Pattaya Trip !

 

Entah kekuatan apa yang menggerakkanku kembali ngisi blog ini. Mungkin ini yang namanya… bosen nulis tesis. Hahaha. Oke deh, sedikit sharing cerita ga penting tentang pengalaman jalan-jalan. Kali ini edisi Pattaya. Kebetulan beberapa minggu yang lalu, salah satu temen baik waktu kuliah S1 dulu, si Resdi dateng berkunjung ke Bangkok, bawa bebek pedes gombong yang endes bets *penting banget di mensyen*. Karena dia lumayan lama di Bangkok, akhirnya kita memutuskan untuk piknik aja ke provinsi lain, ketempat yang hits dan gaul (untuk orang Indonesia), recharge baterai sekaligus ngabisin duit *kibasin recehan*

Daan jadilah tanggal 25-26 Maret kemarin kita piknik ke Pattaya. Kita berdua (plus Fauzan, jadi bertiga) memutuskan untuk ga mau capek-capek mikir, pokoknya piknik aja sejadinya dah. Pokoknya semuanya serba ga banyak riset, dan begini hasilnya, semoga bisa bermanfaat buat yang mau piknik ke Pattaya dari Bangkok dengan tanpa ngeluarin banyak energy:

  1. Akomodasi. Lewat www.booking.com , kami ngebuking satu kamar untuk bertiga dengan bajet yang lumayan kecil. 500 baht semalam (setara 200 ribu rupiah) untuk dua orang, dan plus 200 baht untuk extra bad (jadi, total 700 baht semalam, dibagi 3 orang). Nama hostelnya Malee Pattaya 3. Lokasinya mayan strategis sih, di Soi Bua Khao, Pattaya Klang (Central Pattaya). Di sekitar lokasi penginapan kami, bertebaran banyak fasilitas seperti restaurant, rental motor, seven eleven (tentu saja!), dan night market. Mayan deket juga dengan beberapa obyek wisata disana kaya Jomtien Beach, Musium Ripleys, dll. Dan lebih beruntungnya, karena dekat sama walking street nya pattaya yang terkenal. Cukup jalan kaki kira-kira 15 menit. Hihihih
  2. Transportasi ke dan dari Pattaya. Sebenarnya pertamanya Resdi ngajak naik kereta, tapi karena daku pernah sangat trauma naik kereta (waktu perjalanan ke Chiangmai), akirnya kami naik travel (van) dari Victory Monument, Bangkok. Disana ada banyak agen travel yang menyediakan van ke tujuan manapun, termasuk ke Pataya. Tapi hati-hati milih van sih, kadang kalau kita gatau harga normalnya, bisa dapet van dengan harga yang mayan mahal. Pertama kali saya sama Fauzan nanya harga van ke Pattaya, agen bilang 150 baht sekali jalan. Di saat yang sama Resdi tanya ke agen yang lainnya, nemu Cuma 97 Baht aja. Jadi temen-temen, kalau dari Bangkok ke Pataya naik van, range harga normalnya 93-97 baht ya. Salah satu kelebihan naik van adalah, nyaman dan dianter sampai tempat terdekat dengan lokasi penginapa. Karena kami di central pataya, kami bilang ke supir untuk diturunkan di dekat lokasi penginapan kami (nunjukkin almaat hostelnya). Daan bener, dari lokasi turun van sampai ke penginapan cukup jalan kaki 15 an menit tanpa harus naik angkot lagi. Efisien banget.
  3. Transportasi lokal. Udah pernah disinggung di tulisan yang lalu, transportasi di luar Bangkok itu agak ribet, gak rapi dan ga terintegrasi. Setelah sebelumnya tanya-tanya ke teman dan riset sedikit, kami akhirnya memutuskan untuk rental motor aja. Sebenarnya ada song teaw (angkot), tapi ya itu. Jalurnya ga jelas. Kata teman yang pernah kesana, dulu dia nyewa song teaw gitu, iuran sama temen-temennya, karena transport ke obyek wisata disana lumayan susah, dan jatohnya mayan murah kalau missal perginya rombongan. Tapi karena kami Cuma bertiga, akirnya kami memutuskan untk sewa 2 motor. Harga sewa motornya bervariasi, pilihan motornya pun juga bervariasi. Mau motor bebek, kopling atau matic. Mau yang biasa apa yang gede. Semuanya ada. Dan, setelah nanya ke beberapa rentalan, akhirnya nemu yang paling murah, yaitu 200 baht permotor perhari dengan uang jaminan 500 baht permotor. Sedikit curhat tentang motor. Saya, yang udah 9 bulan ga pulang kampung, ngeliat motor ini rasanya…. duh seneng biyanget, akirnya bisa naek motor lagi, setelah selama ini mentok-mentok Cuma bisa bonceng tukang ojek yang mana supir ojek di Bangkok itu superlaknat semua. Bahkan ga kemana-manapun, asal bisa di depan ngendarain motor, rasanya udah bahagiak. Hahahahaa *langsung ngelirik kulit tangan yang jadi geseng banget*Thailand_5600

