When You’re Gone

Hari itu, tepat 5 tahun aku mengenalmu. Dan 2 tahun yang lalu, saat hati kita berdua menyatu. Aaah, mengenalmu adalah sebuah anugerah, dan kini, nanti, selamanya, mencintaimu adalah sesuatu yang indah. Baju terbagus telah aku kenakan, hadiah yang indah juga telah aku sediakan. Pokoknya hari ini adalah hari yang spesial.

Setibanya di lokasi ‘janjian’ kita, aku tidak sabar menantimu dengan gaun itu, gaun yang selama ini membuatmu semakin menawan.

“Hai, aku datang, dan kali ini tidak telat lagi seperti kemarin. Hehe. Aku bawakan sesuatu yang pasti kamu suka.” Aku mengatakan sembari mengeluarkan sebuah album. Album kita. Semua tentang kita.

“Aku gak bisa nahan ketawa kalau lihat ini. Coba kamu lihat deh”. Dan Ia memang pendiam. Aku tahu dibalik temaramnya malam, ia tersenyum.

“Dias, aku cinta. Aku sungguh aku mencintaimu dari lubuk hatiku. Kamu tahu kan?” aku tersenyum kearahnya.

Aku berikan bunga yang aku bawa kepadanya. Aku bersihkan rumah barunya. “Aku sudah pernah mengatakannya bukan, Dias.. aku mencintaimu”. Setidaknya aku pernah mengatakannya, sebelum Ia benar-benar pergi dari dunia ini….

“Aku tahu kamu tahu itu, tapi tahukah kamu, betapa cinta ini juga telah berangsur-angsur membunuhku. Aku tidak pernah tahu, bahwa kehilangan bisa berarti sangat banyak. Membunuh sebagian sel-sel hidup, yang membuatku seolah menjadi sesosok zombie. Yang hidup, tapi sebenarnya mati… Aku mencintaimu… dan sangat kehilanganmu…. “

*Cerpen untuk kuis #FF2in1

Bertahan

Menjagamu adalah tantangan, mencintaimu adalah pilihan. Sudah bertahun-tahun hubungan ini mati-matian aku pertahankan, hanya untuk satu, membuatmu menyadari bahwa ada seseorang disini yang benar, tulus mencintaimu dari hati yang terdalam.

“Kamu gak bisa terus-terusan seposesif ini. Gini-gini juga aku punya kehidupanku sendiri!” Ia mengatakannya dengan keras, sekeras hatinya yang kini membatu, tepatnya sejak dua tahun lalu

“Aku gak pernah mencoba membatasi kehidupanmu Ri, ini juga demi kebaikan kamu” mati-matian aku mempertahankan nada suaraku yang semakin meninggi. Ia kini berbeda dari Riana yang dulu aku kenal. Yang selalu periang, ceria, banyak cerita dan sedikit cablak. Ia kini jauh jauh berbeda dari Ia yang dahulu, kini ia pembangkang, pemarah dan tidak mau diatur. Aku sendiri sebagai orang (yang aku rasa) paling dekat dengannya tak bisa berbuat banyak. Aku tidak mau ia membenciku, tapi aku juga tidak ingin dia mendapatkan kehidupan yang salah diluar sana.

“Aku gak akan biarkan sesosok apapun menyakitimu.” Aku biarkan mataku yang berbicara padanya. Aku tidak pernah bisa lagi membuatnya menjadi anak yang manis, Ia kini telah dewasa. Aku tahu itu, dan itu artinya aku harus super hati-hati mengatakan apapun padanya.

Namun sepertinya Ia tidak lagi hirau, ia melengos begitu saja. Keluar dari rumah dan bergegas pergi ke suatu tempat yang aku tidak pernah tahu dimana.

Ya Tuhan, tidakkah dia dapat merasakan kasih sayangku yang berlimpah yang aku berikan padanya? Aku hanya ingin Ia tahu, aku begitu mencintainya, sama bahkan lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Aku tidak ingin Ia tersakiti, bahkan oleh ranting-ranting yang jatuh dari dahan-dahan pohonnya. Aku ingin menjaganya, sama seperti aku menjaga kehormatan diriku sendiri. Aku ingin memeluk erat dirinya, menunjukkan betapa hati ini telah aku serahkan separuhnya untuk ia isi. Namun, pribadi yang dulu tak akan pernah kembali aku rasa. Tragedi dua tahun lalu mengubah segalanya..

