Lalalala ~ (part 2)

Udah berabad-abad semenjak blog ini terakhir disentuh oleh pemiliknya yang makin hari makin tua dan malas. Dalam rangka meningkatkan kembali produktivitas menulis, ada baiknya memulainya dengan menulis sesuatu yang ringan, gak perlu mikir (cukup mengandalkan emosi), berantakan, dan gak peduli sama apapun. Yaps, curhat. Hahahahaha. Mau curhat aja mukadimah nya ngalor ngidul.

Selama setahun ini balik, banyak banget drama hidup. Ternyata tesis bukanlah momok sebenarnya dalam hidup seorang netizen yang berumur seperempat abad. Drama hidup does. Dari jadi selingkuhan orang, tiba-tiba dilamar sama mas-mas random yang gak dikenal-kenal amat, dijodohin sama laki-laki yang aku gak kenal sama sekali, sampai kehilangan sahabat.

Kayanya akan terlalu drama kalau dibahas semua. Aku cuma mau curcol dikit-dikit sih. Tentang kehilangan seorang teman. Eh dua orang ding. Eh yang satu teman, yang satu iblis berwujud manusia yang dengan sialnya pernah aku kenal ding. Wkwk

—-

Jadi, seperti halnya manusia 20an tahun lainnya, ada masa dimana pada akhirnya kita menyadari bahwa ada orang yang kita sangka pantas dipertahankan yang ternyata… seharusnya dipertahankan untuk berada di luar inner circle sahaja~

Wqwq

Setelah kejadian kemarin, aku kemudian me-redefinisi arti sahabat. Apakah dia yang selalu kemana-mana bareng? nemenin dalam setiap kondisi apapun? dia yang jarang ketemu tetapi selalu peduli dan kalau sekali ketemu susah lepasnya? yang selalu inget tanggal ulangtahun? bisa jadi sih.

Yang jelas, sahabat adalah orang yang benar-benar bisa percaya sepenuhnya sama aku, sebagaimana aku percaya seutuhnya sama dia. Karena, biar gimanapun, aku gapernah bohong sama sahabat sendiri. Kalau dia mempertanyakan apa yang aku katakan, mungkin sebaiknya dia berada di luar inner circle aja. Terdengar egois ya. Ya, itulah. Aku. Emang. Begitu. Ehehe. Dan, karena definisi inilah, aku harus merelakan orang yang pernah aku bilang dengan tulus dan manis “kamu tuh sahabat aku mz…” yang akhirnya berujung seperti lirik lagunya Gotye ft Kimbra, “I guess that I don’t need that though, now you’re just somebody that I used to know”. Mueheheee. Maksa. Biarin.

Jadi, gimana kronologinya kehilangan si teman ini? Ya begitu deh. Sungguh panjang dan akan ber-episode-episode kalau dibahas disini. Hahaha. Jadi ini niat curhat ga sih? Etapi ini kan blog aku ya, terserah dong mau kaya gimana juga. Hmmm. Iyain aja.

—-

Kehilangan sahabat, udah. Selanjutnya kehilangan salah seorang… err…. salah seorang apa ya ini definisinya. Iblis berwujud manusia yang dulu pernah aku puja-puja. Itu kayanya ya. wkwk #terdrama

Seumur hidupku selama ini, tidak ada yang pernah membuat aku merasa menjadi perempuan paling murah, paling tidak berguna, perempuan jalang parasit yang perasaannya tak lebih berharga dari sepotong hati ayam yang jual di emperan pasar, selain dia *ini serius*. Tak ada seorangpun yang pernah menguras energiku sebesar ini. Tak pernah ada seorangpun yang selalu terlintas dalam pikiranku selepas bangun tidur tiap pagi dengan tanpa ada pikiran untuk mengenyahkannya dari kehidupan ini. Selain dia.

Aku tahu tidak ada gunanya membenci setengah mati. Tapi, luka yang sudah ia buat ini benar benar dalam, sampai membusuk dan tak pernah sekalipun menawarkan obatnya. Selain karena dia tak punya, juga karena dia tak ingin dan tak peduli. Dan pada akhirnya, aku harus sempoyongan setengah mati menyembuhkan diriku sendiri.

