:

  1. Hot Spring Thawesin, Chiangrai. Ini sakjane ga bisa disebut sebagai obyek wisata juga sih, karena cuma kaya rest area yang kebetulan punya potensi ngasilin air panas kaya di Ciater gitu. Hadeuh. Semua mobil dan van pasti berhenti disini karena ini lokasinya strategis banget di pinggir jalan. Sorry to say, tapi ga ada yang istimewa dari tempat ini, kecuali kalau mau diniatin stay untuk mandi disana. Pasti asik.

     

  2. Wat Rong Khun atau White temple. Ini yang lumayan spektakuler dan must-visit place kalau udah di Chiang Rai. Ini temple sebenernya ga ada nilai historiknya sih, karena dibuat khusus untuk destinasi wisata para turis, tapi meski demikian, ada nilai filosofis yang bagus banget dibalik pembangunan wat rongkhun ini. Mulai dibangun 1997, memadukan konsep artistic modern kontemporer dan tradisional sekaligus, white temple menampilkan sesuatu yang ‘beda’ dari temple-temple lainnya di Thailand. Warna putih di temple menyimbolkan kesucian Buddha, dan semiotika berupa penggambaran superhero, iblis, tengkorak, dll yang tersebar di hampir seluruh bagian di temple ini menunjukkan symbol kekacauan, keserakahan manusia dan ketidakteraturan dunia karena menjauhi nilai-nilai budha (kayanya gitu deh kalau ga salah), oleh karena itu, penting kiranya manusia mengikuti jalan Buddha untuk menghindari kemudharatan yang ditimbulkan oleh dunia. Wat ini kontemporer dan unik banget, dan menurutku, yang paling unik adalah lukisan di dalam wat nya (sayang lukisan di dalam temple nya ga boleh dipoto) yang banyak banget gambar-gambar tokoh kartun dan superhero fiktif jaman sekarang, kaya superman, batman, wonder woman, captain America, bahkan doraemon dan nobita. Recommended place for instagram-photo hunter
  3. Baan daam atau the black house. Setelah dari Wat Rong Khun, tujuan trip kami selanjutnya adalah baan daam atau rumah hitam. Dinamai demikian karena memang rumah ini literally hitam (cat rumah dan hampir semua barang-barang di dalamnya) dan aura di dalam rumahnya pun kaya agak ga enak gitu sis. Haha. Rumah ini didirikan dan menjadi tempat penyimpanan karya-karya salah satu seniman besar di Thailand bernama Thawan Duchanee. Tiar, salah satu temen kita yang emang seniman, girang banget sis pas kita ngunjungin tempat ini. Karena emang nilai artistiknya tinggi banget katanya, padahal yang saya liat (dari kacamata seorang awam gembel) ya biasa aja dan cenderung agak-agak mistis. Karya-karyanya mulai dari lukisan, pahatan-pahatan sensual serem, relik-relik binatang, dan lain-lain yang bikin suasana di rumah hitam ini semakin menghitam *apasih*. Uniknya, di beberapa sudut rumah hitam ini, banyak patung-patung rasa Bali gitu sis (maksutnya, khas Bali). Kata Tiar sih (yang asli Bali), Thawan Duchanee sering ke Bali dan sering menjadikan karya-karya Bali itu sebagai inspirasinya. Duh bangga.

  4. Long-neck Karen village. Perjalanan kita terus berlanjut ke utara hingga sampai pada destinasi wisata yang bikin baper, yaitu di desa wisata leher panjang suku Karen. Sebenarnya, Karen adalah salah satu suku minoritas di Myanmar yang kemudian banyak melarikan diri ke perbatasan dan beberapa diantaranya ditampung di Thailand semenjak rezim junta. “leher panjang”, symbol kecantikan yang adalah cirri khasnya itulah yang kemudian membuat mereka bertahan hidup. Mereka ditempatkan di sebuah desa, menenun dan berdagang dan tentu saja melestarikan “leher panjang” untuk anak anak perempuan mereka supaya para turis berdatangan dan memperpanjang tarikan nafas mereka. Baper parah…

  5. The Golden Triangle. Dan destinasi wisata terakhir adalah the golden triangle yang berlokasi di ujung paling utara Thailand. Tempat dimana kita bisa berdiri di tanah Thailand, dan memandang dengan mata telanjang sekaligus ke dua negara: Myanmar dan Laos yang hanya dipisahkan oleh Sungai (Mekong). Di tempat ini pulalah konon basis opium terbesar kedunia (setelah Afghanistan) berada. Di sekitar sana, sebenernya banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi, selain juga desa-desa wisata, market dan museum (yang terkenal adalah museum opium), tapi saat itu waktu kita pendek banget dan kebetulan pas ada momen Princess Sirintorn berkunjung, jadi jalanan dijaga superketat dan macet dimana-mana. Anyway, kita juga sebenarnya bisa travel nyusurin sungai Mekong, cukup bayar (kalau ga salah inget) 300 Baht ke agen kita. Nyebrang ke Myanmar atau Laos. Tapi apesnya, karena kami berempat pakai visa pelajar, jadi takut paspornya dicap tanpa ngurus permit. Alhasil, kita jalan-jalan aja di gardu pandang sungai Mekong, sementara anggota tur yang lain nyebrang.

    ——————

    Hmm apalagi ya.. kayanya itu sih yang sementara diinget. Telat banget nulisnya padahal pikniknya udah dari 3 bulan yang lalu. Hahaha. Dan akhirnya, saya dengan bangga bilang bahwa: kami ke Chiangmai-Chiangrai 3 malam ngeluarin bajet ga sampai 3 ribu baht. Penghargaan untuk mahasiswa terngirit tahun ini masih di tangan kami. Hahaha. Kalau ntar ada yang kelewatan akan diedit di edisi selanjutnya, untuk edisi trip lainnya ditulis kapan-kapan kalau lagi mood, sekarang waktunya nesis *pencitraan*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s