Punya iman kok manja

ramadan-inspirational-quran-quotes-memes-6

Hai haii. Alhamdulillah sudah memasuki hampir sepertiga Ramadhan tahun ini. Semoga Ramadhan tahun ini bisa bikin kita jadi manusia yang lebih baik lagi ya Fellas.

Udah lama banget absen nulis semenjak nesis. Semoga setelah ini (karena tesis udah kelar, alhamdulillah) bisa rajin nulis lagi. Berasa banget kaku-kakunya jari-jemari diatas keyboard T_T

Bingung mengawali tulisan post thesis syndrome nih. Muehehe. Mau curhat lagi, kasian yang rajin baca, pasti lelah sama semua keluh kesah ane. Mau nulis yang berat-berat… duh bentar dulu, masih cidera otak pasca thesis defense. Jadi, ya nulis seadanya yang lagi dipikirin aja kali ya.

Kebetulan, akhir-akhir ini jagat sosmed lagi rame banget sama berita tentang kebijakan beberapa pemerintah daerah untuk menutup warung-warung makan di siang hari dengan justifikasi menciptakan lingkungan yang kondusif selama bulan ramadhan. Satu berita yang sangat viral bisa dilihat disini  atau link berita live nya disini , tentang bagaimana pemerintah kabupaten Serang merazia warung-warung makan yang buka di siang hari dan melayani customer yang tidak berpuasa. Awal ngeliat dan baca beritanya, satu yang saya rasakan: BAPER PARAH. Kebaperan ini bukan hanya fakta bahwa ketika melihat tayangan tersebut yang langsung terbayang di otak saya adalah Ibu saya sendiri, yang juga punya warung (walaupun bukan warung makan). Saya membayangkan kalau ibu yang warungnya di razia itu adalah Ibu saya, dimana yang saya tahu pendapatannya berjualan adalah bukan hanya untuknya sendiri, melainkan untuk keluarganya, untuk sekolah saya dan adik-adik saya, untuk menyambung hidup keluarga kami. Bukan hanya bayangan itu yang bikin baper. Kebaperan ini lebih kepada rasa tersinggung saya terhadap kebijakan Pemkot yang menurut saya justru melecehkan nilai iman seorang Muslim. Apakah dengan menutup warung makan di siang hari keimanan kita bertambah? apakah dengan membuat semua orang tidak makan dan minum di bulan Ramadhan membuat nilai ibadah kita semakin tinggi di hadapan Allah? yakin Allah makin sayang ketika kita justru merampas hak orang yang mencari nafkah dengan jalan halal?

Mohon maaf jika saya sok tahu, saya sepenuhnya sadar betul bahwa pengetahuan agama dan tindakan beragama saya mungkin jauh dibawah kebanyakan orang. Tapi ini menggemaskan buat saya. Ada beberapa hal yang membuat saya muntab banget ketika baca berita tentang ini.

Pertama, bahwa seolah-olah keimanan umat akan mlempem ketika masih banyaknya warung makan yang buka di siang hari. Coba kita tengok tentang makna puasa dulu deh.