    IMG-20160325-WA0024
    bahagianya bisa naik motor sendiri yeay
  4. Destinasi wisata. Karena kita cuma punya sedikit waktu (dan bajet, of course! Haha), kita cari destinasi wisata yang bisa terjangkau motor aja (dan kalau bisa free admission fee hahaha). Berbekal google maps dan beberapa blog travelling, kitapun mulai menjelajah beberapa obyek wisata di Pataya, berikut list nya:
    1. Wat Khao Yai. Atau big buddha’ temple. Terletak sekitar 20 an menit naik motor dari Central Pattaya. Lokasinya kaya kalau kita mau ke gunung kidul, naik turun asoy gitu. Tapi ga gitu jauh, dan disana juga ga gitu rame sih. Dan yang terpenting… ga ada tiket masuknya, alias geratis. Ahahaha. Oiya disini juga adalah salah satu titik lokasi gardu pandangnya Pattaya, jadi bisa liat pemandangan kota Pattaya dari atas.
    2. Jomtien Beach. Dari Wat Khao Yai, kita cari destinasi terdekat via google maps, dan nemu ini. Walaaupun bukan pantai utama yang sering dituju turis (biasanya pantai utama adalah Pattaya beach), tapi kami justru bersyukur karena ga banyak orang di pantai ini. Pasirnya putih, relative sepi, ga banyak karang, dan pokoknya lumayan asik lah. Pemandangan sunset dari pantai ini sebenernya mayan bagus (kalau kita sabar nunggu sunset ya, secara di Thailand sun nya suka telat nge-set), tapi pedagang-pedagang minuman dan persewaan kursi dan payung-payung itu udah pada bubaran kalau sore. Thailand_5917
    3. Walking street pattaya. Jujur, diantara semua obyek wisata yang saya kunjungi selama di Pattaya, justru jalan-jalan di walking streetnya pattaya lah yang paling berkesan buat saya. Sebenernya bukan hal yang baru sih jalan ditempat kaya begini (di Bangkok ada Patpong dan Khaosan Road yang hampir mirip ini), tapi karena ini Pattaya (ya, Pattaya!), dimana konon lokasi prostitusi terbesar dan termsasyur di Thailand berlokasi. Jalan di tempat ini, dengan baju barbar (ya, saya yang barbar, karena saya pakai jilbab sendiri di tengah manusia-manusia berpakaian minim), jadi tantangan tersendiri. Excited banget! Di tempat ini, jalanan sejauh kira-kira lima kilometer dengan berbagai bar, kafe, hostel, dan aneka macam “tempat menjajakkan kesenangan duniawi” berada di kanan kirinya. Mulai dari jenis perempuan tulen sampai perempuan jadi-jadian. Mulai dari arab, asli Bangkok, asia, china, sampai wanita berkulit pucat berambut pirang dari rusia dan eropa timur, semuanya tersedia ditempat ini. Mulai dari pelayanan standar sampai yang luar biasa, semua bisa dijajaki asal ada duit. Ga Cuma itu, di tempat inilah cabaret show yang paling termasyur se Thailand diselenggarakan. Di Alcatraz namanya. Kita ga sempet nonton sih, karena cukup berjalan dari ujung ke ujung aja udah cukup bahagia dan puas. Thailand_9682Thailand_6126Thailand_4863
    4. Sanctuary of Truth. Sebenernya ini kita belum jadi mampir sini sih, Cuma masuk area depannya aja, karena kita keberatan sama fee admissionnya yang mencapai 500 Baht perorang. Lah ya sama aja kaya masuk grand palace (itupun masih tambah tiket ke Anantha Samakorm dan Vimanmek Mansion), dan pas kita baca-baca sejarah dan ngamatin arsitekturnya (dari pusat informasi di Sanctuary of Truth), kayanya bakalan biasa aja. Hahaha *sebenernya kemahalan aja sih alasannya* wkwk Santuaryoftruth2
    5. Silverlake Pattaya. Dari semua obyek wisata yang kami kunjungi, inilah yang paling menyedot energy paling banyak. Lokasinya ternyata jauh banget, sekitar 23 km dari central pattaya. Dan ternyata emang di kompleks ini sedang dikembangkan banyak obyek-obyek wisata baru. Di sekitar Silverlake, ada juga grand Buddha image, Nongnooch Village, Sheepfarm (?), dan banyak lagi. Kalau di silverlakenya sendiri, ini sebenernya asik sih buat para pemburu foto untuk instagram, karena emang disediakan banyak spot-spot yang instagram-able gitu. Ada tur keliling kompleks silverlake, cukup dengan 100 Baht saja, dianter kereta mini jalan muter kompleks dan bonusnya, dapet jus anggur hasil dari budidaya di silverlake ini.

       

Daan, itulah.. kami cuma punya waktu satu hari plus setengah hari di Pattaya. Dengan modal duit pas-pasan dan kemampuan membaca google maps yang tertatih-tatih, seenggaknya kita udah berhasil check-in di beberapa destinasi hits di Pattaya. Dan sebenernya yang paling penting dan berarti adalah, saya sendiri bisa sedikit refresh otak dan melarikan diri dari penatnya hidup di Bangkok. Dan, kalau diitung-itung, bajet yang kita keluarkan juga ga banyak, coba diitung lagi: transportasi PP (anggaplah 200 baht); akomodasi (233 baht perorang); sewa motor+beli bensin (150 baht); admission fee (karena ngirit, obyek wisata yang bener-bener kita bayar cuma 1, cuma 100 baht hihi); dan makan jajan paling cuma 300an baht. Jadi total, less than 1000 Baht! Bahahahaha. Dengan bangga, sekali lagi mengumumkan bahwa, mahasiswa dengan bajet travelling terngirit, lagi-lagi jatuh ke tanganku! Hahaha. Happy travel folks!

 

Advertisements

Chiangmai-Chiangrai Trip 20-24 Des 2015

Udah setahun lebih tinggal di Bangkok, baru punya kesempatan untuk ngebolang menjajah provinsi lain. Kebangetan. Gara-garanya adalah, biasanya kalau ada liburan semester milih untuk dipake balik ke Indonesia.Baru libur winter break Desember lalu (gaya bener namanya winter break), memutuskan untuk ga pulang kampung dan memilih menjelajah daerah lain tanah Thai ini.