Aku tahu ini semua salahku sih. Mencurahkan perasaan yang tulus pada orang yang salah. Membabi buta memberikannya semua yang aku punya. Hilang kontrol dan kadang lupa daratan. Dan mungkin, inilah cara Tuhan memberikan peringatan, bahwa mencintai seseorang secara berlebihan bisa menyakitkan. Dan ini juga mungkin cara-Nya, meyakinkan aku bahwa sehancur apapun hati karena ulah manusia, ada Dia yang Maha Menyembuhkan.

Itu masa beberapa bulan yang lalu. Ehehehe.

Sekarang, sudah tidak ada lagi bayangan ingin bunuh orang tiap bangun pagi. Sudah tak ada lagi curhat galau sampai ingin rasanya minum air mata sendiri biar gak dehidrasi. Melupakan adalah hal yang pasti. Iya, suatu saat nanti. Berdamai dengan kisah sendiri juga adalah pilihan yang akhirnya diambil. Tapi memaafkan, hanyalah milik orang yang hatinya sebesar jenggala. Bukan untukku.

—-

Itu rangkuman setahunku di Indonesia yang sungguh penuh drama ga penting. Ingin rasanya melarikan diri ke belahan dunia lain, struggle dengan apapun, kecuali drama hidup yang harus melibatkan perasaan. Dah. Cukup.

Advertisements

Menjadi Muslim yang Bahagia

Sebenernya ini adalah tulisan lebih dari setahun lalu pas jaman masih jadi warga lokal Bangkok. Entah kenapa banyak tulisan mangkrak di draft. Setelah setahun lebih pulang ke Indonesia, jangankan ngurusin blog sendiri, buka facebook dan nulis status aja udah gak pernah. Euforia pulang membuat aktivitas nulis jadi barang paling langka, seperti halnya menemukan cinta sejati. Apasih.

—-

Banyak yang bertanya pada saya, gimana sih rasanya jadi minoritas (muslim) di negara yang mayoritas penduduknya non muslim? Bagi saya, pengalaman dua tahun jadi minoritas itu tak tergantikan. Mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk membuat saya menjadi lebih humble, nerimo, terbuka, tidak berpikiran picik dan arogan. Di sisi yang lain juga menjadi pelajaran bagi saya untuk selalu bersyukur. Bersyukur karena saya muslim yang dilahirkan di negara yang kebanyakan penduduknya beragama islam, bersyukur tidak kesulitan mengakses tempat ibadah, bersyukur akan kemudahan menemukan majlis ilmu di masjid-masjid.

Disini, kebahagiaan terparipurna bagi kami umat muslim adalah ketika mendengar adzan dan bisa shalat berjamaah dengan muslim lainnya. 100 kali lipat lebih bahagia lagi ketika disuguhi senampan besar nasi briyani dan daging sapi untuk disantap bersama dengan muslim lainnya setelah shalat jumat. Orang tidak peduli berasal dari negara mana, dengan warna kulit yang seperti apa, apalagi meributkan perbedaan mazhab, apakah Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi or whatsoever you name it. Tak ada yang peduli. Semua berbaur dengan keyakinan bahwa kita punya Tuhan yang sama yang minimal 5 kali sehari kita ajak berinteraksi.

Bagi kami, idul fitri tidaklah sama dengan liburan panjang bersama keluarga, baju baru, ketupat dan opor ayam, atau amplop tebal berisi salam tempel. Bisa melarikan diri 30 menit ke masjid terdekat atau KBRI untuk melaksanakan shalat ied dan mendengarkan ceramah (berbahasa lokal) yang sama sekali tak kami pahamipun sudah menjadi berkah tersendiri bagi kami.

