Study in Thailand (part 1)

*mengingat kelabilan si blogger, doakan semoga akan ada part 2 dan selanjutnya. Berdoa dimulai…..*

——

Sembari menunggu feedback dari revisi tesis yang udah kelar ((((IYA UDAH KELAR COY)))), saya mau iseng nulis sesuatu yang mungkin tidak ada gunanya bagi seluruh pemirsa deh ya. Jadi gini, saya lagi kuliah di Bangkok nih (udah mau kelar, lebih tepatnya), dan akan dengan senang hati membagi pengalaman untuk temen-temen yang berminat melanjutkan studinya di Negeri Gajah Putih ini yaa…

Ngapain kuliah di Thailand sih? Bukannya di dalam negeri banyak yang lebih bagus ya?

Yups. Negara kita juga punya banyak universitas yang bagus-bagus kok, kenapa harus susah-susah sampai Thailand? Secara kualitas, beberapa universitas di Thailand dan Indonesia itu 11-12 ya, tapi ada banyak juga universitas di Thailand yang ternyata lebih unggul dari universitas di Indonesia. Salah satunya bisa dilihat dari beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang mendidikasikan diri sebagai assesor independen untuk kualitas universitas di seluruh dunia. Salah satunya adalah QS Top Universities Survey. Survei terakhir di tahun 2016 yang me-rank universitas di Asia menunjukkan posisi beberapa universitas di Thailand lebih unggul daripada di Indonesia. Tiga universitas Thailand teratas, Chulalangkorn University menduduki ranking ke 45, disusul Mahidol University (61) dan Thammasat University (101). Sedangkan tiga universitas di Indonesia terunggul yaitu Universitas Indonesia (67), Institut Teknologi Bandung (87) dan Universitas Gadjah Mada (105) [dan bahkan Chiang Mai University aja diatas UGM, dengan ranking 104, aku sedih]. Beberapa indikator yang dipakai dalam survei ini antara lain Academic Reputation, Employer reputation, proportion of international faculty and international students, dan citation per paper. Kalau selama pengalaman saya kuliah di dua univ (UGM dan Thammasat), saya secara subyektif berpikir kalau kita (UGM atau universitas lainnya di Indonesia) itu kalah di paper dan international faculty nya ya. Selama jadi anak gaul Thammasat, saya kenal dengan buanyaaakkk banget mahasiswa internasional, baik yang cuma exchange atau emang foreigner yang ambil studi di Thammasat. Sedangkan pas S1 di UGM (yang notabene 4 taun lebih), ga ada lebih dari 5 orang mahasiswa internasional yang aku kenal. Dan juga, budaya menulis dan publikasi kita cukup lemah kalau dibandingkan dengan Chulalangkorn atau Mahidol misalnya. Dana riset, academic workshop, international conference, publikasi dll disini jor-joran dan ga tanggung-tanggung untuk mendukung riset ilimah dan publikasi internasional.

Hal lainnya juga, ada beberapa program studi di Thailand yang memang lebih unggul atau bahkan ga ada di Indonesia. Contohnya prodi saya ASEAN Studies atau Southeast Asia Studies. Di Indonesia, kalau saya mau ambil konsentasi Asia Tenggara, major saya pastilah Hubungan Internasional (HI), baru minornya studi Asteng. Kalau disini, Asteng langsung jadi major, jadi begitu masuk kuliah semester pertama, langsung konsentrasi ke studi Asteng. Contoh lainnya, teman saya di Mahidol yang mengambil jurusan Prostotik Orthotik (sumpah aku gatau cara nulisnya yang bener gimana), pada intinya ini adalah jurusan spesialis bikin tangan dan kaki palsu. Belum ada di Indonesia. Di Mahidol, jurusan ini salah satu yang terbaik se Asia.

Selain alasan idealisme mengenai reputasi universitas dan pilihan prodi yang lebih unggul, alasan pragmatis nya adalah: kita kuliah di luar negeri coy. Hahaha. Walaupun luar negerinya cuma 3 jam dari Jakarta. Tapi ini jadi salah satu  nilai plus dan bahan pertimbangan kalau nanti kita mau ngelamar kerja atau jadi dosen. Katanya sih gitu…

Gimana gaya hidup disana? 