Oh Rianaku yang dulu, kemanakah engkau pergi? Apakah jiwamu yang dulu juga telah ikut mati bersama jasad ayah dan ibu kita? Maafkan aku, aku hanya sedang mencoba menjadi kakak yang baik untukmu, untuk ayah dan ibu kita…

*cerpen untuk #FF2in1

Terlambat

 

*ini tulisan untuk ikutan tantangannya nulisbuku.com #FF2in1 (Flash Fiction 2 in 1), dan kebetulan tema untuk kesempatan kali ini adalah “Pupus” (dewa 19) -> cerita ditulis dalam waktu 30 menit! hahaha*

—–

Ingatan lima belas tahun silam terbersit kembali dalam memori, masa dimana Aku dan Rinda kecil bermain-main tanpa beban. Ayunan dan tanah lapang tempat kami bermain masak-masakan atau polisi-polisian menjadi saksi bisu persahabatan kami dari kecil. Namun, kini sepucuk surat bersampul pita warna ungu muda itu seolah menghancurkan segala-galanya. Ya, aku telah menerima undangan pernikahan Rinda dengan seorang pemuda yang bahkan belum terlalu aku kenal sebelumnya. Laki-laki super beruntung itu adalah teman satu kampus dengan Rinda di Yogyakarta. Aku hanya bisa membisu, memandangi surat itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini padanya, dan Ia tanpa ada pertanda apapun, memupuskan harapanku menguntai mahligai pernikahan dengannya.

“Aku senang kamu kembali ke Indonesia tepat waktu, aku sengaja tidak memberimu kabar selama ini. Aku pikir ini akan menjadi sebuah kejutan besar”
“Iya Rin. Aku kaget, kamu berhasil mengejutkanku. Selamat” kataku dengan senyum getir.

Selama ini aku memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku secara langsung padanya, hal ini bukan karena aku tidak serius, namun karena aku ingin sekali memberikan sesuatu yang tidak pernah terlupakan untuknya. Aku ingin mengungkapkan cinta padanya, di tempat dan waktu yang tepat. Bukan kemarin-kemarin ketika aku belum jadi apa-apa. Beasiswa yang menerbangkan aku untuk kuliah di Belanda adalah batu loncatan pertama yang ingin aku taklukkan, barulah setelah aku lulus aku ingin melamarnya. Ya, bukan hanya untuk menjadikannya pacar atau apapun yang bersifat ‘semu’. Namun ternyata Ia tidaklah sepeka yang aku pikirkan walaupun kami sudah bertahun-tahun bersahabat. Aku tidak pernah mengerti perasaan perempuan, benar-benar tidak mengerti. Ternyata dia tidak paham apa yang aku rasakan. Oh rasanya…

“Kamu datang ya. Tidak ada alasan untuk absen pokoknya” katanya lagi
“Oke, doakan aku sehat”
“Aku akan marah seumur hidupku kalau kau tidak datang”

Aku tersenyum lagi. Bagaimana mungkin aku bisa menyaksikan wanita yang selama ini aku cintai berdampingan dengan lelaki lain, mengikat tali suci pernikahan. Apakah aku kuat melihatnya? Aaah seharusnya aku tidak usah pulang sekalian, mencari istri di Belanda dan hidup bahagia disana. Aaaahh rasanya ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.

“Kamu tahu, kehadiranmu adalah yang paling beharga untukku. Di hari yang paling penting, jika kau tak datang, aku tidak tahu bagaimana kacaunya perasaanku nantinya” katanya

Aku menghela nafas panjang… bagaimana bisa Ia berbicara seperti itu pada lelaki yang bukan apa-apanya –kecuali hanya sahabat kecilnya-, aah kadang hal-hal seperti itu yang tidak aku suka pada diri Rinda, Ia seperti sangat ringan mengucapkan hal-hal yang membuat aku melambung. Mungkin itulah yang selama ini membuatku pede untuk tidak menyatakan cintaku padanya. Aku kira ia mencintaiku, sama seperti bagaimana aku mencintainya.
“Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan…”

Kata-kataku terpotong, aku seperti hendak mengucapkan untaian kalimat yang selama ini terpendam dalam hati dan otakku. Ya, aku harus. Walaupun sangat tidak etis, tapi aku harus, setidaknya aku tidak berhutang apa-apa pada hatiku.

“… akan aku usahakan. Tapi, aku tidak tahu seberapa kuatkah diriku melihat orang yang aku cintai duduk dipelaminan bersama lelaki lain”

Akhirnya kata-kata itupun meluncur dengan frontal dari mulutku. Rinda terdiam, lama… Sampai akhirnya aku melihat buliran-buliran air jatuh dari kedua bola matanya yang bulat dan hitam. Aku kalut. Untuk apa dia menangis?