Melalui surat Al-Baqarah:183 dan ayat-ayat lainnya dalam Al-Quran, Allah secara langsung memerintahkan umat Muslim untuk melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu bagian dari keimanan (wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa -QS Al-Baqarah:183-). Ini berarti tujuan utama puasa adalah supaya menambah ketaqwaan kita sebagai hamba di dunia. Dimana, esensinya orang yang berpuasa adalah menahan diri dari kesenangan-kesenangan yang dihalalkan di bulan biasa (makan, minum, bersenggama dengan suami/istri, dll), meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, mengtintensifkan ibadah dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Semua upaya itu adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Masalah taqwa ini masalah personal ya menurut saya. Yang bisa mengukur seberapa taqwa nya kita adalah Allah, bukan orang lain. Orang lain hanya tahu outputnya aja: bagaimana seseoang memperlakukan orang lain, bagaimana cara dia memandang sekitarnya. Ya, pada intinya masalah taqwa ini benar-benar kembali pada urusan personal manusia dengan Allah, ga perlu lah kita menunjukkan bahwa kita lebih bertaqwa atau lebih baik atau lebih lebih yang lainnya dari orang lain. Private sector gitu lah. Nah masalahnya, apakah untuk mencapai ketaqwaan melalui puasa tersebut kita perlu bantuan orang lain? Memaksa orang lain untuk “membantu meningkatkan ketaqwaan kita” dengan cara tidak memperbolehkan orang lain untuk buka warung di siang hari (?) karena yang demikian akan mengganggu puasa kita, mengganggu kita mencapai taqwa (?). Kalau yang demikian masih menjadi argumen issued nya kebijakan tutup warung di bulan ramadhan, saya sebagai umat muslim benar-benar tersinggung. Ini seolah-olah menjadi pembenar bahwa (sebagian) umat muslim Indonesia itu imannya masih kaya bocah TK, yang kalau di iming-imingi jajanan dia kepingin, yang kalau temennya minum cha yen (Thai milk tea) terus mokel alias mbatal (Kaya si Macca Tanka, anak ngajiku umur 7 tahun) haha. Ya engga kan? insya Allah iman kita ga setipis kulit bawang atau selembek kerupuk, yang ketika kena kuah rendang atau esteh langsung mlempem, kan? Mau seribu warung makan di depan mata, orang berlalu lalang sambil ngemil chayen (the worst temptation for meeeh!!), insya Allah kalau emang beneran niat puasa karena mencari ridho Allah ga akan batal (a ridiculous thing that you break your fasting just because someone eats next to you. You’re not fasting then, you’re just hungry). Lalu bagaimana dengan: “gimana dengan anak-anak kami yang sedang latihan berpuasa? mereka bisa kesulitan kalau liat orang makan atau warung makan buka di siang hari?” Jawaban saya cuma satu: kalian para orang tua, apakah mau mengajarkan intoleransi pada anak sejak kecil? bilang ke mereka kalau warung makan itu harusnya ga boleh buka dan orang yang makan di dalamnya adalah orang yang jahat? Kasih pengertian baik-baik kepada sang anak, bahwa yang diwajibkan berpuasa adalah umat muslim. Orang non muslim tidak, dan sebagian golongan orang Islam pun tidak diwajibkan berpuasa (orang tua, orang yang sedang sakit, ibu hamil, musafir, perempuan haid dan nifas dsb). Itulah mengapa masih ada warung makan yang buka untuk melayani beberapa golongan ini.

Kedua, mengenai menghargai hak-hak orang lain.

Orang Indonesia bukan hanya orang Islam aja, kan. Mayoritas? ya emang mayoritas Muslim, njuk, so what? Bukan berarti kita bisa bertindak sok superior dan arogan terhadap yang minoritas dong. Bukankah Islam mengajarkan untuk menghormati hak-hak orang lain (sekalipun dengan non-muslim), bertoleransi kepada non-muslim (dalam hal interaksi dan muamalah)? Bahkan Allah sendiri melarang kita untuk memaksakan Agama Islam kepada non-muslim (Al-Baqarah:256). Kalau Allah saja melarang kita untuk memaksa orang-orang agama lain untuk masuk Islam, siapa kita memaksa-maksa orang lain (even non-Muslim!) untuk ikut berpuasa? Situ segitu pengen dingertiin banget ya?. Lalu gimana dengan konsep “menghormati dua arah”? ya memang benar bukan hanya orang Muslim yang berpuasa saja yang wajib menghormati orang yang ga puasa, tapi org yang ga puasa juga perlu dong menghormati orang yang berpuasa? Yayaya. Apa tirai-tirai yang dipasang di warung untuk nutupi orang-orang yang lagi makan itu kurang? mintanya apa sih?. Lagipula, hak orang lain untuk mencari nafkah dengan jalan halal juga harus diutamakan. Sangat bisa jadi si Ibu itu adalah Muslim taat yang sangat bergantung dengan pendapatan warungnya untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarganya. Dobel ga sih kita dosanya? dosa karena merampas hak orang lain (non muslim dan muslim yang tidak diwajibkan berpuasa) untuk makan, dan dosa menzalimi orang beriman yang sedang berjihad mencari nafkah untuk keluarganya?