Bagi kami, mendengar kumandang adzan adalah berkah lainnya. Melihat restoran berlabel Halal adalah surga (meskipun kenyataan pahit di depan mata: harga makanan di restoran ini pasti berkali lipat lebih mahal dibandingkan restoran biasa). Menemukan masjid dalam perjalanan ketika traveling adalah definisi bahagia sesungguhnya. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sungguh tak pernah terasa ketika saya berada di tanah air.

Pernah dalam perjalanan ke utara (ke perbatasan Laos-Thailand-Myanmar, Golden Triangle), saya hampir kehabisan waktu shalat Zuhur dan Ashar. Akibat tidak bisa menemukan tempat yang layak untuk dijadikan tempat shalat, saya nekat masuk ke sebuah temple yang relatif sepi. Ambil wudhu di kamar mandi, menggelar sajadah, pakai mukena, dan shalat disana. Saya shalat menghadap ke barat, dan menghadap ke rentetan patung-patung budha. Dalam shalat saya, rasa itu benar muncul. Rasa syukur betapa beruntungnya selama ini saya hidup di tengah-tengah lingkungan muslim. Dalam shalat saya pada saat itu, saya lebih dari yakin bahwa Tuhan tetap akan hadir dan menghitung shalat saya sebagai nilai ibadah sekalipun saya shalat di tempat yang tidak lazim. Dan seketika itu juga saya merasa sedih, ketika di Indonesia, berapa kali dalam sehari saya mendatangi masjid? Rumah saya hanya selemparan batu dari masjid kampung, selain bulan ramadhan, seberapa sering mengunjungi tempat itu?

Menjadi minoritas membuat pikiran kita jauh lebih terbuka dan tidak arogan.

Dalam kondisi-kondisi semacam inilah justru hati-hati kami semakin terasah. Rasa syukur akan hal-hal kecil selalu terasa membuncah. Ya Allah, betapa kufur nya saya selama ini.

Disaat-saat seperti ini lah saya baru benar-benar merasa miris dan prihatin ketika mendengar berita tentang intoleransi antar umat beragama. Tempat ibadah digusur, ritual sembayang dibubarkan paksa, cekcok karena beda agama dan lain-lain. Jadi bayangin, kalau pas saya shalat di temple terus digeruduk para monk dan masyarakat Budha disana, gimana perasaannya cobak? hiks sedih beneran 😦

Ya, we have to admit it, bahwa memang mungkin masih ada sebagian dari masyarakat kita yang masih belum dewasa dalam menyikapi perbedaan, menghargai indahnya ketidaksamaan, merasa superior karena menjadi mayoritas dan merasa bisa melakukan apa saja terhadap mereka yang berbeda darinya. Semoga orang-orang ini nantinya diberi kesempatan untuk merasakan hidup jauh dari zona yang membuat mereka merasa superior. Amin.

Dan jika ditanyakan kembali, bagaimana rasanya menjadi Muslim di negara yang penduduknya mayoritas non-muslim. Jawaban saya, saya bahagia menjadi Muslim disini. Saya bahagia menjadi minoritas. Dan ada masa dimana saya merasa, saya jauh lebih Muslim ketika disini dibandingkan ketika saya di Indonesia.

—-

Setelah membaca tulisan singkat diatas, kayanya tiba-tiba ada yang lempar bawang ke mata terus dikucek-kucekin. Panas rasanya. Berasa ditampar bolak balik. Kenapa harus jadi minoritas dulu untuk “jadi lebih Muslim”? Udah setahun pulang, dan setahun pula rasanya aku gak bersyukur untuk hal-hal kecil seperti “nemu masjid”, atau “dengar adzan” atau “bertemu muslim yang gak kenal di jalan dan mengucapkan salam”. Ya Allah.

Studi di Thailand (Part 2): Bertahan hidup dengan kerja paruh waktu*

Hai ! butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan niat buat nulis lagi. Distraksi di dalam negeri dasyat, bikin males-malesan ehehehehee. Oke, berikut aku coba share sedikit pengalaman studi pas di Thailand ya. Kali ini tentang strategi bertahan hidup dengan kerja paruh waktu. Sebenernya ini tulisan untuk IM (Indonesia Mengglobal), tapi karena yang nulis disana kelasnya kaya kak Maudy Ayunda, dan berhubung daku tahu diri, mending daku terbitin disini aja deh. Hahahaa.