Dan, jadilah kami mahasiswa kere anak-anak angkat sungai chaopraya memutuskan untuk trip ke Chiangmai-Chiangrai. This is a toughest trip ever! Kenapa? Karena kita yang notabene cuman punya sangu pas pasan ini berusaha liburan asik dengan bajet sengirit mungkin. Daaaaan ini hasilnya: *tunjukin memar-memar di sekujur badan*

Okedeh, ini pengalaman kami (ainun-aini-arya-tiar), semoga tidak dijadikan referensi bagi kawan-kawan yang mau ngetrip ke Chiangmai-Chiangrai dari Bangkok (atau kota lain).

—— Continue reading “Chiangmai-Chiangrai Trip 20-24 Des 2015”

Penghuluku Sayang, Penghuluku Malang

Udah lama banget gak apdet blog.. ehehehe.. kebetulan ini tulisan lama bianget yang (ternyata) belum sempat di publish. Oke deh, mumpung masih anget, aku share deh yaa… hihih..

Ini respon SUBYEKTIF dari wacana yang kini berkembang mengenai permasalahan gratifikasi penghulu nikah..

Saya sebagai mahasiswa pada umumnya dan anak dari seorang penghulu (Kepala KUA) pada khususnya tergelitik untuk menulis sesuatu sebagai bentuk diskursus terhadap wacana yang kini marak berkembang berkaitan dengan profesi ayah saya. Oke, bagi yang belum tahu, sekarang ini sedang hangat-hangatnya masalah ‘amplop’ bagi penghulu nikah (atau yang lebih keren dikenal sebagai gratifikasi) dipermasalahkan karena dianggap sebagai hal yang ilegal/ melanggar hukum (bahkan ada yang mengatakannya sebagai ‘pungutan liar’). Memang, beberapa tahun terakhir ini, ‘bersih-bersih’ diberbagai kementrian sebagai bentuk efisiensi anggaran dan perwujudan good governance dan clean government membawa impact yang tidak kecil. Termasuk di kementrian agama, yang paling fenomenal dari kementrian yang seharusnya menjadi ‘oase’ ditengah padang gurun kerumitan dan keriwehan kementrian lainnya ini adalah dugaan adanya penyimpangan terhadap dana jamaah haji yang ditemukan oleh PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) yang diindikasikan mencapai puluhan triliun rupiah. Oke itu sampai saat ini masih menjadi polemik dan ICW, KPK serta PPATK terus menyelidiki masalah ini.

Kembali lagi ke masalah penghulu. Masalah yang berkembang adalah delik aduan beberapa pihak yang menyatakan bahwa biaya nikah sangat mahal dan cenderung memberatkan masyarakat. Menurut PP no 51 tahun 2000 jo PP no 47 tahun 2004 menyebutkan biaya nikah resmi yang akan menjadi PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) dan wajib disetorkan pada negara adalah sebesar Rp 30.000. Biaya ini tentu bukan jumlah yang besar untuk ukuran pasangan yang hendak mengikat komitmen suci di hadapan manusia, negara dan Tuhan. Biaya pacaran aja gak bisa sehari 30.000, ya gak sih?. Dan, menurut Keputusan Menteri Agama no 477 tahun 2004 tentang Pecatatan Nikah, pada pasal 20 disebutkan bahwa akad nikah dilaksanakan di KUA oleh Penghulu. Nah ini yang menjadi masalahnya, pada budaya kita (terutama orang jawa), pernikahan menjadi sebuah seremoni yang sangat sakral untuk diselenggarakan. Orang-orang bahkan rela menjual sebagian harta bendanya untuk membiayai pernikahan anak-anak mereka. Dan, tidak sedikit dari mereka (bahkan bwanyaak) yang menghendaki pernikahan yang ‘memorable’ ‘monumental’ ‘berkesan’ dan lain-lain.. Dan kalau menuruti pemerintah, yang memberi ketentuan peraturan untuk menikah di KUA, jelas bagi mereka itu sebuah bentuk pelanggaran terhadap sistem budaya masyarakat. Masyarakat menginginkan acara paling sakral tersebut diselenggarakan di tempat yang spesial pula, dan rumah mempelai adalah yang paling lumrah dipakai untuk mendokumentasikan aktivitas ke-akadnikah-an haha.. Ya, bagi orang Jawa, rumah memiliki filosofi yang sangat dalam. Lebih dari sekadar tempat bernaung, beristirahat, berteduh, berkumpul dan beraktivitas dengan keluarga. Rumah (atau wisma) bagi orang jawa adalah merupakan simbol harkat, martabat, kehormatan dan juga lambang kesempurnaan bagi seorang manusia. Itulah sebabnya, event penting bagi seorang anak adam di Jawa lebih banyak dilakukan di rumah, termasuk juga prosesi akad nikah dan resepsi pernikahan.

Nah ini dia masalahnya. Dalam ketentuan, akad nikah harusnya diselenggarakan di Kantor KUA, padahal permintaan untuk akad nikah diluar tidak mungkin dihindari, dan tentu saja.. masyarakat berhak menentukan. Dan ternyata dalam KMA no 477 tahun 2004 diatur mengenai hal tersebut. Dikatakan dalam pasal 20 ayat (2) “atas permintaan calon pengantin yang bersangkutan akad nikah dapat dilaksanakan di luar KUA Kecamatan dengan persetujuan Penghulu” Menurut banyak pihak, pasal ini tentu saja rancu. Di satu sisi biaya pernikahan yang ditetapkan 30.000 dengan ketentuan tempat menikah yakni di tempat yang telah disediakan di KUA, di sisi lain masyarakat menginginkan prosesi pernikahan dilaksanakan di tempat yang dikehendaki kedua mempelai, di hari libur pula (Sabtu-Minggu) dengan rela ‘memberi lebih’ kepada petugas nikah sebagai bentuk terima kasih.