Ketiga, mengenai legal-formal penutupan warung di bulan ramadhan

Jutifikasi tindakan Satpol PP dalam menertibakan warung-warung makan yang masih beroperasi di siang hari di bulan ramadhan adalah Perda (Peraturan Daerah) Kota Serang no 2 tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat. Dalam perda tersebut, ada beberapa permasalahan sosial yang ditindak seperti gepeng (gelandangan dan pengemis), PSK, becak, razia anak sekolah, PNS dan lain-lain. Dan ketika bulan ramadhan tiba, dalam rangka menciptakan lingkungan yang kondusif, warung-warung makan di Kota Serang dilarang beroperasi di siang hari. Rasionalisasi dari kebijakan ini apa sih? dan bagaimana dengan masyarakat yang terdampak dari kebijakan ini? kalau masalah gepeng atau PSK, bisa saja mereka yang ditertibkan kemudian diserahkan ke dinas-dinas terkait, Dinsos misalnya. Lah kalau masyarakat yang emang mata pencaharian utamanya adalah berjualan makanan? mau ditaruh dimana mereka? apa Pemda mau menanggung nafkah mereka selama satu bulan? Kan bisa berjualan di sore/malam hari? Oke, bisa ya. Masalahnya, tidak semua penjual memiliki warungnya sendiri. Ada beberapa tempat yang memang dikontrakkan untuk usaha kepada lebih dari satu pengusaha. Misal kalau pagi-siang dijadikan warung makan, sore-malam jadi tempat cuci motor; atau pagi-siang dipakai buat jualan bubur/ nasi kuning, sore-malam jualan bakmi dan nasi goreng. Yang berjualan beda orang. Ini hal yang sangat lumrah dimana-mana. Lalu apakah pemerintah mau menanggung nafkah para pengusaha warung makan yang kedapetan jatah untuk berjualan pagi-siang hari? Belum lagi isu mengenai, apakah kemudian Perda ini singkron dengan peraturan-peraturan diatasnya? sesuai dengan substansi nilai Pancasila (terutama sila 2 dan 5)? Yang menurut saya juga agak miris adalah, hal ini juga didukung oleh MUI melalui surat edaran yang mendukung tindakan represif untuk menutup warung-warung makan ketika ramadhan. Lalu, rasionalisasi dari dukungan ini apa ya? Dalam Islam sendiri, apa ada peraturan yang melarang orang-orang berhenti berdangang/ berjualan ketika Ramadhan tiba? Islam adalah ajaran yang rahmatan lil alamin, sungguh miris ketika umat Muslim justru malah menjadi ancaman bagi umat muslim lainnya. Sependek pengetahuan saya, sejak perintah puasa ini diturunkan, Rasulullah (SAW) menghimbau umat untuk memperbanyak amal soleh, memperkuat ibadah dan lebih peka terhadap masalah-masalah sosial di sekitar. Belum pernah dengar perintah atau kisah mengenai Rasulullah (SAW) yang memerintahkan umatnya untuk tidak berdagang dan berhenti melayani kebutuhan umat saat bulan ramadhan. Jangan bawa-bawa nama agama untuk menjustifikasi kebijakan bodoh kalian dong.

Keempat, mengenai jihad seorang Ibu yang mencari nafkah. Ibu saya adalah juga pedagang. Doi berpuluh-puluh tahun membantu suaminya menjadi tulang punggung untuk keluarga kami. Karena beliaulah kami bisa dengan bahagia menjalani hidup yang serba berkecukupan, pendidikan yang layak, pakaian yang cukup dan rumah mungil yang damai. Aduh ini baper banget, tapi gimana ya… ngebayangin aja kalau Ibu -yang selalu bangun jam 3 dini hari, siap-siap jualan tanpa mengesampingkan tugasnya mengurus suami, anak-anak dan rumah- digangguin secara brutal oleh mafia berseragam, diambilin dagangannya tanpa ampun, nangis-nangis (kaya yang di video) sambil merutuk-rutuk kebingungan besok anak-anaknya makan apa. Apakah pemimpin daerah itu bisa tidur dengan nyenyak diatas ketidakridhaan seorang ibu yang sedang berjihad yang telah dizaliminya? Pedagang-pedagang kecil macam ini bukan orang yang punya banyak modal yang bisa seenaknya buka tutup warung tanpa mikir keluarganya bisa makan apa enggak. Orang-orang kayak gini modalnya ya dari pendapatannya hari itu. Apa yang di dapet dari hasil jualan hari itu yang penting bisa nutup pengeluaran dan buat makan, terus lanjut buat modal di hari berikutnya. Kalau ada untungnya ya paling bisanya cuma buat beli baju lebaran atau tabungan pendidikan anak. Udah gitu aja. Kalau jualannya diangkutin gitu (yang kemudian hasil ‘razia’ nya itu akhirnya ga jelas kemana juntrungannya, apakah dimakan bareng-bareng satu kantor Pol PP atau bahkan dibuang), dia bukan hanya akan sulit untuk melanjutkan bisnisnya, bahkan untuk makan keluarganya di hari itu dan hari berikutnya mungkin juga kesulitan. Apakah pemerintah memikirkan sejauh itu ketika mereka membuat kebijakan yang mengada-ada itu? Hambok kalau bikin Perda ki mbok sek masuk akal rasionalisasinya dan dipikirin juga analisis dampak sosialnya.

