Studi di Thailand (Part 2): Bertahan hidup dengan kerja paruh waktu*

Hai ! butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan niat buat nulis lagi. Distraksi di dalam negeri dasyat, bikin males-malesan ehehehehee. Oke, berikut aku coba share sedikit pengalaman studi pas di Thailand ya. Kali ini tentang strategi bertahan hidup dengan kerja paruh waktu. Sebenernya ini tulisan untuk IM (Indonesia Mengglobal), tapi karena yang nulis disana kelasnya kaya kak Maudy Ayunda, dan berhubung daku tahu diri, mending daku terbitin disini aja deh. Hahahaa.

—————–

Bukan merupakan hal yang sulit saat ini untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berbagai informasi tawaran beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, instansi/ lembaga tertentu, maupun pemerintah negara lain bisa ditemukan dengan mudah dan menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di negeri lain.

Meskipun demikian, tidak semua lembaga penyedia dana memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa menyediakan biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, dan ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dome building

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi nimba ilmu di negeri orang, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu selama disana

Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Thailand

  1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di ibu kota Negeri Gajah Putih itu dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi. Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas pergaulan dan jaringan kita.

Saya sendiri, pada akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu menjadi guru mengaji untuk seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun (kelas 2 SD) yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang Ia banyak menanyakan pertanyaan kritis, tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing. Oleh karenanya, tak jarang sebelum saya mengajar, saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini tentu menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, saya juga belajar banyak dari murid saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016 di KBRI Bangkok bersama Dubes
  1. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di Sekolah Internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Di Thailand sendiri, permintaan pengajar bahasa Indonesia cukup tinggi karena Thailand adalah negara yang masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata ajar Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di jurusan Southeast Asia Studies (untuk S1) dan ASEAN Studies (S2), tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, Teaching Assistant, maupun native yang diminta untuk menguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Tentu saja ini merupakan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain memperluas pergaulan dan jaringan pertemanan, kamipun mendapatkan honor yang layak dari dosen dan saya juga belajar banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang tak jarang banyak berkomentar mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan filem dan lagu Indonesia. Dengan begini, saya dapat lebih memahami Negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

  1. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik di acara KBRI maupun di acara yang diadakan oleh kampus maupun instansi lainnya. Karena upaya itu, tak jarang mereka mendapatkan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun, rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Tentu acara ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.

Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk ”unjuk gigi”, baik dengan melakukan performance budaya negaranya maupun menjual makanan/ masakan khas negara asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thammasat University International Night, 2016
TU International night 2014
Thammasat University International Night, 2015
  1. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain. Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan expertise dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya

  1. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga. Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Talingchan trip while studying Bahasa
Piknik wkwk

Hal-hal diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan (untuk bersekolah di luar negeri) tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang kurang memadai.

*Tulisan untuk http://www.indonesiamengglobal.com sebelum digubah 

Advertisements

Pejuang Skripsi (2)

Setelah episode 1 yang sarat dengan curhatan emosional dan ungkapan kepedihan selama skripsi, di episode ini saya coba sharing sedikit deh pengalaman saya lagi tentang pengalaman mengerikan 1.5 tahun kemarin. Jadi gaes, menurut saya pribadi sih ya, ada dua sudut pandang melihat skripsi buat para mahasiswa nih: satu, melihat skripsi sebagai sebuah masterpiece. Buah dari konstruksi pikiran selama bersemester-semester di jaman kuliah, sebuah mahakarya yang harus dipoles dengan cantik tanpa cacat. Dan dua, tipe mahasiswa yang melihat skripsi hanyalah sebagai persyaratan administratif untuk bisa lulus dan menjalani kehidupan pada tahapan selanjutnya dengan mulus. Menurut saya pribadi sih, tidak ada yang salah dengan dua pemaknaan diatas. Mungkin hal ini tergantung dengan visi yang bakal dijalani pasca kehidupan postkampus. Pandangan pertama, yang melihat skripsi sebagai sebuah masterpiece, bisa jadi memang passionnya si tipe ini adalah di ranah akademisi, mau jadi dosen, peneliti, atau bercita-cita untuk kuliah lagi. Jadi kaum tipe ini cenderung sangat memperhatikan kualitas skripsinya, mencari topik yang unik dan kekinian, sebisa mungkin menghindari kesalahan, dan syukur-syukur nantinya hasil tulisan bisa diprospek untuk diterbitkan. Sedangkan tipe yang kedua, orang yang memaknai skripsi hanya sebagai sebuah batu yang harus dipecahkan (atau dilompati) supaya bisa kembali berjalan dan meneruskan hidup, tidak bisa dikatakan salah juga. Mungkin visi tipe ini di masa depan tidak ada kaitannya dengan dunia penulisan, akademis dan ngajar mengajar. Bisa jadi mau jadi praktisi, pengusaha, penulis cerpen, atau ibu rumah tangga. Terserah. Yang jelas, sekali lagi. Sebaik-baiknya skripsi, adalah yang selesai. Jadi terserah mau memaknai skripsi seperti apa, yang paling penting adalah skrpsi itu harus selesai, Ki Sanak.