Nah, see? sudah ada masalah disana. PP yang mengatur menenai penyelenggaraan nikahpun sangat ambigu. Dan sekarang, masalah ‘amplop’ ini dipermasalahkan. Saya tentu paham betul apa itu yang dinamakan korupsi, atau gratifikasi.. Gampangnya, gratifikasi adalah pemberian hadiah, bisa berupa apa aja.. Duit, diskon, parcel, perhiasan, tiket pesawat, fasilitas, dan lain lain. Sedangkan menurut UU 13 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU no 20 tahun 2001 pasal 12 B dikatakan bahwa yang disebut sebagai gratifikasi adalah : pemberian suap kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. Pemberian ini jika tidak dilaporkan kepada KPK dalam waktu 30 hari maka disebut KORUPSI. Oke mari kita telaah pelan-pelan. Ada beberapa unsur pokok dalam gratifikasi yakni : Pegawai Negeri (penyelenggara negara), menerima hadiah/ pemberian dan berlawanan dengan kewajiban tugasnya.

Pertama, mari kita lihat : memang yang namanya penghulu itu adalah abdi masyarakat (bukan abdi negara loh ya) dan wajib menyelenggarakan pelayanan yang optimal pada masyarakat. Sangat berdosa bagi penghulu yang memberatkan niat suci dari masyarakat dengan sejumlah ‘pungutan’. Namun disini, saya agak gak tega ya kalo menyebut pemberian amplop sebagai sebuah pungutan. Secara saya benar-benar tahu (setidaknya dalam kasus Ayah saya) bahwa amplop bukanlah hal yang wajib diberikan kepada penghulu. Yang wajib dibayarkan adalah duit senilai 30.000 itu tadi, selebihnya (insya Allah, at least di Kabupaten Sleman) tidak ada ketentuan ‘keluarga mempelai harus memberi amplop kepada penghulu sebesar….’ yang kayak begitu gak ada kok Insya Allah… Keluarga mempelai biasanya yang memberikan secara ikhlas sebagai bentuk terimakasih untuk Pak Penghulu yang menikahkan keluarganya (di hari libur/ di luar jam kerja). Ya macam itulah. Logikanya ya : keluarga mempelai udah mengeluarkan duit berpuluh-puluh juta rupiah untuk seremoni nikahan, (mungkin) mereka gak enak kalau gak ngasih duit transport untuk penghulunya.. walaupun (pengalaman loh ya ini) isinya juga gak ada apa-apanya dibandingkan pengeluaran mereka untuk acara nikahan.. (palingan 20.000-100.000)

Kedua, kalo menurut saya pribadi sih ya.. yang namanya gratifikasi itu adalah suatu pemberian yang sebenernya gak pantes untuk diberikan pada orang tersebut. Nah pembaca bisa menilai sendiri deh. Kalau di sebuah kecamatan, penghulu itu cuma ada satu atau dua, kemudian mereka harus menikahkan di banyak tempat dihari libur/ diluar jam kerja, apa mereka gak pantas menerima pemberian dari masyarakat (yang juga tidak dipaksa memberi) yang nominalnya palingan 20.000 – 100.000 rupiah? agak miris ya, secara pemerintah kita gak kasih insentif untuk penghulu yang berdinas di luar jam kerja/ di hari libur. Sori deh ya, tapi ini bukan hanya masalah pengorbanan, tapi rasionalitas dan kemanusiaan juga. Pemerintah sama sekali gak memberi insentif (setidaknya untuk uang transport atau apapun) kepada penghulu yang keluar di jam kerja/ hari libur. Kecuali kalo itu tadi, semua pernikahan harus dilaksanakan pada jam kerja kantor dan ditempat yang sudah disediakan. Nah itu tuh, kalau seperti itu dan masih menerima amplop barulah bisa dikatakan gratifikasi, karena emang gak layak Penghulu nerima yang seperti itu..

Ketiga, Ridwan Saidi (babe) di TV One mengatakan bahwa ketika Ia menikahkan anaknya dulu ia harus membayar 20 juta kepada petugas KUA. Masya Allah.. kalau emang benar seperti yang dikatakan Babe, bukan korupsi namanya, tapi ZALIM itu. 20 juta mau dipake buat apa ituuhhh?? Nah, mungkin itu salah satu yang menjadi dasar bergulirnya wacana ini. Tapi ya itu tadi, riset kayaknya cuma diadakan di Jakarta doang deh. Di kasus Ayah saya (dan temen-temennya Kepala KUA di kab.Sleman), gak pernah adalaaaahhh yang macam kayak gitu -____-” paling banter amplop itu isinya 100.000 sama bingkisan Parsley.. zz

Keempat, saya ingin cerita aja. Penghulu itu juga punya kehidupan loh selain menikahkan anak orang. Mereka juga punya keluarga, punya hobi, punya keinginan berkumpul dengan anak-istrinya dan pengen diem dirumah untuk sekadar merebahkan diri. Tapi there are no holiday in Saturday-Sunday for Penghulu. At least apa yang aku rasakan sebagai seorang anak penghulu yaa.. Sabtu-Minggu itu hari yang sibuk buat mereka, banyak sekali permintaan nikah di hari itu di tempat yang beda-beda, dan bahkan juga akad diluar kecamatan yang dipegangnya.. Sebagai abdi masyarakat tentunya Ayah saya juga gak bisa milih-milih dan menentukan harus gimana haru gimana buat keluarga mempelai, jadi ya manut aja gitu.. Nah jarak yang saling berjauhan + jam-jam yang seharusnya dipakai untuk berkumpul bersama keluarga dikorbankan untuk menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat. Tapi disisi lain, tidak ada mekanisme substitusi untuk itu semua. Apalagi dalam kasus seperti ini ya, Ayah dan Ibu saya kebetulan LDR (Ibu di Madiun bersama adek yang paling kecil), sebagai seorang kepala keluarga dan suami yang baik, tentu Ayah saya pengen banget setiap minggu sekali pulang untuk nemuin anak-istrinya disana. Tapi hal itu seringkali dikorbankan karena hari Sabtu-Minggu Ia pakai untuk berdinas.

