Curhat galau edisi Syar’i: Refleksi pengalaman Ramadhan di negeri orang

ramadan-quote-5
Sources of image: http://www.farahzulkifly.wordpress.com/tag/ramadhan-quotes/

Jumat, 24 Juni 2016/ 17 Ramadhan 1437 H

Salam manis dari tanah Krungthep. Gak kerasa udah lebih dari setahun ga balik ke tanah air. Rasanya mau mati kalau pas lagi homesick.

Anyway, ini adalah (insya Allah) ramadhan pertamaku yang full di Bangkok. Bakal stay sampai lebaran disini sekaligus memecahkan rekor gak ketemu keluarga besar di hari raya untuk pertama kalinya. Bakal kangen sama THR om-om dan pakde-pakde, pecel dan segala perlengakapan perangnya, sate kambing, opor ayam, bakso bikinan Bulik, es campur dan segala macem hidangan yang selalu ada dikala idul fitri.

Terlepas dari segala hingar bingar ritual perayaan idul fitri dan komplementarinya, -yang jelas akan membuat saya benar-benar homesick di kala lebaran-, menjalankan ibadah puasa di negeri orang adalah hal yang saya syukuri sebenarnya. Saya merasa ibadah saya disini jauh lebih greget dibandingkan kala di Indonesia. Disini, saat puasa seperti ini, tidak ada privilege yang umat Muslim dapatkan. Jadwal kuliah dan masuk kantor tetap, warung-warung makan dan store chayen gak bakal ditutup tirai, orang-orang pacaran segala jenis rupa (cewe-cewe; cowo-cowo; maupun yang normal, cewe-cowo) yang mengumbar kemesraan depan umum terus ada seperti biasa, jadwal bayar apartemen tetap… dan revisi tesispun tetap gak ada keringanan. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan panas ekstrim tiada ampun masih berasa (padahal udah musim hujan T__T)

Tidak seperti ketika di Indonesia, dimana bahkan sebulan menjelang bulan ramadhan, iklan-iklan sirup dan sarung sudah bertebaran di televisi, gosip-gosip selebriti menjadi lebih syar’i, sinetron televisi berubah jadi tontonan religi. Itu sebelum ramadhan lho. Ketika ramadhan tiba, lebih heboh lagi. Semua warung makan bertirai, artis-artis tiba-tiba secara ajaib menjadi lebih religius, masjid-masjid penuh sesak, dan sepanjang jalan setiap sore tiba-tiba dipenuhi oleh penjual jajal dan takjil. Rame binggo.

Disini, kami menjalani ibadah puasa dalam sunyi. Tidak ada atribut apapun menyambut ramadhan untuk kami. Hanya di sedikit lokasi yang membuat kami menyadari, bahwa kami tidak sendiri. Hanya di masjid, surau… dan KBRI… Saya, benar menikmati ramadhan tahun ini. Sungguh, inilah ramadhan kejayaan bagi saya. Bisa ibadah sepuas hati dan aktivitas sehari-hari tetap tidak terganggu. Tidak ada undangan buka bersama, tidak ada ajakan ngabuburit foya-foya, dan tidak banyak distraksi lainnya yang mengganggu ibadah dengan dalih ‘silaturahmi’ (sepertinya kini saya cenderung menjadi orang yang anti-sosial sih sebenarnya. Betapa sendiri dan jauh dari orang-orang itu nikmaat sekali. Hahaha) 

Ini murni curhatan dan cerita saya sih. Sejujurnya, ketika di rumah, gak tau kenapa saya merasa ga maksimal memanfaatkan ramadhan. Akan ada buanyaaak (ga cuma banyak ya, tapi buanyaaakkkk) undangan buka bersama. Dari temen TK sampe temen seangkatan kuliah. Dari mantan gebetan sampai teman kantor. Dari yang undangan di warung lesehan sampai hotel berbintang. Rasa-rasanya dalam 30 hari, bisa diitung pake satu tangan, berapa kali saya buka dirumah. Nah biasanya habis buka bersama ini, kemudian saya akan lebih memilih untuk ngobrol dan nongkrong bareng temen-temen sampe larut malam yang kemudian bikin saya jarang tarawihan. Sampe rumah udah tengah malam, jarang ngobrol sama keluarga, dan juga males-malesan bangun sahur (ketinggalan lagi pahala sahur dan tahajudnya). Paginya, karena ramadhan, jam masuk kantor jadi molor, di kantor pun atmosfer kerjanya jadi agak gak kondusif karena semua staf pada ngantuk (hahaha). Dengan alasan bulan ramadhan juga, cari data ke pemprov dan pemkab juga jadi agak terhambat (ini pengalaman saya banget -_-). Sorry to say, tapi saya merasa kadang jadi super kontraproduktif justru ketika bulan ramadhan tiba. Not to mention tentang duit yang abis juga buat bolak balik buka bareng. Hal-hal demikian inilah yang baru benar-benar saya sadari ketika saya menjalankan puasa disini, yang jauh dari hingar bingar dan berbagai macam undangan yang berujung pada terkurasnya isi dompet. Haha. Disitulah letak terbesar syukur saya jadi minoritas, menjadi orang yang berpuasa dalam sunyi.

Ramadhan yang sejatinya adalah bulan istimewa, dimana kebaikan dikalilipatkan, pahala digandakan, berkah Allah berserakan mulai dari sepiring nasi di kala sahur sampai  sedikit receh yang dimasukkan dalam kotak amal masjid, sudah seharusnyalah dimaksimalkan untuk meraup sebanyak-banyaknya pahala dari Allah, bukan justru bermanja-manja dan jadi males-malesan dengan dalih lemes karena ga makan seharian. Saya ga ngomong on behalf of Indonesian Muslim loh ya, ini murni pengalaman dan refleksi pribadi saya ketika menjalani ramadhan di rumah dan dsini. Salam damai

——

Pada akhirnya, puasa bukan hanya tidak makan dan minum. Puasa adalah latihan menumbuhkan empati, menahan diri dari segala kesenangan duniawi, dan momentum untuk mendekatkan diri pada Illahi. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang terjaga puasanya, tidak justru boros harta dan kemaksiatan. Amin.

——

Ini adalah doa pribadi yang dipublish: semoga ramadhan tahun depan saya tidak lagi di Bangkok (maupun di Indonesia). Semoga bisa merasakan ramadhan selanjutnya di negeri yang lain. Eropa, misal. Atau jauh ke benua Amerika. Atau Afrika. Dimanapun, karena somehow, saya menikmati menjadi minoritas. Syukur-syukur ramadhannya bisa berdua sama suami. Ikut suami sekolah atau jadi research fellow dimana gitu. Aduh mak, kejauhan. Pacar aja kaga punya 😦 Bodo amat. Pokoknya resolusi tahun depan: ramadhan berdua di negeri yang jauuuhhh dari negri asal! HAHAHAHAHA. Amin Amin ya Rabbal alamin… Hihihi

Advertisements

2 thoughts on “Curhat galau edisi Syar’i: Refleksi pengalaman Ramadhan di negeri orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s