Studi di Thailand (Part 2): Bertahan hidup dengan kerja paruh waktu*

Hai ! butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan niat buat nulis lagi. Distraksi di dalam negeri dasyat, bikin males-malesan ehehehehee. Oke, berikut aku coba share sedikit pengalaman studi pas di Thailand ya. Kali ini tentang strategi bertahan hidup dengan kerja paruh waktu. Sebenernya ini tulisan untuk IM (Indonesia Mengglobal), tapi karena yang nulis disana kelasnya kaya kak Maudy Ayunda, dan berhubung daku tahu diri, mending daku terbitin disini aja deh. Hahahaa.

—————–

Bukan merupakan hal yang sulit saat ini untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berbagai informasi tawaran beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, instansi/ lembaga tertentu, maupun pemerintah negara lain bisa ditemukan dengan mudah dan menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di negeri lain.

Meskipun demikian, tidak semua lembaga penyedia dana memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa menyediakan biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, dan ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dome building

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi nimba ilmu di negeri orang, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu selama disana

Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Thailand

  1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di ibu kota Negeri Gajah Putih itu dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi. Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas pergaulan dan jaringan kita.

Saya sendiri, pada akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu menjadi guru mengaji untuk seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun (kelas 2 SD) yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang Ia banyak menanyakan pertanyaan kritis, tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing. Oleh karenanya, tak jarang sebelum saya mengajar, saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini tentu menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, saya juga belajar banyak dari murid saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016 di KBRI Bangkok bersama Dubes
  1. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di Sekolah Internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Di Thailand sendiri, permintaan pengajar bahasa Indonesia cukup tinggi karena Thailand adalah negara yang masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata ajar Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di jurusan Southeast Asia Studies (untuk S1) dan ASEAN Studies (S2), tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, Teaching Assistant, maupun native yang diminta untuk menguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Tentu saja ini merupakan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain memperluas pergaulan dan jaringan pertemanan, kamipun mendapatkan honor yang layak dari dosen dan saya juga belajar banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang tak jarang banyak berkomentar mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan filem dan lagu Indonesia. Dengan begini, saya dapat lebih memahami Negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

  1. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik di acara KBRI maupun di acara yang diadakan oleh kampus maupun instansi lainnya. Karena upaya itu, tak jarang mereka mendapatkan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun, rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Tentu acara ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.

Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk ”unjuk gigi”, baik dengan melakukan performance budaya negaranya maupun menjual makanan/ masakan khas negara asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thammasat University International Night, 2016
TU International night 2014
Thammasat University International Night, 2015
  1. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain. Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan expertise dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya

  1. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga. Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Talingchan trip while studying Bahasa
Piknik wkwk

Hal-hal diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan (untuk bersekolah di luar negeri) tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang kurang memadai.

*Tulisan untuk http://www.indonesiamengglobal.com sebelum digubah 

Study in Thailand (part 1)

*mengingat kelabilan si blogger, doakan semoga akan ada part 2 dan selanjutnya. Berdoa dimulai…..*

——

Sembari menunggu feedback dari revisi tesis yang udah kelar ((((IYA UDAH KELAR COY)))), saya mau iseng nulis sesuatu yang mungkin tidak ada gunanya bagi seluruh pemirsa deh ya. Jadi gini, saya lagi kuliah di Bangkok nih (udah mau kelar, lebih tepatnya), dan akan dengan senang hati membagi pengalaman untuk temen-temen yang berminat melanjutkan studinya di Negeri Gajah Putih ini yaa…

Ngapain kuliah di Thailand sih? Bukannya di dalam negeri banyak yang lebih bagus ya?

