Studi di Thailand (Part 2): Bertahan hidup dengan kerja paruh waktu*

Hai ! butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan niat buat nulis lagi. Distraksi di dalam negeri dasyat, bikin males-malesan ehehehehee. Oke, berikut aku coba share sedikit pengalaman studi pas di Thailand ya. Kali ini tentang strategi bertahan hidup dengan kerja paruh waktu. Sebenernya ini tulisan untuk IM (Indonesia Mengglobal), tapi karena yang nulis disana kelasnya kaya kak Maudy Ayunda, dan berhubung daku tahu diri, mending daku terbitin disini aja deh. Hahahaa.

—————–

Bukan merupakan hal yang sulit saat ini untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berbagai informasi tawaran beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, instansi/ lembaga tertentu, maupun pemerintah negara lain bisa ditemukan dengan mudah dan menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di negeri lain.

Meskipun demikian, tidak semua lembaga penyedia dana memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa menyediakan biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, dan ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dome building

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi nimba ilmu di negeri orang, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu selama disana

Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Thailand

  1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di ibu kota Negeri Gajah Putih itu dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi. Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas pergaulan dan jaringan kita.

Saya sendiri, pada akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu menjadi guru mengaji untuk seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun (kelas 2 SD) yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang Ia banyak menanyakan pertanyaan kritis, tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing. Oleh karenanya, tak jarang sebelum saya mengajar, saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini tentu menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, saya juga belajar banyak dari murid saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016 di KBRI Bangkok bersama Dubes
  1. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di Sekolah Internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Di Thailand sendiri, permintaan pengajar bahasa Indonesia cukup tinggi karena Thailand adalah negara yang masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata ajar Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di jurusan Southeast Asia Studies (untuk S1) dan ASEAN Studies (S2), tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, Teaching Assistant, maupun native yang diminta untuk menguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Tentu saja ini merupakan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain memperluas pergaulan dan jaringan pertemanan, kamipun mendapatkan honor yang layak dari dosen dan saya juga belajar banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang tak jarang banyak berkomentar mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan filem dan lagu Indonesia. Dengan begini, saya dapat lebih memahami Negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

  1. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik di acara KBRI maupun di acara yang diadakan oleh kampus maupun instansi lainnya. Karena upaya itu, tak jarang mereka mendapatkan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun, rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Tentu acara ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.

Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk ”unjuk gigi”, baik dengan melakukan performance budaya negaranya maupun menjual makanan/ masakan khas negara asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thammasat University International Night, 2016
TU International night 2014
Thammasat University International Night, 2015
  1. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain. Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan expertise dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya

  1. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga. Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Talingchan trip while studying Bahasa
Piknik wkwk

Hal-hal diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan (untuk bersekolah di luar negeri) tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang kurang memadai.

*Tulisan untuk http://www.indonesiamengglobal.com sebelum digubah 

Lalalalaaa—-

Jadi gini, setelah sekian lama aku akhirnya menyadari juga. Bahwa ada beberapa orang di dunia ini yang dilahirkan hanya untuk menguji kesabaran kita. Selain itu, kelahirannya di dunia ini mungkin hanya berguna buat penggali kubur yang nantinya akan dapat upah dari keluarganya si orang tersebut ketika orang tersebut sudah meninggal. Ya, yang aku bicarakan ini kamu. Seseorang yang dulunya pernah aku gilai (dan cintai?) dan berfikir bahwa Ia pun begitu. Kehadirannya yang dulunya aku anggap sebagai my greatest support system karena selalu ada sebagai tempat menampung keluh kesah di saat-saat sulit, yang rupanya adalah salah satu strategi untuk mengantarkanku ke ujung penyesalan tak berkesudahan.

Ada orang yang dilahirkan dengan mata dan mulut busuk yang hanya bisa melihat semesta ini dari sisi buruknya dan mengomentarinya dengan busuk pula. Iya, kamu seperti itu loh.

Ada orang yang jelas tahu ia salah tetapi jangankan untuk meminta maaf, mengakuinya saja tidak. Jadi, selain mata dan mulutnya yang busuk, hatinya juga. Aduh lengkap deh.