Jadi yaa.. bisa disimpulkan sendiri lah ya.. mungkin kalau penghulu2 di Jakarta kaya-kaya gitu karena emang ‘lahan basah’ disana yang bisa dijadikan sapi perah. Namun di kecamatan-kecamatan kecil di Kabupaten Sleman, jangan dong disamaratakan. Lagian gak semua KUA seperti itu juga kaan.. Lagian nih ya, setelah prosesi akad nikah, buku nikah itu langsung diberikan dari Penghulu ke mempelai tanpa ada penguluran waktu atau transaksi apapun. Jadi setelah buku nikah diserahkan, urusan antara penghulu-mempelai udah kelaaarr.. lar lar.. nah habis itu biasanya keluarga mempelai menyerahkan amplop gitu. Nah buat apa? buat uang transport dan tanda terima kasih aja, just it. Mempelai aja tau kalo Penghulu gak dikasih ongkos buat transport -_-” Nah seringkali juga nih ya (ini yang paling sering sebenernya), keluarga mempelai gak ngasih duit sepeserpuun. Ciyus ini. Dan Penghulu pun gak ada punya hak untuk mintak-mintak. Ciyus dah. Kadang dikasih roti atau makanan manten gitu, gak melulu amplop. Nah, kalau dikasih bungkusan nasi gitu, apa iya namanya gratifikasi? Njug perlu gitu dilaporin ke KPK?

Nah dari sedikit yang dijabarin diatas, saya sih gak ingin menyimpulkan apapun. Tapi polemik seperti ini juga harus segera diselesekan, jangan cuma menggulirkan wacana aja. Kasih solusi kongkrit donggg wooiii kementrian agama dan KPK -____-“. Seenggaknya ada beberapa hal yang harus dibenahi untuk mengatasi hal ini : pertama Peraturan Pemerintah harus TEGAS ! masak iya ada pasal yang menyebutkan bahwa akad nikah wajib diadakan di KUA, dan pasal lain sebaliknya (boleh ditempat lain asal ada kesepakatan antara mempelai-penghulu), itu gimana siiihhh logikanyaa? kalo gak mau menimbulkan ambiguitas, ya pasal tersebut harus diperjelas ! biar gak menimbulan celah pemberian gratifikasi ! mempelai GAK BOLEH nikah kecuali hanya di jam kerja dan bertempat di KUA. gitu contohnya.. piye sih.. Kedua kesejahteraan para penghulu juga harus diperhatikan. Kalau memang gak memungkinkan untuk ‘memaksa’ masyarakat nikah di KUA dan mencegah adanya ‘gratifikasi’ ya harus jelas dong mekanisme penggantian ongkos transport dan ganti rugi dinas di luar jam dan hari kerja. Penghulu juga manusia meeennn..

Ini sekadar sharing aja ya.. pengalaman pribadi sebagai pengamat kepenghuluan di rumah. Hahaa.. Jadi kalau ada yang mau berbagi pengalaman, silahkan 😀

Awesome New Year Celebration (?)

Happy-New-Year-2013-Photos-HD-Wallpaper-1080x632

Yup, first of all, I just wanna say Happy New Year eve for all people who celebrated it. Saat banyak orang sibuk merayakan tahun baru dengan menghambur-hamburkan duitnya dengan pergi ke pesta-pesta perayaan, bakar-bakaran kembang api, nongkrong di alun-alun atau sekedar pacaran di kuburan, saya sekeluarga malah gak ada yang antusias merayakan. Buat saya pribadi, yang menarik dari malam tahun baru adalah acara di televisi yang oke punya. Ya, cuma itu. Jarang-jarang banget antusias nonton tipi sekeluarga, yang biasanya isi tipi cuma Putri Bidadari, Tukang Haji Naik Bubur, Separuh Aku dll digantiin dengan filem-filem box office lengkap dengan sensor yang kebangetan abis hahaa.. Seru aja ngumpul lengkap sekeluarga di ruang tengah (jarang loh ya, secara keluarga kita ini broken home wakakaa) nontonin tipi sambil sesekali berkomentar disambi ngemil dan minum teh anget. Buat saya pribadi, hal itu momen langka yang cuma bisa kejadian satu dua kali aja. Ya mengakhiri tahun 2012 dengan duduk manis di depan tipi bagi banyak orang memang jadi hal yang iyuuuhh gak banget deh, tapi buat saya dan keluarga momen ini spesial banget, sama spesialnya dengan merayakan tahun baru di hotel berbintang buat keluarga kaya, sama spesialnya dengan merayakan tahun baru di restoran mewah bagi para pasangan baru. Ya, sama dengan mereka, atau mungkin lebih..

Ya, itu sedikit gambaran bagaimana kami sekeluarga mengakhiri tahun 2012 (dan tahun-tahun sebelumnya pun demikian juga). Saya dan adik-adik memang diajari untuk tidak terbawa arus untuk meniru-niru gaya hidup kaum hedonis (maaf agak kasar, saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan gaya hidup orang-orang yang dengan gampangnya mengeluarkan uang hanya untuk hal-hal yang sebenarnya tidak substansi, oh jangankan substansi, mungkin mereka saja tidak tahu untuk apa mereka mengeluarkan uang itu), ya kami tidak terbiasa diajari seperti itu, merayakan sesuatu yang sebenarnya penting gak sih untuk dirayain? toh, kita sebagai umat muslim saja merayakan tahun baru islam tidak pernah, bahkan sepi dan tidak ada refleksi diri, mau berfoya-foya merayakan tahun baru.. mainstream abis.