—————–

Bukan merupakan hal yang sulit saat ini untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Berbagai informasi tawaran beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, instansi/ lembaga tertentu, maupun pemerintah negara lain bisa ditemukan dengan mudah dan menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di negeri lain.

Meskipun demikian, tidak semua lembaga penyedia dana memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa menyediakan biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, dan ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dome building

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi nimba ilmu di negeri orang, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu selama disana

Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Thailand

  1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di ibu kota Negeri Gajah Putih itu dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi. Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas pergaulan dan jaringan kita.

Saya sendiri, pada akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu menjadi guru mengaji untuk seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun (kelas 2 SD) yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang Ia banyak menanyakan pertanyaan kritis, tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing. Oleh karenanya, tak jarang sebelum saya mengajar, saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini tentu menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, saya juga belajar banyak dari murid saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016 di KBRI Bangkok bersama Dubes
  1. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di Sekolah Internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Di Thailand sendiri, permintaan pengajar bahasa Indonesia cukup tinggi karena Thailand adalah negara yang masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata ajar Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di jurusan Southeast Asia Studies (untuk S1) dan ASEAN Studies (S2), tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, Teaching Assistant, maupun native yang diminta untuk menguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Tentu saja ini merupakan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain memperluas pergaulan dan jaringan pertemanan, kamipun mendapatkan honor yang layak dari dosen dan saya juga belajar banyak dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang tak jarang banyak berkomentar mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan filem dan lagu Indonesia. Dengan begini, saya dapat lebih memahami Negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

  1. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik di acara KBRI maupun di acara yang diadakan oleh kampus maupun instansi lainnya. Karena upaya itu, tak jarang mereka mendapatkan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun, rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Tentu acara ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.

Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk ”unjuk gigi”, baik dengan melakukan performance budaya negaranya maupun menjual makanan/ masakan khas negara asal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thammasat University International Night, 2016
TU International night 2014
Thammasat University International Night, 2015
  1. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain. Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan expertise dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya

  1. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga. Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Talingchan trip while studying Bahasa
Piknik wkwk

Hal-hal diatas dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan (untuk bersekolah di luar negeri) tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang kurang memadai.

*Tulisan untuk http://www.indonesiamengglobal.com sebelum digubah 

Lalalalaaa—-

Jadi gini, setelah sekian lama aku akhirnya menyadari juga. Bahwa ada beberapa orang di dunia ini yang dilahirkan hanya untuk menguji kesabaran kita. Selain itu, kelahirannya di dunia ini mungkin hanya berguna buat penggali kubur yang nantinya akan dapat upah dari keluarganya si orang tersebut ketika orang tersebut sudah meninggal. Ya, yang aku bicarakan ini kamu. Seseorang yang dulunya pernah aku gilai (dan cintai?) dan berfikir bahwa Ia pun begitu. Kehadirannya yang dulunya aku anggap sebagai my greatest support system karena selalu ada sebagai tempat menampung keluh kesah di saat-saat sulit, yang rupanya adalah salah satu strategi untuk mengantarkanku ke ujung penyesalan tak berkesudahan.

Ada orang yang dilahirkan dengan mata dan mulut busuk yang hanya bisa melihat semesta ini dari sisi buruknya dan mengomentarinya dengan busuk pula. Iya, kamu seperti itu loh.

Ada orang yang jelas tahu ia salah tetapi jangankan untuk meminta maaf, mengakuinya saja tidak. Jadi, selain mata dan mulutnya yang busuk, hatinya juga. Aduh lengkap deh.

Ada orang yang otaknya selalu dipakai hanya untuk memikirkan diri sendiri dan kesenangannya. Jangankan memikirkan orang lain, bahkan memikirkan masa depannya sendiri 2 hari dari sekarang pun paling juga tidak bisa. Jadi selain mata, mulut, dan hatinya yang busuk, rupanya otak nya juga tidak berfungsi loh.