Yups. Negara kita juga punya banyak universitas yang bagus-bagus kok, kenapa harus susah-susah sampai Thailand? Secara kualitas, beberapa universitas di Thailand dan Indonesia itu 11-12 ya, tapi ada banyak juga universitas di Thailand yang ternyata lebih unggul dari universitas di Indonesia. Salah satunya bisa dilihat dari beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang mendidikasikan diri sebagai assesor independen untuk kualitas universitas di seluruh dunia. Salah satunya adalah QS Top Universities Survey. Survei terakhir di tahun 2016 yang me-rank universitas di Asia menunjukkan posisi beberapa universitas di Thailand lebih unggul daripada di Indonesia. Tiga universitas Thailand teratas, Chulalangkorn University menduduki ranking ke 45, disusul Mahidol University (61) dan Thammasat University (101). Sedangkan tiga universitas di Indonesia terunggul yaitu Universitas Indonesia (67), Institut Teknologi Bandung (87) dan Universitas Gadjah Mada (105) [dan bahkan Chiang Mai University aja diatas UGM, dengan ranking 104, aku sedih]. Beberapa indikator yang dipakai dalam survei ini antara lain Academic Reputation, Employer reputation, proportion of international faculty and international students, dan citation per paper. Kalau selama pengalaman saya kuliah di dua univ (UGM dan Thammasat), saya secara subyektif berpikir kalau kita (UGM atau universitas lainnya di Indonesia) itu kalah di paper dan international faculty nya ya. Selama jadi anak gaul Thammasat, saya kenal dengan buanyaaakkk banget mahasiswa internasional, baik yang cuma exchange atau emang foreigner yang ambil studi di Thammasat. Sedangkan pas S1 di UGM (yang notabene 4 taun lebih), ga ada lebih dari 5 orang mahasiswa internasional yang aku kenal. Dan juga, budaya menulis dan publikasi kita cukup lemah kalau dibandingkan dengan Chulalangkorn atau Mahidol misalnya. Dana riset, academic workshop, international conference, publikasi dll disini jor-joran dan ga tanggung-tanggung untuk mendukung riset ilimah dan publikasi internasional.

Hal lainnya juga, ada beberapa program studi di Thailand yang memang lebih unggul atau bahkan ga ada di Indonesia. Contohnya prodi saya ASEAN Studies atau Southeast Asia Studies. Di Indonesia, kalau saya mau ambil konsentasi Asia Tenggara, major saya pastilah Hubungan Internasional (HI), baru minornya studi Asteng. Kalau disini, Asteng langsung jadi major, jadi begitu masuk kuliah semester pertama, langsung konsentrasi ke studi Asteng. Contoh lainnya, teman saya di Mahidol yang mengambil jurusan Prostotik Orthotik (sumpah aku gatau cara nulisnya yang bener gimana), pada intinya ini adalah jurusan spesialis bikin tangan dan kaki palsu. Belum ada di Indonesia. Di Mahidol, jurusan ini salah satu yang terbaik se Asia.

Selain alasan idealisme mengenai reputasi universitas dan pilihan prodi yang lebih unggul, alasan pragmatis nya adalah: kita kuliah di luar negeri coy. Hahaha. Walaupun luar negerinya cuma 3 jam dari Jakarta. Tapi ini jadi salah satu  nilai plus dan bahan pertimbangan kalau nanti kita mau ngelamar kerja atau jadi dosen. Katanya sih gitu…

Gimana gaya hidup disana? 

Asik coy. Hahaha. Karena kedekatan wilayah dan budaya, jadi kita ga perlu susah-susah ngalamin yang namanya cultural shock. Orang-orangnya mirip sama orang-orang kita, dan saya jamin 10x lebih ramah dari orang-orang kita (Jakarta terutama) haha. Untuk cuaca juga ga beda-beda amat, cuma disini emang jauh lebih hot sih ,terutama di bulan April. Ampun ampunan. Bisa mencapai 40 an derajat lebih. Makanya tengah bulan April setiap tahun, selalu ada festival water war alias Songkran. Dimana semua orang bebas main air sampai masuk angin. Orang yang ga niat basah mending diem dirumah aja, soalnya begitu keluar dan disiram air, aturan utamanya adalah: pasrah dan jangan marah. Asik pokoknya.

Itu cuaca ya, sekarang living costs. Jadi sebenarnya, harga barang-barang di Thailand itu sama aja kok kaya di Indonesia (bagian barat ya hehe). Diantara kota lainnya, emang Bangkok yang lebih mahal sih living costs nya, 11-12 lah sama Jakarta, terutama akomodasi ya (flat/apartemen). Kalau makanan, kurang lebih sama lah kaya Jakarta. Sekali makan di warteg pinggir jalan berkisar antara 40-70 an Baht (sekitar 16 ribu-28 ribu). Kalau di restoran ya sekitar 70-ratusan baht, tergantung tipe restaurannya. Oiya, untuk yang muslim, emang agak repot kalau cari makanan yang halal di Bangkok. Dan sekali nemu warung makan/ restaurant Halal, biasanya harganya sedikit lebih mahal dari warung makan/ restauran yang biasa. Jadi, selama ini saya sih biasanya masak aja, harga sayuran, bumbu-bumbu dan seafood murah kok, jadi selain ngirit, halal dan thoyyib juga. Hehehe. Oiya, FYI, kemampuan saya masak terupgrade sampai 500% semenjak saya disini *ga penting*

Bisa travelling ga selama belajar disana?