“Aku tidak percaya akhirnya kamu mengatakan itu… apakah harus menunggu aku sampai menikah dulu baru kamu akan jujur dengan perasaanmu? Bertahun-tahun aku menunggumu mengucapkan kalimat itu. Hanya satu kalimat. Tapi, rasanya sia-sia penantianku. Dan, sekarang sudah terlambat. Ada lelaki lain yang memiliki usaha yang lebih untuk meminangku. Walaupun aku juga sangat mencintaimu dulu, tapi membuka hati untuk orang lain yang aku rasa lebih baik adalah sebuah pilihan yang bijak menurutku…” katanya, getir.

Dan aku menyaksikan punggungnya berlalu…

 

 

 

 

Akhirnya… (sebuah cerita [cont. Apa Kabarmu di Skandinavia?])

Oke, tiba-tiba si mas siwi dengan seenaknya menamatkan cerpen estafet kita. Mungkin dia tidak terima kalo ternyata ada orang ketiga antara Rendra dan Tisha (tipikal cowok yang melankolis -__*), maka dengan seenaknya ia bikin cerita ngebut kaya roller coaster, dan akhirnya… ya akhirnya… TAMAT deh… 

selamat membaca ending cerita (yang agak geje ini) haha *sesekali nyampah boleh juga lhohh haha*

————————— (cerita sebelumnya dpt dilihat disini)

Pertemuan rendra dengan teman lamanya, Joice merubah semua progress skripsinya. Dalam waktu dua bulan, rendra berhasil menyelesaikan skripsinya. Joice memang banyak membantu memberikan data-data skripsi Rendra, dan sekaligus juga pembaca pertama yang memberikan kritik terhadap tulisannya.

Pendadaran sudah ia lalui dengan lancar, hanya sedikit revisi dan itupun bisa terselesaikan dalam waktu kurang dari empat hari. Dalam skripsi Rendra itu pula, dia menuliskan nama Tisha dibawah nama emak dan bapaknya.

Tidak terasa, bulan Februari begitu cepat datang, dan dihari itu Rendra resmi tercatat sebagai lulusan universitas terbaik di Jogja dengan predikat cumlaude. Ia sangat senang pada hari itu, ia membayangkan Tisha tahu bahwa hari ini ia diwisuda.

Seminggu setelah diwisuda, ia menemui Joice di kantornya. Terlihat Joice sedang berbincang dengan seorang laki-laki, sebelum ia melambaikan tangan kearah Rendra yang masih berada di luar.

Hai Ren, selamat ya untuk wisudanya. Oh ya, kenalin, Sandro, partner ku sewaktu di Aussie. Kita akan menikah seminggu lagi, dateng yaa.. O, ya, ada penawaran menarik tuh, beasiswa master ke Osaka. berani coba ?

Rendra mengernyitkan dahi, heran bercampur senang. Oooh, aku kira kamu nggak suka cowok. haha.. selamat yaa.. mmm… sedikit ragu.. hehe

– Ayo lah, kenapa ragu ? takut kalah bersaing ?

+ Salah satunya itu. yang lebih pinter dari aku kan masih banyak.

– Hei, pikirkan baik-baik, apa salahnya mencoba ? bsa jadi orang-orang pinter yang seharusnya menjadi saingan kamu itu mempunyai pemikiran yang sama sepertimu. jadi, lawan kamu berkurang kan ?

Atas bujukan Tisha, Rendra mengiyakan dan mendaftar beasiswa master ke Osaka.

Setelah melalui seleksi yang cukup ketat, akhirnya Rendra dinyatakan berhak menerima beasiswa penuh ke Osaka.

———————-

Tidak terasa kini sudah bulan April. dimana semestinya sebentar lagi Tisha sudah kembali dari Skandinavia. Tapi, ada satu hal yang membuatnya gamang. Sebentar lagi Rendra akan meninggalkan Jogja, menempuh pendidikan masternya di Osaka. Lagi pula, Rendra terlanjur tidak  bisa mengartikan diamnya Tisha.

Dan hari dimana Rendra harus berangkat ke Osaka pun tiba. pagi itu, ia sudah mengemasi barang bawaannya untuk dibawa ke airport.

Setelah berpamitan kepada emak,bapak nya, Rendra duduk sebentar menunggu ruang check in untuk penerbangan ke Narita dibuka. di waktu menunggu itulah, ia iseng membuka halaman facebooknya. Bukan apa-apa, hanya untuk mengusir rasa bosannya saja. Tapi ketika ia buka, ia membaca update terbaru Tisha :Landing to Adi Sucipto.. yeaaay..!! :D  Ternyata Rendra dan Tisha berada di tempat yang sama. Tapi, Rendra tidak berharap lebih untuk bertemu dengan Tisha di airport. dalam hati ia bergumam, sudahlah. kalau memang berjodoh dengan Tisha, pasti ketemu. dan tidak harus sekarang dan disini kan ? sambil membawa tas dan menuju ke pesawat, ia menoleh kanan kiri. memang tidak ada. Lagi-lagi kali ini bukan hari dimana ia bisa bertemu dengan Tisha setelah sekian lama. Mungkin ia harus menahan rindu lebih lama lagi, entah sampai kapan.