Menjelang jam 12 malam, orang-orang berkumpul di satu titik tertentu, menghitung mundur dari 10.. 9..8..7.. sampai 3..2.. dan bertambah keras, dan akhirnya..1… dan semua orang meniup terompet, panitia acara meledakkan kembang api, semua orang bertepuk tangan dan berpelukan. Njug? So what gitu loh? apakah dengan begitu tahun baru nanti akan jadi lebih berarti, bermakna, bermanfaat dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya? yang ada, orang-orang yang kelayapan malam sampai pagi-pagi buta itu bakalan tidur dini hari, bangun kesiangan, gak sholat shubuh (bagi yang muslim), jadwal berantakan, bangun-bangun lemes karena telinga dan pikiran masih pening dengan suara terompet dan kembang api dan sebagainya dan sebagainya… See? Itukah cara orang mengawali pagi hari di tahun yang baru? yang KATANYA dengan semangat yang baru?

Yang paling miris yang terjadi di awal tahun adalah : banyak abege labil kita yang menggadaikan kehormatannya dengan pacarnya. Katanya, untuk mengawali kisah yang baru, kesetiaan seorang pacar harus diuji, ya pembuktiannya adalah mau diapa-apain termasuk ‘ditidakperawanin’ oleh pacarnya. Dan, -agak gak tau hubungannya ya, tapi- momen yang paling banyak dipilih adalah ketika akhir atau awal tahun. Lihat saja, selain jalan-jalan dan kafe/ restoran yang penuh, (bisa disurvei juga) hotel-hotel kelas melati pasti juga penuh di tanggal 31 Desember. Saya benar-benar gak habis pikir, tapi ini nyata loh! Pagi-pagi liat berita di 1 Januari, udah banyak berita tentang tergerebeknya pasangan bukan suami istri di hotel kelas melati di banyak penjuru negeri ini, belum lagi yang gak ikut ke gerebek atau pasangan yang lumayan tajir njug ngelakuinnya di hotel berbintang, belum lagi buat pasangan yang gak punya duit sama sekali yang ‘maennya’ di tengah kebon atau kuburan. To the MI to the RIS. MIRIS.

Perayaan macam apa itu? Begitu yang disebut dengan semangat menyongsong hari yang baru? Ngakak deh gue..

Kalau menurut saya pribadi sih, gak salah juga orang antusias merayakan tahun baru bersama orang-orang terkasih, jalan-jalan kemana gitu, makan yang spesial dimana gitu, saya sekeluarga juga kerapkali (walaupun gak ada momen) merayakan sesuatu di warung makan mana gitu… ya sebagai perwujudan rasa syukur aja. Namun, merayakan sesuatu secara berlebihan, apalagi sesuatu yang kita rayakan itu tidak pernah ada dalam anjuran Nabi (bagi yang muslim) dan termasuk kategori bid’ah yang hanya sia-sia dan mubadzir, saya rasa patut juga dipikirkan. Tahun baru yang sejatinya adalah momen dimana kita mengevaluasi diri, membentuk dan merencanakan resolusi di tahun depan tidak selayaknya menjadi ajang untuk memubadzirkan rezeki yang telah diberikan Allah kepada kita. Ya, orang kaya dengan banyak duit sih mungkin tidak menganggapnya mubadzir, tapi orang-orang yang biasa-biasa aja.. yang sebenarnya duitnya bisa ditabung untuk hal-hal yang lebih bermanfaat? apakah itu bukan tindakan yang menzalimi diri sendiri? dan lagi, lihaaat dong sekeliling kita.. lihat dong kondisi bangsa kita… dumeh anggota DPR boros pakai duit anggaran rakyat, apakah kita juga harus ikut-ikutan boros? dan lagi.. yang lebih miris, lihat dong saudara kita yang ada di Gaza, Palestina.. apakah sempat mereka memikirkan perayaan tahun baru, wong untuk memikirkan lolos dari rudal Israel saja mereka sudah setengah mati… Apakah pantas untuk kita berfoya-foya ditengah kondisi dunia yang ruwet seperti ini?

Bahkan kemarin saya liat diberita, ada sekelompok remaja tanggung yang nekat mencuri motor dan mencopet orang-orang. Untuk apa? Ternyata setelah diselediki, mereka nekat melakukan tindakan kriminal itu supaya bisa merayakan tahun baruan bersama teman-temannya yang lain. Sumpah, nek ini… *speechless* *menghela nafas panjang..* dan kasus ini ada banyak banget. Mungkin bukan salah mereka sepenuhnya kali ya, setidaknya ada dua faktor yang menjadi pendorong sekaligus penarik fenomena ini, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang merupakan faktor pendorong berasal dari dalam diri sang abege. Ilmu psikologi populer percaya bahwa manusia Indonesia yang berumur belasan tahun (14-19 tahun) yang masuk dalam kategori pra dewasa (remaja) adalah fase dimana ke-alay-an sedang di pucak-puncaknya, artinya emosi mereka masih labil, mengimitasi menjadi sebuah keharusan, dorongan hormon yang ada dalam diri mereka mendorong mereka untuk meniru apapun yang mereka yakini keren (oke agak ngaco yaa -_-, pada intinya masa ini adalah masa dimana remaja sedang mencari jati diri, sehingga apa yang menjadi obyek kesenangan adalah tujuan mereka). Dan lagi faktor pendorong tersebut adalah keluarga (yang menurut saya menjadi faktor yang sangat menentukan), keluarga dengan segala ke-egaliterannya akan membebaskan anak-anaknya untuk memburu kesenangan duniawi tanpa memikirkan mudharat yang akan dituainya di kemudian hari. Keluarga dengan segala ketercukupannya justru memfasilitasi sang anak untuk menggunakan sumber daya yang ada untuk berpesta foya mengikuti trend yang sedang marak… Naudzubillah.. Dan faktor eksternal yang menjadi faktor penarik fenomena tersebut adalah lingkungan. Ya, lingkungan yang mengkondisikan kita untuk mengikuti gaya hidup hedonis seperti itu. Dan jadilah, fenomena free sex, pencurian untuk memenuhi kebutuhan berfoya foya dan lain lain menjadi hal yang ‘lumrah’ terjadi pada setiap perayaan tahun baru.