Oh bisa banget dong. Buat temen-temen yang beasiswanya lumayan dan menerapkan prinsip hidup sederhana, bakal nyisa banyak buat travelling, either di dalam negeri maupun luar negeri. Ya gimana, secara Thailand itu jalan dikit mentok Myanmar, lari dikit nyebrang Laos, Malaysia. Deket semua brow. Mau ke luar negeri yang agak jauh kaya Jepang atau Korea juga jauuuuhhh lebih murah dari Bangkok dibandingkan dari Jakarta. Semenjak piknik menjadi salah satu kebutuhan pokok selain sandang pangan papan dan pasangan, tiket LC A*r A*ia bisa selalu jadi alternatif buat kalian yang mau travelling jauh dengan budget yang terbatas. Jadi selama semester break, bagi yang belum homesick, sangat disarankan untuk pergi-pergi piknik. Study hard, travel harder.

Denger-denger banyak ladyboy ya?

Ini gak ada hubungannya sih, tapi ya untuk FYI aja lah ya. Hahaha. Jadi, Thailand emang surga untuk kaum LGBTI nih gaes. Salah satu negara di Asia yang amat toleran dengan keberadaan mereka. Secara legal formal memang Kerajaan Thailand tidak melegalkan same-sex marriage, tapi secara sosial, penerimaan masyarakat terhadap kaum ini sangat terbuka dan baik. Bahkan, salah satu majalah luar negeri pernah menempatkan Thailand sebagai the only Asian city included on lists of gay-friendly tourist destination around the world. Mungkin kalau urusan diskriminasi, itu selalu ada ya, tapi tidak sampai pada level ekstrim (pada beberapa segi aja, misal pekerjaan, hak nikah dan edukasi, dll). Alhasil, fenomena transgender dan same-sex love ini berkembang mengerikan disini.

Dulu awal-awal disini masih sering kecele, kalau pas jalan di Mall atau di tempat rame. Ngeliat embak-embak tinggi semampai, cantiknya kaya Dian Sastro, putih mulus kaya pahanya SNSD, pakaiannya kaya Pamela Anderson, selalu berdecak kagum. Ada ya ciptaan Tuhan segini sempurnyanya, eh abis itu baru dah tau, mostly orang-orang model begituan adalah transgender alias yang tadinya cowo! ya ga semuanya sih. Tapi mostly (((mostly)))

——

Hmm apalagi ya. Udah itu dulu deh ya, saya mau lanjut masak deh abis ini. Semoga besok besok masih bisa dilanjutkan. Syemangat

Unpredictable Trip to Japan –” (3)

Hai hai, salam dari kursi pojok ASEAN Corner, Pridi Banomyong Library. Niatnya disini mau gugling tugas, tapi apa daya masih pengen nyampah-nyampah geje nih. Terusin dulu deh ya sharing pengalaman waktu di Jepangnya. Muehehe.