———————–

Satu setengah tahun di Osaka, Rendra sudah terbiasa dengan perasaannya, meskipun bayang-bayang sosok Tisha tidak pernah bisa hilang dalam pikiriannya. dan disuatu sore, seperti biasa, ia menggunakan waktu luangnya untuk sekedar online di facebook, sesekali melihat dan mencari tahu perkembangan Tisha. Sore itu, Rere, teman dekat Tisha sewaktu KKN, yang juga Rendra kenal, menyapa Rendra..

– Hei Ren.. gimana kabar Jepang ?

+ salju turun hari ini. kenapa ? nggak tanya kabar ku gitu ? :p

– haha… lo mah nggak penting.. :D bercanda. waah, enak nih.. ditunggu foto bareng boneka saljunya yaah ? pasti serasi tuh.. :D

+ hahaha… kampret..

– Eh, Ren, Tisha udah jadi dokter lhooh sekarang..

+ selamat yaa.. kamu juga..?

– iya dong.. :D Eh, aku pengen ke Jepang nih, dua bulan lagi. *mau cari tebengan tempat nginep gitu di tempatmu.. boleh ? haha..

+ oooh,,, boleh sih. kamar mandi masih kosong tuh di apartemenku. haha.. eh, seriusan ? berapa orang ?

– hahaha… sial, serius kali, ya cuma aku sih.  santai.. aku percaya kamu nggak bakalan ngapa-ngapain..

+ ya udah. besok telpon2 aja kalo jadi.

– kamu nggak takut Tisha tau ? eh, gimana perkembangan kamu sama Tisha ? haha.. jadi inget kkn nih.. :D

+ emang kenapa kalo tisha tau ? wong dia nggak suka sama aku kok. perkembangan apa ? nggak ada yang berkembang..

– uuh uuh uuh…. pesimis amat bang ? kalo Tisha juga suka sama kamu gimana ?

+ ya bagus dong. berarti sama-sama suka.  haha… itu kan baru kalo.. bukannya Tisha sukanya sama si Mochtar yaa ?

– itu dulu.. Mochtar juga orangnya playboy…

+ ya nggak apa-apa kan ? kan maksimal boleh beristri 4.  lagipula, dia pinter merayu. jenggotnya juga bikin klepek-klepek cewek2 kampung. haha… ya sah-sah saja, asal dia bisa berlaku adil.

– kalo kamu Ren ? playboy juga ?

+ sayangnya tampangku pas-pasan, nggak marketable jadi playboy.. hahaha..

– hahaha… ada-ada aja..

Lama-lama Rendra merasa bosan dengan obrolan Rere karena mengingatkannya dengan laki-laki yang dulu menjadi kompetitornya untuk mendapatkan si Tisha.

+ Re.. udahan yaa.. mau tidur nih, udah malem.. telpon aja kalo kamu serius mau nebeng.. kalo untuk beberapa hari doang sih, aku siap menjamin kamu nggak bakalan kelaperan disini. asal porsi normal yaa.. haha..

– oke. makasih yaa.. hahaa… iya.. porsi normalnya sopir truk kok.. hahaha…

_____________________________

Hari-hari Rendra di Osaka dilalui dengan kesibukan kampus. Bahkan kadang sampai larut malam dia berada di kampus untuk merampungkan thesisnya. Berbeda dengan waktu kuliah di Indonesia dulu dimana dosen pembimbing begitu susah dicari. di Osaka, dosen selalu stay di kampus dan dosen memberikan target dan tenggat waktu penulisan thesis secepat mungkin. dan akhir bulan ini, Rendra sudah harus ujian thesis dan ia punya waktu dua bulan free sebelum acara seremonial wisuda.

Hari itu hari Minggu, seharusnya Rendra bisa bermalas-malasan di tempat tidur lebih lama mengingat thesiswnya juga sudah diujikan dua minggu lalu tanpa revisi. Tapi, pesan singkat dari telepon seluler yang berisi : aku di depan apartemen kamu sekarang.  itu mengejutkan Rendra. Siapa sih siang-siang begini ingin bertamu, tanpa menyertakan nama pula dalam smsnya. gerutu Rendra. Bel Apartemennya berbunyi. dengan malas ia membuka pintu apartemennya. ia begitu terkejut ketika melihat perempuan di depannya. ya, Tisha.

Hai Ren..

dipandanginya perempuan yang menyapa itu. Tisha, perempuan yang selama ini selalu menghinggapi pikirannya. Perempuan yang tidak pernah absen dalam lamunannya itu kini nyata berada tepat didepannya. Lama ia terdiam berdiri kaku memandangi Tisha.