Continue reading “Pejuang Skripsi (2)”

Pejuang Skripsi (1)

images

Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan dan adek-adek yang akan, sedang dan dalam proses berdarah-darah menyelesaikan tugas akhir/ skripsinya. Ini tulisan subyektif, berdasarkan kisah nyata penulisnya. Jadi jangan ada yang nge-sitasi apalagi dijadiin referensi ya. Hahaha songong.

Jika ditanyakan, apa hal yang paling mengganggu dan menyebalkan selama kuliah, saya –tanpa keraguan sedikitpun- langsung akan menimpali “Skripsi adalah sebuah penderitaan, dan amit-amit gak akan mau mengulanginya lagi. Dia adalah kesalahan terbesar selama kehidupan kuliah. Dia dementor, penyerap kebahagiaan”. Begitu. Itu ungkapan terjujur saya tentang skripsi. Tapi biar begitu, ibarat peperangan, kita adalah lakon dan skripsi adalah lawannya. Apapun yang terjadi, kita harus menang. Dan begitu tiba –kemenangan itu- rasanya seakan dihujani kebahagiaan bertubi-tubi. Ya, memang sepantasnya sesuatu yang menyulitkan, yang membutuhkan perjuangan besar nantinya hanya akan bisa terbayar dengan kebahagiaan yang besar pula.

Bagi teman-teman yang merasa stuck atas skripsi nya, susah dapet datanya, berkali-kali ditolak dosennya, dijudesin, sampai gak berani ketemu, hal itu menurut saya wajar saja. Bagian dari perjuangan. Saya pikir setiap orang mengalami demikian, dinamikanya sendiri. Begitupun saya *sigh*. Saya mengerjakan skripsi kurang lebih satu setengah tahun, dalam rentang waktu tersebut, hidup seolah diliputi kecemasan, waktu berasa cepet banget, apalagi ketika tahu teman lain sudah banyak progres dan bahkan sudah banyak yang lulus dan diwisuda. Duh sakit kak. Continue reading “Pejuang Skripsi (1)”

NLSSA (ngeblog lagi setelah setahun absen) *gapenting banget judulnya*

Widiiihhh lama amat yak gak pernah buka blog sendiri *benahin meja kursi, beresin sarang laba-laba*. Terakhir ngepos adalah setahun (lebih) yang lalu, 15 Agustus 2013, dan itupun postingannya ababil stadium lanjut *bbr sungkem ke semua yang pernah baca*. Alhamdulillah kondisi jiwa sekarang sudah mulai stabil dan gak sering kumat lagi insy Allah, jadi kalaupun mau nulis kayanya udah gak bakal bisa segalau dulu lagi heuheu *gatau mesti sedih atau seneng*

Oke deh, apa ya.. hmm. Dalam kurun waktu setahun ini, sudah teramat banyak yang terjadi. Yang pasti sekarang titel baru, sebagai sarjana alhamdulillah sudah resmi disandang muahaha *kibas toga*. Tapi bukan berarti status sebagai pelajar, pembelajar dan mahasiswa itu lantas ilang. Belum genap setengah tahun ngerasain nikmatnya (?) jadi sarjana, sekarang Allah, Tuhan Yang Maha Baik memberikan (kembali) kesempatan untuk bisa duduk di bangku kuliah. Masih segerrr dalam ingatan ketika berdarah-darah dan bercucuran air mata (ini beneran) ketika garap skripsi, satu setengah tahun berjuang melawan kemalasan dan rasa frustasi yang berkali-kali menghampiri. Kalau skripsi itu ibarat pacar, dia adalah pacar yang rewel dan ngeselin banget tapi di sisi lain memberi nafas kehidupan. Dia rewel, bikin gemes, tukang bikin anak orang nangis, kesel, bikin frustasi dan kadang ga nyaman banget, tapi dia juga adalah salah satu yang amat layak diperjuangkan karena dia yang memberi nafas kehidupan, yang ketika kita putus ditengah jalan darinya, putus juga nafas kita selanjutnya muahah *ga nyambung yoben* pada intinya adalah, dia adalah sesuatu yang sangat worth it untuk diperjuangkan. Dan ketika kita berhasil menyelesaikannya, MASYA ALLAH BAHAGIANYAAAAA *ups sori capslocknya tetiba on sendiri*, kita berhasil menaklukannya dan mengantarnya sampai meja penghulu! yeay. Masih segar bugar ucapan yang sering sekali terlontar dari mulut saya ketika jengah banget dengan skripsi “ga bakal lagi seumur-umur garap beginian”. Dan taraa… disinilah sekarang saya. Berkutat dengan paper demi paper, dan kurang dari setahun lagi akan menghadapi sindrom skripkinisasijiliddua alias tesis. Hahaha *jedotin kepala* Aneh ya manusia itu? tapi alur kehidupan juga lebih aneh dan unik lagi. Saya yang benci banget naudzubillah dengan skripsi waktu itu (bahkan orang-orang minta kopian skripsi aja gak ada satupun yang aku kasih), kini berada satu selangkah lagi untuk mengalami masa-masa yang sama seperti dulu, bahkan dengan tingkat kesulitan yang jauuuuh lebih tinggi. Mungkin ini yang namanya benci tapi cinta, ganteng tapi srigala.. *abaikan*. 