—–

Allah menjanjikan keberkahan berlipat-lipat bagi umatnya yang berpuasa di bulan Ramadhan. Ini karena puasa bukanlah perkara mudah. Makanya Allah dalam firman-Nya hanya mewajibkan puasa pada orang-orang yang beriman, bukan pada semua orang. Puasa bukan hanya sekedar berlapar lapar dan berhaus-haus. Ada nilai lebih yang Allah ingin sampaikan melalui kewajiban puasa: bagaimana menjadi hamba yang pandai mengolah batin, menahan segala kesenangan dan nafsu untuk menjadi individu yang lebih sabar, lebih bersyukur, lebih berempati pada sesama untuk mencapai kesalehan individu, semata-mata karena Allah SWT (lillahi ta’ala). Lalu kalau kita saja masih ketakutan puasa kita gak berpahala gara-gara banyak warung makan buka di siang hari, melihat orang lalu lalang pegang somay atau bakso tusuk, ada baiknya kita lihat lagi niat kita. Jangan-jangan selama ini memang kita berpuasa hanya mengikuti tradisi dan tren umat muslim di bulan Ramadhan (yang hanya tidak makan dan minum) tanpa mengindahkan esensi puasa sebagai media kita untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Naudzubillah…

Terakhir, saya hanya ingin curhat. Sebagai seorang muslim yang hidup di negara yang mayoritas non-muslim, godaan kami disini bukan lagi pada level orang-orang makan enak di pinggir jalan di siang hari atau warung-warung dengan bau gorengan yang bikin lambung bergejolak setiap saat. Bagi kami, masa-masa itu sudah jauh lewat. Kami disini, melalui puasa, benar-benar digembleng untuk berempati dan sabar: sabar dengan jadwal kuliah dan kerja yang tidak ada bedanya antara bulan puasa dan bulan biasa; sabar dengan pertanyaan banyak orang mengapa kok umat Muslim mau-maunya susah-susah puasa 30 hari; sabar dengan banyaknya godaan cewe-cewe cantik yang sibuk pamer dada dan paha (biggest distraction for men); sabar dengan cuaca yang super ekstrim (kalau ditempat saya super panas, di tempat lain mungkin super dingin); dan sabar menanti waktu berbuka tentunya (karena ada beberapa bagian dunia yang puasanya mencapai 19-22 jam sehari). Bagi kami, hal ini tentu sama sekali bukan masalah. Toh kami percaya bahwa ada “nilai lebih” dari segala tantangan-tantangan itu. Bahwa makin banyak godaan, distraksi, dan kesulitan yang mengiringi ibadah puasa kami, kami percaya bahwa (insya Allah) imbalan yang akan kami peroleh juga lebih besar. Amin ya Rabbal alamin…

—–

IMHO (udah lama pengen bilang ini, no offense haha), umat muslim di Indonesia sudah terlalu banyak privilege nya ketika Ramadhan tiba, mulai dari kelonggaran jam kerja-sekolah sampai banyaknya diskonan di bulan ramadhan. Gak mengherankan karena memang mayoritas penduduknya Muslim sih ya. Hehe. Sedangkan kami disini? Jangankan merasakan seperti itu, bahkan kebutuhan dasar sehari-hari seperti prayer room di tempat umum aja masih susah banget dicari. Apalagi takjilan dan buka bersama di masjid, sangat sangat langka. Mbok ya o, yang peka sedikit. Puasa ya puasa, tapi ya jangan arogan sama orang yang ga berpuasa, apalagi sampai ngerampas hak orang jualan yang melayani orang yang ga berpuasa. Punya iman jangan manja!