Ada orang yang otaknya selalu dipakai hanya untuk memikirkan diri sendiri dan kesenangannya. Jangankan memikirkan orang lain, bahkan memikirkan masa depannya sendiri 2 hari dari sekarang pun paling juga tidak bisa. Jadi selain mata, mulut, dan hatinya yang busuk, rupanya otak nya juga tidak berfungsi loh.

Dan aku bisa jatuh padanya. Dulu. Ya Allah 😦

Ya, dan kamu mengajari banyak hal. Bahwa tidak semua orang itu pantas untuk dipertahankan. Tidak semua orang layak diperjuangkan. Bahkan, kamu membuatku menyadari bahwa, tidak semua orang itu yang walaupun sudah pernah datang, layak untuk dikenang. Haha. Apasih.

Masih mending kan ya aku misuh-misuh disini, gak sampai kegiring di doa yang jelek-jelek (walaupun tetep ngarep suatu saat kamu nanti menderita lahir batin dunia akhirat hahahaha astaghfirullah)

Kayanya belum pernah ada sepanjang sejarah aku nulis blog dengan kata-kata laknat macam ginian. Aku berubah 😦

*Will be deleted soon once aku udah fully recovered. Maap maap 😦

Study in Thailand (part 1)

*mengingat kelabilan si blogger, doakan semoga akan ada part 2 dan selanjutnya. Berdoa dimulai…..*

——

Sembari menunggu feedback dari revisi tesis yang udah kelar ((((IYA UDAH KELAR COY)))), saya mau iseng nulis sesuatu yang mungkin tidak ada gunanya bagi seluruh pemirsa deh ya. Jadi gini, saya lagi kuliah di Bangkok nih (udah mau kelar, lebih tepatnya), dan akan dengan senang hati membagi pengalaman untuk temen-temen yang berminat melanjutkan studinya di Negeri Gajah Putih ini yaa…

Ngapain kuliah di Thailand sih? Bukannya di dalam negeri banyak yang lebih bagus ya?

Yups. Negara kita juga punya banyak universitas yang bagus-bagus kok, kenapa harus susah-susah sampai Thailand? Secara kualitas, beberapa universitas di Thailand dan Indonesia itu 11-12 ya, tapi ada banyak juga universitas di Thailand yang ternyata lebih unggul dari universitas di Indonesia. Salah satunya bisa dilihat dari beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang mendidikasikan diri sebagai assesor independen untuk kualitas universitas di seluruh dunia. Salah satunya adalah QS Top Universities Survey. Survei terakhir di tahun 2016 yang me-rank universitas di Asia menunjukkan posisi beberapa universitas di Thailand lebih unggul daripada di Indonesia. Tiga universitas Thailand teratas, Chulalangkorn University menduduki ranking ke 45, disusul Mahidol University (61) dan Thammasat University (101). Sedangkan tiga universitas di Indonesia terunggul yaitu Universitas Indonesia (67), Institut Teknologi Bandung (87) dan Universitas Gadjah Mada (105) [dan bahkan Chiang Mai University aja diatas UGM, dengan ranking 104, aku sedih]. Beberapa indikator yang dipakai dalam survei ini antara lain Academic Reputation, Employer reputation, proportion of international faculty and international students, dan citation per paper. Kalau selama pengalaman saya kuliah di dua univ (UGM dan Thammasat), saya secara subyektif berpikir kalau kita (UGM atau universitas lainnya di Indonesia) itu kalah di paper dan international faculty nya ya. Selama jadi anak gaul Thammasat, saya kenal dengan buanyaaakkk banget mahasiswa internasional, baik yang cuma exchange atau emang foreigner yang ambil studi di Thammasat. Sedangkan pas S1 di UGM (yang notabene 4 taun lebih), ga ada lebih dari 5 orang mahasiswa internasional yang aku kenal. Dan juga, budaya menulis dan publikasi kita cukup lemah kalau dibandingkan dengan Chulalangkorn atau Mahidol misalnya. Dana riset, academic workshop, international conference, publikasi dll disini jor-joran dan ga tanggung-tanggung untuk mendukung riset ilimah dan publikasi internasional.

