Menjadi Muslim yang Bahagia

Sebenernya ini adalah tulisan lebih dari setahun lalu pas jaman masih jadi warga lokal Bangkok. Entah kenapa banyak tulisan mangkrak di draft. Setelah setahun lebih pulang ke Indonesia, jangankan ngurusin blog sendiri, buka facebook dan nulis status aja udah gak pernah. Euforia pulang membuat aktivitas nulis jadi barang paling langka, seperti halnya menemukan cinta sejati. Apasih.

—-

Banyak yang bertanya pada saya, gimana sih rasanya jadi minoritas (muslim) di negara yang mayoritas penduduknya non muslim? Bagi saya, pengalaman dua tahun jadi minoritas itu tak tergantikan. Mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk membuat saya menjadi lebih humble, nerimo, terbuka, tidak berpikiran picik dan arogan. Di sisi yang lain juga menjadi pelajaran bagi saya untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena saya muslim yang dilahirkan di negara yang kebanyakan penduduknya beragama islam, bersyukur tidak kesulitan mengakses tempat ibadah, bersyukur akan kemudahan menemukan majlis ilmu di masjid-masjid.

Disini, kebahagiaan terparipurna bagi kami umat muslim adalah ketika mendengar adzan dan bisa shalat berjamaah dengan muslim lainnya. 100 kali lipat lebih bahagia lagi ketika disuguhi senampan besar nasi briyani dan daging sapi untuk disantap bersama dengan muslim lainnya setelah shalat jumat. Orang tidak peduli berasal dari negara mana, dengan warna kulit yang seperti apa, apalagi meributkan perbedaan mazhab, apakah Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi or whatsoever you name it. Tak ada yang peduli. Semua berbaur dengan keyakinan bahwa kita punya Tuhan yang sama yang minimal 5 kali sehari kita ajak berinteraksi.

Bagi kami, idul fitri tidaklah sama dengan liburan panjang bersama keluarga, baju baru, ketupat dan opor ayam, atau amplop tebal berisi salam tempel. Bisa melarikan diri 30 menit ke masjid terdekat atau KBRI untuk melaksanakan shalat ied dan mendengarkan ceramah (berbahasa lokal) yang sama sekali tak kami pahamipun sudah menjadi berkah tersendiri bagi kami.

Bagi kami, mendengar kumandang adzan adalah berkah lainnya. Melihat restoran berlabel Halal adalah surga (meskipun kenyataan pahit di depan mata: harga makanan di restoran ini pasti berkali lipat lebih mahal dibandingkan restoran biasa). Menemukan masjid dalam perjalanan ketika traveling adalah definisi bahagia sesungguhnya. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sungguh tak pernah terasa ketika saya berada di tanah air.

Pernah dalam perjalanan ke utara (ke perbatasan Laos-Thailand-Myanmar, Golden Triangle), saya hampir kehabisan waktu shalat Zuhur dan Ashar. Akibat tidak bisa menemukan tempat yang layak untuk dijadikan tempat shalat, saya nekat masuk ke sebuah temple yang relatif sepi. Ambil wudhu di kamar mandi, menggelar sajadah, pakai mukena, dan shalat disana. Saya shalat menghadap ke barat, dan menghadap ke rentetan patung-patung budha. Dalam shalat saya, rasa itu benar muncul. Rasa syukur betapa beruntungnya selama ini saya hidup di tengah-tengah lingkungan muslim. Dalam shalat saya pada saat itu, saya lebih dari yakin bahwa Tuhan tetap akan hadir dan menghitung shalat saya sebagai nilai ibadah sekalipun saya shalat di tempat yang tidak lazim. Dan seketika itu juga saya merasa sedih, ketika di Indonesia, berapa kali dalam sehari saya mendatangi masjid? Rumah saya hanya selemparan batu dari masjid kampung, selain bulan ramadhan, seberapa sering mengunjungi tempat itu?

Menjadi minoritas membuat pikiran kita jauh lebih terbuka dan tidak arogan.

Dalam kondisi-kondisi semacam inilah justru hati-hati kami semakin terasah. Rasa syukur akan hal-hal kecil selalu terasa membuncah. Ya Allah, betapa kufur nya saya selama ini.

Disaat-saat seperti ini lah saya baru benar-benar merasa miris dan prihatin ketika mendengar berita tentang intoleransi antar umat beragama. Tempat ibadah digusur, ritual sembayang dibubarkan paksa, cekcok karena beda agama dan lain-lain. Jadi bayangin, kalau pas saya shalat di temple terus digeruduk para monk dan masyarakat Budha disana, gimana perasaannya cobak? hiks sedih beneran 😦

Ya, we have to admit it, bahwa memang mungkin masih ada sebagian dari masyarakat kita yang masih belum dewasa dalam menyikapi perbedaan, menghargai indahnya ketidaksamaan, merasa superior karena menjadi mayoritas dan merasa bisa melakukan apa saja terhadap mereka yang berbeda darinya. Semoga orang-orang ini nantinya diberi kesempatan untuk merasakan hidup jauh dari zona yang membuat mereka merasa superior. Amin.

Dan jika ditanyakan kembali, bagaimana rasanya menjadi Muslim di negara yang penduduknya mayoritas non-muslim. Jawaban saya, saya bahagia menjadi Muslim disini. Saya bahagia menjadi minoritas. Dan ada masa dimana saya merasa, saya jauh lebih Muslim ketika disini dibandingkan ketika saya di Indonesia.

—-

Setelah membaca tulisan singkat diatas, kayanya tiba-tiba ada yang lempar bawang ke mata terus dikucek-kucekin. Panas rasanya. Berasa ditampar bolak balik. Kenapa harus jadi minoritas dulu untuk “jadi lebih Muslim”? Udah setahun pulang, dan setahun pula rasanya aku gak bersyukur untuk hal-hal kecil seperti “nemu masjid”, atau “dengar adzan” atau “bertemu muslim yang gak kenal di jalan dan mengucapkan salam”. Ya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s