Dan aku bisa jatuh padanya. Dulu. Ya Allah 😦

Ya, dan kamu mengajari banyak hal. Bahwa tidak semua orang itu pantas untuk dipertahankan. Tidak semua orang layak diperjuangkan. Bahkan, kamu membuatku menyadari bahwa, tidak semua orang itu yang walaupun sudah pernah datang, layak untuk dikenang. Haha. Apasih.

Masih mending kan ya aku misuh-misuh disini, gak sampai kegiring di doa yang jelek-jelek (walaupun tetep ngarep suatu saat kamu nanti menderita lahir batin dunia akhirat hahahaha astaghfirullah)

Kayanya belum pernah ada sepanjang sejarah aku nulis blog dengan kata-kata laknat macam ginian. Aku berubah 😦

*Will be deleted soon once aku udah fully recovered. Maap maap 😦

Curhat galau edisi Syar’i: Refleksi pengalaman Ramadhan di negeri orang

ramadan-quote-5
Sources of image: http://www.farahzulkifly.wordpress.com/tag/ramadhan-quotes/

Jumat, 24 Juni 2016/ 17 Ramadhan 1437 H

Salam manis dari tanah Krungthep. Gak kerasa udah lebih dari setahun ga balik ke tanah air. Rasanya mau mati kalau pas lagi homesick.

Anyway, ini adalah (insya Allah) ramadhan pertamaku yang full di Bangkok. Bakal stay sampai lebaran disini sekaligus memecahkan rekor gak ketemu keluarga besar di hari raya untuk pertama kalinya. Bakal kangen sama THR om-om dan pakde-pakde, pecel dan segala perlengakapan perangnya, sate kambing, opor ayam, bakso bikinan Bulik, es campur dan segala macem hidangan yang selalu ada dikala idul fitri.

Terlepas dari segala hingar bingar ritual perayaan idul fitri dan komplementarinya, -yang jelas akan membuat saya benar-benar homesick di kala lebaran-, menjalankan ibadah puasa di negeri orang adalah hal yang saya syukuri sebenarnya. Saya merasa ibadah saya disini jauh lebih greget dibandingkan kala di Indonesia. Disini, saat puasa seperti ini, tidak ada privilege yang umat Muslim dapatkan. Jadwal kuliah dan masuk kantor tetap, warung-warung makan dan store chayen gak bakal ditutup tirai, orang-orang pacaran segala jenis rupa (cewe-cewe; cowo-cowo; maupun yang normal, cewe-cowo) yang mengumbar kemesraan depan umum terus ada seperti biasa, jadwal bayar apartemen tetap… dan revisi tesispun tetap gak ada keringanan. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan panas ekstrim tiada ampun masih berasa (padahal udah musim hujan T__T)

Tidak seperti ketika di Indonesia, dimana bahkan sebulan menjelang bulan ramadhan, iklan-iklan sirup dan sarung sudah bertebaran di televisi, gosip-gosip selebriti menjadi lebih syar’i, sinetron televisi berubah jadi tontonan religi. Itu sebelum ramadhan lho. Ketika ramadhan tiba, lebih heboh lagi. Semua warung makan bertirai, artis-artis tiba-tiba secara ajaib menjadi lebih religius, masjid-masjid penuh sesak, dan sepanjang jalan setiap sore tiba-tiba dipenuhi oleh penjual jajal dan takjil. Rame binggo.