Hal lainnya juga, ada beberapa program studi di Thailand yang memang lebih unggul atau bahkan ga ada di Indonesia. Contohnya prodi saya ASEAN Studies atau Southeast Asia Studies. Di Indonesia, kalau saya mau ambil konsentasi Asia Tenggara, major saya pastilah Hubungan Internasional (HI), baru minornya studi Asteng. Kalau disini, Asteng langsung jadi major, jadi begitu masuk kuliah semester pertama, langsung konsentrasi ke studi Asteng. Contoh lainnya, teman saya di Mahidol yang mengambil jurusan Prostotik Orthotik (sumpah aku gatau cara nulisnya yang bener gimana), pada intinya ini adalah jurusan spesialis bikin tangan dan kaki palsu. Belum ada di Indonesia. Di Mahidol, jurusan ini salah satu yang terbaik se Asia.

Selain alasan idealisme mengenai reputasi universitas dan pilihan prodi yang lebih unggul, alasan pragmatis nya adalah: kita kuliah di luar negeri coy. Hahaha. Walaupun luar negerinya cuma 3 jam dari Jakarta. Tapi ini jadi salah satu  nilai plus dan bahan pertimbangan kalau nanti kita mau ngelamar kerja atau jadi dosen. Katanya sih gitu…

Gimana gaya hidup disana? 

Asik coy. Hahaha. Karena kedekatan wilayah dan budaya, jadi kita ga perlu susah-susah ngalamin yang namanya cultural shock. Orang-orangnya mirip sama orang-orang kita, dan saya jamin 10x lebih ramah dari orang-orang kita (Jakarta terutama) haha. Untuk cuaca juga ga beda-beda amat, cuma disini emang jauh lebih hot sih ,terutama di bulan April. Ampun ampunan. Bisa mencapai 40 an derajat lebih. Makanya tengah bulan April setiap tahun, selalu ada festival water war alias Songkran. Dimana semua orang bebas main air sampai masuk angin. Orang yang ga niat basah mending diem dirumah aja, soalnya begitu keluar dan disiram air, aturan utamanya adalah: pasrah dan jangan marah. Asik pokoknya.

Itu cuaca ya, sekarang living costs. Jadi sebenarnya, harga barang-barang di Thailand itu sama aja kok kaya di Indonesia (bagian barat ya hehe). Diantara kota lainnya, emang Bangkok yang lebih mahal sih living costs nya, 11-12 lah sama Jakarta, terutama akomodasi ya (flat/apartemen). Kalau makanan, kurang lebih sama lah kaya Jakarta. Sekali makan di warteg pinggir jalan berkisar antara 40-70 an Baht (sekitar 16 ribu-28 ribu). Kalau di restoran ya sekitar 70-ratusan baht, tergantung tipe restaurannya. Oiya, untuk yang muslim, emang agak repot kalau cari makanan yang halal di Bangkok. Dan sekali nemu warung makan/ restaurant Halal, biasanya harganya sedikit lebih mahal dari warung makan/ restauran yang biasa. Jadi, selama ini saya sih biasanya masak aja, harga sayuran, bumbu-bumbu dan seafood murah kok, jadi selain ngirit, halal dan thoyyib juga. Hehehe. Oiya, FYI, kemampuan saya masak terupgrade sampai 500% semenjak saya disini *ga penting*

Bisa travelling ga selama belajar disana?

Oh bisa banget dong. Buat temen-temen yang beasiswanya lumayan dan menerapkan prinsip hidup sederhana, bakal nyisa banyak buat travelling, either di dalam negeri maupun luar negeri. Ya gimana, secara Thailand itu jalan dikit mentok Myanmar, lari dikit nyebrang Laos, Malaysia. Deket semua brow. Mau ke luar negeri yang agak jauh kaya Jepang atau Korea juga jauuuuhhh lebih murah dari Bangkok dibandingkan dari Jakarta. Semenjak piknik menjadi salah satu kebutuhan pokok selain sandang pangan papan dan pasangan, tiket LC A*r A*ia bisa selalu jadi alternatif buat kalian yang mau travelling jauh dengan budget yang terbatas. Jadi selama semester break, bagi yang belum homesick, sangat disarankan untuk pergi-pergi piknik. Study hard, travel harder.

