Lalalala ~ (part 2)

Udah berabad-abad semenjak blog ini terakhir disentuh oleh pemiliknya yang makin hari makin tua dan malas. Dalam rangka meningkatkan kembali produktivitas menulis, ada baiknya memulainya dengan menulis sesuatu yang ringan, gak perlu mikir (cukup mengandalkan emosi), berantakan, dan gak peduli sama apapun. Yaps, curhat. Hahahahaha. Mau curhat aja mukadimah nya ngalor ngidul.

Selama setahun ini balik, banyak banget drama hidup. Ternyata tesis bukanlah momok sebenarnya dalam hidup seorang netizen yang berumur seperempat abad. Drama hidup does. Dari jadi selingkuhan orang, tiba-tiba dilamar sama mas-mas random yang gak dikenal-kenal amat, dijodohin sama laki-laki yang aku gak kenal sama sekali, sampai kehilangan sahabat.

Kayanya akan terlalu drama kalau dibahas semua. Aku cuma mau curcol dikit-dikit sih. Tentang kehilangan seorang teman. Eh dua orang ding. Eh yang satu teman, yang satu iblis berwujud manusia yang dengan sialnya pernah aku kenal ding. Wkwk

—-

Jadi, seperti halnya manusia 20an tahun lainnya, ada masa dimana pada akhirnya kita menyadari bahwa ada orang yang kita sangka pantas dipertahankan yang ternyata… seharusnya dipertahankan untuk berada di luar inner circle sahaja~

Wqwq

Setelah kejadian kemarin, aku kemudian me-redefinisi arti sahabat. Apakah dia yang selalu kemana-mana bareng? nemenin dalam setiap kondisi apapun? dia yang jarang ketemu tetapi selalu peduli dan kalau sekali ketemu susah lepasnya? yang selalu inget tanggal ulangtahun? bisa jadi sih.

Yang jelas, sahabat adalah orang yang benar-benar bisa percaya sepenuhnya sama aku, sebagaimana aku percaya seutuhnya sama dia. Karena, biar gimanapun, aku gapernah bohong sama sahabat sendiri. Kalau dia mempertanyakan apa yang aku katakan, mungkin sebaiknya dia berada di luar inner circle aja. Terdengar egois ya. Ya, itulah. Aku. Emang. Begitu. Ehehe. Dan, karena definisi inilah, aku harus merelakan orang yang pernah aku bilang dengan tulus dan manis “kamu tuh sahabat aku mz…” yang akhirnya berujung seperti lirik lagunya Gotye ft Kimbra, “I guess that I don’t need that though, now you’re just somebody that I used to know”. Mueheheee. Maksa. Biarin.

Jadi, gimana kronologinya kehilangan si teman ini? Ya begitu deh. Sungguh panjang dan akan ber-episode-episode kalau dibahas disini. Hahaha. Jadi ini niat curhat ga sih? Etapi ini kan blog aku ya, terserah dong mau kaya gimana juga. Hmmm. Iyain aja.

—-

Kehilangan sahabat, udah. Selanjutnya kehilangan salah seorang… err…. salah seorang apa ya ini definisinya. Iblis berwujud manusia yang dulu pernah aku puja-puja. Itu kayanya ya. wkwk #terdrama

Seumur hidupku selama ini, tidak ada yang pernah membuat aku merasa menjadi perempuan paling murah, paling tidak berguna, perempuan jalang parasit yang perasaannya tak lebih berharga dari sepotong hati ayam yang jual di emperan pasar, selain dia *ini serius*. Tak ada seorangpun yang pernah menguras energiku sebesar ini. Tak pernah ada seorangpun yang selalu terlintas dalam pikiranku selepas bangun tidur tiap pagi dengan tanpa ada pikiran untuk mengenyahkannya dari kehidupan ini. Selain dia.

Aku tahu tidak ada gunanya membenci setengah mati. Tapi, luka yang sudah ia buat ini benar benar dalam, sampai membusuk dan tak pernah sekalipun menawarkan obatnya. Selain karena dia tak punya, juga karena dia tak ingin dan tak peduli. Dan pada akhirnya, aku harus sempoyongan setengah mati menyembuhkan diriku sendiri.

Aku tahu ini semua salahku sih. Mencurahkan perasaan yang tulus pada orang yang salah. Membabi buta memberikannya semua yang aku punya. Hilang kontrol dan kadang lupa daratan. Dan mungkin, inilah cara Tuhan memberikan peringatan, bahwa mencintai seseorang secara berlebihan bisa menyakitkan. Dan ini juga mungkin cara-Nya, meyakinkan aku bahwa sehancur apapun hati karena ulah manusia, ada Dia yang Maha Menyembuhkan.

Itu masa beberapa bulan yang lalu. Ehehehe.

Sekarang, sudah tidak ada lagi bayangan ingin bunuh orang tiap bangun pagi. Sudah tak ada lagi curhat galau sampai ingin rasanya minum air mata sendiri biar gak dehidrasi. Melupakan adalah hal yang pasti. Iya, suatu saat nanti. Berdamai dengan kisah sendiri juga adalah pilihan yang akhirnya diambil. Tapi memaafkan, hanyalah milik orang yang hatinya sebesar jenggala. Bukan untukku.

—-

Itu rangkuman setahunku di Indonesia yang sungguh penuh drama ga penting. Ingin rasanya melarikan diri ke belahan dunia lain, struggle dengan apapun, kecuali drama hidup yang harus melibatkan perasaan. Dah. Cukup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s