Tahun baru sejatinya disambut dengan semangat dan harapan yang baru. Lembaran lalu yang telah penuh coretan baik tinta emas maupun tinta hitam adalah bentuk evaluasi untuk memperbaiki dan bermuhasabah. Semoga Allah senantiasa mencurahkan nikmat dan berkahnya untuk kita semua di tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya.. Amin. Once more time, happy new year eve everybody 🙂

Gangnam Style vs Joget Poco Poco. Menang mana hayoo?

Girls generation make you feel the heat
Jeon segyega neoreul jumogae
B-Bring the boys out
Wiipungdo dangdanghaji ppyeossokbuteo
Neon wonrae meotjyeosseo
You know the girls
B-Bring the boys out

Yoi bagi sebagian orang lirik diatas pasti sangat tidak asing, terutama bagi Sone (fans club SNSD) yang jumlahnya di Indonesia bisa sampai berratus-ratus ribu manusia. Saya sendiri tidak begitu suka dengan sepak terjang K-Pop yang begitu menghegemoni dunia hiburan tanah air dewasa ini. Bukannya sok-sokan ya, tapi jujur saya jauuuuh jauuuh lebih senang band-band dalam negeri seperti Noah, D’Masiv, Padi, Sheila on 7 dan sebagai sebagainya. Karena selain bisa nyanyinya (kan pakai bahasa Indonesia kan ya), tau lirik-liriknya dengan bener, kreativitas mereka sama sekali tidak kalah dengan band-band apalagi boyband/ girlband dari Korea. Saya pernah sangat ngefans sama boyband asia juga sebenernya. F4 namanya. Mereka itu buat saya adalah cikal bakal lahirnya boyband/ girlband Korea yang mulai merajai seperti sekarang. Walaupun sekarang sudah tidak terdengar lagi eksistensinya, tapi yang namanya Jerry Yan akan tetap ada dihati #tssaaahh.. Oke, mulai kehilangan fokus. Balik lagi ke demam K-Pop. Sebenernya saya sudah pernah menuliskan ini sebelumnya, tapi tergelitik untuk nulis lagi gara-gara timeline twitter rame banget sama konser SM Town yang disiarkan RCTI kemarin dan hari ini (bagi yang gak tau, SM town itu adalah salah satu manajemen artis Korea. Artis-artisnya antara lain yang saya tahu : Super Junior, SNSD, Shinee, FX, EXO, Boa dll à gak tau dah bener apa enggak haha. Saya juga baru tau SM itu ya gara-gara ketika mereka mau konser di Jakarta). Saya kemarin juga ikut-ikutan nonton konser SM town di tipi karena penasaran sebenernya, apa yang membuat orang menggilai artis-artis Korea. Jujur, saya juga sebenarnya pengen bisa ngefans sama Korean artist, hal ini tentu saja terkait dengan eksistensi saya di mata teman-teman hahaha, ketika banyak teman membincang Korea, saya sama sekali gak ngerti apa yang mereka ributkan, makanya saya berniat untuk suka juga pada Korea, tapi ternyata gagal.

Sekilas saya mengamati yang eksplisit terlihat, semakin saya mengerti kenapa orang-orang benar-benar tergila-gila pada mereka. Selain lagu yang mungkin easy listening, artis-artisnya rupanya kinclong-kinclong. Saya memperhatikan lekat-lekat di televisi, dan memang tidak ada yang memungkiri bahwa wajah-wajah mereka benar-benar mulus seperti porselen. Kaki-kaki teman2 di SNSD (oke, ini sok kenal) benar-benar jenjang, putih mulus tanpa cela, tidak ada sama sekali noda apalagi koreng. Mulus kayak jalan yang baru diaspal. Pantas saja para pria jingkrak-jingkrak gak jelas ketika mereka memperoleh kesempatan melihat langsung para Barbie-barbie Korea itu.