Have a blessed Ramadan, folks!

Advertisements

Rindu

Sudah hampir sampai akhir perjuangan berantem dengan tugas-tugas kuliah master dan setahun menderita bersama anak kesayangan (Tesis) sampai pada akhirnya masa-masa lelah berkepanjangan itu menemui titik nadirnya: Hari ini. Sudah beberapa hari, tanpa ada sebab yang jelas, air mata yang jarang datang itu tidak lagi bisa tertahan dari selaput prekornealnya. Mengalir deras tak tertampung lagi. Hanya ruang sholat perpustakaan dan mukena basah yang menjadi saksinya. Pikirku, ini adalah masa-masa terberat menanggung kerinduan dengan kampung halaman, dengan kedua orang tua dan kedua adik tercinta. Rindu dengan hangatnya sentuhan fisik dari mereka, rindu dengan berisiknya suara teriakan adik-adik yang telah beranjak ABG, rindu dengan nyaringnya panggilan adzan dari toa masjid di sebelah rumah, rindu dengan sejuknya udara subuh di kampung nan sepi. Rindu yang teramat dalam. Rasanya dada ini sesak oleh perasaan-perasaan menyiksa yang tak kunjung terlampiaskan.

Mereka bilang, jarak tidak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Tapi tidak bagiku. Jarak itu nyata. Senyata perasaan lelah menanti dan mengangan pertemuan yang entah kapan. Senyata kasih sayang yang tak kunjung tersalurkan melalui kecup dan pelukan. Jarak itu ada. Dan aku benci mengakui ini, bahwa aku (saat ini) ternyata kalah olehnya. (saat ini) Aku ternyata tidak sekuat yang aku pikir. Aku sedang lemah. Aku benar lelah.

Hanya doa dari mereka yang sedikit menenangkan. Kalaupun aku masih tegak sampai sekarang, itu karena harapan pertemuan itu tetap terus ada. Aku rindu rumah. Aku rindu pulang.

Bangkok, 19 Mei 2016

Anakmu yang tak akan pulang sebelum ujian,

Pattaya Trip !

 

Entah kekuatan apa yang menggerakkanku kembali ngisi blog ini. Mungkin ini yang namanya… bosen nulis tesis. Hahaha. Oke deh, sedikit sharing cerita ga penting tentang pengalaman jalan-jalan. Kali ini edisi Pattaya. Kebetulan beberapa minggu yang lalu, salah satu temen baik waktu kuliah S1 dulu, si Resdi dateng berkunjung ke Bangkok, bawa bebek pedes gombong yang endes bets *penting banget di mensyen*. Karena dia lumayan lama di Bangkok, akhirnya kita memutuskan untuk piknik aja ke provinsi lain, ketempat yang hits dan gaul (untuk orang Indonesia), recharge baterai sekaligus ngabisin duit *kibasin recehan*

Daan jadilah tanggal 25-26 Maret kemarin kita piknik ke Pattaya. Kita berdua (plus Fauzan, jadi bertiga) memutuskan untuk ga mau capek-capek mikir, pokoknya piknik aja sejadinya dah. Pokoknya semuanya serba ga banyak riset, dan begini hasilnya, semoga bisa bermanfaat buat yang mau piknik ke Pattaya dari Bangkok dengan tanpa ngeluarin banyak energy:

  1. Akomodasi. Lewat www.booking.com , kami ngebuking satu kamar untuk bertiga dengan bajet yang lumayan kecil. 500 baht semalam (setara 200 ribu rupiah) untuk dua orang, dan plus 200 baht untuk extra bad (jadi, total 700 baht semalam, dibagi 3 orang). Nama hostelnya Malee Pattaya 3. Lokasinya mayan strategis sih, di Soi Bua Khao, Pattaya Klang (Central Pattaya). Di sekitar lokasi penginapan kami, bertebaran banyak fasilitas seperti restaurant, rental motor, seven eleven (tentu saja!), dan night market. Mayan deket juga dengan beberapa obyek wisata disana kaya Jomtien Beach, Musium Ripleys, dll. Dan lebih beruntungnya, karena dekat sama walking street nya pattaya yang terkenal. Cukup jalan kaki kira-kira 15 menit. Hihihih
  2. Transportasi ke dan dari Pattaya. Sebenarnya pertamanya Resdi ngajak naik kereta, tapi karena daku pernah sangat trauma naik kereta (waktu perjalanan ke Chiangmai), akirnya kami naik travel (van) dari Victory Monument, Bangkok. Disana ada banyak agen travel yang menyediakan van ke tujuan manapun, termasuk ke Pataya. Tapi hati-hati milih van sih, kadang kalau kita gatau harga normalnya, bisa dapet van dengan harga yang mayan mahal. Pertama kali saya sama Fauzan nanya harga van ke Pattaya, agen bilang 150 baht sekali jalan. Di saat yang sama Resdi tanya ke agen yang lainnya, nemu Cuma 97 Baht aja. Jadi temen-temen, kalau dari Bangkok ke Pataya naik van, range harga normalnya 93-97 baht ya. Salah satu kelebihan naik van adalah, nyaman dan dianter sampai tempat terdekat dengan lokasi penginapa. Karena kami di central pataya, kami bilang ke supir untuk diturunkan di dekat lokasi penginapan kami (nunjukkin almaat hostelnya). Daan bener, dari lokasi turun van sampai ke penginapan cukup jalan kaki 15 an menit tanpa harus naik angkot lagi. Efisien banget.
  3. Transportasi lokal. Udah pernah disinggung di tulisan yang lalu, transportasi di luar Bangkok itu agak ribet, gak rapi dan ga terintegrasi. Setelah sebelumnya tanya-tanya ke teman dan riset sedikit, kami akhirnya memutuskan untuk rental motor aja. Sebenarnya ada song teaw (angkot), tapi ya itu. Jalurnya ga jelas. Kata teman yang pernah kesana, dulu dia nyewa song teaw gitu, iuran sama temen-temennya, karena transport ke obyek wisata disana lumayan susah, dan jatohnya mayan murah kalau missal perginya rombongan. Tapi karena kami Cuma bertiga, akirnya kami memutuskan untk sewa 2 motor. Harga sewa motornya bervariasi, pilihan motornya pun juga bervariasi. Mau motor bebek, kopling atau matic. Mau yang biasa apa yang gede. Semuanya ada. Dan, setelah nanya ke beberapa rentalan, akhirnya nemu yang paling murah, yaitu 200 baht permotor perhari dengan uang jaminan 500 baht permotor. Sedikit curhat tentang motor. Saya, yang udah 9 bulan ga pulang kampung, ngeliat motor ini rasanya…. duh seneng biyanget, akirnya bisa naek motor lagi, setelah selama ini mentok-mentok Cuma bisa bonceng tukang ojek yang mana supir ojek di Bangkok itu superlaknat semua. Bahkan ga kemana-manapun, asal bisa di depan ngendarain motor, rasanya udah bahagiak. Hahahahaa *langsung ngelirik kulit tangan yang jadi geseng banget*Thailand_5600