Ren… ?

panggilan Tisha menyadarkan Rendra dari keterkejutannya.

Eh, iya, silahkan masuk Tisha…

makasih Ren..

duh, maaf nih agak berantakan.. o ya, Rere mana ?

yang waktu itu chat sama kamu pake akun fb Rere itu aku Ren. hehe.. sorry, aku emang mau bikin surprise buat kamu. lagian kamu nggak pernah cerita ke aku kalo kamu disini. malah cerita sama Rere..

oooh.. rendra mencoba menjawab sedingin mungkin sampai Tisha mau menceritakan kenapa selama ini dia hanya diam setelah Rendra mengatakan perasaannya kepada Tisha.

Ren, kamu marah sama aku ? nggak suka ya aku kesini..

gimana mau nggak seneng kamu ada disini. cuma rasanya, kayak mimpi aja kamu bisa nyampe sini.

o ya, soal dulu itu.. aku minta maaf ya Ren..

iya, nggak apa-apa.. o ya, gimana kamu sama Mochtar ? dia nggak marah kamu kesini sendiri ? Rendra berusaha menelisik sampai sejauh mana sebenarnya hubungan Tisha dengan Mochtar.

yaa, setelah tau kalau dia playboy, aku udah pasang jarak sama dia.

oooh… diminum nih, masih anget.. kata Rendra singkat sambil membawakan secangkir kopi untuk Tisha.

Suasana pun kini mencair. obrolan-obrolan ringan tentang tempat wisata di sekitar Osaka dan Tokyo yang hendak dikunjungi menjadi topik utama pembicaraan.

O ya Tis, tunggu disini yaa.. aku rapikan tempat tidur dulu.. nanti kamu tidur di kamarku, aku tidur di sofa sini saja.

Ok. thanks ya Ren, sorry ngrepotin.. hehe..

enggak.. nyantai aja..

Udah tuh Tis.. mendingan kamu istirahat aja, pasti capek kan dari jogja kesini.. hehe..

ya udah deh, aku istirahat dulu ya Ren..

Tisha masuk ke kamar dengan tas bawaannya. Diamatinya tiap inchi dari kamar Rendra. kamar yang cukup luas, tapi minim ornamen dengan warna cokelat yang dominan.

Tisha merebahkan tubuhnya, tapi dia tidak dapat memejamkan mata. di samping tempat tidur, ada sebuah meja lengkap dengan komputer dan beberapa tumpukan buku. Tisha bangun dan iseng melihat-lihat disekeliling meja itu. Ia membuka-buka buku teks kuliah Rendra. Diantara deretan buku Rendra, Tisha penasaran dengan sebuah buku, sepertinya buku catatan. Ternyata bukan buku catatan kuliah rendra, isi buku itu adalah semua ekspresi perasaannya kepada Tisha. perempuan yang sedang membacanya. Tidak terasa mata tisha memerah. Mungkin ia mengerti bagaimana perasaan Rendra ketika Tisha hanya diam dan tidak memberi jawaban ketika dulu Rendra mengatakan perasaannya kepada Tisha.

Tisha keluar dari kamar dan hendak menemu Rendra. Tapi, ia melihat Rendra sudah  tertidur pulas dengan selimut yang Rendra pakai jatuh kebawah. Tisha tersenyum melihatnya dan membenarkan selimut yang jatuh.
ia pun kembali ke kamar, tidak enak kalau membangunkan Rendra yang sudah tidur.

________________________

Tisha terbangun karena lirih ia mendengar suara Rendra mengaji. dilihatnya jam  dinding kamar Rendra, nampaknya sudah pagi. Tisha pun bergegas keluar kamar ketika Rendra selesai mengaji.

– Udah masuk Subuh ya Ren ? kok nggak bangunin ?

+ belum, sebentar lagi.. keganggu yaa ? sorry deeh… hehe..

– enggak kok. cuma berasa kayak di Indonesia denger kamu ngaji.. hehe..  ya udah, ntar jamaahan yaah ? 

_________________________

Selesai sholat subuh, Rendra bergegas ke dapur menyiapkan sarapan untuk tamu istimewanya itu.

– Ya ampun Ren, kamu masak sendiri gitu ? kook nggak nagajak-ngajak ?

+ eh, Tisha.. iya nih, disini kan beda sama di jogja.. susah cari makanan halal.. udah, kamu tidur aja lagi sana kalau masih ngantuk..

– nggak ah, mau bantuin kamu aja..

+ ya udah, sini..

Ya, didapur apartemen Rendra itu komunikasi yang telah beku selama dua tahun lebih itu semakin cair.