Bisa dikatakan, industri musik Korea sukses besar saat ini, dan bahkan diprediksi eksistensinya akan memberikan pengaruh yang besar pada dunia hiburan internasional. Hal ini terkait dengan kreativitas dan kemahiran manajemen artis dalam ‘memoles’ mereka. Sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa artis Korea mungkin adalah artis-artis yang paling ‘menderita’ di seluruh dunia. Perjuangannya berat, sekali masuk dalam sebuah manajemen artis, maka seluruh potensi yang ada dalam dirinya, baik suara, badan, bahkan kehidupan mereka adalah di tangan manajemen. Mereka tidak bisa lagi bergerak dalam ruang bebas, semuanya tersistematika dengan rapi diatur oleh para manajer. Dan memang mereka memperoleh segalanya yang diinginkan oleh artis-artis di seluruh dunia : kepopuleran, harta dan berjuta-juta suara  yang mengelu-elukan. Ya, itu mungkin yang menjadikan setiap konsernya di Jakarta sukses berat. Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat Indonesia yang lebih memilih Korea daripada band dan artis dalam negeri dalam hal ini. Namun, saya benar-benar berharap suatu hari nanti industry musik dan hiburan tanah air menjadi raja dinegeri sendiri, tidak selalu dinomorsekiankan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Ada sebuat tweet menggelitik yang kemarin saya baca dari seorang teman yang juga tidak begitu suka oleh sepak terjang Korea, kurang lebih tweetnya seperti ini : Kenapa harus K-Pop? Kenapa gak ada B-Pop (Batak Pop), S-Pop (Sunda Pop), J-Pop (Jawa Pop), M-Pop (Minang Pop) dll. Padahal Indonesia punya banyak lagu bagus dari sana. Saya benar-benar setuju dengan itu. Kalau bisa, saya mau meritwitnya ratusan kali untuk statement itu. Ya benar, kita punya banyak lagu yang keren dari daerah-daerah kita sendiri, tanah air kita sendiri. Korea Selatan hanya memiliki satu bahasa, dan kita.. ya, kita punya lebih dari 100 an bahasa daerah, dengan dialek yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Dan kita juga punya bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Yang dimanapun kita menginjakkan kaki di tanah air, orang-orang akan mengerti itu. Mungkin Indonesia adalah satu-satunya Negara yang memiliki bahasa daerah paling banyak. Kemajemukan itu adalah potensi besar. Bisa dikatakan, tidak pernah ada konflik sosial yang terjadi di Negara kita hanya karena masalah bahasa. Padahal, di Kanada, masalah bahasa yang berbeda bisa menjadikan sebuah daerah terpisah dari induknya (Quebec yang melakukan referendum dan memisahkan diri dari Kanada. Negara-negara bagian Kanada yang lain memakai bahasa Inggris sedangkan masyarakat Quebec memakai bahasa Perancis). Tapi kita tidak pernah! Saya harus bilang WOOWW untuk itu.

Lagu-lagu daerah kita tak kalah easy listening lho, saya yang pengetahuan musiknya sangat cetek ini saja tau itu. Apuse, Ambon Manise, Injit-Injit Semut, Bubuy Bulan, Sinannggar Tulo, Sajojo, Ilir Ilir, dll hanya sebagian dari list musik dari daerah yang sangat bagus. Jika mau, lagu-lagu itu bisa juga booming di dunia internasional. Tapi tentu saja hal itu mustahil kalau masyarakat Indonesianya sendiri tidak mengenal dan bahkan asing apalagi menggemari lagu-lagu tersebut. Kita manusia Indonesia memang salah peradaban, atau lebih tepatnya : dididik untuk salah peradaban. Siapa yang mendidik itu? Globalisasi jawabannya. Kita salah menyikapi globalisasi, dan beginilah kita sekarang : tak tau arah, tidak tahu identitas, tak bisa membedakan mana yang seharusnya diwaspadai dan mana yang seharusnya dijaga.

Oke, itu hanya sedikit coretan akan kegelisahan saya mengenai demam Korea yang membabi buta. Seakan-akan kita anak Indonesia dilahirkan dan ‘diharuskan’ menggemari kebudayaan Negara lain. Bagaimana bisa saya mengatakan ‘diharuskan’? Ya, system yang seolah-olah mengharuskan. Para promotor musik yang lebih senang mengundang artis Korea dibanding artis dalam negeri, media massa yang lebih gencar memberitakan sepak terjang artis Korea dibanding prestasi artis dalam negeri, penghargaan dan apresiasi yang rendah dari pemerintah dan masyarakat untuk seniman dalam negeri, dan sebagai bagainya. Tulisan ini bukannya ingin menghakimi bahwa para everlasting fans, sone dan fans club artis Korea lainnya itu salah. Jelas bukan, karena itu adalah hak asasi individu yang tidak patut dipersalahkan. Saya hanya ingin sedikit membuka wacana, wacana nasionalisme dalam bentuk yang paling sederhana yang mungkin dianggap basi dan tradisional. Oke sekian dari saya see yaa :))

Oiya, ada yang ketinggalan. Untuk demam Gangnam Style yang sekarang lagi digilai banyak orang (bahkan Britney Spears dan artis Hollywood lainnya), buat saya itu fenomenal banget. Bagaimana tidak? gerakan jingkrak-jingkrak sambil tangan diputar-putar diatas kepala bisa menjadi sebuah ‘tarian internasional’ dan dijiplak, dimodifikasi dan dikiblati (serta digemari) oleh banyak orang. Saya memang punya pengetahuan yang sangat minim untuk masalah kesenian, tapi plis deh.. gerakan itu… gak banget.. Pertanyaannya, bagaimana bisa joget Gangnam bisa boom seperti itu padahal gerakannya biasa aja? ya itu adalah PR pemerintah dan pelaku hiburan dalam negeri untuk mencari tahu. Saya ingiiiiiiiinnnn sekali seingin-inginnya, suatu saat nanti joget Poco-Poco dikenal dan menjadi kiblat untuk tarian sehat internasional. Poco-Poco itu keren banget. Bahkan dulu saya sempat memprotes waktu jaman SMP ketika joget Poco-Poco yang dipakai untuk senam tiap Jumat pagi diganti dengan senam Ayo Bersatu. Poco-Poco itu lebih seksi dibandingkan Gangnam Style menurut saya. Gerakannya elegan, lagu yang dipakai easy listening banget, bisa dimodifikasi dan yang pasti : bikin sehat.

Oke sekian, salam Poco-Poco…

*tulisan lainnya tentang K-Pop bisa dilihat disini

*waktu googling gambar untuk blog ini, nemu deh gambar2 ini hahaha :

*kalo masalah tampang, kayaknya artis Indonesia gak kalah deh. Cantik & cakepnya alami lagi.. hehhe.. gambar2 diatas diambil dari sini