Denger-denger banyak ladyboy ya?

Ini gak ada hubungannya sih, tapi ya untuk FYI aja lah ya. Hahaha. Jadi, Thailand emang surga untuk kaum LGBTI nih gaes. Salah satu negara di Asia yang amat toleran dengan keberadaan mereka. Secara legal formal memang Kerajaan Thailand tidak melegalkan same-sex marriage, tapi secara sosial, penerimaan masyarakat terhadap kaum ini sangat terbuka dan baik. Bahkan, salah satu majalah luar negeri pernah menempatkan Thailand sebagai the only Asian city included on lists of gay-friendly tourist destination around the world. Mungkin kalau urusan diskriminasi, itu selalu ada ya, tapi tidak sampai pada level ekstrim (pada beberapa segi aja, misal pekerjaan, hak nikah dan edukasi, dll). Alhasil, fenomena transgender dan same-sex love ini berkembang mengerikan disini.

Dulu awal-awal disini masih sering kecele, kalau pas jalan di Mall atau di tempat rame. Ngeliat embak-embak tinggi semampai, cantiknya kaya Dian Sastro, putih mulus kaya pahanya SNSD, pakaiannya kaya Pamela Anderson, selalu berdecak kagum. Ada ya ciptaan Tuhan segini sempurnyanya, eh abis itu baru dah tau, mostly orang-orang model begituan adalah transgender alias yang tadinya cowo! ya ga semuanya sih. Tapi mostly (((mostly)))

——

Hmm apalagi ya. Udah itu dulu deh ya, saya mau lanjut masak deh abis ini. Semoga besok besok masih bisa dilanjutkan. Syemangat

Lebaran…

Bangkok, Minggu 10 Juli 2016/ 5 Syawal 1437 H

Selamat lebaran teman-teman. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf ya hehe.

1 Ramadhan lagi berlalu. Ramadhan kali ini berkesan, karena satu bulan penuh saya menjalankannya di negeri orang. Jauh dari orang tua, hiruk pikuk keramaian undangan buka bersama, dan maraknya iklan sirup di televisi.

Jelas berkesan. Dari seumur hidup saya selama 25 tahun ini, baru kali ini saya lebaran jauh dari keluarga. 2 tahun belakangan selalu disempatkan pulang kampung karena pas kampus libur semester break. Beberapa tahun lalu sewaktu KKN di Makassar juga begitu, disempatkannya pulang gasik supaya kedapetan shalat Ied dirumah (dengan konsekuensi harga tiket pesawat yang mahal gilak). Tahun ini, stay cool aja disini.

Orang tua sempat bertanya, ngapain aja kegiatannya waktu lebaran? Dan ini yang akan aku ceritaini disini. Haha. Random abis… dan ga penting sebenarnya. Hahaha

Selasa, 5 Juni, malam sebelum lebaran. Puasa terakhir. Saya masih berkutat dengan revisian bejibun di perpustakaan. Ngetem diperpus sampai jam 9 malam. Dengerin suara takbir lewat yutub. Baper, matiin yutub, dan lanjut revisi lagi.

Rabu pagi, 6 Juni. Saya kesiangan. Cepet-cepet berangkat ke KBRI dengan baju lebaran ala kadarnya, dan karena tidak memungkinkan naik bis, saya akhirnya naik ojek. Melihat saya terburu-buru, si Abang ojekya langsung tancap gas dan berakhir dengan tragedi ketilang polisi. Pagi lebaran udah bete duluan.

Untungnya, saya tiba tepat waktu di KBRI. Shalat ied, salam-salaman, dan menghadiri open house yang diadakan oleh Pak Dubes. Suasana lebaran makin terasa ketika banyak kue-kue kering tersaji diatas meja, dan makin dramatis karena ada suguhan opor, rendang, ketupat, dan aneka masakan khas lebaran. Alhamdulillah kenyang… eh kekenyangan… yang berakhir dengan tragedi sakit perut berjamaah (temen-temen yang lain juga pada sakit perut, entah ini gara-gara kebanyakan makan atau emang masakannya yang bermasalah. Entahlah, yang penting udah sempet makan opor).

lebaran 1
muka-muka pemburu opor
lebaran 3
yang penting kumpul dah ya

Siangnya, saya pulang kerumah. Rencananya mau lanjut ke perpus untuk ngerjain revisi lagi. Tapi saya urungkan karena bangun pagi dan makan banyak adalah kombinasi yang tidak baik untuk otak yang butuh mikir agak berat. Alhasil saya tidur siang dengan damai.