Asik coy. Hahaha. Karena kedekatan wilayah dan budaya, jadi kita ga perlu susah-susah ngalamin yang namanya cultural shock. Orang-orangnya mirip sama orang-orang kita, dan saya jamin 10x lebih ramah dari orang-orang kita (Jakarta terutama) haha. Untuk cuaca juga ga beda-beda amat, cuma disini emang jauh lebih hot sih ,terutama di bulan April. Ampun ampunan. Bisa mencapai 40 an derajat lebih. Makanya tengah bulan April setiap tahun, selalu ada festival water war alias Songkran. Dimana semua orang bebas main air sampai masuk angin. Orang yang ga niat basah mending diem dirumah aja, soalnya begitu keluar dan disiram air, aturan utamanya adalah: pasrah dan jangan marah. Asik pokoknya.

Itu cuaca ya, sekarang living costs. Jadi sebenarnya, harga barang-barang di Thailand itu sama aja kok kaya di Indonesia (bagian barat ya hehe). Diantara kota lainnya, emang Bangkok yang lebih mahal sih living costs nya, 11-12 lah sama Jakarta, terutama akomodasi ya (flat/apartemen). Kalau makanan, kurang lebih sama lah kaya Jakarta. Sekali makan di warteg pinggir jalan berkisar antara 40-70 an Baht (sekitar 16 ribu-28 ribu). Kalau di restoran ya sekitar 70-ratusan baht, tergantung tipe restaurannya. Oiya, untuk yang muslim, emang agak repot kalau cari makanan yang halal di Bangkok. Dan sekali nemu warung makan/ restaurant Halal, biasanya harganya sedikit lebih mahal dari warung makan/ restauran yang biasa. Jadi, selama ini saya sih biasanya masak aja, harga sayuran, bumbu-bumbu dan seafood murah kok, jadi selain ngirit, halal dan thoyyib juga. Hehehe. Oiya, FYI, kemampuan saya masak terupgrade sampai 500% semenjak saya disini *ga penting*

Bisa travelling ga selama belajar disana?

Oh bisa banget dong. Buat temen-temen yang beasiswanya lumayan dan menerapkan prinsip hidup sederhana, bakal nyisa banyak buat travelling, either di dalam negeri maupun luar negeri. Ya gimana, secara Thailand itu jalan dikit mentok Myanmar, lari dikit nyebrang Laos, Malaysia. Deket semua brow. Mau ke luar negeri yang agak jauh kaya Jepang atau Korea juga jauuuuhhh lebih murah dari Bangkok dibandingkan dari Jakarta. Semenjak piknik menjadi salah satu kebutuhan pokok selain sandang pangan papan dan pasangan, tiket LC A*r A*ia bisa selalu jadi alternatif buat kalian yang mau travelling jauh dengan budget yang terbatas. Jadi selama semester break, bagi yang belum homesick, sangat disarankan untuk pergi-pergi piknik. Study hard, travel harder.

Denger-denger banyak ladyboy ya?

Ini gak ada hubungannya sih, tapi ya untuk FYI aja lah ya. Hahaha. Jadi, Thailand emang surga untuk kaum LGBTI nih gaes. Salah satu negara di Asia yang amat toleran dengan keberadaan mereka. Secara legal formal memang Kerajaan Thailand tidak melegalkan same-sex marriage, tapi secara sosial, penerimaan masyarakat terhadap kaum ini sangat terbuka dan baik. Bahkan, salah satu majalah luar negeri pernah menempatkan Thailand sebagai the only Asian city included on lists of gay-friendly tourist destination around the world. Mungkin kalau urusan diskriminasi, itu selalu ada ya, tapi tidak sampai pada level ekstrim (pada beberapa segi aja, misal pekerjaan, hak nikah dan edukasi, dll). Alhasil, fenomena transgender dan same-sex love ini berkembang mengerikan disini.