Bisa mencicipi kuliah di negeri orang bukan merupakan harapan akan capaian tetinggiku, kemarin ataupun saat ini. Ini hanya batu loncatan saja. Aku ingin menjadi orang yang tidak pernah berhenti belajar, dan ini salah satu caraku untuk terus menerus mengasah otak dan perasaan, melalui bangku kuliah dan pengalaman demi pengalaman menghadapi kerasnya kehidupan. Di lain pihak, aku adalah seorang anak, apasih yang lebih diinginkan seorang anak melainkan melihat kebahagiaan orang tuanya? Ini juga menjadi caraku untuk menunjukkan cinta pada Bapak dan Ibu, serta dua adikku. Pernah suatu ketika Bapak bicara, “aku tidak butuh uangmu, (ketika itu aku sudah bekerja), yang Bapak butuh adalah kamu harus jadi seseorang yang bisa menjadi inspirasi untuk adik-adikmu” dan aku menerjemahkan kata-kata itu sebagai: kalau kau ingin orang tuamu bahagia, belajar dan belajarlah, tuntunlah ilmu kemana saja, jadilah role model bagi adik-adikmu dan jadilah calon ibu yang cerdas untuk anak-anakmu kelak, supaya apa yang orangtua selama ini perjuangkan tidak sia-sia, mengantarkan anak-anaknya ke pencapaian tertingginya. 

Duh waktu thailand bagian udah ngantuk banget. Maap yee, ini tulisannya gak beraturan banget, niatnya tadi mau nulis tentang apa,, jadinya nulis tentang apa hmm. Oke deh, besok-besok insya Allah kalau selo bakal disempatin untuk ngeblog lagi. See ya salam dari rusun boncabe lantai 5 :* 

 

CYMERA_20140819_114404[1]20140831_135259[1]

Generasi Merunduk 2013

GambarHalo halo halo teman-teman di seluruh nusantara. Ini kebangetan banget ya, lama gak apdet blog *bersihin sarang laba-laba*. Bukan maksud sih, sebenarnya selama ini pengen beut ngepuisi atau nyerpen di blog ini, cuma karena ada sesuatu hal (baca:skripsi) jadi niat suci jadi terganggu gitu deh. Yah, kok bisa ya, anomali banget. Skripsi yang harusnya jadi masterpiece tulisan seorang mahasiswa, di sisi lain bisa-bisanya jadi tukang ngebiri kreativitas orang. Hmm *nyalahin skripsi* *toyor*

Mau nulis apa yak. Tentang fenomena sekarang aja kali yak, yang udah berasa dan sedikit meresahkan. Teknologi. Especially smartphone’s addictive. Oke, kenalan dulu ya dengan smart phone. Smartphone (telepon cerdas) menurut Bapak Wikipedia adalah telepon genggam yang mempunyai kemampuan tingkat tinggi, kadang-kadang dengan fungsi yang menyerupai komputer. Bagi sebagian ekspertis teknologi, telepon pintar merupakan telpon yang bekerja menggunakan seluruh perangkat lunak sistem operasi yang menyediakan hubungan standar dan mendasar bagi pengembang aplikasi. Tapi bagi sebagian yang lain (yang lebih banyak tentunya) telepon pinter hanya merupakan sebuah hape yang menyajikan fitur canggih seperti internet, kamera yang bisa bikin cantik, aplikasi gratis sosmed, email, GPS atau paling banter untuk baca e-book.