__________________________

Dan, setelah selesai sarapan, pagi itu mereka bergegas berkeliling kota Osaka. kebetulan saat itu Sakura masih mekar. Perasaan sepi tanpa Tisha yang dirasakan Rendra selama ini hilang sudah. Setidaknya kini ia bersama Tisha, meskipun belum mengetahui bagaimana perasaan Tisha kepadanya.

____________________________

– Sakuranya bagus ya Ren. jadi pengen lebih lama disini.

Rendra yang saat itu masih bermain-main dengan kameranya, duduk disamping Tisha..

+ Iya, bagus.. yaa suatu hari nanti kan bisa kembali kesini sama suami kamu..

– iih, apaan sih.. garing tau Ren..  O ya, aku ingin ngomong sesuatu ke kamu..

+ ya ngomong aja.. soal apa ?

– maaf yaa Ren, dulu aku sempat diem lama banget… bukan berarti aku nggak suka dan menjauh dari kamu, yaaa….aku diem karena aku cuma kaget aja.. nggak nyangka kamu bakal ngomong seperti itu sama aku..

+ iya, toh udah lalu Tis.. kapan kamu mau nikah ? udah mau 26 lhoo kamu.. buruan..

– nggak tau.. nunggu seseorang itu bilang lagi, bukan cuma ke aku doang, tapi juga bilang sama orang tua ku..

+ iya deh, semoga Mochtar cepet bilang ke orang tua kamu yaa…

– apaan sih.. enggak lah.. bukan dia..

+ emang kamu belum mau nikah ? nungguin siapa sih ?

– hampir, hampir saja aku dijodohin sama anaknya temen bapakku.

+ terus kenapa nggak mau ?

– nggak cocok aja..

____________________________

Rendra terpikir untuk mengatakan perasaannya lagi kepada Tisha. apapun nanti jawaban Tisha, Rendra tidak akan ambil pusing. karena menurutnya ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengatakannya.

+ Tisha, kalo aku tanya ke kamu, boleh ?

– tanya aja, kayak sama siapa aja sih.. hehe…

+ yakin ? tapi harus di jawab lho yaa…

– iya.. mau tanya apa.. ?

+ Leitisha putri Nurina. I still fell in love with you since the first see, yaa, until now.  And I’am, Narendra Atmaja, without a flower, without a ring, but with my genuine heart, wanto to ask you to be my wife. Will you marry me ?

Seketika wajah Tisha berubah menjadi merah padam. Ia tak berani menatap mata Rendra dan tetap menunduk.

Lima menit mereka terdiam seperti patung penghias di sekeliling pohon sakura. Rendra terus berdiri mengamati Tisha. menunggu sampai Tisha mau membuka suara, apapun itu jawaban yang keluar dari mulut Tisha. Perlahan Tisha berani menatap mata Rendra. ditatapnya mata Tisha yang mulai terlihat genangan air dimatanya. tanpa ragu Tisha mengangguk. di peluknya Rendra, laki-laki yang sebenarnya sudah amat dirindukannya sejak ia pulang dari Skandinavia.

Seminggu berlalu. Tisha memutuskan untuk pulang bersama Rendra dan menghadiri upacara wisuda master nya Rendra. Sepulang dari Osaka, janji Rendra kepada Tisha di pesawat ketia dalam perjalanan pulang pun ia penuhi. Tepat sehari setelah sampai di Jogja, Rendra melamar Tisha dan tidak sampai sebulan berselang, mereka melangsungkan pernikahannya.

___________________

Oktober 2017

Tisha dan Rendra kembali ke tepian danau itu. ya, tempat dimana dulu Tisha berjanji akan kembali sebelum ia berangkat ke Skandinavia. Akhirnya, setelah sekian lama, Tisha benar-benar menepati janjinya kembali ke Danau itu. Namun kali ini ia ber tiga. bersama Rendra, dan juga Aisha. putri cantik mereka yang masih berusia dua tahun.

Jreeeengg….. tamat

special thanks to : pembaca cerita yang budiman.. hahahaha…..