Sorenya, saya diajak salah satu teman untuk main ke kamarnya. Ngebantuin dia untuk bikin hiasan yang akan dipakai untuk upacara pentasbihan monk buat sepupunya. Alhasil, saya sibuk bikin hiasan buat upacara Buddhist sampai malam.

Exif_JPEG_420
hasil dari ngeronce pita, dikasih koin ditengahnya terus ntar dibagi-bagi ke orang di acara pentasbihan monk.

Demikian kegiatan lebaran saya. Gak ada sungkeman, gak ada bagi-bagi angpau, gak ada foto keluarga untuk tahun ini.

Dan kegiatan selanjutnya, H+1 lebaran sampai sekarang? Saya tetap setia ngerjain revisian di perpustakaan. Sekian———

Curhat galau edisi Syar’i: Refleksi pengalaman Ramadhan di negeri orang

ramadan-quote-5
Sources of image: http://www.farahzulkifly.wordpress.com/tag/ramadhan-quotes/

Jumat, 24 Juni 2016/ 17 Ramadhan 1437 H

Salam manis dari tanah Krungthep. Gak kerasa udah lebih dari setahun ga balik ke tanah air. Rasanya mau mati kalau pas lagi homesick.

Anyway, ini adalah (insya Allah) ramadhan pertamaku yang full di Bangkok. Bakal stay sampai lebaran disini sekaligus memecahkan rekor gak ketemu keluarga besar di hari raya untuk pertama kalinya. Bakal kangen sama THR om-om dan pakde-pakde, pecel dan segala perlengakapan perangnya, sate kambing, opor ayam, bakso bikinan Bulik, es campur dan segala macem hidangan yang selalu ada dikala idul fitri.

Terlepas dari segala hingar bingar ritual perayaan idul fitri dan komplementarinya, -yang jelas akan membuat saya benar-benar homesick di kala lebaran-, menjalankan ibadah puasa di negeri orang adalah hal yang saya syukuri sebenarnya. Saya merasa ibadah saya disini jauh lebih greget dibandingkan kala di Indonesia. Disini, saat puasa seperti ini, tidak ada privilege yang umat Muslim dapatkan. Jadwal kuliah dan masuk kantor tetap, warung-warung makan dan store chayen gak bakal ditutup tirai, orang-orang pacaran segala jenis rupa (cewe-cewe; cowo-cowo; maupun yang normal, cewe-cowo) yang mengumbar kemesraan depan umum terus ada seperti biasa, jadwal bayar apartemen tetap… dan revisi tesispun tetap gak ada keringanan. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan panas ekstrim tiada ampun masih berasa (padahal udah musim hujan T__T)

Tidak seperti ketika di Indonesia, dimana bahkan sebulan menjelang bulan ramadhan, iklan-iklan sirup dan sarung sudah bertebaran di televisi, gosip-gosip selebriti menjadi lebih syar’i, sinetron televisi berubah jadi tontonan religi. Itu sebelum ramadhan lho. Ketika ramadhan tiba, lebih heboh lagi. Semua warung makan bertirai, artis-artis tiba-tiba secara ajaib menjadi lebih religius, masjid-masjid penuh sesak, dan sepanjang jalan setiap sore tiba-tiba dipenuhi oleh penjual jajal dan takjil. Rame binggo.