Disini, kami menjalani ibadah puasa dalam sunyi. Tidak ada atribut apapun menyambut ramadhan untuk kami. Hanya di sedikit lokasi yang membuat kami menyadari, bahwa kami tidak sendiri. Hanya di masjid, surau… dan KBRI… Saya, benar menikmati ramadhan tahun ini. Sungguh, inilah ramadhan kejayaan bagi saya. Bisa ibadah sepuas hati dan aktivitas sehari-hari tetap tidak terganggu. Tidak ada undangan buka bersama, tidak ada ajakan ngabuburit foya-foya, dan tidak banyak distraksi lainnya yang mengganggu ibadah dengan dalih ‘silaturahmi’ (sepertinya kini saya cenderung menjadi orang yang anti-sosial sih sebenarnya. Betapa sendiri dan jauh dari orang-orang itu nikmaat sekali. Hahaha) 

Ini murni curhatan dan cerita saya sih. Sejujurnya, ketika di rumah, gak tau kenapa saya merasa ga maksimal memanfaatkan ramadhan. Akan ada buanyaaak (ga cuma banyak ya, tapi buanyaaakkkk) undangan buka bersama. Dari temen TK sampe temen seangkatan kuliah. Dari mantan gebetan sampai teman kantor. Dari yang undangan di warung lesehan sampai hotel berbintang. Rasa-rasanya dalam 30 hari, bisa diitung pake satu tangan, berapa kali saya buka dirumah. Nah biasanya habis buka bersama ini, kemudian saya akan lebih memilih untuk ngobrol dan nongkrong bareng temen-temen sampe larut malam yang kemudian bikin saya jarang tarawihan. Sampe rumah udah tengah malam, jarang ngobrol sama keluarga, dan juga males-malesan bangun sahur (ketinggalan lagi pahala sahur dan tahajudnya). Paginya, karena ramadhan, jam masuk kantor jadi molor, di kantor pun atmosfer kerjanya jadi agak gak kondusif karena semua staf pada ngantuk (hahaha). Dengan alasan bulan ramadhan juga, cari data ke pemprov dan pemkab juga jadi agak terhambat (ini pengalaman saya banget -_-). Sorry to say, tapi saya merasa kadang jadi super kontraproduktif justru ketika bulan ramadhan tiba. Not to mention tentang duit yang abis juga buat bolak balik buka bareng. Hal-hal demikian inilah yang baru benar-benar saya sadari ketika saya menjalankan puasa disini, yang jauh dari hingar bingar dan berbagai macam undangan yang berujung pada terkurasnya isi dompet. Haha. Disitulah letak terbesar syukur saya jadi minoritas, menjadi orang yang berpuasa dalam sunyi.

Ramadhan yang sejatinya adalah bulan istimewa, dimana kebaikan dikalilipatkan, pahala digandakan, berkah Allah berserakan mulai dari sepiring nasi di kala sahur sampai  sedikit receh yang dimasukkan dalam kotak amal masjid, sudah seharusnyalah dimaksimalkan untuk meraup sebanyak-banyaknya pahala dari Allah, bukan justru bermanja-manja dan jadi males-malesan dengan dalih lemes karena ga makan seharian. Saya ga ngomong on behalf of Indonesian Muslim loh ya, ini murni pengalaman dan refleksi pribadi saya ketika menjalani ramadhan di rumah dan dsini. Salam damai

——

Pada akhirnya, puasa bukan hanya tidak makan dan minum. Puasa adalah latihan menumbuhkan empati, menahan diri dari segala kesenangan duniawi, dan momentum untuk mendekatkan diri pada Illahi. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang terjaga puasanya, tidak justru boros harta dan kemaksiatan. Amin.

——

Ini adalah doa pribadi yang dipublish: semoga ramadhan tahun depan saya tidak lagi di Bangkok (maupun di Indonesia). Semoga bisa merasakan ramadhan selanjutnya di negeri yang lain. Eropa, misal. Atau jauh ke benua Amerika. Atau Afrika. Dimanapun, karena somehow, saya menikmati menjadi minoritas. Syukur-syukur ramadhannya bisa berdua sama suami. Ikut suami sekolah atau jadi research fellow dimana gitu. Aduh mak, kejauhan. Pacar aja kaga punya 😦 Bodo amat. Pokoknya resolusi tahun depan: ramadhan berdua di negeri yang jauuuhhh dari negri asal! HAHAHAHAHA. Amin Amin ya Rabbal alamin… Hihihi