Oke, saya gak bakalan soktau dengan segala macem fitur-fitur itu, apalagi sampe nyerempet-nyerempet ke sistem operasi atau apalah itu, terus terang saya gak dong, dan takut salah. Poin yang saya tekankan disini adalah, bagaimana telepon yang katanya pintar ini telah mempengaruhi kehidupan setiap manusia modern. Setiap tahun, pengguna smartphone di Indonesia terus merangkak naik. Segmentasi pasarnya pun kini beragam. Yang dulu hanya eksmud, dosen, karyawan kantoran, teknolog dan sebagian mahasiswa papan atas saja yang menggunakan ponsel modern ini, sekarang bahkan ibu rumah tangga dan anak SD pun sudah punya. Ini serius, anak TPA saya yang masih kelas 5 SD udah punya Blackberry! Men, disaat hape saya masih Nokia bersenter, doi udah BBM an sama temen-temen little kimchilnya. How good! Smartphone sekarang laris manis kayak kacang goreng. Penetrasi nya ke kehidupan sosial kita pun semakin gencar.

Kita, tentu tidak bisa memungkiri bagaimana smartphone ini benar-benar dapat membantu kehidupan kita, pekerjaan sekaligus sosialisasi kita dengan orang-orang. We are connected each other through –that we called smartphone-, and it gives us many benefits –we can’t deny it-. Kita bisa akses email, ngerjain tugas, baca jurnal dan e-book, update berita, sekaligus dapat berkomunikasi melalui aplikasi sosial media yang murah meriah. Benar-benar sangat menguntungkan. Ini tidak bisa dibantah!

Tidak hanya manfaat yang diperoleh, seperti sebuah keniscayaan, yang namanya penciptaan itu selalu memiliki dua sisi yang (kadang) bersebrangan. Ada juga beberapa hal yang kadang membuat saya resah dan gelisah, gundah gulana gara-gara smartphone. Jujur deh! Apa yang kamu pegang petama kali setelah bangun tidur? Kalau aku, hape. Langsung liat notifikasi, apa ada SMS, miskol, wasap atau apapun itu. Barulah habis itu ngambil air wudhu dan sholat. Astahfirullah… tapi ya gitu, biarpun udah sadar kalau itu abnormal, tetep aja gak bisa ditinggalin. Kebiasaan ngecek hape setiap habis apapun itu udah dari dulu terbentuk. Gak hanya bangun tidur, tapi juga kalau habis kelas, habis turun dari naik motor dan habis-habis yang lain. Aak! Dan saya sih yakin saya banyak temennya. Hape (smart atau tidak) udah bener-bener membuat kita tergantung. Sehari aja hape ketinggalan, wah serasa hari itu kiamat. Berakhir. Gak bermakna. Padahal, hello, we still have any people around us yang harus lebih diperhatikan dan dirumat daripada hanya sekadar bermanja-manja sama hape.

Ini sih pendapat pribadi saya, saya kok merasa, cara hidup kita kok kayaknya udah bener-bener berubah ya. Yaa yang saya rasakan sih seperti itu. Bayangin aja, jaman dulu waktu hape belum jadi pusat kehidupan kita, kalau kita main ke tempat teman dan udah berdiri di depan rumahnya. Apa yang kita lakukan? Ketok pintu, ketemu sama keluarga temen kita dulu, ngobrol bentar, baru tanya : “si anu ada tante?” atau “cari si anu om, ada gak?”. Tapi sekarang, kalau kita udah berdiri di depan rumah temen, apa yang kita lakukan? Sms. “bro keluar, gue udah depan rumah lu nih”, atau kadang malah ngetwit “ih si anu lama bener deh gue udah setengah jam nunggu dpan rumahnya”. Nah! Ada distorsi interaksi sosial disitu. Itu hal kecil aja sih, dimana kadang hape bikin kita jadi kayak manusia yang ‘asosial’. Bukan itu aja,  kadang saya suka kesel sendiri sih, waktu ngobrol sama orang, dan yang diajak ngobrol malah asik senyam senyum sendiri lagi wasapan sama temen/ pacarnya. Ooh damn! Helo itu gueh ada di depan muka elu, dan elu malah sibuk dengan monitor! Seenggaknya kalau mau berhubungan sama hape mbok yo bilang dulu, ada yang gak bisa nunggu atau gimana gitu… Kadang itu bikin saya tersinggung, dan kadang sakit hati juga. Ya, teknologi memang mendekatkan yang jauh…. dan kadang juga menjauhkan yang dekat.