    IMG-20160325-WA0024
    bahagianya bisa naik motor sendiri yeay
  4. Destinasi wisata. Karena kita cuma punya sedikit waktu (dan bajet, of course! Haha), kita cari destinasi wisata yang bisa terjangkau motor aja (dan kalau bisa free admission fee hahaha). Berbekal google maps dan beberapa blog travelling, kitapun mulai menjelajah beberapa obyek wisata di Pataya, berikut list nya:
    1. Wat Khao Yai. Atau big buddha’ temple. Terletak sekitar 20 an menit naik motor dari Central Pattaya. Lokasinya kaya kalau kita mau ke gunung kidul, naik turun asoy gitu. Tapi ga gitu jauh, dan disana juga ga gitu rame sih. Dan yang terpenting… ga ada tiket masuknya, alias geratis. Ahahaha. Oiya disini juga adalah salah satu titik lokasi gardu pandangnya Pattaya, jadi bisa liat pemandangan kota Pattaya dari atas.
    2. Jomtien Beach. Dari Wat Khao Yai, kita cari destinasi terdekat via google maps, dan nemu ini. Walaaupun bukan pantai utama yang sering dituju turis (biasanya pantai utama adalah Pattaya beach), tapi kami justru bersyukur karena ga banyak orang di pantai ini. Pasirnya putih, relative sepi, ga banyak karang, dan pokoknya lumayan asik lah. Pemandangan sunset dari pantai ini sebenernya mayan bagus (kalau kita sabar nunggu sunset ya, secara di Thailand sun nya suka telat nge-set), tapi pedagang-pedagang minuman dan persewaan kursi dan payung-payung itu udah pada bubaran kalau sore. Thailand_5917
    3. Walking street pattaya. Jujur, diantara semua obyek wisata yang saya kunjungi selama di Pattaya, justru jalan-jalan di walking streetnya pattaya lah yang paling berkesan buat saya. Sebenernya bukan hal yang baru sih jalan ditempat kaya begini (di Bangkok ada Patpong dan Khaosan Road yang hampir mirip ini), tapi karena ini Pattaya (ya, Pattaya!), dimana konon lokasi prostitusi terbesar dan termsasyur di Thailand berlokasi. Jalan di tempat ini, dengan baju barbar (ya, saya yang barbar, karena saya pakai jilbab sendiri di tengah manusia-manusia berpakaian minim), jadi tantangan tersendiri. Excited banget! Di tempat ini, jalanan sejauh kira-kira lima kilometer dengan berbagai bar, kafe, hostel, dan aneka macam “tempat menjajakkan kesenangan duniawi” berada di kanan kirinya. Mulai dari jenis perempuan tulen sampai perempuan jadi-jadian. Mulai dari arab, asli Bangkok, asia, china, sampai wanita berkulit pucat berambut pirang dari rusia dan eropa timur, semuanya tersedia ditempat ini. Mulai dari pelayanan standar sampai yang luar biasa, semua bisa dijajaki asal ada duit. Ga Cuma itu, di tempat inilah cabaret show yang paling termasyur se Thailand diselenggarakan. Di Alcatraz namanya. Kita ga sempet nonton sih, karena cukup berjalan dari ujung ke ujung aja udah cukup bahagia dan puas. Thailand_9682Thailand_6126Thailand_4863
    4. Sanctuary of Truth. Sebenernya ini kita belum jadi mampir sini sih, Cuma masuk area depannya aja, karena kita keberatan sama fee admissionnya yang mencapai 500 Baht perorang. Lah ya sama aja kaya masuk grand palace (itupun masih tambah tiket ke Anantha Samakorm dan Vimanmek Mansion), dan pas kita baca-baca sejarah dan ngamatin arsitekturnya (dari pusat informasi di Sanctuary of Truth), kayanya bakalan biasa aja. Hahaha *sebenernya kemahalan aja sih alasannya* wkwk Santuaryoftruth2
    5. Silverlake Pattaya. Dari semua obyek wisata yang kami kunjungi, inilah yang paling menyedot energy paling banyak. Lokasinya ternyata jauh banget, sekitar 23 km dari central pattaya. Dan ternyata emang di kompleks ini sedang dikembangkan banyak obyek-obyek wisata baru. Di sekitar Silverlake, ada juga grand Buddha image, Nongnooch Village, Sheepfarm (?), dan banyak lagi. Kalau di silverlakenya sendiri, ini sebenernya asik sih buat para pemburu foto untuk instagram, karena emang disediakan banyak spot-spot yang instagram-able gitu. Ada tur keliling kompleks silverlake, cukup dengan 100 Baht saja, dianter kereta mini jalan muter kompleks dan bonusnya, dapet jus anggur hasil dari budidaya di silverlake ini.

       

Daan, itulah.. kami cuma punya waktu satu hari plus setengah hari di Pattaya. Dengan modal duit pas-pasan dan kemampuan membaca google maps yang tertatih-tatih, seenggaknya kita udah berhasil check-in di beberapa destinasi hits di Pattaya. Dan sebenernya yang paling penting dan berarti adalah, saya sendiri bisa sedikit refresh otak dan melarikan diri dari penatnya hidup di Bangkok. Dan, kalau diitung-itung, bajet yang kita keluarkan juga ga banyak, coba diitung lagi: transportasi PP (anggaplah 200 baht); akomodasi (233 baht perorang); sewa motor+beli bensin (150 baht); admission fee (karena ngirit, obyek wisata yang bener-bener kita bayar cuma 1, cuma 100 baht hihi); dan makan jajan paling cuma 300an baht. Jadi total, less than 1000 Baht! Bahahahaha. Dengan bangga, sekali lagi mengumumkan bahwa, mahasiswa dengan bajet travelling terngirit, lagi-lagi jatuh ke tanganku! Hahaha. Happy travel folks!