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Haha oke, itulah akhir cerita cinta picisan Rendra-Tisha. Berharap ending yang lebih dramatis atau tak terduga? tunggu cerita berikutnya buahahaha *ketawasetan*

okee terima kasih pembaca yang budiman.. sekian dari saya (dan mas siwi yang geje -_-)

*cerita dikopas dari blognya mas siwi

Apa Kabarmu di Skandinavia? -sebuah cerita-

Ini cerita estafet (estafet kok cuman berdua -_-, oke gapapa deh).. Ceritanya ini episode dua.. Entah entar jadinya berapa episode, entah entar endingnya gimana, gak ada yang tahu (bahkan saya juga gak tau) pokoknya, selamat menikmati dan selamat menebak akhir cerita 🙂 

cerita sebelumnya bisa dilihat di blognya mas siwi, (yang baru), si penulis pertama hehe.. di sini ngeliatnya hohoo… 

——————————————————————

… Dua bulan menjalani kehidupan tanpa perempuan manis berlesung pipit itu, hidup Rendra memang tidak banyak berubah. Ia tetap makan, nge game, menggalau dikampus dan berkutat dengan proposal yang tak kunjung di acc. Namun hatinya tetap tak dapat mengingkari, bahwa ia kosong dan terasa hampa. Sudah lama Rendra tidak merasakan suasana hati yang sebegitu kacau seperti yang ia alami saat ini. Setiap Ia rindu dengan gadis bermata jernih itu, ia sempatkan diri berjalan-jalan menuju danau yang menjadi tempat kenangannya dulu bersama Tisha, atau paling tidak, ia mengikuti status dan kesibukan gadis itu melalui akun facebook dan twitter yang dimilikinya. Ia sangat rindu, setiap hari. Namun ia juga tak ingin mengganggu aktivitasnya yang pasti superpadat di Swedia sana, maka itu, ia hanya sering melihat.. tak banyak yang bisa dilakukannya.

—————————————————————–

“Kamu kenapa Rendra, ini sudah revisi yang kesekian kalinya. Sudah dua bulan lebih saya ngikutin kamu tapi bikin bab 3 aja gak kelar-kelar. Kamu mau seminar kapan kalau masih seperti ini?” Bu Jazim, dosen pembimbing skripsi Rendra yang sabar, akhirnya muntab juga. Rendra memang beruntung mendapatkan bimbingannya, namun kali ini sang dosen sudah habis kesabarannya. Proposalnya tidak kunjung selesai! Padahal orangtua Rendra dikampung sana sudah sangat sering menanyakan kapan wisuda, tiga kali sehari paling tidak ibunya sms menanyakan kapan Ia lulus. Tentu saja Ia setres. Rendra mencoba untuk kembali fokus dengan target kelulusannya, namun tidak dapat dipungkiri banyak faktor X yang menyebabkan ia terkendala dalam penulisan skripsi, termasuk tentu saja… masalah perasaannya pada Tisha yang (Ia pikir) bertepuk sebelah tangan.

“Maaf bu progress saya sangat lambat, tapi saya berjanji revisi selanjutnya insya Allah sudah matang” katanya, berjanji. Entah sadar atau tidak, tentu saja ia harus bekerja keras untuk dapat merampungkan proposalnya dalam pertemuan selanjutnya dengan pembimbing. Keluar dari ruang dosen, Ia semakin lunglai. Posturnya yang tinggi tegap tidak dapat menutupi kelesuan yang teramat sangat yang sedang dialaminya. Namun Ia bergegas kembali ke ruang dosen, ia menemui mbak Yuli, sekertaris jurusan untuk minta surat pengantar ke instansi. “Aku gak bisa lama-lama kayak gini nih, bakalan lulus lama kalau begini terus. Galau itu pilihan, move on itu pasti!” pikirnya, sambil mengepalkan tangan tanda peperangan dengan skripsi dimulai. “Skripsi itu harus dicintai, prosesnya dinikmati, seperti orang pacaran. Gak boleh bosan, harus berkomitmen!” teriaknya (dalam hati tentu saja).

——————————————————————

Rendra memacu motornya menuju sebuah instansi LSM yang ada di Taman Siswa. Sebelumnya, ia memaksa Mbak Yuli untuk segera merampungkan surat-surat yang diperlukannya sebelum mood nya berskripsi ria pupus lagi. Sesampainya di LSM itu, ia memarkirkan kendaraannya dan langsung masuk kedalam. Ia mengutarakan maksud kedatangannya untuk mencari data dan wawancara untuk melengkapi proposalnya. Mbak Diah sang garda depan pun lalu menghubungkan Rendra dengan pimpinan LSM tersebut. Joice namanya. Setelah mendapatkan no hape sang pimpinan LSM, Rendra langsung mengatur jadwal pertemuan dengan Joice.