Disini, kami menjalani ibadah puasa dalam sunyi. Tidak ada atribut apapun menyambut ramadhan untuk kami. Hanya di sedikit lokasi yang membuat kami menyadari, bahwa kami tidak sendiri. Hanya di masjid, surau… dan KBRI… Saya, benar menikmati ramadhan tahun ini. Sungguh, inilah ramadhan kejayaan bagi saya. Bisa ibadah sepuas hati dan aktivitas sehari-hari tetap tidak terganggu. Tidak ada undangan buka bersama, tidak ada ajakan ngabuburit foya-foya, dan tidak banyak distraksi lainnya yang mengganggu ibadah dengan dalih ‘silaturahmi’ (sepertinya kini saya cenderung menjadi orang yang anti-sosial sih sebenarnya. Betapa sendiri dan jauh dari orang-orang itu nikmaat sekali. Hahaha) 

Ini murni curhatan dan cerita saya sih. Sejujurnya, ketika di rumah, gak tau kenapa saya merasa ga maksimal memanfaatkan ramadhan. Akan ada buanyaaak (ga cuma banyak ya, tapi buanyaaakkkk) undangan buka bersama. Dari temen TK sampe temen seangkatan kuliah. Dari mantan gebetan sampai teman kantor. Dari yang undangan di warung lesehan sampai hotel berbintang. Rasa-rasanya dalam 30 hari, bisa diitung pake satu tangan, berapa kali saya buka dirumah. Nah biasanya habis buka bersama ini, kemudian saya akan lebih memilih untuk ngobrol dan nongkrong bareng temen-temen sampe larut malam yang kemudian bikin saya jarang tarawihan. Sampe rumah udah tengah malam, jarang ngobrol sama keluarga, dan juga males-malesan bangun sahur (ketinggalan lagi pahala sahur dan tahajudnya). Paginya, karena ramadhan, jam masuk kantor jadi molor, di kantor pun atmosfer kerjanya jadi agak gak kondusif karena semua staf pada ngantuk (hahaha). Dengan alasan bulan ramadhan juga, cari data ke pemprov dan pemkab juga jadi agak terhambat (ini pengalaman saya banget -_-). Sorry to say, tapi saya merasa kadang jadi super kontraproduktif justru ketika bulan ramadhan tiba. Not to mention tentang duit yang abis juga buat bolak balik buka bareng. Hal-hal demikian inilah yang baru benar-benar saya sadari ketika saya menjalankan puasa disini, yang jauh dari hingar bingar dan berbagai macam undangan yang berujung pada terkurasnya isi dompet. Haha. Disitulah letak terbesar syukur saya jadi minoritas, menjadi orang yang berpuasa dalam sunyi.

Ramadhan yang sejatinya adalah bulan istimewa, dimana kebaikan dikalilipatkan, pahala digandakan, berkah Allah berserakan mulai dari sepiring nasi di kala sahur sampai  sedikit receh yang dimasukkan dalam kotak amal masjid, sudah seharusnyalah dimaksimalkan untuk meraup sebanyak-banyaknya pahala dari Allah, bukan justru bermanja-manja dan jadi males-malesan dengan dalih lemes karena ga makan seharian. Saya ga ngomong on behalf of Indonesian Muslim loh ya, ini murni pengalaman dan refleksi pribadi saya ketika menjalani ramadhan di rumah dan dsini. Salam damai

——

Pada akhirnya, puasa bukan hanya tidak makan dan minum. Puasa adalah latihan menumbuhkan empati, menahan diri dari segala kesenangan duniawi, dan momentum untuk mendekatkan diri pada Illahi. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang terjaga puasanya, tidak justru boros harta dan kemaksiatan. Amin.

——

Ini adalah doa pribadi yang dipublish: semoga ramadhan tahun depan saya tidak lagi di Bangkok (maupun di Indonesia). Semoga bisa merasakan ramadhan selanjutnya di negeri yang lain. Eropa, misal. Atau jauh ke benua Amerika. Atau Afrika. Dimanapun, karena somehow, saya menikmati menjadi minoritas. Syukur-syukur ramadhannya bisa berdua sama suami. Ikut suami sekolah atau jadi research fellow dimana gitu. Aduh mak, kejauhan. Pacar aja kaga punya 😦 Bodo amat. Pokoknya resolusi tahun depan: ramadhan berdua di negeri yang jauuuhhh dari negri asal! HAHAHAHAHA. Amin Amin ya Rabbal alamin… Hihihi