 

Chiangmai-Chiangrai Trip 20-24 Des 2015

Udah setahun lebih tinggal di Bangkok, baru punya kesempatan untuk ngebolang menjajah provinsi lain. Kebangetan. Gara-garanya adalah, biasanya kalau ada liburan semester milih untuk dipake balik ke Indonesia.Baru libur winter break Desember lalu (gaya bener namanya winter break), memutuskan untuk ga pulang kampung dan memilih menjelajah daerah lain tanah Thai ini.

Dan, jadilah kami mahasiswa kere anak-anak angkat sungai chaopraya memutuskan untuk trip ke Chiangmai-Chiangrai. This is a toughest trip ever! Kenapa? Karena kita yang notabene cuman punya sangu pas pasan ini berusaha liburan asik dengan bajet sengirit mungkin. Daaaaan ini hasilnya: *tunjukin memar-memar di sekujur badan*

Okedeh, ini pengalaman kami (ainun-aini-arya-tiar), semoga tidak dijadikan referensi bagi kawan-kawan yang mau ngetrip ke Chiangmai-Chiangrai dari Bangkok (atau kota lain).

—— Continue reading “Chiangmai-Chiangrai Trip 20-24 Des 2015”

Tulisan ini terlalu tak bermutu untuk diberi judul (1)

Selamat pagi salam dari rumah kedua di Bangkok : Pridi Banomyong Library. Tiap hari nongkrong disini, bentar lagi jadi permanent resident dan kayanya butuh bawa odol, sikat sama bantal biar bisa bener-bener netep disini. Oke deh, berbulan-bulan setelah declare kalo “bakal sering-sering nulis di blog” ah pret banget. Blog aja tapi ini yang di PHP. Kamu enggak kok bang… tapi emang bingung juga sih mau nulis apaan. Kalau nulis yang berat-berat sayang juga otaknya nih, mending buat nulis paper atau tesis, kalau mau nulis yang galau-galau, udh keseringan di path, kalau mau nulis kisah cinta kita, gapenting bang, yang penting besok nulisnya di buku nikah aja. Oke ini gue nulis apaan –“

Pada akhirnya aku memutusan untuk nulis…………. curhat aja *gubrak*. Kepada para pemirsa yang sekiranya eneg dan hendak muntah, dipersilakan meninggalkan ruangan *njuk bubar kabeh*.

Jadi gini, udah setahun lebih coy di perantauan. Etapi jangan salah, udah sering balik juga ini *kibas duit* *kemudian dikejar-kejar sama debt collector*. Dan diantara setahun lebih petualangan di negeri orang ini, baru bulan-bulan ini aku ngerasa.. ngerasa gimana ya, takut dan agak gak nyaman. Bukan gegara harga beras yang naik, atau nilai tukar rupiah yang melorot terus, atau gegara gebetan gue ternyata gay, bukan juga gegara faktor tukang sayur cantik yang ternyata cowok. Bukan semua. Semuanya masih sama: perasaan pada tempat ini, perlakuan mereka, ritme hidup disini. Semuanya masih sama. Yang membuat berbeda adalah, karena ini udah tahun kedua dan semester ketiga, which means 1 more semester left. Ini hidup atau kereta shinkanzen, cepet bingit sumpah. Dan tentu saja, bukan fakta bahwa aku bakal segera pulang kampung yang bikin kalut. Ya enggaklah kalau itu. Pemirsa yang tahu sejarah masa silam semester akhir Ainun pasti bakal tau, apa yang bikin kalut. YAK TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN ADALAH THESIS. Hm, entah kekuatan dari mana yang meng-On kan capslcock ini.

Continue reading “Tulisan ini terlalu tak bermutu untuk diberi judul (1)”