—————————————————————

Rendra sudah 10 menit menunggu di Kedai Rakyat. Ia berjanji bertemu Joice disini untuk wawancara dan mengkopi data-data sekunder yang dimilikinya. Lalu Ia menjumpai sesosok wanita masuk dari pintu utara yang sesuai dengan ciri-ciri Joice. Rendra melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Benar saja, itu Joice. Joice pun langsung duduk di depan kursi yang ditempati Rendra. Mereka lalu berjabat tangan, dan tanpa sadar…

“Eh eh bentar dulu. Kamu Rendra yang dari SMP 2 Bekasi bukan?” Joice langsung menembak. “Yampun, jangan bilang kamu Joice teman SMP ku!” Rendra setengah histeris. Joice lalu tertawa diikuti dengan kekehan Rendra yang keras. “Sumpah, gue gak nyangka bisa ketemu elu disini Joice. Elu ternyata udah lama di Jogja? Kenapa gak bilang? Sialan lu” Rendra secara otomatis mengubah logat bicaranya. “Hahaha gue baru disini juga Ren. Sebelumnya gue di LSM XXX di Tangerang. Yaampun dunia yang makin mengecil atau pergaulan gue yang terlalu luas yak?” Kata Joice yang diikuti tawa Rendra. Mereka berdua kemudian cerita ngalor ngidul, bercerita tentang kehidupan masing-masing kini, cerita tentang masa lalu di SMP dulu. “Gue belum pernah ketemu elu kan yak sebelumnya? Terkhir waktu reuni SMP 4 tahun lalu. Itupun elu masih cupu. Asli gue gak ngenalin elu tadi” kata Rendra. “Hahaha sialan lu. Elu tu yang cupu, hari gini masih luntang lantung cari data buat skripsi” Joice mengejek. Derai tawa pun mewarnai siang itu.

Bagi Rendra, siang itu adalah siang keburuntungannya. Ia mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama, ia dengan mudah dapat menggali informasi dari narasumber utama dan tentu saja data-data yang berkaitan dengan penulisan skripsinya, dan keberuntungan yang kedua, ia bertemu kembali dengan teman lamanya di SMP dulu. Rendra dan Joice memang tidak akrab di SMP, mereka hanya sekelas satu tahun, pada tahun pertama, oleh karenanya mereka telah hilang kontak sejak lama. Namun bertemu teman lama di perantauan, walaupun tidak seberapa akrab, tetap saja menimbulkan euphoria tersendiri.  Bertemu dengan Joice bagaikan membuka cerita masa lalu, mereka kembali membuka album lawas itu, lembar demi lembar. Joice membawanya kembali pada kotanya, asalnya, tempatnya menempa diri untuk pertama kali.

—————————————————————–

Siang yang terik di Kedai Rakyat seketika berubah menjadi malam dingin berkabut. Rendra dan Joice melewatkan hampir 5 jam di kafe itu. Mereka sudah habis masing-masing dua gelas hot cappuccino dan berpiring-piring camilan, mereka juga sudah bolak balik dua kali ke mushola kafe itu, bahkan Joice sudah 4 kali pergi ke toilet. Namun rasanya kebersamaan mereka belum berujung malam itu. “Makasih banyak Joice, untung banget gue ketemu elu. Skripsi gue proposalnya gak kelar-kelar nih. Kalau ada elu, insya Allah jadi lebih gampang” Rendra jujur. “Iyalah, kita kan satu almamater hahaha.. tenang Ren, gue juga pernah kok kayak elu, di Aussie emang gak ada skripsi-skripsian, tapi tugasnya alamakjang ngeri bet dah, nulisnya gak boleh pake bahasa Indonesia lagi” canda Joice. Ia memang mengambil kuliah di Australia dan telah lulus dari sana 6 bulan lalu. Baru dua bulan ia berada di Jogja. Setelah malam itu, mereka berdua semakin akrab. Rendra, tentu saja sangat senang dan beruntung. Setelah pertemuannya dengan Joice ia menjadi jauh lebih bersemangat mengerjakan skripsinya yang telah bersarang laba-laba. Semangatnya semakin terpompa manakala Joice dengan baiknya bersedia menjadi teman diskusi Rendra, Ia rela menyempatkan waktunya hanya untuk menemani Rendra membeli buku, menggalau di perpustakaan ataupun sekadar ngopi di angkringan. Tak terasa, sudah 1 bulan Rendra sibuk mengumpulkan data dan merevisi proposalnya, progress yang ia janjikan pada Bu Jazimpun akhirnya terpenuhi sudah. Ia telah mendapatkan jadwal seminar proposal! Akhirnya.. setelah sekian lama..

—————————————————————–

“Assalamualaikum, hai Rendra apa kabar? Udah lama banget kita gak ngobrol via skype. Aku kangen sama kamu hehehee… Gimana kabar skripsi? Kapan seminar? Kalau ada waktu, balas emailku ya, ntar kita ngobrol lagi via skype hehe… semangat!! 😀 “ –Tisha-

Rendra sempat kaget juga ketika melihat kiriman email dari Tisha. Sudah lama gadis itu tak memberinya kabar, dan ia juga baru sadar.. bahwa Ia pun sudah lama tak memberi kabar apapun padanya….

—————————————————————–

selamat melanjutkan mas siwi… hahaha