Dulu awal-awal disini masih sering kecele, kalau pas jalan di Mall atau di tempat rame. Ngeliat embak-embak tinggi semampai, cantiknya kaya Dian Sastro, putih mulus kaya pahanya SNSD, pakaiannya kaya Pamela Anderson, selalu berdecak kagum. Ada ya ciptaan Tuhan segini sempurnyanya, eh abis itu baru dah tau, mostly orang-orang model begituan adalah transgender alias yang tadinya cowo! ya ga semuanya sih. Tapi mostly (((mostly)))

——

Hmm apalagi ya. Udah itu dulu deh ya, saya mau lanjut masak deh abis ini. Semoga besok besok masih bisa dilanjutkan. Syemangat

Advertisements

Lebaran…

Bangkok, Minggu 10 Juli 2016/ 5 Syawal 1437 H

Selamat lebaran teman-teman. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya hehe.

1 Ramadhan lagi berlalu. Ramadhan kali ini berkesan, karena satu bulan penuh saya menjalankannya di negeri orang. Jauh dari orang tua, hiruk pikuk keramaian undangan buka bersama, dan maraknya iklan sirup di televisi.

Jelas berkesan. Dari seumur hidup saya selama 25 tahun ini, baru kali ini saya lebaran jauh dari keluarga. 2 tahun belakangan selalu disempatkan pulang kampung karena pas kampus libur semester break. Beberapa tahun lalu sewaktu KKN di Makassar juga begitu, disempatkannya pulang gasik supaya kedapetan shalat Ied dirumah (dengan konsekuensi harga tiket pesawat yang mahal gilak). Tahun ini, stay cool aja disini.

Orang tua sempat bertanya, ngapain aja kegiatannya waktu lebaran? Dan ini yang akan aku ceritaini disini. Haha. Random abis… dan ga penting sebenarnya. Hahaha

Selasa, 5 Juni, malam sebelum lebaran. Puasa terakhir. Saya masih berkutat dengan revisian bejibun di perpustakaan. Ngetem diperpus sampai jam 9 malam. Dengerin suara takbir lewat yutub. Baper, matiin yutub, dan lanjut revisi lagi.

Rabu pagi, 6 Juni. Saya kesiangan. Cepet-cepet berangkat ke KBRI dengan baju lebaran ala kadarnya, dan karena tidak memungkinkan naik bis, saya akhirnya naik ojek. Melihat saya terburu-buru, si Abang ojekya langsung tancap gas dan berakhir dengan tragedi ketilang polisi. Pagi lebaran udah bete duluan.

Untungnya, saya tiba tepat waktu di KBRI. Shalat ied, salam-salaman, dan menghadiri open house yang diadakan oleh Pak Dubes. Suasana lebaran makin terasa ketika banyak kue-kue kering tersaji diatas meja, dan makin dramatis karena ada suguhan opor, rendang, ketupat, dan aneka masakan khas lebaran. Alhamdulillah kenyang… eh kekenyangan… yang berakhir dengan tragedi sakit perut berjamaah (temen-temen yang lain juga pada sakit perut, entah ini gara-gara kebanyakan makan atau emang masakannya yang bermasalah. Entahlah, yang penting udah sempet makan opor).

lebaran 1
muka-muka pemburu opor
lebaran 3
yang penting kumpul dah ya

Siangnya, saya pulang kerumah. Rencananya mau lanjut ke perpus untuk ngerjain revisi lagi. Tapi saya urungkan karena bangun pagi dan makan banyak adalah kombinasi yang tidak baik untuk otak yang butuh mikir agak berat. Alhasil saya tidur siang dengan damai.

Sorenya, saya diajak salah satu teman untuk main ke kamarnya. Ngebantuin dia untuk bikin hiasan yang akan dipakai untuk upacara pentasbihan monk buat sepupunya. Alhasil, saya sibuk bikin hiasan buat upacara Buddhist sampai malam.

Exif_JPEG_420
hasil dari ngeronce pita, dikasih koin ditengahnya terus ntar dibagi-bagi ke orang di acara pentasbihan monk.

Demikian kegiatan lebaran saya. Gak ada sungkeman, gak ada bagi-bagi angpau, gak ada foto keluarga untuk tahun ini.

Dan kegiatan selanjutnya, H+1 lebaran sampai sekarang? Saya tetap setia ngerjain revisian di perpustakaan. Sekian———