6. Too much buttons. Watch out! Ini salah satu faktor yang memudahkan mengidentifikasi mana orang dari negara berkembang dan mana orang dari negara maju. haha. Semuanya serba otomatis dan serba tombol. Bikin setres -___- Mba Aya adalah salah satu saksi cultural jetlag ini. Begitu mendarat di bandara dan mau ke kamar kecil, bukannya menuntaskan yang harus dituntaskan, malah sempet ambil kamera untuk motoin tombol-tombol di sekitar kloset. Di kamar mandi aja, bahkan ada tombol khusus kalau mau nyalain musik instrumen. Di penginapan kami (yang bisa dibilang sederhana) aja, semua peralatannya mesinisme (halah). Alias otomatis. Alias bertombol. Mba Aya (lagi-lagi jadi saksi cultural jetlag ini), di dapur kami yang sederhana di penginapan kami, bahkan mau nyalain rice cooker dan water heater aja ga bisa saking buanyaknya tombolnya. Muahahaha. Semua serba mesin dan otomatis. Vending machine dimana-mana. Dari mulai ngejual minuman, rokok, eskrim sampe ngejual mainan, berceceran dan buanyak sekali ditemui dimanapun di Kyoto. Dan yang paling bikin kagum tentu saja : mesin-mesin itu maintenance nya bagus, ga ada yang bobrok, produk yang sold out langsung diganti, ga ada coret-coretan di mesin apalagi sekrup yang ilang karena dicolong orang. Ga ada. Para pengusaha di negara maju seperti Jepang bisa dipahami akan lebih memilih untuk bikin usaha macam gitu, pake mesin. Semua bermesin. Karena lebih efisien. Maklum,upah kerja di sektor jasa (meskipun sektor jasa informal) sangat mahal. Tidak ada unskilled labor yang bisa dibayar murah cuma buat nungguin warung kecil atau supermarket. Mereka mematok upah yang tinggi untuk itu. Dan kebanyakan memang orang-orang yang kerja di bidang seperti itu adalah part timer dari kalangan mahasiswa yang cari tambahan uang saku. Sangat mudah sekali cari part time di Jepang, lowongan kerja paruh waktu bertebaran dimana-mana, dan gaji mereka pun ga main-main. Guedee. Seorang teman mahasiswa Univ Kyoto yang kerja sebagai part timer di supermarket dan perpus bilang ke saya, kalau cari kerja paruh waktu di Kyoto amat sangat mudah sekali. Tinggal milih mau kerja sebagai apa. Mau di toko, di kampus, di tempat pariwisata. Mau kerja cuma ngandelin otot, otak, atau otot dan otak, semuanya ada. Dan gajinya pun ga main-main. Dia bilang perjam nya dibayar 800 Yen (atau sekitar 90 ribu rupiah) atau kalau pas di supermarket dan kebagian full time, dibayar 8000 yen (atau sekitar 900 ribu rupiah (untuk kira-kira 7/8 jam kerja). Jumlah yang lumayan kan, pun untuk hidup di Jepang. Continue reading “Unpredictable Trip to Japan –” (3)”

Unpredictable Trip to Japan –” (2)

Kemarin rencananya mau ngeposting banyak tentang Jepang, kehidupan disana, orang-orangnya sampai suka dukanya ngerasain jadi “temporary visitor” atau “temporary citizen”, terutama di Kyoto. Tapi oh tapi adaa aja halangannya mau nulis. Dari mulai jadwal kuliah yang padet banget di Kyoto, langganan wifi yang dicabut di apartemen Bangkok, hingga tugas dan paper yang menumpuk setelah balik dari sono, kehidupan duniawi untuk sementara tercerabut. What a rush week!

Hidup di Jepang, untuk banyak orang mungkin menjadi sebuah impian, dan termasuk saya, salah seorang yang benar-benar kagum dengan -every-single-things-that-I-felt-I-smelt-in-Japan. For sure. Tapi ampun ampunan deh, untuk orang yang etos kerja dan gaya hidupnya masih ala-ala orang asia tenggara yang semuanya serba biasa-biasa aja (including me, of course) kayanya bakal kepentok-pentok di awal untuk bisa menyesuaikan dengan gaya hidup dan etos kerja mereka. 10 hari disana bener-bener membuka mata, hati dan pikiran : kalau mau maju emang harus punya gaya hidup yang “beda” dari biasanya.

Berikut beberapa fakta tentang Jepang dan kehidupan di dalamnya yang saya peroleh selama 10 hari tinggal disana : (kalau ada yang ketinggalan maklum, namanya kenangan, kadang hilang dan timbul dalam pikiran dan terkadang datang di saat yang tak terduga *ini apasih*)

1. Orang Jepang tepat waktunya ga nguatin. Iya, ternyata bukan legenda, apalagi mitos saudara-saudara. Orang Jepang memang sudah terkenal dengan betapa mereka sangat menghargai waktu, dan baru setelah disana saya benar-benar menyaksikan (dan bahkan menjadi korban akannya) ketepatwaktuan orang Jepang. Untuk mereka, tepat waktu dalam bekerja bukanlah datang/ masuk kerja sesuai dengan jam yang telah ditetapkan, tapi setidaknya 5 menit sebelum waktu yang telah ditetapkan. Hampir setiap hari saya masuk pukul 10.00, dan ketika 09.55 belum juga sampai di kelas, siap-siap menghadapi kemurkaan Ajahn (panggilan dosen di Thailand), karena setidaknya 10 menit sebelum kelas dimulai, Sensei (panggilan dosen di Jepang) sudah datang dan mempersiapkan slide presentasi. Dan itu berlaku ga cuma di dunia akademis kaya kampus atau dunia kerja profesional, tapi di semua sendi kehidupan di Jepang. Semua orang tepat waktu. Gak heranlah negara ini bisa bangkit dengan sangat cepat pasca ambruk dan luluh lantah 1945 lalu, semangat perjuangan masih (dan akan tetap) mengalir di darah setiap orang Jepang 🙂