Ya, our social life has totally changed. Keunggulan lain dari smartphone adalah banyaknya aplikasi sosmed yang ditawarkan secara Cuma-Cuma untuk penggunanya. Aplikasi seperti twitter, facebook, path, BBM, WA dan sebagai-sebagainya sudah sangat lumrah digunakan oleh pengguna smartphone. Bahkan, tak jarang ada orang yang punya sekian banyak sosmed, padahal kalau di dunia nyata doi nya gak pernah keliatan. Ya, eksis di dunia maya aja gitu. Aplikasi-aplikasi itu memang memudahkan setiap orang berbagai informasi, sharing pengalaman, atau ngasih banyak masukan positif. Tanpa kita tanya ke temen-temen pun, kita udah langsung tau sendiri apa yang sedang dia pikirkan, apa yang lagi dia kerjakan dan bagaimana suasana hati dia pada saat itu.. Proses transinformasi itu berlangsung gitu aja. Orang-orang seperti mempunyai kewajiban untuk terus memberi kabar pada orang lain tentang dirinya, tanpa diminta.. update status, twitpic, 4square, atau yang lainnya. Hal-hal yang kadang sangat gak penting pun dikabarkan, seolah-olah itu sudah menjadi semacam ‘aturan’ pergaulan di dunia maya. Ya, sayapun demikian juga. Berdasarkan pengalaman memang, kecenderungan untuk mengabarkan semua yang kita lakukan itu adalah sebuah bentuk pencarian perhatian model baru, kita seolah-olah jadi haus kasih sayang, dan oleh karenanya mencarinya dengan membuat status-status yang ‘mentionable’ dan bahkan dibuat-buat, ya itu.. untuk mencari perhatian dari pengguna jejaring sosial. Padahal, sebenarnya jika punya masalah atau butuh cerita, tidak bijak rasanya kalau semuanya ditulis di jejaring sosial, kita masih punya teman, sahabat dan keluarga yang selalu siap meminjamkan kuping dan pundaknya kapan saja kita butuh. Tidak harus mencari perhatian lewat jejaring sosial.

Dampak lainnya yakni berkaitan dengan kesehatan pengguna. Oleh karena kecenderungan smartphone adalah bunyi terus, entah panggilan, sms, notifikasi atau apapun itu. Hal ini membuat kita jadi sering sekali berhubungan dengan si dia (baca:hape). Dampaknya gak baik banget buat kesehatan pengguna karena radiasi yang dipancarkan oleh si pinter itu lama-lama akan merusak otak. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa radiasi ponsel dapat memicu tumor otak dan insomnia, terlalu sering menatap layar hape juga dapat menyebabkan rasa mual dan sakit kepala. Gak hanya itu aja, dampak langsungnya berasa banget di mata, ya kan? Berinteraksi dengan hape terus-terusan bisa bikin mata kita sakit, kabur dan kering. Eh jangan salah, smartphone juga kadang bisa menyebabkan gangguan jiwa. Gak percaya? Coba amati deh orang yang sering banget di depan hape, kadang bisa senyum-senyum sendiri atau bahkan ngakak-ngakak. Yah gitu deh. Komplikated banget yak? Yah, I called it anomali teknologi.

Tentu hak dasar manusia mau milih pake alat komunikasi semacam apa. Banyak orang-orang yang sebenernya lebih dari mampu untuk mengakses smartphone tapi hape depannya masih Nokia 1100 yang Cuma bisa buat nelpon dan sms. Ya itu pilihan, karena mungkin dia merasa belum butuh sama si telpon pintar. Ada juga yang sebenernya gak butuh-butuh amat tapi bawaannya IOS, android, BB 10, Windows phone dan yang lain-lainnya, padahal keperluannya cuma buat apdet status atau twitpic doang. Banyak temen yang make dua smartphone sekaligus, dan akhirnya malah setres sendiri karena waktunya habis buat dating sama si pinter dan duitnya juga habis buat kasih makan si hape. Ya terserah manusia nya sih. Kalau berduit mah pake apaan juga bisa, tapi alangkah baiknya apa yang kita gunakan itu sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan hanya buat gaya-gayaan apalagi tuntutan zaman biar ikut arus utama.

Teknologi itu harusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Teknologi itu harusnya mengembangkan kreativitas dan bukan mengebirinya. Teknologi itu harusnya mempermudah bukan memperrumit. Teknologi tidak seharusnya mendikte, manusia tidak seharusnya menggantungkan diri. Mari lebih bijak menggunakan teknologi !

Selamat datang di generasi merunduk 2013 !