2. Transportasi publik yang kece. Sudah terkenal (juga) betapa negara ini adalah salah satu negara dengan public service terbaik di dunia. Yupz, sebagai temporary citizen, saya jelas hampir setiap hari mengakses yang namanya bus, kereta, subway dan berbagai macam transportasi publik lainnya. Paling sering sih bis, dan ini bisnya Masya Allah bis terkece yang pernah tak naikin (atau akunya yang terlampau ndeso, aku gatau juga). Mulai dari terminal/ bus stop nya (yang selalu ada wifi gratis, wuhuuuu), armadanya sendiri, sopir bisnya (yang keren abis karena pake seragam dan berjas, pake topi kaya polisi, pake masker dan sarung tangan, udah kaya penganten lah dandannya) sampe cara dan sistem pembayarannya yang udah canggih masya Allah *ngelus dada* *dadanya Adam Levine*. Daan yang paling mengesankan tentu saja di bagian servicenya. Bis kota sangat mudah diakses, jumlahnya banyak, informasinya dimana-mana (apalagi untuk turis) dan yang paling pokok dan bener-bener mengesankan adalah : (sekali lagi) tepat waktunya. Masya Allah, bahkan sampai ke menit-menitnya, bis ini ga pernah molor atau kecepetan barang 5 menit aja. Jadi, di informasi dan di halte bisnya udah terpampang jalur berapa, datengnya jam berapa (dan menit nya juga), jadi kalau telat 5 menit aja dari waktu bis dateng, bisa dipastikan kita ketinggalan bis dan harus nunggu bis selanjutnya (FYI, di Kyoto bis ga ada jalur khusus kaya transJakarta, makanya saya kagum sekali mereka bisa sangat tepat waktu, perkiraan saya, pada rushing hours pun mereka udah itung kemungkinan molor gegara macetnya). Pokoknya hari pertama dan kedua pakai bis disana berasa banget cultural shock nya. Keren. Salut. Speechless.

3. Kota nya yang superteratur. 10 hari disana sih cuma bisa ngerasain Kyoto dan Osaka. Tapi insya Allah dua kota itu sudah merepresentasikan Jepang secara utuh. Orang-orangnya yang teratur dan disiplin ditambah dengan transportasi publik yang juga mengesankan merupakan perpaduan yang tepat untuk membungkus dan mengemas kota-kota ini menjadi kota yang amat sangat layak dihuni (liveable and loveable city). Saya termasuk orang yang amat sangat susah (bahkan ga bisa) membaca peta, tetapi kalau melihat peta Kyoto, saya jadi sedikit paham dan gak terlalu hilang arah. Jarang banget ada jalan-jalan kucing/ shortcut yang mbelok-mbelok gak jelas kaya di Jogja gitu. Semua jalan ada di peta, dan hampir semuanya sangat mudah dipahami. Pokoknya untuk awam seperti saya, membaca peta Kyoto tak serumit menebak isi hati kamu… eaaa *gubrak

4. Pariwisata yang dikemas sedemikan menarik. Satu lagi yang menarik di Kyoto yakni pariwisatanya. Kyoto sering disandingkan sebagai sister city nya Jogja. 11 12 gitu lah karena merupakan kota budaya, pusat pariwisata dan banyak pelajar tinggal disana. Kalau di Jogja kita punya candi Prambanan, Borobodur (secara administratif sih emang bukan milik Jogja ya), Malioboro dan Kraton Yogyakarta, di Kyoto mereka juga punya tempat wisata andalan seperti Kinkakuji Temple, Yasaka Shrine, Kiyomizu Dera temple dan lainnya. Yang menarik adalah, ketika saya pribadi mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut, ternyata… obyek wisata nya tidak semengesankan yang saya bayangkan sebelumnya. Kinkakuji Temple atau yang yang terkenal dengan the Golden Temple misalnya, pikir saya adalah seperti sebuah masterpiece yang aduhai banget, tapi ternyata setelah sampai disana ya kesan saya.. oh oke, bagus, cantik.. tapi habis itu ya.. udah biasa aja. Berbeda dengan Borobudur atau Prambanan yang aduhai emang bagus banget dari lahir (lah). Temple nya pun karena di Kyoto lebih banyak Shinto Temple, jadi bentuk dan warnanya ya gitu-gitu aja.. Tapi yang saya kagumi dari pariwisata disini adalah.. bahwa pemerintah (bareng dengan private sector, mungkin) mengemas pariwisata di Kyoto dengan luar biasa. Promosi yang dilakukan, service yang diberikan, hingga berbagai kemudahan dan fasilitas yang diberikan untuk para turis membuat obyek wisata yang “sebenernya biasa-biasa aja (dimata saya)” ini menjadi sebuah destinasi wisata yang luar biasa bagus dan berkesan di hati para visitors. Salut luar biasa.

5. Budaya jalan kaki. 22 tahun saya hidup di Yogyakarta dengan segala fasilitas yang diberikan orang tua, mix dengan kesemrawutan kota Jogja, membuat saya sangat jarang jalan kaki jauh-jauh (apalagi pakai transportasi umum, karena emang transporastasi publik di Jogja jelek banget). 3 minggu saya hidup di Thailand ditambah 10 hari di Jepang menjadi titik balik itu semua. Kemana-mana kudu jalan dan naik bis. Biasanya orang jalan kaki/ pub transport user itu adalah orang yang tidak punya kendaraan pribadi, di Jepang itu semua SALAH TOTAL. Semua orang, mau dia kaya, miskin, mau dia bos, karyawan, pelajar atau dosen, berjas dan dasi atau gembel. SEMUA JALAN KAKI. Salut luar biasa. Mereka produsen utama kendaraan bermotor (Honda, Suzuki, Yamaha, dll) tapi warganya memilih jalan kaki kemana-mana dan pakai kendaraan umum. Di Jogja atau Jakarta, gak akan mungkin menemui mbak-mbak seksi dengan heels 15 cm mau berjalan kaki jauh atau naik bis umum, atau bos-bos berdasi setara dengan Harry Tanoesoedibjo yang mau naik subway. Mereka semua punya dan memakai kendaraan pribadi, for sure. Tapi di Jepang, gak ada cerita seperti itu. Orang berdandan bos, artis, pelajar, gembel, profesor, semuanya adalah pejalan kaki, bertebaran dimane-mane. MEREKA SEMUA ADALAH PEJALAN KAKI *duh emosional banget tetiba capslock On sendiri*. Mereka adalah pejalan kaki, pengguna transportasi umum, mereka berjalan bersama, beriringan dengan orang dari berbagai kelas sosial yang berbeda. Dan mereka tidak pernah merasa ada yang salah dengan itu semua. Pejalan kaki di Jepang adalah raja. Di setiap pengkolan (apa sih bahasa Indonesianya), perempatan, pertigaan, mau persimpangan yang rame ataupun yang sepi, selalu ada rambu-rambu untuk mengutamakan pejalan kaki. Jadi bisa dibilang, kalau pakai kendaraan pribadi di Jepang, akan banyak setresnya, karena setiap pengkolan mereka mesti ngalah sama pejalan kaki mehehehe *beda dengan pejalan kaki di Jogja yang selalu setres karena malah diklakson2 sama bis sama motor –* Itu kali ya salah satu faktor yang bikin orang-orang lebih milih untuk pakai kendaraan umum dan jalan kaki aja, selain juga karena harga BBM di Jepang muahalnya rek.

Daaan.. masih buanyak lagi sebenernya. Tapi ini udah pukul 18.06 waktu Thailand Raya haha, jadi kayanya disambung lagi deh ya besoknya (insya Allah besok nulis lagi, amin ya Alloh) haha. Oke oke, selamat mencari inspirasi lagi untuk presentasi minggu depan. Swadeekhaa 🙂

P1050727
Kagum. Selain karena tasnya yang couple, mereka juga pejalan kaki. Semuanya Jalan 🙂
P1050683
Nama temple nya lupa, yang jelas ini di Fushimi-Inari, lokasi yang sama di tempat shooting filem Memoir of Geisha
Bus Stop di Kyoto Station
Bus stop di Kyoto Station. Bahkan mau naik bis pun, user kudu antri 🙂
Salah satu sudut kota Osaka
Salah satu sudut kota Osaka